Bab 6. Bunga Lili

1030 Kata
Pagi itu, Amran kembali sibuk dengan spatulanya. Terlihat jelas bahwa ada begitu banyak pancaran kebahagiaan dari wajahnya. Bahkan senyum yang lama tak terlihat, kini mulai terlampir kembali di bibirnya. Rasanya sudah lama sekali ia tak bergelut dengan spatula kesayangannya hingga tangannya sedikit kaku. "Masak apa, Nak?" Tanya Ibu yang entah sejak kapan sudah berada di belakang Amran. Amran sendiri sempat terkejut akan kehadiran Ibu. Namun, ia langsung tersenyum dengan manisnya dan berkata... "Kembali ke rutinitas, Bu." Ibu pun mengangguk, lalu mengedarkan pandangannya ke segala sudut ruangan dapur, seperti sedang mencari sesuatu. "Istrimu belum bangun?" Amran menggelengkan kepalanya pelan. "Belum, Bu. Tadi malam dia gak bisa tidur, makanya pagi ini dia masih tidur pulas." Ibu pun kembali mengangguk untuk ke sekian kalinya, baru duduk kemudian menatap anaknya yang tengah dilanda kebahagiaan atas kembalinya Serli di hidupnya. "Kalian banyak mengobrol?" Tanya Ibu penasaran. Dan Amran hanya tersenyum di balik celemeknya sebagai jawaban. "Apa ada perubahan?" Tanya Ibu lagi, semakin penasaran. Dan untuk kali ini Amran memutar tubuhnya, sampai ia berhadapan dengan Ibu. "Tidak ada, Bu," Geleng Amran. "Masih belum." Lanjutnya lagi. Meski wajahnya tersenyum saat mengatakan itu. Tapi bagi Ibu, sangatlah terlihat jelas bahwa begitu banyak kekecewaan di sana. "Perlahan, Nak." Ibu mencoba menenangkan. "Istrimu pasti mengalami trauma yang cukup hebat hingga ia melupakan kejadian hari itu." Amran menghela napas dalam ketika mendengar apa yang Ibu katakan. Ia setuju dengan Ibu, tapi ia juga tak bisa bohong jika ia sangat penasaran dengan hari itu. Hari di mana Serli mengalami kecelakaan. Kenapa Serli mengalami kecelakaan di tempat tersebut? Kenapa Istrinya itu tak bilang mau pergi ke sana? Ke mana tujuan Istrinya tersebut di hari itu? Sedangkan, yang Amran tahu saat itu adalah, tempat di mana Serli kecelakaan begitu bertolak belakang dengan arah ke rumah mereka berdua. Ah, begitu banyak pertanyaan yang melintas di benaknya saat ini. Tapi kesalnya, setelah istrinya kembali ke pelukannya, ia masih tak bisa menanyakan hal tersebut pada Serli, istrinya tersebut. **** 08:00 pagi. Serli menuruni anak tangga satu persatu dengan wajah yang penuh kebingungan. Ia melangkahkan kakinya dengan mata yang tak fokus. Di sepanjang ia melangkah, kepalanya selalu berputar ke sana kemari. Begitu asing baginya rumah tersebut. Ia bahkan selalu berpikir apakah ia benar - benar pernah tinggal di rumah itu? Jika iya, kenapa tak ada sebutir ingatan apapun tentang rumah itu yang melintas di kepalanya. "Eh udah bangun, Nak?" Tanya Ibu yang sudah memandangi Serli dari beberapa menit yang lalu. Serli sempat terkejut, namun ia langsung tersenyum malu pada Ibu. Dengan langkah yang pelan, Serli mendekati Ibu dengan senyuman malu - malunya itu. "I-bu... " "Iya, sayang. Ini, Ibu." Seru Ibu dengan tangan yang menepuk - nepuk dadanya sendiri. Tak lama, Ibu pun mengulurkan tangannya pada Serli. Dan, tentu saja hal itu disambut oleh Serli dengan rasa canggung yang luar biasa. Saat itu, rasanya... Aneh bagi Serli. "Sudah mandi?" Tanya Ibu, penuh perhatian. Dan Serli kembali mengangguk ketika ia baru saja duduk di samping Ibu. "Makanlah dulu, suami mu yang memasaknya." Ucap Ibu lagi dengan menatap semua makanan yang sudah terhidang di atas meja makan. "Khusus untukmu, Nak." Lanjut Ibu, tersenyum. Serli menatapnya dengan mata yang berbinar. Entah hal unik dan menyenangkan apalagi yang akan ia dapat ke depannya. Entahlah. Bagi Serli, begitu banyak kejutan yang ia dapat di setiap detiknya yang ia lalui di rumah itu. Dari ia yang dikabarkan mempunyai sebuah keluarga kecil dengan orang yang bisa ia sebut suami di dalamnya. Sampai seperti sekarang ini, Serli kembali dikejutkan dengan Amran, suaminya itu yang ternyata pandai memasak. Pasti aku selalu bahagia Itulah yang langsung muncul di dalam benak Serli saat itu. "Mmh, Bu. Mas Amran-nya di mana?" Tanya Serli kemudian. Ia baru menyadari hal itu ketika menatap makanan yang terhidang. Ibu tak langsung menjawab saat itu, Ibu hanya menatap jam dinding, lalu kembali menatap Serli dengan seulas senyum penuh makna. "Bentar lagi Amran akan pulang!" Serli pun mengangguk lemah. Entahlah, setiap nama itu ia sebut atau bahkan hanya sekedar mendengarnya saja, jantungnya langsung berdegup begitu kencang. 'Perasaan macam apa ini?' batin Serli. Dan, belum sempat Serli menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri, terdengar pintu rumah itu terbuka dengan suara yang sangat lembut. "Kamu sudah bangun?" Terdengar suara seseorang yang sudah tak asing di kedua telinga Serli. Serli pun langsung memutar kepalanya, demi menemukan sumber suara. Dan, benar saja. Seseorang yang Serli cari tadi, kini berada tepat di belakang tubuhnya dengan membawa sebuket bunga cantik. "I-iya," Jawab Serli, terbata. Serli tak tahu bagaimana dengan reaksi wajahnya saat itu, namun Serli sangat yakin jika saat itu wajahnya pasti merah, sangat merah bahkan. Serli bisa menebak hal itu karena wajahnya yang terasa sangat panas. Bahkan sebuah AC yang begitu terasa dingin tadi, kini sudah tak terasa sama sekali. Dan satu hal lagi. Serli yakin sekali jika saat itu ekspresi wajahnya pastilah terlihat memalukan. Hal itu bisa ia nilai dari bagaimana reaksi Ibu yang seperti sedang menahan tawa di sampingnya. "Kamu suka ini, 'kan?" Ucap Amran dengan tangan yang menyodorkan sebuket bunga yang Serli sempat lihat tadi. Namun, ada sesuatu yang aneh. Jika tadi Serli begitu terkesima dengan sebuket bunga yang Amran bawa, ah.. Tunggu. Sekarang pun Serli masih terkesima akan buket bunga itu, tapi ternyata, tidak dengan indra penciumannya. Karena baru saja buket bunga itu tepat berada di hadapannya beberapa detik, hidungnya sudah mulai gatal tak karuan hingga Serli pun bersin - bersin. Bagi Ibu, hal itu terlihat biasa saja. Tak ada pikiran aneh - aneh yang lainnya. Hanya sekedar bersih, ooh ya sudah. Seperti itu. Tapi, tidak dengan Amran. Amran langsung memperlihatkan wajah bingungnya, dengan tangan yang masih mengulur. Hacih!! Hacih!! "Mm-maaf, Mas. To-cih! To-long jauhkan bunga itu dari a-ku!" **** Amran menatap buket bunga itu dengan perasaan yang tak menentu. Ia tak mungkin salah 'kan? Pikirnya saat itu. "Ayolah, dia istriku, mana mungkin aku lupa dengan bunga kesukaannya?" Gumam Amran pada dirinya sendiri. Tangannya menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali, pertanda jika ia begitu kebingungan. "Sejak kapan dia alergi bunga lili? Dan, sejak kapan orang yang kehilangan ingatannya bisa merubah rasa sukanya terhadap sesuatu?" Lagi dan lagi, Amran menghela napasnya dengan kasar. Ini sungguh sesuatu yang tak masuk akal bagi Amran. Dan selagi Amran menggerutukan segala hal, tiba-tiba saja terdengar pintu yang di buka dari luar. "M-mas,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN