Kedatangan Aksa di rumah Alfa

1005 Kata
Laki-laki yang tadinya bertanya-tanya siapakah perempuan itu, kini sadar bahwa ia adalah istri dari teman lamanya. Kenapa ia tidak segera ingat ketika perempuan itu memanggilnya dengan nama Faruq. Teman lama yang selalu dianggap sangat mirip dengannya, apa kabar dia? sejak seminar yang tidak sengaja mempertemukan mereka, Faruq tidak ada kabar sama sekali, padahal laki-laki itu berjanji akan menjaga komunikasi yang baik. Aksa juga sudah berusaha menghubungi Faruq ke nomor yang diberikan laki-laki itu, namun semuanya nihil, Faruq tidak pernah merespon dan seperti ditelan bumi, temannya itu tidak ada kabar sedikitpun. "Assalamualaikum," Aksa menekan bel, ia sekarang berada didepan rumah Faruq. Laki-laki itu mengetahui rumahnya karena Alfa beberapa waktu hari lalu. Jika rumah mereka sedekat ini, kenapa Aksa tidak bisa menemukan Faruq? "Waalaikumsalam." Suara itu terdengar bersamaan dengan pintu yang terbuka. Disana memperlihatkan seorang perempuan sederhana yang sedang menggendong gadis kecil, perempuan yang beberapa hari lalu menolak bantuannya, dan ia mengerti maksud dari Alfa tersebut, ia ingin menjaga maruahnya sebagai seorang istri dan perempuan, yang tidak bisa jalan dan mengobrol dengan laki-laki lain. Alfa nampak terkejut melihat laki-laki yang beberapa hari lalu ditemuinya, ia sedikit mundur. Sikapnya menunjukkan kewaspadaan. Kenapa laki-laki itu bisa sampai ke rumahnya? fikir Alfa. "Faruq nya ada?" tanya Aksa yang membuat Alfa lagi-lagi terkejut. Kenapa laki-laki itu bisa mengetahui nama suaminya. "Maaf, apa Faruq nya ada?" tanya Aksa lagi karena belum mendapatkan respon dari perempuan yang ada didepannya. "Eh, maaf kenapa cari Mas Faruq?" tanya Alfa yang begitu hati-hati. "Faruq adalah temanku sewaktu SMP dan SMA, kita sudah lama nggak ketemu dan baru kemarin di seminar kita ketemu lagi, aku belum sempat minta alamat rumah atau kantornya, cuma punya nomor w******p nya saja, tapi sepertinya sudah tidak aktif juga. Dan kebetulan kapan hari aku bertemu denganmu di supermarket seberang jalan, aku baru sadar kalo kamu istrinya Faruq dan melihatmu masuk ke rumah ini. Jadi, aku sudah bisa ketemu Faruq?" jelas Aksa agar perempuan itu yakin bahwa ia mengenal Faruq dengan baik, bukan seperti yang ada difikiran Alfa tentangnya. "Kita teman baik." Tambah Aksa yang merasa perempuan itu tidak juga percaya dengannya. "Siapa, Al?" suara itu berasal dari balik tubuh Alfa. Seorang wanita muncul dan melihat Aksa ada didepan rumah, laki-laki itu pun begitu sumringah melihat siapa wanita itu. "Ibuuk, Assalamualaikum." Ucapnya sembari langsung menyalami ibunya Faruq. "Waalaikumsalam.. Ini beneran Aksa? Ya Rabb, Nak.. Kamu kemana aja? Nggak pernah main kesini." Ucap wanita itu terlihat sangat akrab dengan laki-laki bernama Aksa tersebut. Alfa akhirnya percaya bahwa laki-laki itu tidak punya niatan buruk padanya, ia benar-benar teman dari Almarhum suaminya. "Iya, Bu. Maaf baru bisa sekarang main kesini, Faruq nya ada Bu?" tanya Aksa, karena bertanya pada Alfa tidak membuahkan hasil apapun. Wajah wanita itu tiba-tiba berubah, ada kesedihan disana. "Apa dia dinas luar kota lagi, Bu?" tanya Aksa, karena ia tau sekali sejak dulu Faruq tidak bisa lama-lama meninggalkan ibunya, sebab ibunya selalu merasa sedih jauh dari Faruq. Wanita itu menggeleng, "Faruq telah meninggal, Nak Aksa.." Ucap wanita itu yang membuat Aksa sangat terkejut. "Ibu serius, Bu?" Aksa meyakinkan lagi dengan yang didengarnya, mana mungkin laki-laki itu meninggal? Baru saja ia bertemu dengan Faruq saat di seminar, dan mereka bertukar nomor w******p dan saling berjanji untuk berkabar jika sudah sampai di rumah. Ternyata inilah alasan kenapa Faruq tidak memberinya kabar sama sekali, dan Alfa? itu mengapa perempuan itu begitu takut dekat dengannya, karena ia menjaga nama baik suaminya yang sudah meninggal, ia pasti tidak mau dianggap janda yang haus akan perhatian seorang laki-laki setelah ditinggalkan suamiya pergi. "Iya, Nak." Jawab wanita itu. "Ya Allah, Far.." Aksa mengusap wajahnya, seolah kenyataan itu membuatnya langsung down. Ia jadi ingat ucapan Faruq saat ditengah seminar berlangsung, laki-laki itu meminta bantuan pada Aksa untuk merawat dan menjaga Alfa serta putri kecilnya; Rubi. Apa itu semua adalah firasat dari Faruq bahwa ia akan pergi untuk selama-lamanya meninggalkan semua orang yang menyayanginya. "Kita belum banyak ngobrol, Far." Bisik Aksa yang masih tidak percaya bahwa temannya itu telah meninggal. "Kita masuk ya, Nak." Ajak wanita itu. Merekapun memasuki rumah yang di ruang tamunya terpasang dua figura besar, dimana memperlihatkan keluarga kecil yang bahagia. Figura pertama terlihat Faruq sedang duduk dengan pose perfeksionisnya memangku Rubi, sedangkan Alfa berdiri disamping Faruq sembari membawa bunga, lalu dilain figura; memperlihat Alfa dan Faruq berlibur ke sebuah Negara dan mereka mengabadikannya dengan sangat indah. Dari dua foto tersebut, senyum bahagia selalu mengembang, menandakan bahwa dalam keluarga kecil itu selalu ada kebahagiaan. Aksa tersenyum melihatnya, matanya mengedar, melihat desain rumah yang sangat Faruq sekali, ia sangat tau selera temannya itu, minimalis namun elegan. "Ibu buatkan minum dulu ya," Ucap wanita itu berpamitan. "Eh ndak, Bu. Biar Alfa aja yang buatin. Rubi biar Alfa juga yang gendong, Bu. Ibu ngobrol dulu aja ya." Ucap Alfa sembari mengambil alih Rubi yang tadinya ada digendongan wanita itu. Ibunya Faruq pun terenyum sembari mengusap lengan Alfa. "Makasih ya, Al. Maafin Ibu." Ucapnya dengan wajah sendu menatap Alfa. Setelah kepergian Faruq, Alfa menjadi seorang ibu rumah tangga sekaligus pekerja freelance, perempuan itu mengerjakan orderan untuk pembuatan website, yang akhir-akhir ini juga semakin banyak permintaan. Alfa terlihat sangat tegar, ia mengurus Rubi dan ibunya Faruq, segala kebutuhan berusaha dipenuhinya, meski sebenarnya tabungan Faruq cukup banyak dan bisa menghidupinya, namun Alfa tidak ingi bergantung, ia juga ingin berusaha sendiri. Seringkali, setelah menidurkan Rubi, wanita itu melewati kamar Alfa, perempuan itu pamit untuk mengerjakan orderannya, namun sebenarnya disana ia menangis, menelangkupkan kedua tangannya menutupi wajah, tubuhnya bergetar karena berusaha menahan tangis agar tidak terdengar oleh siapapun. Perempuan itu sendirian, kesepian, dan ia berusaha melaluinya. Ia tidak mau mengeluh pada ibunya Faruq, karena akan membuat wanita itu kepikiran, jadi yang dilakukannya hanya sendiri di kamar, menguatkan diri untuk tetap tegar melewati masa-masa ini. Ia yakin ada sesuatu yang indah, yang disiapkan oleh Tuhan didepan. "Ibu kenapa?" tanya Aksa yang melihat wanita itu gusar. Ibunya Faruq pun berusaha memperbaiki sikapnya, agar tidak membuat Aksa bertanya-tanya. "Nggak apa-apa kok, oh ya.. dua hari lagi 40 harinya Faruq, Nak Aksa datang ya." Ucapnya. "Tentu, Bu.. Aksa akan datang lebih awal untuk bantu-bantu juga." Ucapnya sembari meringis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN