Syarif berjalan gontai bersama Aisya yang ada disamping menggandeng tangannya, seolah menandakan bahwa laki-laki itu telah milik seseorang dan dia adalah Aisya.
“Pak, silahkan duduk. Sudah disiapkan untuk Pak Syarif dan Bu Aisya dibangku tamu.” Ucap Vino mengarahkan Syarif ke tempat duduk yang disana sudah ada beberapa juri dan tamu dari sekolah lainnya. Sepertinya Syarif dan Aisya terlambat.
“Kalian masih lama performnya?” tanya Aisya pada Vino basa-basi sembari berjalan menuju kursi tamu.
“Kami urutan ke tiga, Bu.. sebentar lagi.” Jawab Vino.
Oh, jadi masih nomor tiga? Artinya mereka tidak terlalu telat, orang-orang disana saja yang datangnya terlalu cepat. Oke, baiklah. Jadi tidak masalah.
Saat mereka sudah duduk dikursi tamu, setelah menyalami beberapa orang disana dan melemparkan senyuman. Seseorang datang menghampiri.
“Loh, Dukur.. kamu datang juga toh. Lama ndak ketemu ya.” Ucap seseorang tersebut yang ternyata perempuan, ia terlihat sederhana namun cantik, umurnya bisa dibilang lebih tua sedikit dari Aisya.
Lalu; Dukur? Siapa perempuan itu sehingga seenak udelnya memanggil Syarif dengan begitu santainya, apalagi didepan Aisya yang jelas-jelas ada disana.
Aisya menyipitkan matanya, dia memperingati perempuan itu agar menjaga sikap. Merasa terintimidasi, perempuan yang dimaksudpun mengalihkan pandangannya kearah Aisya sembari melemparkan senyuman.
“Aisya ya?” tanya perempuan itu pada akhirnya.
“Dia Ive, temanku dari SMP, ikut paskibra denganku dulu..” Jelas Syarif. “Dia juga datang kepernikahan kita.” Tambahnya melihat Aisya yang tidak suka dengan kehadiran perempuan bernama Ive tersebut.
Perempuan itu tipe Syarif sekali, sederhana, apa adanya dan cantik. Setelah ini laki-laki itu akan diinterogasinya, tidak sekarang apalagi didepan perempuan itu.
“Halo, Mbak..” Aisya menyodorkan untuk bersalaman dengan perempuan itu, lalu menarik bibirnya untuk tersenyum.
Merasa sedikit canggung, perempuan bernama Ive tersebut berpamitan untuk pergi lagi, alibinya karena buru-buru harus mendampingi anak didiknya yang sebentar lagi akan tampil.
Setelah kepergian perempuan itu, Aisya menoleh kearah Syarif yang ada disampingnya. Namun memang dasar Syarif, laki-laki itu tetap saja bersikap datar, tidak tau bahwa istrinya sedang cemburu karena perempuan lain menyapanya dengan santai menggunakan nama panggilan yang beda dari lainnya, bahkan Aisya sendiri tidak tau menahu siapa perempuan itu, Syarif tidak pernah menceritakannya.
“Sudah, dia bukan siapa-siapa. Ive hanya teman SMP, dan sebutan Dukur memang panggilanku saat itu.” Jelas Syarif yang tau akan didebat oleh Aisya mengenai hal itu.
“Terus, kenapa kamu nggak pernah cerita tentang dia? Biasanya kamu sering cerita, apalagi tentang teman-temanmu, Mas.” Elak Aisya yang masih tidak terima dengan jawaban Syarif. Sangat singkat penjelasannya.
“Aku pernah menceritakannya, saat malam setelah resepsi, tapi kamu malah tidur kan?” ucap Syarif yang mengingatkan perempuan itu pada saat malam setelah resepsi, karena begitu lelahnya, apalagi dengan baju pengantin yang membuatnya terasa berat dan pegal, membuat Aisya tertidur dalam hitungan detik setelah menempatkan tubuhnya diatas ranjang. Pada saat itu juga, Syarif menggosok tubuh Aisya dengan minyak angin, ia mengerti sekali bahwa istrinya sedang sangat lelah.
Aisya yang ingat hal itu lalu meringis, “Iya ya, aku tidur waktu itu.” Ucapnya. “Tapi memangnya siapa dia? Kamu nggak biasanya loh deket sama cewe waktu dulu Mas.” Tambahnya yang masih penasaran.
Syarif hanya diam dan tidak menanggapi ucapan Aisya yang akan beruntut semakin panjang. Ia menatap perempuan itu sembari menghela nafas, yang menandakan bahwa Aisya harus sabar dan menahan semua pertanyaannya.
Karena begitu hafal dengan ekspresi Syarif, Aisya pun tidak lagi melontarkan pertanyaan. Meski sebenarnya ia masih sangat ingin tau.
***
“Selamat ya, kalian memang pantas mendapatkan kemenangan ini.” Ucap Syarif sembari menepuk pundak Vino, ia bangga pada murid-muridnya yang berhasil memborong berbagai penghargaan, piala-piala yang besar dan menjulang tinggipun dibawa dengan rasa bangga.
Mereka semua meraih juara satu untuk formasi terbaik, danton terbaik, dan pelatih terfavorit yang pada saat itu diberikan pada Syarif.
“Pak Syarif lah yang hebat, sudah terbukti Bapak menjadi pelatih terfavorit.” Ucap Vino yang dibenarkan oleh lainnya, mereka bangga pada Syarif karena berkat didikannya selama ini, meski sangat tegas dan tidak mentolerir apapun, namun hal itu membawa mereka pada berbagai kemenangan.
Dan Syarif, meskipun ia telah menjadi kepala sekolah, ia tidak ingin berhenti menjadi pelatih ekstrakulikuler yang saat ini sangat terkenal disekolahan mereka, karena berbagai kemenangan yang didapatkannya. Murid-murid baru begitu berminat masuk ke ekstrakulikuler tersebut, namun tidak sedikit juga yang mengundurkan diri karena latihan yang sangat keras dan disiplin.
“Kalian semua hebat.” Jawab Aisya yang bangga pada murid, juga suaminya itu. Mereka menampilkan yang terbaik menurut mereka, dan mendapatkan hasil yang memuaskan.
“Kalo gitu Bapak pulang dulu, kalian lanjutkan ya.” Ucap Syarif berpamitan, dan tidak mengganggu kesenangan murid-muridnya, karena Syarif tau dengan adanya dia disana akan membuat mereka canggung dan tidak bisa bebas mengekspresikan kebahagiannya.
“Siap Pak.” Jawab mereka.
“Lusa kita ketemu di sekolah.” Ucap Syarif, sembari menggandeng tangan Aisya untuk mengikutinya.
Bukannya ke parkiran, Syarif membawa Aisya ke sekumpulan murid sekolah lain, yang juga menjadi juara kedua untuk formasi terbaik.
“Ve,” Syarif memanggil perempuan itu yang sedang ikut berbahagia dengan murid-muridnya, perempuan itu pun berbalik untuk meliaht siapa yang telah memanggilnya.
“Eh, Syarif, Aisya..” ucap perempuan itu melihat keduanya menghampiri. “Ada apa?”
“Ini, Aisya mau kenalan sama kamu.” Ucap Syarif tanpa basa-basi, membuat Aisya gelagapan, dan hal itu mengundang gelak tawa dari Ive.
Aisya sangat terkejut dengan yang diucapkan oleh suaminya tersebut, bisa-bisanya Syarif bilang bahwa dia ingin berkenalan dengan Ive. Padahal Aisya ingin tau dari Syarif, bukan langsung pada perempuan itu.
Karena tau betul maksud dari Syarif, Ive pun mengajak keduanya untuk kekantin yang ada disana, sekedar mengobrol dan menjawab rasa penasaran dari Aisya. “Oke deh, kita ke kantin dulu, kita ngobrol-ngobrol disana, sekalian traktiran karena ada yang juara pelatih terfavorit nih.” Ucap perempuan itu sembari melirik kearah Aisya. Ive terlihat sangat humble dan ramah, Aisya merasa pikiran buruknya itu salah.
***
Setelah memesan beberapa makanan, Ive pun membuka pembicaraan.
“Aku Ive, aku temennya Syarif sejak SMP, bukan cuma aku saja, ada Alfi, Ryan, Diki dan Nuri. kita yang mempelopori lomba-lomba passus ini, kamu tau sendiri kan di tahunnya kita masih tidak seterkenal saat ini. Ya, Alhamdulillah berjalannya waktu, passus semakin banyak diminati oleh anak-anak muda.” Jelas Ive begitu detail sampai menyebutkan nama-nama teman baiknya dengan Syarif.
“Ma-maaf Mbak, bukan seperti itu maksudku sih..” Aisya merasa tidak enak.
Namun Ive tersenyum simpul, “Nggak masalah, Syarif memang orang yang susah banget untuk menjelaskan, dia takut tidak dipercaya atau terjadinya salah paham.” Jelas Ive yang sudah pasti tau bagaimana Syarif, secara perempuan itu lebih dulu mengenal Syarif daripada Aisya.
“Dan kamu, syarif. Ada baiknya kamu menjelaskan dulu ke Aisya, aku yakin Aisya pasti percaya sama kamu kok.” Ucap Ive yang terdengar sangat dewasa bagi mereka berdua, bahkan Syarif yang selama ini bagi Aisya sangat berwibawa, kalah oleh Ive.
Aisya menoleh kearah Syarif, “Kamu kok diem aja, Mas?” bisik perempuan itu.