Anthea memejamkan matanya, hampir tertidur saat dia mendengar ketukan dari seseorang di malam hari. Memakai sandal rumahnya, dia berjalan menuju pintu dan mendapati kotak besar tertaruh tepat di depan pintu.
Mencari seseorang, nihil. Dia tidak menemukan ada seseorang di sana. Hanya kotak itu yang sengaja ditinggalkan seseorang untuknya. Anthea mengangkat kotak itu, membawanya masuk ke dalam rumahnya.
Dia menaruhnya di atas meja dan membuka pita besar ungu itu. Dia mendapati ada kotak lain dan beberapa boneka di sana. Anthea mengeluarkan isi kotak itu, menyusunnya di atas meja satu persatu sampai isi kotak itu habis.
Napasnya serasa terhenti saat dia membuka kotak kecil di dalam kotak besar itu dan mendapati ada puluhan foto polaroid di sana, dia memegang foto itu dan kedua matanya terasa panas seketika.
Itu foto polaroid yang sama yang ia berikan untuk Sai. Dan hadiah itu ... itu semua milik Sai. Mengapa dia mengembalikannya pada Anthea?
Bahkan syal yang pernah Anthea jahit khusus untuk pria itu juga ada di sana. Bergabung dengan isi lainnya di dalam kotak besar itu. Anthea tidak tahu harus berkata apa, dia hanya mampu terdiam. Hatinya serasa diremuk benda tak kasat mata.
Dia menangis.
Menangis ketika memegang benda-benda itu dan akhirnya menjadi sasaran pelampiasan amarahnya. Dia membanting boneka itu, membuang polaroid itu hingga bertebaran di atas karpet dan membuang syal itu ke arah yang lain.
Anthea menangis sejadi-jadinya. Hatinya hancur. Jauh lebih sakit dari apa pun. Dadanya terasa sesak. Dia serasa tidak lagi pantas untuk hidup sekarang.
Mengapa?
Anthea jatuh di atas karpet. Kembali menangis bagai kesetanan. Dia tidak sanggup lagi. Mengapa pria itu meninggalkannya tanpa kata dan sekarang? Tidak bisakah dia bicara baik-baik dan menyelesaikan segalanya? Mengapa?
"Lebih baik bunuh saja aku." Isaknya. Lagi-lagi malam ini, dia kembali menangis.
Bukankah melelahkan menangisi hal yang sama terus-menerus?
.
.
.
Saat Anthea sampai tepat di teras kantor dia melihat Sai tengah berbicara dengan seseorang setelah pria itu melambaikan tangannya pada Callia yang masuk lebih dulu ke dalam kantor. Merapikan pakaiannya, Anthea memegang pipi dan area wajahnya yang lain. Dia terlihat lebih baik, matanya tidak terlihat bengkak karena dia sudah mengompresnya. Dia terlihat baik-baik saja.
Anthea melangkah menaiki anak tangga dan dia melihat Sai tengah memandangnya. Mereka sempat bertatapan sebentar sebelum akhirnya Anthea memutus kontak mata mereka dan berjalan sopan. Anthea bahkan tidak menunjukkan kalau dia terluka, dia merasa menang.
Anthea masuk melewati lobi dan mendapati Callia berlari. Anthea menoleh, tidak lagi melihat Sai ada di sana. Anthea menghentikan Callia, mendapati wanita itu tengah menelepon seseorang.
"Sialan, Madana! Dia benar-benar membuatku muak," Callia mengumpat tiba-tiba pada Anthea. Setelah sambungan telepon itu terputus, dia menatap Anthea. "Kau tahu apa yang mereka lakukan? Mereka memutus aliran dana dari bank yang telah setuju mendanai proyek kami. Apa mau mereka!?" d**a Callia naik turun, emosi wanita itu sedang ada di puncak.
"Benarkah?" Mata Anthea melebar. "Lalu bagaimana dengan pegawai baru dan bagaimana kita membayar upah mereka?"
Callia memegang pelipisnya. "Itu yang sedang kupikirkan, Anthea," Callia memainkan ponselnya. Dia menyuruh asistennya dengan nada membentak untuk membatalkan jadwal bertemu klien karena dia punya urusan yang lebih penting. Anthea tidak tahu urusan apa yang akan diurus wanita itu nantinya.
"Ini proyek mahal. Satu-satunya goals yang bisa kucapai tahun ini dan mereka merusaknya? Seharusnya sejak dulu aku tidak pernah bekerjasama dengan para b******k itu," umpatnya sekali lagi.
Anthea terdiam kaku. Dia sendiri bertugas mengurusi masalah upah para pegawai dan mengurus segala keperluan yang ada di lapangan. Bagaimana semua bisa terjadi?
"Aku mengalami kerugian," Callia mendesah berat. Dia berdiri gelisah. "Aku harus ke kantor Madana. Kau bisa temani aku?"
Anthea mengangguk tanpa berpikir lagi. Dia segera berbalik menyusul Callia yang lebih dulu pergi.
.
.
Anthea harus berlari menyamai langkah Callia yang berlari membelah lobi yang cukup ramai hari ini. Callia begitu mahir menggunakan sepatu hak tingginya dan tidak terlihat kesulitan sama sekali. Berbeda dengan dirinya yang terlihat hampir jatuh dan seringkali mendapati dirinya tersandung karena sepatu haknya ini. Anthea tidak terbiasa, sungguh.
"Bilang pada Madana Gale, aku harus menemuinya sekarang juga!" Callia membentak resepsionis wanita berambut merah itu. Membuat wanita itu langsung bergerak menghubungi seseorang dan kepalanya mengangguk.
Callia berjalan menuju lift dan Anthea mengangguk sopan pada wanita itu. Berusaha mengatakan maaf melalui tatapan matanya dan wanita itu hanya mengangguk. Anthea berterima kasih karena dia berhasil membuat wanita itu mengerti.
Anthea segera masuk ke dalam lift. Ia berdiri di samping Callia yang masih berusaha mengendalikan emosinya tapi tampaknya gagal. d**a wanita itu naik turun, dia bersiap memaki Gale nanti.
Anthea keluar dari dalam lift. Dia seperti anak ayam yang mengekor pada induknya. Dia tidak tahu menahu soal ini karena ini urusan antar kepala tertinggi perusahaan. Dia tidak punya urusan sebenarnya. Tapi karena Callia meminta, dia tidak bisa menolak. Heh, memang siapa dirinya?
Callia hanya mengetuk pintu kayu itu dua kali dan membukanya kasar. Anthea melihat Gale tengah duduk membelakangi pintu menghadap jendela besar. Kursi besar itu berbalik, Anthea melihat tatapan Gale yang tajam ketika oniks gelap itu memandang mata biru Callia.
"Sialan, apa maumu!?"
Gale tersenyum miring. Pria itu bangun dari kursinya dan memilih duduk di atas meja. "Lalu?"
Callia mendengus. "Lalu katamu? Kau tahu apa yang kaulakukan? Kau membiarkan perusahaanku mengalami kerugian sedangkan keuanganmu tetap berjalan stabil. Kau pikir kau siapa?"
Anthea terdiam, dia bergeser dari pintu dan memandangi dua orang itu bergantian.
"Kau yang mencari masalah lebih dulu denganku, Daviana," suara Gale bagai melodi kematian. Dalam dan menyakitkan. "Apa kau lupa?"
Callia tertawa. "Oh, ya? Lalu apa maumu? Apa kau mau aku kembali padamu, begitu?"
Anthea tersentak mendengar ucapan Callia. Dia memandang Gale dengan pandangan iba.
"Callia ..." panggil Anthea.
"Diam, Anthea."
Anthea terdiam. Dia tidak bicara apa-apa lagi.
"Tidak," Gale bersuara serak. "Aku tidak akan melakukannya."
Callia tersenyum. Wajah kemenangan terpetak di wajah ayunya. "Apa kau lupa siapa kau? Apa kita pernah menjadi sepasang kekasih sebelumnya. Tidak 'kan? Kenapa kau bertindak seolah-olah kau dan aku memiliki hubungan, hah!"
Anthea melihat oniks itu semakin menggelap. Gale pria pendiam, jika emosinya meledak ini membahayakan.
"Callia, sudah. Kita bisa bicara baik-baik," Anthea berusaha menengahi tapi rasanya sia-sia saja. Callia bahkan tidak menggubris ucapannya.
"Kau benar," Gale mengetukkan jarinya di atas meja kaca. "Kita memang tidak punya hubungan apa pun," Gale berjalan memutari meja, dia bersandar di depan meja besar itu. Tatapan matanya jatuh pada Anthea, lalu kembali pada Callia. "Tapi bisa kau jelaskan padaku mengapa kau mengembalikan barang-barang yang pernah kuberikan padamu malam tadi?"
Tubuh Anthea kaku seketika. Dia menatap Gale dengan pandangan bertanya namun sayangnya pria itu tidak sedang menatapnya.
"Kau. b******n. Aku benci padamu," suaranya penuh penekanan. Callia keluar ruangan tanpa memedulikan Anthea yang berdiri mematung sejak tadi mendengarkan perdebatan mereka. Anthea maju selangkah, dia memandang Gale dengan pandangan bertanya. "Hanya karena masalah itu kau membuat perusahaannya di ambang kehancuran?" Anthea menatap Gale tak percaya.
Gale mendesah, dia mengusap wajahnya. "Tidak."
"Lalu, apa!?" nadanya meninggi. "Apa yang kaulakukan? Kau tahu ini membuatku hampir kehilangan pekerjaanku juga!"
"Kau bisa mencari pekerjaan lain. Kau masih muda, masih punya banyak talenta, tidak kau manfaatkan dengan baik?" Gale menjawab seolah-olah dia mengerti segalanya.
Anthea tertawa sarkatis. "Oh, pantas saja Callia meninggalkanmu. Dia tahu kau pria tidak punya hati, kau pria kejam ternyata," Anthea menggeleng tak percaya. Dia berbalik, hendak menjauh dari ruangan itu namun suara Gale menahannya pergi.
"Apa Sai juga mengembalikan barang-barang kenangan kalian berdua?"
Anthea terdiam sejenak. Menimbang apakah dia harus menjawab atau tidak. Dan akhirnya dia memilih opsi pertama. "Ya, dia mengembalikannya."
Gale mendengus. "Sudah kuduga. Kedua pasangan itu kekanakkan."
Anthea berbalik, manik hijaunya memandang Gale dingin. "Mereka melakukan hal yang benar," atensi Gale berpusat padanya. "Jika mereka terus-terusan menyimpan barang kenangan itu, mau sampai kapan mereka akan hidup bahagia? Tidakkah kau seharusnya berpikir kalau sekarang kita berdua adalah bayang-bayang mereka? Kita hanya kenangan. Kita tidak lagi ada di hidup mereka. Kau harus berpikir seperti itu."
Gale terdiam. Dia berdiri lalu bertepuk tangan. Wajahnya datar tanpa ekspresi. "Kau pintar, Nona Latania. Kau bisa pergi sekarang. Urusanku dengan urusan perusahaan tempatmu bekerja sudah selesai."
Anthea memandang Gale dingin, dia berjalan ke luar namun lagi-lagi pria itu membuatnya kehilangan akal.
"Atau kau bisa bekerja di sini, bersamaku. Aku akan memperlakukanmu dengan baik."