7

1455 Kata
Anthea mengikat topinya saat sinar matahari benar-benar terasa membakar tubuhnya hidup-hidup. Dia tidak takut jika dia akan menghitam nantinya. Tapi sinar matahari kali ini benar-benar serasa memanggang dirinya. Celin ada di kantor dan sekarang waktu dirinya untuk terjun langsung di lapangan. Jam menunjukkan pukul sebelas siang. Waktu istirahat masihlah lama. Anthea melepas topinya saat dia pergi ke tenda dan istirahat di sana. Meminum air putih sejenak dan memijit lututnya yang pegal. "Dimana Celin?" tanya seorang pria yang ikut duduk bergabung bersama dirinya. Anthea menoleh, bibirnya kembali menutup rapat saat tahu siapa yang mengajaknya bicara. "Ah, Celin ada di kantor. Ini tugasku sekarang," Kepala pria itu mengangguk. Dia memberikan Anthea sebotol minuman energi. "Ini bagus untuk mengembalikan energimu," senyumnya mengembang. "Kau tidak cepat lelah kalau meminumnya." Anthea menerimanya dengan tangan terbuka. Dia membuka penutup botol itu dan meminumnya hampir setengah botol. "Terima kasih." Lagi-lagi kepala kuningnya mengangguk. "Kerjasama mereka memang sudah berakhir, tapi ini adalah proyek terakhir sebelum pemutusan kontrak," Saveri berbicara. Menunjuk sebuah gedung besar yang masih dalam tahap awal. "Aku tidak mengerti mengapa Callia memutuskan kontrak sepihak begitu." Anthea mendesah, dia memainkan botol minuman itu. "Perusahaan kami sempat mengalami kerugian cukup banyak. Callia mengambil langkah untuk itu. Aku tidak tahu apa itu jalan terbaik atau tidak, tapi kalau jalan itu menyakiti orang lain kurasa tidak pantas," Saveri menoleh, memandangi Anthea dalam-dalam. "Apa ini karena hubungan pribadi di antara keduanya." Anthea menghela napas. "Entahlah," dia memberikan senyum kecil pada Saveri. "Itu sama sekali bukan urusanku." Saveri mengangguk. Ia mengembalikan wajahnya menjadi datar. Memandang jauh ke depan. "Dia terlalu tertutup. Mungkin saja perasaannya semakin terluka karena kejadian ini." Anthea menunduk menatap karpet yang menjadi alas mereka istirahat. "Berilah semangat. Dia butuh seseorang untuk menjadi sandaran dari rasa sakitnya saat ini," Anthea kembali berdiri, dia mengangkat botol minuman itu sejajar dengan wajahnya. "Terima kasih untuk minumannya, aku harus pergi." Saveri membiarkan Anthea pergi. Menatap lurus-lurus wanita itu yang kembali bergabung bersama timnya dan memberi arahan dari sana. Dia terdiam, beribu pikiran berkecamuk di dalam kepalanya. . . Anthea pergi menuju mobil kantornya. Sesaat dia terdiam ketika menemukan Sai ada di pinggir mobil, bersandar di sana dengan pakaian santainya. Sepertinya pria itu punya urusan lain di luar jam kerja hingga berpakaian non formal seperti itu, pikir Anthea. Anthea hendak masuk ke dalam mobil, tidak mempedulikan pria itu namun ketika suara yang dirindukannya tiba-tiba memanggilnya, hatinya terasa berdesir. Rasa sakit itu bagai datang menghujaminya. Anthea tidak tahu harus bereaksi apa selama beberapa detik, tapi kemudian dia memilih untuk menoleh dan memasang wajah senyum. "Oh, Sai." Sai melangkah mendekatinya. Dia memasukkan ponsel hitamnya ke dalam kantung celananya. "Apa kabar?" Anthea tertawa. Apa kabar? Hanya itu? Apa Anthea bisa menjawab kalau dirinya tidak baik-baik saja. Dirinya terluka. Dirinya hancur. Dirinya .. ah sudahlah. "Aku baik," dia bohong. "Bagaimana denganmu?" Kepala Sai mengangguk. "Aku juga," jawabnya singkat. Anthea tidak mengharapkan lebih dengan Sai yang tersenyum atau kalimat jawaban pria itu lebih panjang. "Sedang apa di sini?" Anthea mengangkat bahunya. "Seperti yang kau lihat, aku bekerja. Hari ini jadwalku mengatur lapangan dan mencatat laporan." "Dimana Celin?" Anthea sungguh ingin menyudahi pembicaraan mereka atau kakinya akan meleleh karena lemah di sini. "Dia di kantor." Kepala Sai mengangguk, dengan sangat tiba-tiba dia tersenyum. "Kau tidak bisa jauh dari sahabatmu satu itu. Kupikir, jadwal kalian sama hari ini." Anthea tidak tahu harus berekspresi apalagi. Saat melihat senyum pria itu, kakinya terasa melemah. Hatinya bagai tersayat pisau tajam tak kasat mata dan jantungnya berdegup. Dia tidak mungkin jatuh cinta 'kan? Itu semua hanya reaksi dari rasa sakit hati. Lama mereka terdiam. Sai tetap berdiri di depannya, tidak mau menyingkir dari sana. Seolah-olah ingin bicara sesuatu namun pria itu menahannya. "Apa kau bahagia?" Anthea melirik Sai yang menegang di tempatnya. Anthea tertawa kemudian, merutuki kebodohannya yang kesekian kalinya. Dia tertawa, tawa putus asa. "Maaf, aku tidak bermaksud begitu," Anthea membuka pintu mobil dan menyalakannya. Menekan pedal gas lalu mengemudi berbelok menuju jalan keluar. Sai masih ada di sana, berdiri memandangi mobil sedan abu-abu yang meluncur pergi menjauhi lapangan. Senyumnya timbul, bukan senyum tulus atau senyum rasa senang yang terlihat. Tapi senyum rasa sakit yang tertahan. . . . Anthea mampir ke kedai pasta dekat dengan lokasi pembangunan. Ini jam makan siang, tidak ada salahnya dia beristirahat untuk makan siang sebentar. Dia mengirimkan pesan pada Celin agar tidak menunggunya karena dia akan makan siang sendiri hari ini. Anthea memesang sepiring pasta dengan saus daging dan lemon dingin. Ini membantunya menghilangkan rasa pusing dan rasa mual karena terlalu lama berdiri dan kekurangan cairan di dalam tubuhnya. Anthea memainkan ponselnya setelah Celin membalasnya. Tatapan matanya jatuh memandangi luar jendela yang berpapasan dengan halaman buatan yang indah. Ini pertama kalinya Anthea pergi ke toko ini. Wajahnya tertunduk saat ia mengingat pembicaraan dengan Sai beberapa menit yang lalu. Suara itu, aroma parfum itu bahkan masih terekam jelas di kepalanya. Anthea harus bertahan menahan rasa rindunya ingin memeluk pria itu. Dia tidak bisa. Sai bukan lagi miliknya. "Bisakah aku duduk di sini?" Anthea melamun hingga dia terkejut saat ada suara seorang pria yang tiba-tiba menyapanya dan menarik kursi tepat di depannya. Anthea hanya mampu menganggukkan kepalanya, menatap pria itu. "Kau?" "Ini tempat favoritku jika jam makan siang," pria itu duduk merapikan jasnya dengan elegan. "Kau dari lapangan proyek?" Kepala Anthea mengangguk. Dia menatap Gale melalui ekor matanya. "Kau?" "Aku juga dari sana," pesanan kopi Gale datang. Pria itu mengaduk-aduknya sebentar lalu meminumnya. "Aku ingin melihat perkembangan proyek terakhir antara perusahaanku dan perusahaan tempatmu bekerja." Anthea mendengus. Mengapa pria itu tidak menyebut nama Daviana's Industries dan memilih mengganti nama lain? Pesanan Anthea datang, dia memutar tubuhnya, menatap piring pastanya dan bergantian dengan Gale. "Aku makan dulu, kau tidak keberatan?" Gale menggeleng. "Silakan." Anthea memutar garpunya, mengambil pasta dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Dia melihat Gale mengalihkan perhatiannya pada objek lain. Tatapan mata pria itu amat tidak terbaca. Anthea tidak tahu kalau ada pria misterius lain di dunia ini selain Matteo Sai. Dan pria di depannya jauh lebih tidak bisa tertebak. Terkadang pria itu bersifat dingin, terkadang bersifat hangat padanya. Entahlah, ini hanya menurutnya saja. "Kau sendirian?" Kepala Gale mengangguk. "Tadinya aku pergi bersama Saveri, tapi dia pulang dengan supir." "Kekasih Saveri, bukankah dia juga bekerja di kantor yang sama denganmu?" lanjut Gale. Anthea mengangguk. Dia menelan pastanya yang sudah halus ke dalam tenggorokannya. "Oh, Celin? Dia sahabatku." Gale tersenyum tipis, tidak terlihat Anthea. "Dunia sangat sempit." "Memang." Gale hanya memesan sandwich isi daging dan sayur. Dia tidak memesan pasta. Anthea meliriknya, memilih untuk fokus pada makanannya. "Aku melihat Matteo Sai di sana," gerakan tangan Anthea terhenti. Dia melirik Gale lalu kembali pada piringnya. "Benarkah?" "Kau tidak melihatnya?" Kepala Anthea menggeleng. "Aku sibuk. Aku tidak bicara dengan siapa pun selain dengan Saveri," akunya. Anthea meminum lemon dinginnya. Semoga dia tidak terlihat sedang berbohong sekarang. Gale menatapnya intens, seolah mencari celah apakah Anthea sedang berbohong atau tidak. Tapi entahlah, Anthea tidak berusaha sedang menyembunyikan sesuatu. Dia berbohong demi kebaikannya sendiri. "Aku mengerti." Anthea hanya diam, dia menghabiskan sisa pastanya dan menatap Gale. "Apa kau ..." suaranya tercekat. Anthea tidak tahu apakah dia harus membicarakan ini dengan Gale, tapi dia sangat ingin tahu, "masih mencintai Daviana?" Gale terdiam. Pria itu tidak bergerak bagai patung. Wajahnya kaku dan datar. Anthea tidak mengerti, mengapa Gale begitu membingungkan? "Kenapa kau ingin tahu?" Anthea tersenyum. Dia memandang Gale dalam. "Aku hanya bertanya saja," jawabnya ringan bagai udara, "kau terlihat sulit melupakannya." Anthea mengumpat dalam hatinya. Tidakkah ia sama saja dengan pria itu? Sama-sama sulit melupakan orang yang dicintainya? "Tidak. Aku hanya berusaha untuk melupakannya." "Yang perlu kaulakukan adalah maju ke depan," Anthea mengangkat bahunya saat atensi Gale penuh padanya. "Memang sulit, tapi kau akan biasa. Kau tahu, mengharapkan seseorang yang sudah berumahtangga itu adalah kesalahan besar." Gale hanya diam, dia memandang jauh ke luar jendela. Objek pohon besar di sana lebih menarik dibanding kopi yang hampir mendingin di atas meja. "Bagaimana denganmu? Jika Matteo mengajakmu kembali, apa kau mau?" Anthea mengikuti arah pandang Gale, dia tersenyum lirih. "Tidak. Tidak ada kesempatan kedua. Bagiku, kami sudah selesai. Tidak ada yang harus kembali." "Mungkin sulit bagiku untuk membuka hati, tapi aku pasti bisa," Anthea kembali melanjutkan. Mata teduhnya begitu tenang menatap oniks segelap malam di depannya. Anthea tahu, tatapan mata itu bagaikan lubang tak berdasar. Ada luka yang menari-nari seperti kobaran api di matanya yang gelap. "Kau juga pasti bisa," Anthea tersenyum mengakhiri ucapannya. Dia bangun dari tempat duduknya, mengeluarkan dompetnya dan pergi ke kasir. Dia mengangkat bukti pembayaran pada Gale. "Aku membayar kopinya. Jangan berterima kasih." Anthea ke luar kedai dengan langkah sedikit berlari. Gale memandang kepergian wanita merah muda itu dengan pandangan datar. Apa katanya? Mencari cinta yang lain? Apa dia bisa? Oh, jika saja itu semudah membalik telapak tangan tentu saja dia akan bisa. Tapi ini masalah hati, apa dia sanggup?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN