Bab 2. Kegelisahan

1120 Kata
Amran adalah pengusaha di bidang jasa akomodasi dan penginapan, lebih tepatnya sebuah perhotelan. Amran bahkan memiliki beberapa cabang di beberapa kota besar di Indonesia. Bisa dikatakan, hotel miliknya saat ini termasuk yang terbesar juga di Indonesia. Karena itulah, Amran sesekali harus pergi ke luar kota jika harus diperlukan. Tak jarang ia juga harus meninggalkan Serli, istrinya. Meski, bisa dibilang hal itu tak harus ia khawatirkan sama sekali dikarenakan Serli adalah wanita tangguh yang begitu sangat mandiri. Tapi, entah kenapa, hari ini Amran begitu gelisah. Hatinya merasa tak tenang untuk meninggalkan Serli sendirian di Ibu Kota. Apalagi Serli yang diajak untuk makan siang pun ia tak mau. Padahal, itu adalah salah satu bentuk dari kegelisahan Amran. Ia hanya ingin memastikan istrinya itu baik-baik saja. "Apa istrimu tak pernah mau ikut denganmu jika akan ke Bandung?" Tanya Ibu pertiwi, Ibu dari Amran. Dan hal itu membuat Amran menghela napasnya dengan kesusahan. "Bukan begitu, Bu... " "Bukan begitu gimana maksud kamu?" Sela Ibu dengan nada yang kentara sekali jika Ibu tak menyukainya. "Setiap kali kamu ke Bandung untuk berkunjung ke hotel milikmu, sekaligus melongok Ibumu ini, istrimu itu tak pernah ikut." Lanjut Ibu dengan nada yang masih sangat ketus. Apakah Amran marah dengan perkataan Ibunya itu? Atau malah sebaliknya? Jawabannya adalah tidak keduanya. Amran memeluk Ibunya itu dan mengecup kening Ibunya penuh kasih, lalu ia mulai memperlihatkan senyumnya yang manis. "Aku tau perasaan Ibu, dan aku minta maaf karena belum bisa menuntun istriku untuk lebih bisa diam di rumah dan tak selalu sibuk mengurus butik miliknya itu, sampai menjenguk Ibu saja ia belum sempat." Ibu pun hanya mendengkus. Amran memang selalu menjadi penengah di antara keduanya. Jujur saja, Amran juga merasakan hal yang sama dengan Ibu. Amran merasa Serli memang tak pernah bisa memperlihatkan perhatiannya pada Ibu. Selama empat tahun pernikahan mereka, hanya tiga kali Serli berkunjung ke rumah Ibu yang di Bandung. Itu pun ketika awal mereka menikah, lalu saat dua tahun lalu karena Ibu sakit, dan terakhir ketika Amran memintanya untuk mengambil berkas-berkas hotel yang tertinggal di rumah Ibu. Tapi, ia juga tak mungkin untuk mengadu domba Ibunya dan Istrinya itu. Memihak salah satu di antara mereka berdua yang jelas - jelas dua wanita itu adalah wanita terbaik dalam hidup Amran. Amran tak bisa. "Jadi, kita mau ke mana hari ini, Bu?" Tanya Amran yang mencoba meredakan amarah Ibunya itu. Ibu akhirnya tersenyum mendengar hal itu, lalu melepas pelukan anaknya itu dan menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak Nak, Ibu tidak mau ke mana-mana. Ibu hanya rindu sama anak pertama Ibu ini." Dan setelah itu, anak dan Ibu itu kembali berpelukan. "Bu, masakin aku telur balado yang sering Ibu masak ketika aku kecil dulu." Pinta Amran, sedikit manja. **** Amran beberapa kali mengecek ponselnya yang tergeletak di atas meja. Helaan napas kian intens ia perlihatkan ketika jam sudah menunjukan pukul empat sore. "Kenapa tak ada kabar sama sekali darimu, Serli?" Keluh Amran yang memang sedang menunggu kabar dari Istrinya itu dari empat jam yang lalu. Amran memang selalu yang pertama bertukar kabar setiap harinya. Dan tadi siang, saat ia pulang dari rumah Ibunya, Amran langsung menghubungi Serli. Tapi sayang, dari telpon bahkan sampai pesan pun Serli tak bisa di hubungi sama sekali. Awalnya, Amran berpikir bahwa Serli sedang sibuk dengan temannya, hingga ia lupa untuk menghubungi dirinya. Tapi tunggu kian tunggu, tak ada satu pun pesan yang masuk dari Serli. Hingga Amran pun memutuskan untuk langsung pulang hari itu juga. Perasaannya sungguh tak enak. "Mau pulang sekarang, Tuan?" Tanya Pak Maman, supir Amran. "Iya Pak, Istri saya menunggu di rumah." Jawab Amran dengan bibir yang tersenyum. Padahal jauh di dalam lubuk hatinya, Amran merasakan kegelisahan yang tak biasa. Ia hanya ingin segera pulang dan menemui Istrinya itu. Ia rindu dengan aroma tubuh istrinya itu yang selalu bisa menenangkannya di kala lelah setelah pulang kerja. Namun, baru saja ia menaiki mobil, tiba-tiba sebuah panggilan dari nomor tak di kenal masuk. Awalnya Amran merasa ragu untuk mengangkatnya, tapi rasa penasarannya jauh lebih besar dari itu. Dan lagi, entah kenapa hal itu terjadi padanya. Itu sudah bukan sesuatu yang biasa bagi Amran. Dengan sedikit ragu ia angkat telpon tersebut, dan menempatkannya di telinga kirinya. "Halo," Amran terdiam sesaat, tangannya tiba-tiba saja gemetar. Dan hal itu berlangsung lama, hingga Amran menjatuhkan ponselnya, dan menepuk pundak Pak Maman dengan keras. "Pak, Rumah Sakit k********a, sekarang!" Bentak Amran. Pak Maman awalnya sedikit kebingungan akan apa yang di minta oleh Tuannya itu. Secara, tempat itu sangatlah bertolak belakang dari rumah Tuannya. Bukan hanya jauh, tapi juga berlawanan arah. Namun, Pak Maman tak mempunyai waktu untuk menanyakan hal tersebut dikarenakan Tuannya itu terlihat sangat gelisah serta wajahnya berubah memucat begitu cepat. Satu jam berlalu, sampai Amran serta Pak Maman sampai di tujuan, Amran langsung membuka pintu mobil yang kondisi mobil itu masih dalam keadaan jalan. Mobil itu bahkan belum terparkir sempurna ketika Amran tiba-tiba saja berlari ke luar. Amran sendiri, ia tak mempunyai waktu lebih hanya untuk menunggu Pak Maman memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Ia tak punya banyak waktu. Ada seseorang yang tengah menunggunya di Rumah Sakit itu. Amran berlari sekuat tenaga untuk sampai ke sana. Ke sebuah ruangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ruangan di mana manusia yang sudah tak bernyawa di simpan. Kamar mayat. "Pak, bagaimana istri saya?" Tanya Amran yang baru saja sampai di ruangan tersebut dengan suara yang bergetar hebat dan dengan napas yang terkenal-sengal. Tunggu, Istri? Ya. Istri Amran, Serli dikabarkan mengalami kecelakaan dan mobilnya masuk ke dalam danau tepi jurang. Dan kabar itu jugalah yang di dapati Amran di telpon tadi. Tepatnya Polisi lah yang menghubungi Amran tadi, dan Polisi juga lah yang meminta Amran untuk datang ke Rumah Sakit tersebut. Saat itu Kaki Amran bahkan sudah sangat lemas ketika sampai di sana ketika Pak Polisi mengulurkan tangannya pada ruangan mayat yang ada di hadapan mereka saat ini. Amran menatapnya lemah. Sungguh, ini bukan sesuatu yang ia harapkan. Amran menatap ruangan itu dengan ngeri, langkahnya sedikit terhuyung ketika ia mulai memasuki ruangan mayat tersebut. Sampai ia benar-benar berada di dalam ... "Pak, di mana Istri saya?" Tanya Amran bingung. Ah, jujur saja Amran cukup lega ketika tak mendapati Istrinya itu di sana. Tak ada jasad! Ditanya begitu, Pak Polisi pun mendekati sebuah meja dan mulai membuka kantung jenazah yang entah sejak kapan berada di sana. Amran tak menyadari bahwa ada kantong jenazah di sana. Kantung mayat itu seakan luput dari pandangannya. Dan ketika Polisi itu mulai membuka kantong jenazah, jujur saja Amran merasa sudah tak sanggup berdiri. Jantungnya seakan mau meledak saat itu juga. Bagaimana kalau Serli ada di dalam kentong itu? Bagaimana kalau tubuh Serli lah yang ia dapati di dalam sana? Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang kini hadir di dalam pikirannya. Dan ketika Polisi itu berhasil membuka semua resleting kantong tersebut ... "S-serli?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN