10

1320 Kata
Anthea sibuk mengisi data yang Celin berikan padanya saat dia datang karena rapat dadakan baru saja diadakan pukul delapan tadi. Sial, Anthea hampir saja telat karena tidurnya sangat nyenyak malam tadi. Anthea terkejut ketika mendapati Callia melangkah mendekati mejanya saat wanita itu keluar dari dalam lift. Celin berdiri diikuti dirinya. "Callia." "Anthea, bisakah kau ikut rapat denganku jam setengah sembilan nanti? Tolong bawa biodata dirimu beserta profilmu di dalam rapat nanti," Callia tersenyum ramah. Anthea hanya mengangguk. Callia menoleh pada Celin. "Kau juga ikut, Celin. Ini berita baik untuk sahabatmu," bisik Callia namun masih bisa didengar oleh Anthea. Anthea menatap kedua wanita itu bergantian. Celin hanya mengangkat bahunya bingung dan Callia tersenyum misterius. Wanita itu kembali berjalan masuk ke dalam lift dan melambai padanya. Anthea tidak tahu harus bereaksi apa saat pintu lift tertutup, sosok Callia tidak ada lagi. Celin kembali duduk dan Anthea mengikutinya kemudian. Celin tersenyum saat kepalanya menyembul dari balik lemari kecil pembatas ruangan mereka. "Ah, Anthea. Kurasa kau akan dipromosikan hari ini." Anthea menoleh pada Celin, wajahnya terlihat bingung. "Aku? Hari ini? Mengapa secepat itu?" Celin menggeleng. Senyum itu masih ada di wajah ayunya. "Aku ikut senang!" Celin mengulurkan kedua tangannya, mencubit pipi Anthea gemas. "Setelah rapat nanti, aku akan memintamu untuk mentraktirku makan!" Anthea mengusap kedua pipinya yang memerah karena cubitan Celin. Dia melihat wajah sahabatnya terlihat cerah dan terkikik kecil. Anthea tidak bisa menyembunyikan senyumnya, dia hanya mengacungkan jempolnya pada Celin dan mengangguk. Celin tertawa saat dia kembali duduk di kursinya. Anthea menaruh map di atas meja, bersandar para kursi putarnya yang kecil dan menatap layar komputernya dengan senyum lebar. . . Celin duduk di sampingnya, dia meremas tangan Anthea yang bergetar di atas pangkuan wanita itu. Anthea tersenyum saat Celin memberikannya kedipan mata untuk tetap tenang. Callia masuk dengan anggun diikuti asistennya ke dalam ruangan. Anthea berdiri, menunduk sopan pada wanita itu diikuti oleh para klien yang ada di dalam ruangan. Callia menarik kursinya yang ada di tengah. Dia tersenyum saat pandangan matanya bertemu dengan Anthea. "Baik, mari kita mulai." Callia menarik kursinya lebih dekat dengan tepi meja. Salah satu tangannya bergerak membuka map berisikan profil dan biodata pribadi Anthea. Dia membacanya diikuti dengan klien lain. Anthea tidak bisa menghentikan debaran jantungnya karena rasa gugupnya. Meskipun kemungkinan dirinya akan lolos promosi sembilan puluh sembilan persen, dia masih saja gugup. Bertemu dengan orang-orang penting itu bukan tugasnya. Dia tidak terbiasa. "Dia cekatan dan ide-idenya cukup brillian. Aku melihatnya saat dia mengatur jalannya proyek minggu lalu," salah satu pria berambut hitam agak kemerah-kemerahan itu berbicara. "Aku setuju dengannya. Nona Anthea terlihat memiliki potensi yang cukup untuk mengembangkan proyek kita selanjutnya di timur Tokyo, aku rasa dia cocok di bidang ini." Anggukan kepala menjadi penutup akhir perdebatan mereka. Callia menutup mapnya, dia memandang Anthea dengan senyum hangatnya. "Aku juga berpikiran hal yang sama. Dia sangat cerdas. Calliavasinya sangat bagus jika dia berada di lapangan maupun di dalam kantor. Aku suka dengan kerjanya yang rapi dan cepat," Callia memutar kepalanya menatap para klien yang lain. "Jadi bagaimana? Apa kita menyetujui dengan pangkat Anthea sebagai manajer baru Daviana's Industries untuk menangani proyek kita selanjutnya?" Anthea tidak bisa menyembunyikan senyumnya saat dia melihat para klien bersahutan memberikan pendapat mereka tentang kenaikan pangkatnya. Celin tersenyum ketika pandangan mereka bertemu. "Kalau begitu sepakat," Callia kembali menatap Anthea. "Mulai sekarang kau manajer utama di sini, Anthea. Aku senang bisa mengandalkanmu." Anthea menunduk sopan, mengucapkan terima kasih pada Callia dan tersenyum. "Dan Celin, dia bisa menjadi seseorang yang mungkin kau andalkan? Silakan pikirkan posisi yang bagus untuk Celin untukmu, setelah itu beritahu aku." Anthea kembali mengangguk dengan ucapan Callia. "Rapat selesai. Kita sudah memutuskan hal yang baik hari ini. Semoga kedepannya perusahaan ini bisa berjalan lebih baik lagi." Callia berdiri diikuti para klien yang lain yang bersama-sama keluar dari ruangan setelah memberi Anthea ucapan selamat dengan sopan. Anthea tersenyum lebar pada Celin dan disambut baik oleh wanita itu sampai dia menyadaro kalau Callia masih ada di ruangan dan tersenyum geli melihat mereka. "Kalian sangat lucu," Callia mendekat, dia memeluk Anthea erat. "Oh, Anthea. Aku masih belum bisa membalas kebaikanmu padaku selama ini," Anthea terkejut saat Callia memeluknya. Dia melirik Celin yang mengangkat bahunya dengan senyum. Callia melepas pelukannya, dia memegang lengan Anthea. "Kau akan mendapat fasilitas kantor yang memadai mulai hari ini. Kau bisa pindah ke apartemen Golden nanti malam." Senyum Anthea tiba-tiba hilang, dia menatap Callia bingung. "Golden? Bukankah itu apartemen yang separuh sahamnya milik Madana?" Callia hanya tersenyum, dia menepuk bahu Anthea. "Memang. Kami punya kerjasama di sana. Ada beberapa persen sahamku dan mereka memberikanku dua kamar gratis untuk kutinggali semauku. Karena aku punya rumah sekarang, aku lebih baik memberikan kamar itu untuk petinggi perusahaan. Bukankah itu ide yang bagus?" Callia memandang Celin dan Anthea bergantian. Celin menganggukkan kepalanya cepat dan Anthea hanya bisa tersenyum. "Mobil yang akan menjadi fasilitas tambahan untukmu ada di parkiran apartemen. Asistenku akan memberikanmu kunci dan kartu kamar nanti. Sekali lagi, selamat Anthea. Aku ikut senang!" Callia kembali memeluknya sekali lagi dan keluar ruangan. Celin melirik pintu yang tertutup itu dan tersenyum pada Anthea. "Jadi bagaimana? Kau mau mentraktirku makan?" "Oh, tentu saja! Ayo, kita cari tempat makan yang enak!" . . Celin benar-benar penggila makanan yang luar biasa. Anthea tidak tahu kalau sahabatnya satu ini benar-benar memiliki napsu makan yang tinggi. Anthea memesan iga bakar dengan kentang serta jus jambu dan Celin memesan sup iga dengan tambahan iga bakar saus keju panas di atas daging dengan lemon dingin sebagai minumannya. Mereka menikmati makan tanpa banyak bicara. Setelah selesai, mereka berbicara banyak hal. Anthea mulai menawarkan Celin pekerjaan yang cocok dengannya dan Celin membiarkan Anthea memberi posisi yang baik untuknya. Dia percaya pada Anthea. Celin pamit pergi ke kamar kecil dan Anthea sendirian saat ini. Anthea memainkan ponselnya, tidak tahu harus melakukan apa. "Anthea?" Anthea menoleh saat dia mendengar suara laki-laki menyapanya. Oh, Matteo Sai. Anthea tidak bisa menjawab selain menganggukkan kepalanya dan pria itu dengan berani menarik kursi dimana Celin duduk dan tersenyum. "Kebetulan aku bertemu denganmu, aku memesan makan siang untuk rapat hari ini. Apa tempat ini diduduki seseorang?" Anthea mengangguk kecil. "Oh, sudah kuduga." Anthea terdiam, dia menoleh menatap dinding restauran dibanding harus menatap wajah Matteo Sai. "Selamat untuk promosimu, aku ikut senang." Anthea menoleh, alisnya terangkat. "Bagaimana kau tahu?" Sai tersenyum tanpa dosa. "Callia baru saja mengirimiku pesan. Dia bilang kau sekarang naik pangkat. Dia sangat senang memberikanmu jabatan baru itu." Ah, Callia. Bodohnya Anthea melupakan wanita itu. "Terima kasih." "Kau pasti bisa melakukan tugasmu dengan baik." Anthea lagi-lagi hanya mengangguk. "Kau akan tidur di tempat yang lebih baik nantinya," Sai bersuara rendah, membuat Anthea harus diam mendengarkan ucapan pria itu baik-baik. "Aku akan merindukan rumahku," Anthea menghela napasnya. Dia memberanikan diri menatap mata pria itu. "Aku akan merindukan kamarku." "Aku tahu," Sai memainkan ponselnya. "Kau masih bisa berkunjung ke rumahmu di akhir pekan. Itu bukan masalah." Anthea terkejut saat Celin datang dari kamar kecil. Wajah wanita itu terlihat bingung. Namun akhirnya dia memilih untuk mengambil tasnya dan tersenyum pada Anthea dan Sai. "Aku sepertinya harus pergi. Kalian pasti punya sesuatu yang harus dibicarakan, bukan?" Celin melihat Anthea yang menggeleng kecil, menatapnya dengan pandangan memohon dan Celin tidak punya pilihan lain. "Aku akan kembali ke kantor. Anthea terima kasih untuk traktirannya!" Celin melambaikan tangannya pada Anthea dan pergi melalui pintu putar restauran. Tubuhnya menghilang di balik pintu itu. "Oh, jadi ini kau mentraktirnya makan siang?" Sai bertanya, Anthea mengangguk singkat. Dia tidak tahu apa yang harus ia bicarakan. "Kau terlihat baik-baik saja," Anthea menatap mata oniks gelap Sai dalam. Dia menunggu pria itu melanjutkan ucapannya. "Aku ikut senang." Anthea menarik sudut bibirnya, wajahnya tenang tapi dia tidak bisa menyembunyikan rasa sesak di dalam dadanya. "Apa aku terlihat baik-baik saja?" Sai tersenyum. "Ya," wajahya menunduk tiba-tiba, "tidak juga." "Aku baik-baik saja, Sai. Tidak perlu mengkhawatirkanku," Anthea memainkan jemarinya dengan pisau untuk memotong daging iga bakarnya. "Kau terlihat sangat bahagia. Apa aku salah?" Sai mengangkat bahunya. "Seperti yang kaulihat sekarang. Bagaimana?" Anthea hanya tersenyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN