Di Stasiun Kereta Api

1058 Kata
“Maas,” Panggil Aisya saat mereka sudah sampai di rumah, mereka mampir ke rumah dulu sebelum melanjutkan perjalanan untuk berlibur ke Malang. “Hmm?” ucap Syarif yang ada disampingnya sedang melepas sepatunya dan hendak pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih. “Kamu marah perihal tadi? Kamu marah karna aku ragu sama kamu?” tanya Aisya karena melihat laki-laki itu sejak tadi diam. Aisya merapikan rambut laki-laki itu saat Syarif sedang duduk dan melepas kaos kakinya. “Nggak, aku cuma kena mental karena diroasting oleh Ive.” Jawab Syarif yang tidak terduga dan membuat Aisya melongo lalu sepersekian detik tertawa terbahak-bahak. “Gimana Mas maksudnya? Aku nggak paham.” Ucap perempuan itu sembari duduk dan menghadap kearah Syarif. Syarif mendongak dan menghentikan aktivitasnya, lalu menatap perempuan itu. “Aku tau beresiko tinggi kalo minta dia menjelaskan, tapi kalo nggak gitu gimana caranya aku ngeyakinin kamu?” ucap Syarif. “Maaf ya, Mas. Aku nggak bermaksud untuk ragu sama kamu..” jawab Aisya sembari mengusap lengan laki-laki yang ada didepannya itu, bisa-bisanya dia tidak percaya pada Syarif, kenapa juga tadi dia bisa berpikiran seburuk itu pada suaminya. “Aku nggak mempermasalahkannya, wajar kalo kamu cemburu.” Ucap Syarif. “Cemburu?” Aisya mengulang ucapan Syarif. Apa tadi itu bentuk rasa cemburu? Kalau iya, apakah sikap Aisya ini dibenci oleh Tuhan-Nya? Cemburu merupakan sebuah kewajaran bagi pasangan suami dan istri. Namun demikian tentu Islam membatasi kecemburuan-kecemburuan itu agar rasa cemburu tetap terkendali sebagai pembawa rahmat bagi kehidupan rumah tangga. Islam membagi dua rasa cemburu, yaitu cemburu yang dibolehkan dan cemburu yang dilarang. Cemburu yang dilarang ini dapat menghadirkan murka Allah SWT. Selain menjadikan murka Allah menimpa suami, jangan sampai kecemburuan itu menjadikan Allah memurkai si istri sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Jabir bin Atiq berikut. “Sesungguhnya sifat cemburu itu ada yang dicintai oleh Allah dan ada yang dibenci oleh Allah. Adapun cemburu yang disukai adalah cemburu yang berdasarkan curiga (dengan bukti yang jelas). Adapun cemburu yang dibenci adalah cemburu yang tidak didasari dengan bukti yang jelas.” Ibnu Hajar memperjelas, yang dimaksud cemburu di atas adalah ketika seorang istri cemburu dengan suami karena selingkuh dengan yang lain, melalui sesuatu yang dilarang oleh Allah seperti zina. “Sudah, aku bersih-bersih dulu ya, kereta apinya berangkat satu setengah jam lagi.” Ucap Syarif memperingati Aisya agar tidak berlama-lama saat prepare. Rencananya mereka akan berlibur ke Malang menggunakan kereta api, agar perjalanan itu dapat terasa nikmat. Apalagi mereka sudah lama tidak naik kendaraan tersebut, terakhir kali mereka pergi ke Bojonegoro, berdua saat survei tempat study tour. "Maaas, kalo gitu kamu mau bawa baju ganti berapa?" tanya Aisya segera merapikan baju-baju untuk dimasukkan kekoper. Bisa-bisanya Syarif memesan tiket semendadak itu, mereka saja belum prepare sama sekali. "Terserah kamu, Sya." Jawab Syarif dari dalam kamar mandi. "Maas, ini yang pake baju kamu, kok terserah aku." Gerutu Aisya yang kesal dengan jawaban suaminya. "Samain aja kayak punyamu ya, ini bukan masalah besar juga kok." Ucapnya yang membuat Aisya ingin tertawa juga tetap kesal, kenapa sejak tadi ia ingin mendebat suaminya terus. *** “Tiketnya sudah Mas?” tanya Aisya setelah dari warung yang ada di stasiun untuk membeli dua botol air mineral. Seperti jawaban Syarif saat ditanya oleh Aisya baju apa yang akan dibawa, akhirnya Aisya memilihkan baju yang warnanya sama dengan yang dibawanya. Sekarang laki-laki itu terlihat tampan dengan kaos warna hitam dan celana berwarna cream, sedangkan Aisya memakai cardigan berwarna cream dan baggy pants berwarna hitam. Mereka benar-benar sangat cocok sekali, yang melihatnya pun memuji bahwa mereka adalah pasangan yang serasi. “Sudah, tiga puluh menit lagi berangkat.” Ucap Syarif sembari mengambil sebotol air mineral yang disodorkan oleh istrinya tersebut. “Kita cari makan dulu?” tanya Syarif karena merasa sudah lapar, entah kenapa sejak dengan Aisya, ia menjadi sering lapar, dan hal itu membuat berat badannya naik dan terlihat gemukan. “Ayoook, aku juga udah lapar dari tadi Mas.” Ucap Aisya sangat setuju dengan saran dari suaminya tersebut, ia memang sudah lapar sejak diperjalanan tadi, padahal sebelum berangkat mereka sudah makan dikantin dengan Ive. “Oke.” Syarif mengajak Aisya kekantin yang ada di stasiun tersebut, mereka berhenti distand nasi padang. “Maas, kamu serius mau makan nasi padang?” tanya Aisya yang tidak percaya dengan keputusan suaminya bahwa mereka akan makan nasi padang. Mereka tau sendiri bahwa masakannya akan lebih dari porsi. “Tentu. Kita coba sekuat apa perut kita.” Ucapnya yang membuat Aisya tidak menyangka, apakah hanya soal makanan masih membuat laki-laki itu seolah sedang berkompetisi. “Mas, kamu yakin?” tanya Aisya namun ternyata laki-laki itu sudah masuk kesana dan memesan nasi padang. Tidak lama kemudian, mereka sudah keluar dari stand dan menuju tempat tunggu, Aisya yang merasa perutnya sudah sangat begah, pamit pada Syarif untuk ke toilet sebelum mereka berangkat. “Mas, anter ke toilet. Aku kebelet.” Ucap Aisya yang mengundang gelak tawa dari Syarif. Kebetulan stasiun tersebut sepi dan tidak terlalu banyak yang naik kendaraan itu siang hari. “Sayang sekali, Sya. Baru aja makan, udah dikeluarin?” pertanyaan Syarif sangat menyebalkan. Ini juga kan karena dirinya yang mengajak untuk makan nasi padang dengan porsi yang cukup banyak. Dan yang paling menyebalkan, ternyata Syarif sudah buang air besar dulu saat tadi masih di rumah. “Maas, kamu kok ngeselin sih.” Gerutu Aisya. Syarif pun masih belum puas tertawa, namun berhenti ketika Aisya memegangi perutnya. “Ayo, Mas. Aku mules ini.” Gerutunya. “Oke, oke. Ayoo. Sepuluh menit lagi kereta dateng.” Syarif dengan sigap berdiri dan menggandeng tangan perempuan itu, lalu mengantarkannya ke toilet yang sedikit jauh dari tempatnya menunggu. Ditengah perjalanannya menuju toilet, ponsel Aisya berdering. “Mas, Mas.. bentar. Ini keluarganya dokter Warna telepon.” Ucap Aisya yang tiba-tiba khawatir karena mendapat panggilan dari keluarganya Warna, oh ya apa kabar perempuan itu? Yang terakhir didengarnya Warna mulai membaik dan bisa memberikan keterangan pada polisi. Aisya menjawab panggilan tersebut. “Nak Aisya, tau keberadaan Warna? Dia pergi dari rumah, dan ninggalin surat. Dia mau bunuh diri, nak. Tolong Ibu.” Ucap wanita yang ada diseberang, ia terdengar sangat khawatir karena putrinya meninggalkan rumah dan sepucuk surat bahwa ia akan pergi untuk selama-lamanya. “Ya Allah, Bu.. apa disurat itu dokter Warna bilang akan kemana?” tanya Aisya sangat khawatir dengan keadaan Warna. Dia jadi ingat kejadian yang baru saja terjadi pada Wulan, apa Warna juga sedang mengalaminya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN