Anthea berlari menuruni anak tangga dari kantor mewah milik Madana Gale. Dia melihat Sai ada di sana. Apa pria itu juga akan menyemprot marah Gale?
"Anthea,"
Anthea tidak ingin menghentikan langkahnya, namun hatinya tegas menyuruhnya untuk berhenti. Anthea akhirnya kalah, dia berhenti, memandang Sai dengan pandangan datar.
"Mengapa Callia pulang dengan wajah menangis. Apa yang Madana lakukan itu padanya?"
Anthea mengangkat bahunya. "Kau tanyakan pada istrimu. Aku tidak tahu," Anthea kembali berjalan namun Sai menahannya pergi. "Aku sungguh tidak tahu."
"Madana itu benar-benar b******k, 'kan?"
Anthea menoleh, pandangannya menajam. "Jangan salahkan siapa pun. Callia tidak salah, Madana itu juga tidak salah. Hanya ada kesalahpahaman."
"Kesalahpahaman apa maksudmu!?" suara Sai meninggi.
Anthea merasa tertohok mendengar suara pria itu. Tidak biasanya Sai membentaknya. Pria itu selalu berbicara halus dan hati-hati padanya. Secepat itukah perasaan seseorang berubah?
"Silakan kau temui saja dia! Lakukan apa yang kau mau!" Suara Anthea tak kalah tinggi. Dia memandang Sai dengan tajam. "Itu bukan urusanku. Aku hanya pegawai biasa. Tidak bisakah kau melampiaskan emosimu pada orang lain?"
Tatapan Sai melunak. Dia memandang Anthea nanar. "Apa yang terjadi padamu?"
Anthea memandang Sai. Bola mata itu pecah berkeping-keping. Emosinya hancur. "Tidakkah kau tahu seberapa kuat aku menahannya?" Anthea mengepalkan tangannya. "Aku hancur, kau tahu?"
"Malam tadi, kau mengirimkan semua barang yang pernah kuberikan padamu. Bahkan syal itu ..." suara Anthea terputus. Tertelan di dalam tenggorokannya. Dia tidak boleh menangis sekarang, "tidak apa. Kau melakukan hal yang benar, Sai. Kita memang sudah selesai." Anthea tersenyum. Dia baru menyadari kalau mobil yang ia tumpangi bersama Callia tidak ada lagi dan itu artinya dia harus berjalan ke halte dan naik bus.
"Apa maksudmu?"
Anthea terdiam.
Sai menggeleng tidak mengerti. Dia memandang wajah Anthea dengan bingung. "Demi Tuhan, aku bahkan tidak pernah berpikir untuk mengembalikan barangmu, Anthea. Apa yang kau katakan?"
Anthea mengerjapkan matanya. Dia memandang Sai lekat-lekat. Takut jika pria itu berbohong padanya. Tapi Anthea tidak menemukan adanya kebohongan. Sai pergi begitu saja masuk ke dalam mobilnya tanpa kata-kata. Tanpa menjelaskan apa pun padanya. Membiarkan Anthea bingung dengan ucapannya.
Anthea melangkah dengan langkah gontai. Dia seperti mati detik ini juga. Separuh kesadarannya diambil alih. Sai tidak mengembalikan barang mereka, lalu siapa yang mengirimkan kotak itu padanya tadi malam?
Anthea berjalan menuju halte. Namun kakinya terasa berat ia gunakan untuk melangkah. Anthea terjatuh di tengah jalan masih di halaman kantor Madana. Anthea membiarkan dirinya terjatuh, dia berusaha bangun namun tubuhnya terasa berat digerakkan.
Anthea berusaha tidak membiarkan air matanya tumpah kali ini. Cukup sudah. Jika dia harus menangis, itu ada di kamarnya. Bukan di tempat umum seperti ini.
Menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, Anthea merasa ada seseorang yang membantunya bangun. Ketika kedua tangannya menurun sempurna, Anthea melihat Gale berdiri di depannya. Menatapnya dengan pandangan yang sama terlukanya.
Wajah Anthea memerah sempurna. Dia tidak mampu lagi menahannya. Pandangannya mulai memburam karena air mata menumpuk di matanya. Anthea menutup mulutnya, berusaha menahan isakannya.
Dia tidak tahu mengapa tubuhnya menurut saat tangan pria itu menarik dirinya ke dalam pelukannya. Anthea tidak butuh siapa-siapa saat ini. Tapi dia berbohong. Dia butuh seseorang untuk bersandar, butuh seseorang untuk berbagi luka bersama. Dan Anthea belum menemukan orang yang tepat.
Anthea kembali memejamkan matanya. Tingginya hanya sebatas pundak pria itu. Anthea merasakan ada tangan yang melingkari bahunya dan menyuruhnya untuk menangis. Dan Anthea menangis, dia membiarkan air matanya tumpah di pelukan Gale.
Salahkah dia?
.
.
.
Anthea memandang Gale dari kelopak matanya yang sedikit tertutup. Wajahnya memerah dan pipinya bengkak. Dia terlihat buruk jika menangis.
Gale memandang datar pada cairan hitam yang sudah mendingin di atas meja. Hujan turun, tidak terlalu deras dan menyisakan rintik-rintik ringan. Cahaya lampu kafe temaram sampai menembus jendela. Suasana sepi namun menenangkan. Anthea suka dengan suasana seperti ini.
"Maaf."
Oniks segelap malam itu beralih padanya. "Untuk?"
"Tadi," Anthea memberanikan diri menatap kedua mata gelap itu. "Aku menangis dan itu pasti mengotori pakaianmu?"
Gale hanya mendengus, tidak memberikan respon apa pun. Anthea memang menyukai ketenangan, tetapi dia benci jika dalam situasi seperti ini. Dirinya tidak berdaya dan Gale tidak berbicara apa-apa.
"Tidak apa," Gale mengusap lengan kokohnya dari balik jas hitam. Ah, jas itu. Anthea mengotori jas itu dengan air matanya. "Aku hanya tidak bisa melihat wanita menangis."
Anthea memaksakan sebuah senyum tipis. "Benarkah?" Anthea mengikuti arah pandang Gale, menatap jauh ke luar jendela. "Aku tidak terbiasa menangis di depan umum. Rasanya buruk."
Gale hanya diam. Tidak merespon apa pun.
"Kau pernah memberikanku sarung tanganmu. Aku rasa kita impas sekarang," Gale berbicara rendah, ada nada ringan terselip di dalam suaranya. Anthea berusaha berpikir positif kalau pria itu tengah menghiburnya. "Aku melihatmu berbicara dengan Sai, dan tiba-tiba ..."
Anthea menunduk, menatap sepatu stilettonya dengan nanar. "Semua terjadi begitu saja," Anthea mengangkat bahunya, tersenyum kecil pada Gale yang kini menatapnya. "Lupakan saja. Anggap saja tidak terjadi apa pun."
Gale hanya mengangguk.
Mereka terdiam. Suasana kafe yang tenang membuat mereka larut dalam pikiran masing-masing. Anthea biasanya berinisiatif membuka percakapan jika mereka berada di situasi seperti ini. Tapi sekarang dia merasa otaknya buntu, tidak bisa berpikir apa pun.
"Kau masih mencintainya?"
Anthea menoleh, memandang wajah pucat namun tampan itu lekat-lekat. Gale bertanya tanpa ekspresi berarti. Anthea tidak menemukan adanya sorot keingintahuan di mata pria itu.
"Aku bohong jika aku bilang tidak," Anthea memandang cangkir kopi milik Gale. "Aku tidak mau lagi memikirkannya."
"Bagaimana jika dia tiba-tiba menginginkanmu kembali?"
Anthea membuka mulutnya, ingin menjawab pertanyaan pria itu. Namun yang keluar hanyalah hembusan udara, helaan napas panjang yang tak berarti. Gale masih diam, antisipasi menunggu jawabannya.
"Mungkin jawaban untuk saat ini tidak," oniks itu menatapnya dalam. Anthea merasakan adanya rasa sakit yang berenang di dalam matanya, "tapi bukankah manusia selalu memiliki tingkat egois yang tinggi? Jika Callia menyakitinya, mungkin aku mau menerimanya kembali."
"Kau egois."
Anthea hanya tersenyum tipis. "Ya."
Dia memainkan cangkir tehnya, memutar-mutar cangkir itu searah jarum jam. "Bukankah kau juga akan lakukan hal yang sama?"
Gale bersandar pada kursinya, wajahnya terlihat lebih santai dari sebelumnya. Pria itu ... entahlah, Anthea sendiri tidak tahu. Ekspresi datar itu menyimpang banyak makna yang harus Anthea ketahui satu-persatu.
"Tidak," Gale memainkan jemarinya di atas meja. "Aku bukan sepasang kekasih seperti dirimu. Kami tidak memiliki ikatan apa pun di masa lalu."
Anthea tersentak. Dia menatap Gale dengan wajah terkejut dan dengusan pria itu menjadi reaksi dari rasa terkejutnya.
"Hubungan kami rumit," Gale menatap jendela kafe dengan pandangan kosong. "Tapi terlalu dalam."
Anthea hanya diam. Dia tidak bereaksi apa-apa. Mimik wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa ibanya. Gale lagi-lagi mendengus.
"Aku tidak suka jika kau menatapku seperti tadi."
Anthea memejamkan matanya, dia meremas kedua tangannya di atas pangkuannya. "Ah, maaf."
"Ini sudah pukul delapan. Kau mau pulang?"
Anthea mengangguk. Dia mengeluarkan dompetnya namun tertahan oleh Gale yang lebih dulu meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja. "Apa?"
"Aku membayar." Gale kembali memasukkan dompetnya. Dia berdiri tanpa kata-kata. Meninggalkan Anthea dalam kebingungan akan sikapnya. Gale terdiam di ujung pintu, menatap Anthea.
"Ayo, badai akan datang sebentar lagi."
Anthea mengangguk, dia melingkarkan tasnya di bahunya dan berjalan keluar dari ruangan. Dia mengekor Gale menuju tempat parkir dan terdiam saat pria itu membuka pintu mobil untuknya.
"Aku akan mengantarmu pulang."
Anthea sempat berpikir sejenak, membuat pria yang kini berdiri di depannya menunggu.
"Ini berbahaya jika kau pulang dengan bus."
Ah, dia benar.
Anthea masuk ke dalam tanpa berpikir panjang lagi. Dia melingkarkan sabuk pengaman di tubuhnya ketika Gale menutup pintu mobilnya. Pria itu kemudian masuk melalui pintu lain di depan kemudi. Anthea merasakan penghangat mobil menyala menyelimuti tubuhnya ketika Gale memutar kunci mobilnya. Mobil hitam itu mundur perlahan-lahan, bergerak menjauhi area parkir dan menembus jalan raya. Bergabung bersama pengendara jalan lainnya.
.
.
Mobil berhenti di lampu merah, Anthea melirik jam yang ada di dashboard mobil. Pukul delapan lewat lima belas menit tapi rasanya sungguh membuatnya tidak nyaman. Berada di mobil yang sama dengan pria itu, dengan keheningan yang nyata, membuat Anthea canggung.
Tidak ada musik yang memutar. Anthea suka jika berkendara dengan musik yang berputar menemani sepinya di dalam mobil. Dia melirik Gale, takut-takut berbicara dengan pria itu.
"Oh," Anthea menegakkan punggungnya ketika melihat sesuatu berbentuk album mengintip dari celah laci mobil mewah itu. "Kau menyukai Linkin Park?" tanyanya antusias.
Gale melirik laci mobilnya yang sedikit terbuka, kemudian fokusnya kembali pada jalan besar. "Hn."
Anthea tersenyum lebar, ada rasa senang yang tiba-tiba menyeruak di dalam dadanya. "Aku juga menyukainya. Aku mengoleksi hampir beberapa albumnya."
Gale menekan pedal gas saat lampu berganti hijau. Suasana jalan tampak sepi. Mungkin karena sebentar lagi badai, orang-orang berpikir dua kali untuk keluar rumah mereka.
"Kau menyukai musik seperti apa?"
Anthea tiba-tiba bertanya.
"Aku tidak begitu menyukai musik, terlalu berisik," senyum Anthea lenyap seketika. Dia kembali duduk dengan sopan di kursinya, "pengecualian untuk satu itu."
Senyum Anthea kembali terbit. "Ah, aku hampir menyukai seluruh genre musik sebenarnya, tapi akhir-akhir ini aku cenderung pada pop. Membantu mood-ku jika bekerja."
"Kau tidak menyukai musik ballad atau mellow?"
Anthea tersenyum kaku. "Aku sedang menghindari jenis musik seperti itu."
Gale terdiam dan Anthea ikut terdiam. Mereka hanya berbicara saat Anthea menunjukkan arah rumahnya yang sepi. Lampu mobil Gale terlalu terang hingga pohon-pohon besar menjulang tinggi ikut tersorot lampu mobil.
Gale menghentikan mobilnya saat dia sampai di rumah mungil yang ia taksir hanya memiliki satu tempat tidur, dapur yang sempit dan ruang tamu yang juga menjadi ruang santai. Gale bahkan tidak bisa menebak apa wanita itu memiliki pemanas di dalam rumahnya.
Anthea melepas sabuk pengamannya, dia melirik Gale sebentar yang sepertinya sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. "Terima kasih," ucapnya. "Untuk hari ini."
Gale hanya mengangguk, dia membiarkan Anthea membuka pintu mobilnya sendiri. Anthea menutup pintu mobil itu dan terkejut saat Gale ikut keluar dari dalam mobilnya.
"Apa kau ingin masuk?" tawar Anthea.
Gale menggeleng sopan. "Lain kali."
"Ah, begitu."