Bab 3. Baju dan Sepatu

1142 Kata
Amran terkulai lemas ketika melihat isi di dalam kantong mayat yang Polisi buka tersebut. Sesuatu yang membuat Amran harus bersyukur atau mungkin malah sebaliknya? Di sana, di dalam kantong mayat itu tak ada tubuh Serli seperti yang ia pikirkan di benaknya sebelumnya. "Apa maksud semua ini, Pak?" Tanya Amran yang masih terkulai lemas di bawah sana. Amran mengucapkan itu dengan tangan kiri yang menepuk-nepuk dadanya sendiri. Rasa sesak, syukur, serta sakit bercampur menjadi satu di situ. Terdengar langkah polisi yang mendekati Amran, lalu menepuk pundak lelaki rapuh itu dengan lembut. "Saya hanya perlu anda untuk mengidentifikasi, apakah baju beserta sepatu yang ada di kantong ini adalah benar milik istri anda, atau bukan." Ucap Polisi itu tegas. Tangan yang sedari tadi menepuk-nepuk dadanya kini mulai berhenti dengan aktifitasnya tersebut. Amran kembali diserang kegelisahan ketika mendengar Polisi mengatakan hal tersebut. Rasa lega yang tadi sempat ia rasakan, kini perlahan mulai sirna. Amran kembali berdiri dengan kaki rapuhnya dan mulai menatap kantong mayat tersebut dengan penuh ketakutan. Jauh di dalam hatinya, ia berdo'a semoga apa yang ia khawatirkan tak terjadi. Ia berdo'a baju beserta sepatu itu bukanlah milik Serli, istrinya. Namun, ketika Amran mencoba menatap isi dalam kantong mayat itu dengan seksama, Amran langsung memejamkan matanya kuat-kuat. Ia raih baju itu dan memeluknya dengan sangat erat. Jelas sekali jika do'a-nya tak terkabul. Karena yang ia lihat saat ini adalah apa yang ia khawatirkan sebelumnya. Ya. Baju dan sepatu yang tergeletak di dalam kantong mayat tersebut adalah milik Serli, istri tercintanya. Itu adalah baju serta sepatu Serli yang ia lihat terkahir kali tadi pagi. Amran tak mengatakan sepatah kata apapun memang, namun dari tetesan air mata serta ia yang memeluk erat baju tersebut, membuat Polisi yakin bahwa itu memang baju Serli. Polisi itu pun langsung meraih telpon miliknya, dan terdengar oleh Amran seperti Polisi itu yang berkata bahwa korban sudah teridentifikasi. Amran sangat ingin menyangkalnya, tapi ia tak berdaya saat itu. Baju Serli yang sudah tak utuh dengan bercak darah di segala sisinya, membuat Amran tak bisa berpikir apapun lagi. Ia hanya bisa menangis di sana. Amran bahkan meraung ketika baju Serli yang tak utuh itu hendak di masukan kembali ke dalam kantong mayat untuk dijadikan sebagai barang bukti. "Pak, saya turut bersedih. Apakah tak ada orang lain yang bisa menemani Pak Amran?" Ucap Polisi itu yang masih berusaha merebut baju Serli dari pelukannya. Namun Amran tak menjawab sama sekali. Ia hanya memeluk erat baju itu dengan sekuat tenaga. Ia tak peduli tangisannya itu membuat orang-orang yang sempat lewat di depan ruangan itu jadi menatapnya penuh heran. "Sayang, tolong datanglah ke sini dan bilang bahwa ini bukanlah bajumu yang kau pakai tadi pagi," Ucap Amran di sela tangisnya. **** Satu jam berlalu, dan Amran sudah mulai bisa menenangkan dirinya sendiri. Sekarang di sana ada Amran yang ditemani Ibu Pertiwi yang baru saja dihubungi oleh pihak Polisi. Ibu juga sama terkejutnya dengan Amran ketika mendapati kabar tersebut untuk pertama kalinya saat di telepon. Ibu hanya memeluk Amran, anaknya itu dengan penuh kekhawatiran. Ibu tahu secinta apa anaknya tersebut pada sang istri. "Jadi, di mana menantu saya 'Pak?" Tanya Ibu pelan. Dan mendengar hal itu, Amran yang posisinya sekarang sedang terduduk di sebuah kursi, langsung membenamkan wajahnya di perut Ibu dengan erat. Ini adalah sebuah fakta yang benar-benar tak bisa diterima oleh Amran. Ia tak mau mendengar hal menyakitkan apapun lagi tentang istrinya itu. Bercakan darah yang ada di potongan baju istrinya yang sudah tak utuh itu, mau tak mau menumbuhkan pikiran buruk terhadap istrinya itu. Amran tak tahu bagaimana reaksi Polisi itu saat mengatakannya namun ia bisa mendengar bagaimana helaan napas mencurigakan dari Pak Polisi itu. "Kami sedang mencari keberadaan jasad kor-" "Jasad?" Tanya Amran, memotong ucapan Polisi itu. Ibu mengusap pundak anaknya itu dengan maksud ingin menenangkannya. Ibu tahu bagaimana perasaan anaknya itu yang sesungguhnya. "Apakah sudah bisa dipastikan bahwa istri saya meninggal? Kenapa anda bisa menyimpulkan seperti itu? Barangkali dia masih selamat, tolong jaga ucapan anda!" Lanjut Amran yang sudah melepaskan dirinya dari pelukan sang Ibu. Polisi tersebut tentu saja hanya bisa mengangguk lemah. Kondisi dan keadaan seperti ini tentu saja bukanlah hal yang pertama bagi para Polisi. Situasi seperti ini sudah sangat wajar bagi keluarga korban ketika mendapati keluarganya mengalami kecelakaan dan kehilangan nyawa. Polisi itu juga sangat memaklumi reaksi Amran saat ini. Terlebih korban itu adalah istrinya. "Baik Pak, saya tahu ini berat untuk anda, tapi bisa dilihat dari potongan baju istri anda yang terbakar separuhnya dengan noda merah yang tersebar di baju tersebut-" "Itu bukan darah istri saya. Bisa saja itu darah hewan atau-" "Nak, sabar." Sela Ibu dengan suara yang bergetar dan sudah mulai meneteskan air matanya melihat bagaimana se-prustasi apa anaknya itu hingga menyangkal fakta yang ada. "Bu, Serli baik-baik saja. Ia pasti akan menghubungiku secepatnya. Ia hanya lelah denganku, ia hanya kesal terhadapku. Itu saja!" Ucap Amran lagi yang masih tak menerima keadaan. Amran sendiri bahkan langsung pergi dari sana ketika tepat ia menyelesaikan perkataannya yang barusan. Bukan tanpa alasan Amran bersikap demikian, ia hanya tak mau mendengar apapun lagi yang menyakitkan tentang istrinya. Dan Ibu, hanya bisa menangis menatap punggung anaknya yang saat ini semakin menjauhi dirinya. "Maaf, Pak," Ucap Ibu yang mulai sadar kembali atas keberadaan Pak Polisi. "Bisa anda teruskan," Polisi itu pun mengangguk lagi. "Sebelumnya, saya mewakili pihak jajaran Polisi sangat amat menyesal dengan keadaan yang ada, Bu. Tapi saya juga tak bisa menutup fakta yang ada," Ibu mengangguk lagi, mengerti. Ibu tahu ini bukanlah sebuah berita yang baik bagi keluarga, maupun Polisi itu sendiri. "Di lihat dari potongan baju yang ada, serta bercak darah yang ... Mohon maaf," Ucap Polisi itu berusaha menjaga kata-katanya karena jujur ini juga sangat berat bagi Polisi tersebut untuk menyampaikannya. "Sangat banyak itu, kami yakin bahwa korban tak selamat." Lanjut Polisi itu dengan penuh ke-hati-hati'an. Ibu kembali mengangguk meski tubuh Ibu sendiri sempat hampir ambruk. Namun untungnya hal itu bisa langsung di tahan oleh Polisi tersebut dan mendudukannya di kursi tunggu yang ada di sana. "Anda tidak apa-apa, Bu?" Tanya Polisi itu, cemas. Namun Ibu hanya kembali mengangguk, "teruskan Pak." Ucap Ibu lemah. Ibu memang kurang suka terhadap sikap menantunya itu. Tapi, hati Ibu mana juga yang sanggup mendengar hal buruk tentang menantu yang juga sudah Ibu anggap sebagai anaknya sendiri itu. "Baik Bu. Maaf sebelumnya, tapi di lihat dari kondisi yang ada, kami dari pihak polisi sudah yakin bahwa menantu Ibu tak selamat. Sangat kecil kemungkinan bahwa menantu anda masih bisa selamat. " Ibu kembali memejamkan matanya. Sungguh fakta yang sangat menyakitkan. Cengkraman tangan Ibu pada kursi tunggu kian lama kian kuat juga. Ibu berusaha untuk tetap kuat saat itu. "Mobil menantu anda menabrak pembatas jalan dengan kecepatan yang tinggi, hingga korban terjatuh ke jurang dengan mobil yang sudah sangat ringsek. Tapi, " Polisi itu tercekat saat menjelaskan kronologinya. "Tapi?" Ulang Ibu, dengan suara yang sudah parau. "Tapi, sampai saat ini sayangnya kami belum bisa menemukan jasad korban."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN