Permainan pengganti Jessie

1467 Kata
Dirumahnya yang terlihat sepi Jelita ibu dari bayi itu melamun sendirian di ruang tengah rumah yang besar dan memiliki arsitektur jawa kuno itu,serta dipenuhi banyak barang-barang antic. Tak lama keluar seorang laki-laki dengan menggunakan jas rapih keluar dari salah satu kamar lalu menghampirinya. “ mah… jangan terlalu larut. Mah, Papa yakin Jessie sudah tenang sekarang!”. Ucap laki-laki itu yang ternyata Suami dari Jelita. “ mama,sedih pah. Jessie itu anak kita satu-satunya dari pernikahan kita yang hampir sepuluh tanhun, akhirnya kita diberikan Jessie tapi kenapa Tuhan malah mengambilnya lagi dengan waktu secepat ini!”. Ucapnya dengan lirih lalu tak terasa air matanya menetes lagi, sekali lagi dia menatap foto anaknya itu yang tertempel didinding tepat didepan nya. “ maafin Papa mah. Papa gak bisa nyelamatin Jessie,tapi mama tau kita harus yakin kalau anak kita masih ada didekat kita!”. Setelah ucapannya tiba-tiba udara dirumah semakin terasa dingin menusuk.. Susasana rumah itu semakin terasa hening walaupun ada dua orang yang berbincang disana,perlahan salah satu barang antic disana bergeser dan foto Jessie seperti merubah raut wajahnya dari tersenyum menjadi mimik wajah sedih. Tah apa yang dirasakan olehnya suami dari Jelita merasa bahwa dia ingin sekali cepat-cepat pergi dari rumahnya, dia merasa sedari malam tadi seperti ada yang memperhatikannya. Dan setiap gerak-geriknya seolah selalu diawasi oleh seseorang yang tidak bisa dia lihat. “ ma,maafin Papa ya. Hari ini juga Papa harus pergi tugas kembali “. Ucapnya sambil mencium isterinya yang masih duduk sambil memandangi foto anaknya yang baru saja dikuburka itu. “ heh…”. Jelita bangkit dari duduknya, “ Pa,apa harus secepat ini. Kitakan masih berduka,Jessie baru aja di makamkan!”. Ucapnya sambil menatap sedih suaminya itu. “ ma, nggak bisa mamakan tau tugas papa ini tidak bisa ditolak,mama harap mengerti Papa ya!”. Ucap dia berusaha untuk menenangkan isterinya itu. “ huft… yaudah Pah,hati-hati ya Pah!”. Dengan berat hati dan masih dalam keadaan berduka dia juga harus merelakan suaminya tidak disisnya. Setelah kepergian suaminya selama berhari-hari Jelita masih saja meratapi kepergian anaknya itu,suasana rumah yang sepi juga menjadi salah satu pendukung tidak kunjung bangkit buatnya. Hari ini seperti biasa dia memasak makanan untuknya,kembalilah teringat ia pada puterinya itu dimana biasanya dia makan berama walaupun tanpa suaminya. Dan disiang itu juga tiba-tiba dia kedatangan tamu yaitu Adelia yang bertamu kerumahnya. Dengan penuh rasa sungkan Adelia mulai mengetuk pintu rumah mewah itu,hawa dingin mulai merasuk ke sekujur badan Adelia. Bahkan dia sempat merasa adanya angin kencang yang berhembus di belakang tubuhnya. Dia membalikan badan karena kaget ada angin begitu kencang dibelakangnya,hembusan angin itu terasa berkelibat seperti bukan hanya hembusan angin saja. Tiba-tiba dia seperti melihat ada sesosok kaki mungil yang terlihat dibalik tembok samping rumah itu. Dengan perlahan Adelia melangkah kearah kaki mungil bersepatu pink itu,dia berfikir mungkin ini anak dari sang pemilik rumah. Dan siapa tau dia bisa bertemu dengan ibunya juga disana. Dengan perlahan dia melangkah kesana dan… “ mama…”. Dari belakang Audry memanggilnya diapun berbalik kembali. “ iya sayang!!!”. “ maaf bu, Audry tadi merajuk ingin keluar dari mobil terus!”. Ujar sopir dari Adelia. “ iya gak apa-apa pak,yaudah saya…”. Dia kembali teringat dengan anak dibalik tembok itu dan kemudian berbalik kembali. Namun sayang anak itu sudah pergi tidak adalagi disana. “ kenapa bu?”. Tanya sopirnya yang melihat majikannya itu bingung. “ eh… nggak pak,yaudah pak saya mau ketemu ibu Jelita dulu. bapak balik lagi aja kemobil ya!”. Pak sopir itu kembali ke mobilnya yang memang terparkir diluar rumah tepatnya dibahujalan. Adelia mulai mengetuk pintu rumah itu sambil menggendong Audry kali ini. “ tok… tok… tok…”. Adelia mengetuknya,sementara dari dalam Jelita yang tengah makan siang sendirian dengan malas melangkah kepintu untuk melihat siapa tamu yang datang siang-siang begini. “ iya sebenatar “. Dengan malas dia melangkah kepintu dan kemudian membukanya. “ krekk “. Dia melihat sosok Adelia dan anaknya diambang pintu. Karena tidak kenal pada Adelia dia merasa terkejut dan heran. “ cari siapa ya mba?”. Tanya Jelita heran “ ibu Jelita… saya orang tua dari Anak yang mendapat donor jantung dari anak beliau!”. Jawab Adel membuat Jelita tercengang. “ saya Jelita silahkan masuk?”. Dengan tatapan sedih dia mempersilahkan Adelia dan anaknya masuk kedlam rumah itu. Akhirnya mereka duduk diruang tamu,Jelita membawakan minuman untuk dua tamunya itu. “ ini Audrey?”. Tanya Jelita pada Adelia. “ oh,bukan ini saudara kembarnya namanya Audry. Kalau Audrey masih dirumah sakit belum pulih!”. Jawab Adelia. “ oh… mereka kembar?”. “ iya “. “ kamu beruntung,kamu punya dua orang anak. Sedangkan saya dia satu-satunya milik saya tapi tuhan malah mengambilnya dari saya “. Jelita kembali teringat akan kesedihannya karena kepergian puteri satu-satunya yang dia miliki. “ mba Jelita. Mba gak usah ngerasa sendiri,disini ada saya juga mba bisa kapanpun bertemu Audrey karenakan Jantung Jessie ada pada diri Audrey!”. Adelia berusaha untuk menenangkan Jelita yang masih bearkabung karena kepergian anaknya. “ saya senang mendengar itu. saya bahagia setidaknya ada bagian dari Jessie yang masih hidup,walaupun dalam diri orang lain!”. “ mba… mba nggak usah nganggap Audrey orang lain,mba bisa anggap dia juga anak mba!”. Sementara Adelia dan Jelita sedang berbagi cerita tentang anak-anak mereka,Audry tanpa sepengetahuan Adelia pergi keruang pribadi dimana tempat Jelita sering menyendiri akhir-akhir ini. Dan disana adalah tempat paling nyaman buatnya untuk menatap foto puterinya yang terpampang besar sakali ditembok ruangan itu. Disana juga Audry menatap foto besar seorang balita seumurannya yang sedang menatap dingin padanya,sesaat Audry kecil merasa heran dengan foto itu difikirannya saat itu adalah siapa anak itu? Suasana mulai dirasa berbeda oleh Audry kecil,dia mulai melihat foto anak kecil itu semakin menatap dingin Audry. Begitu juga Audry yang semakin mendekat… mendekat… mendekat dan… “ hallo “. Sapa Audry pada foto anak itu. Dan tiba-tiba sekelebat bayang putih menabrak tubuh kecilnya, sehingga dia tersungkur jatuh kedepan. Dan tepat didepannya itu terdapat meja antic yang kemudian dia tersungkur kesana. Sementara Adelia dan Jelita terkejut mendengar Audry berteriak. “ aaaauuuuuuhhhh…”. Jeritnya kesakitan karena kepalanya terbentur lemari dihadapannya. “ Audry!”. Gumam Adelia yang langsung bangkit ketika mendengar anaknya menagis,begitu juga dengan Jelita yang mengikuti Adelia dari belakang. “ Audry kenapa kamu nak?”. Ucap Adelia sambil menggendong anaknya yang tengah menangis tersedu. “ Del,dia luka. Ayo diobatin disini!”. Ajak Jelita pada Adelia yang menggendong Audry yang masih menangis. Mereka kembali keruang tengah dan Jelita memberikan kotak obat pada Adelia. Dan merekapun membersihkan luka didahi Audry yang mengeluarkan darah. “ kamu kenapa sih nak?”. Tanya Adelia pada Anaknya yang masih menagis keras. “ sepertinya dia kepeleset dan jatuh terus nabrak lemari!”. “ iya mba,kayanya seperti itu. maaf ya mba anak saya nakal jadi bikin repot!”. “ ah,nggak kok “. Entah kenapa ketika melihat Audry hati Jelita merasa terobati, atas sakit kehilangan anaknya. Setelah itu terlintas dalam fikiran Jelita untuk meminta Audry tinggal bersamanya sebagai pengganti Jessie yang telah menyelamatkan hidup saudara kembarnya itu. Akhirnya dia tanpa ragu menyampaikan keinginannya itu. kepada Adelia yang masih berusaha menenangkan Audry. “ Del?”. Ucapnya sambil mendekati Adelia dan Audrey. “ iya mba?”. “ aku boleh minta sesuatu sama kamu,itu sebagai balas budi kamu kepada anak ku Jessie yang telah menyelamatkan anak mu?”. Ucapnya mulai menyampaikan keinginannya untuk memiliki salah satu dari Audrey atau Audry. “ iya mba, apapun yang mba minta jika saya sanggup saya pasti lakukan. Emang mba minta apa?”. Tanya Adelia yang dengan senang hati akan melakukan apapun untuk Jelita. “ Adelia aku minta…”. Ucapannya terhenti lalu melirik kearah Audry. “ minta apa mba?”. Tanya Adelia penasaran. “ aku minta salah satu diantara Audrey atau Audry”. Jawabnya dengan menatap penuh harapan. Mendengar permintaan Jelita. Adelia sangat terkejut sekaligus tidak percaya dengan permintaan dari Jelita, karena mana mungkin dia mau memberikan anaknya untuk dirawat orang asing. “ mba… mba,aku bisa lakuin apapun demi mba. Tapi kalau untuk memberikan salah satu diantara mereka aku gak bisa mba!”. Jawabnya dengan raut wajah bingung dan sedih. “ aku tau Adel,itu tidak mudah tapi kamu tau hidup aku sekarang seperti apa? Aku sendirian,aku kehilangan dia,Adel aku saja bisa bisa merelakan Jessie untuk mendonorkan jantungnya pada anak mu “. Ucapnya sambil terisak. “ mba tapi…”. Jelita memotong ucapannya. “ Adel,kamu masih akan punya salah satu diantara mereka. Aku juga tidak akan menjauhkan dia dari kamu dan keluarganya,aku masih akan tetap menjelaskan statusnya dan aku seperti apa?”. Jelita masih berusaha meyakinkan Adelia yang semakin bingung. “ aku,gak tau mba. Aku bingung… maaf ba aku harus pamit!”. Lalu tanpa basa-basi lagi Adelia pergi meninggalkan Jelita yang mulai menangis diruang tengah rumahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN