Amran memijit keningnya dengan kuat. Penjelasan tentang Serli yang baru saja ia terima dari para Polisi, ternyata membuatnya sedih.
Penjelasan di mana Istrinya itu mengalami sebuah gangguan ingatan, atau biasa disebut sebagai amnesia.
Sebuah fakta yang membuat hati Amran tak karuan. Sebuah fakta yang juga tak bisa Amran terima begitu saja.
"Kami mendapati informasi tersebut awalnya dari sumber anonim. Dan ketika kami ke sana, ternyata benar, istri anda berada di sebuah kamar rawat namun dalam keadaan yang tak bisa mengenali siapapun, termasuk dirinya sendiri." Jelas Pak Polisi itu dengan intonasi yang penuh dengan penyesalan.
Amran hanya bisa menatap istrinya itu dari kejauhan ketika para Polisi berusaha menjelaskan keadaan yang sesungguhnya.
Serli sendiri saat itu berada di ruangan yang berbeda dengan Amran. Jika Amran sedang berada di ruangan tamu, lain halnya dengan Serli yang sedang bersama Ibu di ruangan keluarga.
Jarak antara kedua ruangan itu bisa dibilang sedikit jauh, disebabkan karena rumah Amran yang memang sangat besar.
Namun, dari ruang tamu itu, Amran masih bisa melihat Serli yang terlihat sangat kebingungan dengan semuanya. Serli terlihat begitu canggung ketika berbicara dengan Ibu. Karena itulah, disaat Amran sangat ingin menyangkal kenyataan yang ada, tapi sikap Serli lah yang ternyata menamparnya habis-habisan.
Sepeninggalnya para Polisi dari rumah itu, di sebuah kaca besar sebagai sekat antara dua ruangan itu, cukup lama Amran menatap istrinya itu dari kejauhan.
Ia bingung harus bersikap bagaimana dengan istrinya yang seakan baru kembali dari kematian.
Meski wajahnya mereka sama, tapi Amran merasa ada sesuatu yang berbeda pada istrinya tersebut. Namun Amran sendiri tak tahu apa itu sebenarnya.
"Nak," Seru Ibu dari balik pintu yang membuat Amran sedikit terperanjat.
"Iya, Bu." Jawab Amran, singkat.
Ibu tak lantas bersuara lagi ketika Amran menjawab panggilan itu. Ibu hanya memaku menatap anaknya dan memutar tubuhnya lagi hingga terlihat sosok wanita yang sedang kebingungan di dalam ruangan keluarga tersebut.
"Dekatilah istrimu, Nak. Kasihan dia, dia seakan asing sekali dengan rumah ini." Ucap Ibu pada Amran meski tatapan Ibu saat ini masih tertuju pada Serli.
Tapi, Amran malah terdiam. Entah ini efek sebuah kebahagiaan yang tak terkira, atau malah kesedihan yang tak berujung yang tengah Amran rasakan saat ini. Namun yang jelas, Amran masih tak bisa mendekati istrinya tersebut.
"Nak, dia istrimu." Seru Ibu yang lagi dan lagi membuat Amran terperanjat. Amran melamun untuk ke sekian kalinya.
Amran pun mengangguk setelah banyaknya pertimbangan, lalu mulai mendekati istrinya itu yang juga merasakan kebingungan sama halnya dengan Amran.
"Sayang," Panggil Amran dengan suara yang lembut.
Serli sempat mendongak, namun ia kembali mengedarkan pandangannya ke segala arah. Amran tak tahu betul apa yang tengah istrinya itu pikirkan.
Dengan sedikit gugup, Amran duduk di sebelah Serli, dan mulai mengusap pucuk kepala istrinya itu dengan kelembutan yang tiada tara.
"Sayang, aku suamimu," Ucap Amran lagi yang mulai meyakinkan istrinya itu.
Namun, Serli hanya terdiam. Ia menatap Amran dengan tatapan yang tak bisa bohong, bahwa ia begitu bingung dengan apa yang Amran katakan barusan. Matanya seolah berbicara jika apakah aku sudah menikah? Siapa lelaki yang ada di hadapanku saat ini?
Dan hal itu membuat Amran begitu terluka bukan main.
Amran sangat ingin sekali menangis saat itu juga. Tapi hal itu tak bisa ia lakukan saat ini, saat di mana istrinya seakan telah kembali dari kematian.
Merasa tak ada reaksi positif apapun lagi dari istrinya, Amran lantas memeluk raga istrinya itu dengan penuh kasih.
"Gak apa-apa jika kamu merasa bingung, 'sayang. Nanti, lambat laun kamu pasti ingat akan kenangangan indah kita. Mengingat siapa aku, dan siapa dirimu yang sesungguhnya. Percayalah, mulai saat ini aku akan selalu berada di sisimu. Tak akan lagi aku biarkan dirimu pergi sendirian lagi. Terima kasih karena sudah kembali ke dalam pelukanku dengan keadaan selamat."
****
Amran tidur dengan kedua tangan sebagai tumpuannya dan lantai sebagai alasnya.
Gimana?
Ya, tak ada yang salah dengan kalimat tersebut. Karena posisi Amran saat ini, ia sedang duduk di atas lantai dengan kedua tangannya sebagai tumpuan dagunya yang berada di tepi ranjang.
Saat ini, Amran tengah menatap wajah istrinya itu dengan penuh kesedihan.
Ia usap dengan lembut pipi merah merona istrinya itu lalu mulai merambat ke bibirnya yang tak kalah merah juga.
Lama ia terdiam di sana hingga ia mulai menelan salivanya sendiri beberapa kali, sampai ia mulai memalingkan wajahnya dan mulai menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Amran, sadarlah." Ucap Amran pada dirinya sendiri. "Istrimu sedang sakit, dan kau malah memikirkan hal kotor?" Lanjutnya lagi dengan tangan yang memijat keras keningnya.
Ya. Ketika tatapan Amran tertuju pada bibir istrinya itu, sekilas ia rindu dengan kecupan manis yang datang dari bibir istrinya itu. Ia rindu, sangat!
Tak ada yang salah sebenarnya dengan hal tersebut, namun kondisilah yang berbeda saat ini.
"M-aaf,"
Terdengar suara serak Serli, dan itu memang adalah suara khas Serli jika ia baru saja bangun dari tidurnya.
Tentu saja Amran langsung menatap istrinya itu dengan antusias.
"Ya, sayang. Kamu butuh sesuatu?" Tanya Amran, cepat.
Namun, Serli hanya menggelengkan kepalanya. "Bukan, bukan itu."
"Lalu? Apa kamu lapar, hem? Mau aku masakin apa?" Tanya Amran lagi tanpa jeda.
Dan Serli kembali menggelengkan kepalanya. "Bukan, aku... " Serli tertahan. Ia seakan sedang menahan apa yang ingin ia katakan.
"Ya?" Seru Amran, penasaran.
Melihat hal itu, Serli lantas bangun dari tidurnya dan membenarkan posisi duduknya hingga menghadap Amran yang juga ikut duduk (di atas ranjang).
"Apa, sayang?" Tanya Amran lagi yang kini mulai mengusap kembali pucuk kepala istrinya itu. "Katakan saja, gak apa-apa."
Terlihat Serli yang memainkan jari-jemarinya. Dan Amran tahu betul tabiat istrinya, jika sudah demikian itu tandanya di dalam otak Serli sedang banyak sekali pertimbangan.
"Pasti otakmu sedang mendidih, 'ya?" Gelak Amran dengan intonasi yang rendah, namun masih terdengar oleh Serli.
Serli sendiri mengangguk, mengiyakan apa yang suaminya itu katakan. "Apakah tidak apa-apa jika aku menanyakan sesuatu?" Tanya Serli yang mulai merasa nyaman, meski kecanggungan itu tentu saja ada diantara mereka.
Pertanyaan itu pun tentu saja dianggukki Amran, suaminya. Amran peluk tubuh Istrinya itu yang anehnya, rasa canggung itu kian mencuat ketika Amran melakukannya. Tapi meski begitu, Amran tetap melakukannya, memeluk istrinya dengan perasaan yang aneh.
Di dalam pelukan suaminya itu, Serli sempat mendongakkan wajahnya. Ia menatap lamat-lamat rahang tegas suaminya itu dengan mata yang berbinar.
Beberapa detik kemudian, ia kembali membenamkan wajahnya di d**a Amran, dan mulai mendengarkan detak jantung suaminya itu.
"Apakah aku benar Serli, istrimu?" Tanya Serli dengan nada yang lembut.
Amran sempat menutup kedua matanya, lalu mulai melampirkan seulas senyum penuh kesedihan.
Pertanyaan itu ...? Ah sudahlah.
"Tentu saja. Kamu Serli, istriku yang paling aku sayangi." Jawab Amran dengan tegas, meski di dalam hatinya sendiri ada keraguan yang tak bisa ia pungkiri.
"Tapi kenapa aku tak bisa mengingat apapun?" Tanya Serli lagi. Terdengar sekali jika saat itu Serli tengah sama prestasinya seperti Amran.
Kali ini Amran kembali bisa mendengar bagaimana suara manja dibalut kekesalan dari istrinya tersebut. Dan hal itu ternyata bisa membuat hatinya sedikit lega.
'Ternyata dia benar istriku,' pikir Amran saat itu.
"Nanti, suatu saat -"
"Kapan?" Sela Serli yang masih terdengar sedih.
Amran pun melepaskan pelukannya lalu mulai mengecup kening istrinya itu dengan hidmat. Kedua tangannya yang semula memeluk, kini meraup kedua sisi pipi Serli dan mendongakkan wajah mungil istrinya itu hingga mata keduanya saling berhadapan.
"Sebentar lagi. Yang paling penting, sekarang kamu ada di sini, 'sayang. Di sampingku."