Meminta pertanggung jawaban

1383 Kata
Gadis yang tadinya masih terbaring lemah setelah melalui tindakan medis kuret, kini ia terbangun. Matanya mengerjap karena cahaya lampu kamar rawat tersebut menyilaukan matanya. Yang pertama kali diingatnya adalah bayang-bayang laki-laki itu, sosok yang telah membuatnya kehilangan janin dan hampir membuatnya kehilangan nyawa juga. Laki-laki yang dianggapnya sangat menghargai dirinya, ternyata telah menghancurkan kehidupan dan masa depannya. "Aku hamil, Ngga." Ucap Wulan pada laki-laki bernama Angga. Laki-laki yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, seorang anak pejabat tinggi yang juga satu sekolah dengannya. Laki-laki yang sangat menghargai dan peduli dengannya, yang juga sangat mengenal keluarga Wulan. Angga sempat ke rumah Wulan beberapa kali, dan keluarga gadis itu pun menyukai Angga, sebab sosok yang ramah dan tentu latar belakang keluarganya. "Gimana bisa, aku sudah sangat hati-hati." Ucap Angga gusar. "Kamu harus tanggung jawab, ini sudah terjadi, kita nggak bisa apa-apa." Wulan takut dengan segala hujatan dan omongan teman-temannya, apalagi tetangga di desanya. Nama baik keluarganya dipertaruhkan. Kini satu-satunya jalan hanyalah menikah. Angga terdiam, ia menimang sesuatu. Seperti Wulan, ia juga takut mencemarkan nama baik keluarganya yang seorang pejabat tinggi di kota tersebut, tapi tidak mungkin ia menikahi Wulan secara tiba-tiba, apalagi masa depannya masih panjang dan tidak mungkin juga akan terkekang dalam kehidupan rumah tangga. Untuk menikah saja belum pernah terfikir dalam hidupnya saat ini, dan sekarang dengan tiba-tiba Wulan datang meminta pertanggung jawaban. "Nggak bisa, Lan." Jawab Angga pada akhirnya. "Biarin aku sendiri dulu." Tambahnya yang langsung pergi meninggalkan gadis itu sendirian. Wulan merasa sangat kecewa setelah mendapatkan respon dari Angga, semua persepsi baiknya tentang Angga terbantahkan oleh laki-laki itu tadi. Selama ini Angga dianggapnya laki-laki yang dapat menghargai dan mempedulikannya, namun Wulan merasa itu semua salah, Angga tetaplah remaja yang masih labil, yang dapat berubah-ubah cara berfikirnya. Gadis itu menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan keras. "Mungkin dia masih butuh waktu, aku akan membiarkannya sendiri dulu." Ucap Wulan pada akhirnya, ia masih berusaha berfikir positif pada kekasihnya itu. Memang tidak mudah menerima kenyataan tersebut, bahkan bagi Angga juga. Itu kenapa reaksi Angga begitu syok dan ucapan yang dilontarkannya tidak terkendali. "Tenang ya, Sayang. Ayahmu masih coba berfikir jernih. Kita biarkan dulu." Ucapnya sembari mengusap perutnya, yang disana sudah ada janin, buah hatinya bersama Angga. Namun berselang hari, Angga mengajak Wulan untuk bertemu membicarakan kelanjutan hubungan mereka. Laki-laki itu tidak lagi sekalut sebelumnya. Mereka bertemu di taman sekolah sebelum bel masuk, keduanya memang sengaja berangkat lebih pagi untuk dapat membicarakan masalah tersebut lebih lama. "Gimana, Ngga? Kapan bisa ngomong ke kedua orang tua kita tentang hal ini?" tanya Wulan, ini semua ia lakukan sebelum perutnya semakin membesar. Angga masih terdiam, "Lan, kamu tau kondisi kita? kita masih bersekolah, ada masa depan yang perlu kita raih juga kan. Apalagi kedua orang tua kita, nggak segampang itu bilang ke mereka tentang masalah ini. Yang ada, malah kita habis oleh kemarahan mereka." Jelas Angga seolah dia sudah memikirkan semuanya yang ada dimasa depan. Kini giliran Wulan yang terdiam, dia masih menunggu apa yang diinginkan oleh Angga, apa yang akan dilakukan oleh laki-laki itu untuk mereka keluar dari masalah tersebut. "Terus, kamu mau gimana?" tanyanya karena Angga belum juga meneruskan ucapannya. Angga mengeluarkan sesuatu dari saku seragam sekolahnya, "Ini obat yang aku beli dari apotek, sudah pasti aman, kamu minum ini dan masalah kita selesai." Ucapnya memberikan dua butir pil kepada Wulan. Gadis itu terhenyak melihat apa yang disodorkan oleh Angga, "Maksud kamu aku harus gugurin kandungan ini?" tanyanya tidak terkontrol, ia tidak habis fikir dengan yang dilakukan oleh Angga, kenapa laki-laki itu bisa memiliki rencana sejauh itu. Angga yang mendengar nada suara Wulan meninggi, segera mengedarkan pandangan kesekitarnya, takut ada yang mendengar ucapan gadis itu. "Ssssts..." Angga memperingati, "Hanya untuk kali ini saja, aku juga berjanji akan selalu bersamamu, disaat waktunya nanti kita benar-benar akan menikah, saat kita sudah siap baik fisik atau mental. Karena jika kita menikah saat ini, akau banyak yang kita pertaruhkan... Plis, Sayang. Aku sudah memikirkan ini semua, ini adalah yang terbaik buat kita." Jelas laki-laki itu agar Wulan dapat mengerti yang dimaksudnya, ia beranggapan bahwa ini yang terbaik untuk mereka berdua, apalagi untuk masa depan yang masih jauh dilalui. "Aku janji nggak akan pernah ninggalin kamu, kita akan menikah nanti. Aku janji." Angga mengulang janjinya, meyakinkan gadis itu bahwa dengan menggugurkan kandungannya tidak merubah tujuan mereka untuk menikah nanti ketika mereka sudah dewasa dan siap. "Ya, Sayang? Ini nggak akan melukaimu juga," Angga terus merayu agar gadis itu setuju dengannya. Wulan menimang kembali, pil yang ada ditangan Angga adalah alat untuk membunuh kandungannya, yang membuatnya menjadi pendosa dan tidak dapat terampuni. "Membunuh janin ini? dosaku, Ngga. Ya Allah.." Ucap Wulan yang merasa sangat berdosa mempunyai niatan untuk menggugurkan kandungannya. Tadi ia sempat tergoyahkan dan mau menuruti kemauan Angga, namun ia ingat betapa dosa besarnya membunuh janin yang tidak berdosa dan hadir karena kemauannya sendiri. "Dosa, Lan? Dengan kita melakukan hubungan intim itu saja kita sudah dosa... Kali ini saja, sekalian kita dosanya, dan nanti kita bertobat, Allah Maha Mengampuni, kan? Kalo kita benar-benar bertobat." Ucap Angga kembali meyakinkan Wulan. Bertobat? menggugurkan kandungan? Wulan masih tidak bisa berfikir jernih dengan apa yang akan dilakukannya nanti. Ia mengambil pil tersebut dari tangan Angga, "Akan aku fikirkan dulu." Ucapnya lalu beranjak meninggalkan Angga begitu saja. Banyak sekali pertimbangan, seperti yang dikatakan oleh Angga, jika sekarang ia harus jujur pada kedua orang tuanya, ia tidak tau akan semarah apa mereka mendengar anaknya yang selama ini dijaga dan diwanti-wanti, ternyata hamil diluar nikah, lalu bagaimana dngan masa depannya juga? cita-citanya sebagai dokter, akankah juga tertunda atau bahkan tidak tercapai karena memiliki seorang anak? Dan seperti yang dikatakan oleh Angga juga, setelah semua dosa yang dilakukannya ini, ia akan bertobat, tobatan nasuha, segala khilafnya tidak akan pernah ia ulangi lagi. Wulan berjanji akan menjadi pribadi yang baik dan jika bisa; ia akan meninggalkan Angga. Laki-laki yang merusak tubuh dan masa depannya, tidak layak mendapat kebahagiaan bersamanya lagi, sesungguhnya Wulan sudah amat sangat jijik pada laki-laki itu. Gadis itu memasuki ruang kelasnya, disana ternyata sudah banyak teman-temannya. "Laaan, dari mana aja lo? tas lo udah dikelas dari tadi pagi." Ucap Naina, sahabatnya yang sekaligus teman sebangkunya. "Iya, tumbena lo pagi banget berangkatnya." Tambah Ilena. Wulan berusaha tenang, ia memasang wajah yang ceria sebelum kedua sahabatnya itu sadar dengan kegusarannya. "Eh, iya orang tua gue lagi keluar kota, di rumah nggak ada yang masak, jadi gue ke kantin dulu tadi buat sarapan." Jelas Wulan yang sudah duduk dibangkunya. Kedua sahabatnya itu melihat Wulan seperti menyembunyikan sesuatu, hampir tiga tahun bersama membuat mereka tau satu sama lain, mereka tau Wulan sedang memikirkan sesuatu hingga kentara sekali. "Lo kenapa, Lan?" tanya Naina. "Eh? Kenapa maksudnya?" tanya balik Wulan mash berusaha menutupi kegusarannya. "Jangan boong, lo pasti ada apa-apa, kan? tanya Ilena yang semakin yakin, ada yang tidak beres dengan Wulan. "Apa Angga selingkuh lagi?" tanya Naina, setelah sahabatnya itu berpacaran dengan Angga, Wulan sering sekali menangis karena mengetahui pacarnya itu selingkuh, dan itu tidak terjadi satu kali saja, namun berkali-kali. Wulan jadi menerawang jauh, kenapa ia dibutakan oleh cintanya pada Angga? Laki-laki yang disebutnya sangat menghargai dan peduli, ternyata juga sering sekali selingkuh dibelakangnya, kenapa dia bisa selalu memaafkan Angga? Dan kini ia baru menydari kebodohannya itu ketika laki-laki itu sudah merusaknya. "Nggak kook, kita aman-aman aja." Jawab Wulan sembari meringis. "Yakin lo? kalo lo ada apa-apa bilang, apalagi masalah Angga, serahain ke gue, biar gue yang hajar dia. Macem-macem sama temen gue." Tambah Ilena, yang tidak terima karena Angga sudah sering menyakiti sahabatnya tersebut, namun ia dan Naina juga tidak habis fikir kenapa Wulan selalu memaafkan kesalahan laki-laki itu, kesalahan yang sama dan terjadi berulang-ulang. "Iya, yakin. Udah kalian tenang aja." Jawab Wulan. Setelah bel istirahat berbunyi, Wulan yang biasanya dengan Naina dan Ilena pergi ke kantin untuk makan siang, kini memilih ke kamar kecil, alasannya karena ingin buang air besar. Nmun setelah berada di toiler, Wulan menenggak pil yang diberikan oleh Angga. Ternyata aku tidak bisa berdamai dengan keadaan, Aku harus memilih mati atau kehilangan, Dan aku tidak bisa memilih salah satu, Jadi biarkan aku untuk menikmati seluruhnya. Selamat tinggal kebaikan, Biarlah keburukan pergi bersamaku. Wulan tidak hanya menenggak satu pil, namun semua pil yang diberikan oleh Angga. "Nak, Ibu nggak akan biarkan kamu pergi sendirian." Ucap gadis itu terakhir kali, sampai ia jatuh kelantai karena menahan sakitnya perut, darah pun keluar begitu banyaknya hingga merubah warna rok abu-abunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN