Bab 4. S-sayang?

1289 Kata
Amran memeluk kedua lututnya dengan lunglai. Punggung yang selalu kuat itu nyatanya kini terkulai lemas di tembok rumah sakit yang dingin. Amran menyenderkan punggung itu dengan harapan yang sangat besar bahwa Istrinya baik-baik saja. Ia masih menyangkal dengan keadaan yang ada saat ini. Amran tahu jika kecil kemungkinan istrinya itu bisa selamat dalam kecelakaan tersebut hanya dari potongan baju Serli yang hampir tak berwujud lagi. Sebuah dress mini yang begitu cantik berwarna putih yang ia lihat terkahir kali saat tadi pagi, sudah berubah warna menjadi merah. Tapi, apakah tak bisa ia berharap sebuah keajaiban datang padanya? Amran menghela napasnya kasar ketika Ibu datang dengan wajah yang sedih. "Bu, aku sedang tidak mau mendengar apapun. Serli pasti selamat, titik." Ucap Amran yang masih menyangkalnya. Namun, bukannya Ibu menjelaskan semua yang Polisi tadi katakan, Ibu malah ikut duduk di lantai sana dan mulai memeluk tubuh anaknya itu seperti memeluk seorang anak kecil yang masih berumur delapan tahun. "Iya Nak. Tak salah jika kita masih memupuk harapan itu. Kita do'akan saja semoga Istrimu bisa segera ditemukan." Ucap Ibu menenangkan. Amran mengangguk lemah. Raganya berkata demikian, tapi beda lagi dengan hatinya. Meski ia masih bersikeras tentang Istrinya yang masih hidup, tapi ia juga tak bisa mengesampingkan fakta lainnya yang ada. Untuk saat ini Amran hanya belum bisa menerimanya. Itu saja. **** Amran ikut ke tempat kejadian meski semua orang menahannya. Bukan apa-apa. Amran hanya ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa istrinya masih selamat. Dan jikapun Istrinya itu sudah tiada, Amran tak mau mendengar kabar buruk itu lagi dari orang lain. Dengan kemeja hitam yang sudah sangat lusuh, Amran ikut turun ke bawah jurang dengan para Polisi. Tubuh yang sudah lelah, serta pikiran dan hati yang sudah tak karuan, tak menghalangi Amran untuk mencari keberadaan Istrinya tersebut. Sampai jam sudah menujukkan pukul sebelas malam, dan pencarian pun dihentikan sementara karena sudah sangat gelap, Amran bahkan masih berusaha mencari istrinya itu di setiap sudut semak belukar dan pepohonan rimbun yang ada di sana. "Pak, kita harus naik sekarang. Tak baik juga jika kita masih di bawah sini malam-malam." Ucap salah satu polisi. Awalnya Amran sangat ingin menolaknya, tapi ketika ia menatap ke depan, tak ada lagi yang bisa terlihat olehnya karena kegelapan yang begitu sangat, membuat tekadnya urung. "Tapi bagaimana jika istri saya ada di sana, Pak," Tunjuk Amran pada semak belukar yang sudah sangat gelap. "Bagaimana jika dia kedinginan di luar sana dengan suasana yang begitu gelap seperti sekarang ini?" Gumam Amran lemah. Namun, tentu saja hal itu tak dihiraukan oleh para Polisi. Karena jika pun pencarian itu diteruskan, kecil kemungkinan juga mereka akan menemukan Serli di dalam kegelapan. "Sabar Pak, kita tak bisa mempertaruhkan banyaknya nyawa hanya untuk menemukan korban juga." Ucap Polisi itu tegas. Amran sebenarnya sangat ingin marah di situ, tapi apa yang dikatakan Polisi tersebut juga tak ada salahnya. Di jurang yang cukup dalam ini, kita juga tak tahu betul apakah ada hewan buas di dalamnya, atau yang paling mungkin, kita juga tak tahu betul apakah tanah yang kita pijak itu bukanlah jurang-jurang lainnya yang akan mengakibatkan semua orang celaka. Lagi, ini sudah sangat malam. Dan itu membuat jarak pandang mereka terbatas meski mereka mempunyai senter dan peralatan canggih lainnya. Dan akhirnya Amran pun hanya bisa menurutinya. Malam ini, Amran pulang dengan tangan kosong. Hari demi hari, Amran lewati dengan selalu pergi ke tempat di mana Serli hilang. Hilang? Ya. Serakang status dari Serli sekarang mejadi hilang. Serli menghilang begitu saja, dan jika pun ia meninggal dunia, sayangnya jasadnya pun tak pernah ditemukan. Tak ada lagi yang bisa Amran lakukan hingga hari ke sepuluh pencarian itu sampai dinyatakan selesai. Pencarian benar-benar dihentikan karena memang sudah lebih dari cukup untuk mencari seseorang di bawah jurang sana. Amran sendiri, ia hanya bisa pasrah saat itu. Ia ingin sekali mencari istrinya setiap hari. Bahkan sampai satu bulan, hingga satu tahun lamanya. Tapi, keajaiban yang selama ini ia tunggu, nyatanya tak pernah hadir di dalam hidupnya. Sangat kecil kemungkinan jika Serli masih hidup saat ini. Sesekali Amran datang ke jalan di mana mobil yang Serli kemudikan jatuh, dan menaburkan bunga lili kesukaannya di sana. Anggap saja jurang itu adalah pusara Serli. Itulah yang Amran pikirkan. Karena memang tak ada jejak keberadaan Serli sama sekali di bawah sana. Orang-orang bahkan menyimpulkan bahwa kemungkinan jasad Serli sudah di makan oleh binatang buas. Ada juga yang bilang jika jasad Serli sudah ikut hancur ketika mobil yang ia kendarai meledak dan hancur. Ah entahlah, rasanya berat sekali baginya untuk mengingat kemungkinan-kemungkinan yang ada. Dan ketika malam tiba, barulah di situ Amran akan langsung pulang ke rumah. Semenjak hilangnya Serli, Amran merasa rumah bagaikan neraka baginya. Setiap jengkal yang ia lewati di rumah itu, selalu saja ada bayangan Serli di sana. Karena alasan itu jugalah, Amran sudah tak pernah tidur di kamar. Terlalu sulit baginya untuk tidur sendirian di atas ranjang yang selama ini menjadi tempat istirahat mereka berdua. Tempat di mana Serli yang selalu lebih dominan darinya. Ah, mengingat semua itu selalu sakit untuk Amran. **** Satu bulan kemudian... Malam itu, Amran pulang ke rumah dengan tubuh yang lunglai. Seperti biasa. Ia masuk ke dalam rumah itu dengan pikiran yang sudah kusut. Tak ada lagi pikiran tentang Serli yang sudah berada di rumah ketika ia pulang. Tak ada. Namun hari ini, ketika ia membuka pintu rumah tersebut, "Bu, aku pulang!" Ucap Amran pada Ibu yang memang selalu menemaninya akhir-akhir ini. Seorang Ibu tentu saja tak akan membiarkan anaknya terpuruk dalam kesendirian. Tapi, kali ini tak ada jawaban apapun dari Ibu, Amran sendiri menyadari semua itu. Dengan sedikit mengernyitkan dahinya, Amran melangkahkan kakinya lebih masuk lagi ke dalam sana, dan di sanalah entah itu sebuah mimpi atau hanya ilusi semata, Amran berdiri kaku ketika apa yang ia lihat saat ini. "Nak," Ucap Ibu dengan suara yang bergetar. Amran menjatuhkan tasnya, dan menatap orang yang ada di hadapannya saat ini dengan mata yang berkaca-kaca. Tak percaya. Tapi, hanya itu yang Amran lakukan, hingga Ibu lah yang mendekati Amran dan memeluk tubuh anaknya itu dengan erat. "Bu, tolong katakan jika ini bukan hanya Amran saja yang bisa melihatnya," Ucap Amran dengan parau. "Katakan jika aku sedang tak berhalusinasi." Dan Ibu pun mengangguk dalam pelukan itu. Sampai Ibu melepaskan pelukan itu dengan perlahan, Amran langsung melangkahkan kakinya ke depan dengan tatapan yang tak biasa. Ia tatap lamat-lamat orang yang ada di hadapannya saat ini, ia usap lembut rambut orang yang ada di hadapannya saat ini dengan penuh keraguan. Hingga ia benar-benar yakin apa yang ada di hadapannya saat ini bukanlah halusinasi semata. "S-serli?" Gumam Amran, ragu. Serli? Ya. Orang yang kini berada di hadapan Amran adalah Serli. Istri yang selama ini ia cari di bawah jurang sana. Akhirnya keajaiban itu datang juga pada Amran. Saat ini, ia sangat yakin bahwa orang yang ada di hadapannya saat ini adalah istrinya, Serli yang selama ini ia cari-cari. "S-ayang?" Gumam Amran lagi. Kali ini Amran bahkan sudah mulai memeluk Serli erat. Amran kecup pucuk kepala Istrinya itu lama, ia belai rambut istrinya itu penuh kasih dengan tangan yang gemetar hebat. Dan tahu bagaimana reaksi orang yang Amran peluk saat ini? Orang itu hanya menatap sekitar dengan penuh kebingungan. "Sayang, ini beneran kamu 'kan?" Tanya Amran lagi, kali ini suaranya bahkan sedikit mengeras namun penuh getaran. Seakan ia yang sangat ingin menangis, namun ia tahan. Namun tetap, tak ada respon apapun dari orang yang begitu mirip dengan Serli, sang Istri itu. Dan hal itu tentu saja Amran sadari. Sampai Amran mulai melepaskan pelukan itu dengan perasaan yang tak menentu. Ada sesuatu dengan Serli, 'kan? Tapi ... 'Apa? Ia tatap Serli yang terlihat kebingungan, lalu mulai mengedarkan pandangannya ke sekitar yang ternyata baru Amran sadari tak hanya ada mereka bertiga saja yang ada di ruangan itu, tapi ternyata begitu banyak juga polisi yang tengah menatap haru dirinya. "I-ini..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN