"Kau mencintainya?"
Sai terdiam. Anthea menyesal menanyakan pertanyaan klasik seperti itu. Tapi dia harus tahu.
"Kau tahu, ini tidak mudah," jawab Sai. Wajahnya jauh menerawang ke jendela luar restauran yang menampilkan jalan besar simpangan. "Meninggalkan hubungan yang sudah kujalani bertahun-tahun dan pergi begitu saja, itu tidak mudah."
Anthea terdiam, dia tidak lagi tersenyum. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi berarti.
"Kenapa kau pergi?"
Sai mengusap wajahnya. Dia terlihat serius. "Aku harus."
Anthea menggigit bibirnya. "Kenapa?" Dari sekian banyak pertanyaan hanya kata 'kenapa' yang meluncur bebas begitu saja.
"Aku harus."
Anthea tahu, dia tidak pernah mendapatkan jawabannya. Jadi, dia memilih diam. Bahkan terlebih saat Sai berdiri, tanpa berpamitan apa pun padanya pergi menuju kasir dan menyuruh seseorang membawa pesananannya ke dalam mobil. Anthea memandang punggung itu dalam-dalam, dia tidak tahu bagaimana dia harus bersikap saat ini. Wajahnya mungkin memerah karena menahan tangis, tapi dia bersyukur tidak ada air mata yang tumpah saat ini. Dia bersyukur karena dirinya bisa menjadi tegar.
Anthea berdiri, dia mengeluarkan dompetnya dan pergi menuju kasir. Membayar makanannya dan kembali ke kantor.
.
.
Anthea menghampiri Celin yang melambaikan tangannya di depan pintu masuk gedung. Anthea memperhatikan rambut pria yang sedang berbicara dengan Celin, wajahnya terkejut saat dia mendapati pria itu menoleh padanya.
"Oh, bukankah dia?" Anthea menunjuk Saveri dengan telunjuknya saat dia berdiri di samping wanita itu. "Dia kekasihmu?"
Saveri mengangguk dan Celin hanya diam. Saveri mengusap wajahnya dan Celin mencoba menjelaskan. "Saveri punya misi khusus kemari Anthea," Celin menatap Saveri bergantian dengan Anthea. "Callia mengambil anak perusahaan milik Madana dan memecat beberapa pegawai yang diangkat dari label perusahaan anak itu. Dia menggantinya dan merubah aturan itu tanpa berdiskusi dengan Madana Gale lebih dulu." Celin menjelaskan.
Anthea menatap Saveri terkejut. "Bagaimana bisa?" Kepalanya menggeleng. "Bukankah hubungan kerjasama kalian sudah berakhir?"
"Itu yang menjadi masalah," kata Saveri. "Aku tidak tahu mengapa Daviana satu itu mencari masalah dengan Gale lagi. Gale tidak melakukan apa pun. Dia bahkan memberikan proposal persetujuan dana bank untuk membantu biaya proyek Daviana selanjutnya. Ada yang salah di diri wanita itu." Nada suara Saveri tajam.
"Kenapa kau yang kemari? Seharusnya Gale sendiri yang datang ..." Suara Anthea tertelan di tenggorokannya saat Anthea melihat Gale turun dari mobil mewahnya dan melangkah menaiki anak tangga. Pria itu tidak melihatnya namun dia menarik tangan Saveri untuk ikut bersamanya.
"Anthea, apa semua akan baik-baik saja?" Celin menatap Anthea cemas. "Saveri menghubungiku kalau dia ingin aku melihat jadwal Callia hari ini untuk bertemu. Aku ingin membantunya tapi Saveri begitu mendesak membuatku takut jika sesuatu terjadi."
Anthea melirik punggung Gale yang berjalan menjauhi resepsionis. Anthea menarik tangan Celin dan berlari mengejar dua pria itu sampai mereka masuk ke dalam lift.
"Celin?"
Saveri terkejut saat Anthea tiba-tiba muncul tepat di depan pintu lift dan menghalangi pintu itu tertutup rapat. Gale menatap wajah Anthea, mereka bertatapan sejenak sebelum akhirnya pria itu lebih dulu memutuskan tatapan mereka.
"Bisa aku ikut masuk? Aku juga harus pergi ke ruanganku," Saveri mengangguk dan Gale hanya bergeser memberikan ruang untuk Anthea dan Celin. Pintu lift tertutup. Anthea melirik Gale yang tampak tenang tidak tersulut emosi apa pun.
"Seharusnya kalian menaiki lift khusus para petinggi perusahaan di sebelah kanan dan bukan di sini," Anthea membuka percakapan.
"Kami bukan petinggi perusahaan di sini. Itu tidak perlu," suara dalam Gale sungguh membuat Anthea takut. Pria itu sedang dalam pengendalian dirinya yang tinggi. Gale pastinya sedang menahan rasa marahnya hingga berefek pada orang di sekitarnya.
Saveri tersenyum, mencoba mencairkan suasana tapi rasanya dia gagal. Anthea tidak bisa membalas senyuman pria itu dan Celin memilih untuk diam. Mereka seperti kutub yang berjauhan padahal jarak mereka sangat dekat.
"Anthea, bisa kau temui kami dengan Daviana Callia?"
Anthea menoleh pada Saveri, tanpa berpikir lagi dia menganggukan kepalanya. Anthea menekan tombol angka lain di lift dan lift kembali naik ke atas menuju lantai yang dituju.
Anthea keluar lebih dulu diikuti Celin, setelah Celin berbicara dengan seseorang di meja depan, dia baru memperbolehkan mereka masuk. Gale lebih dulu berjalan diikuti Saveri dan Anthea menjaga langkah di belakang mereka dengan jarak yang cukup.
Ada pintu yang terbuka, Anthea menoleh dan mendapati Callia keluar dengan wajah segarnya. Wanita itu tidak terkejut dengan kehadiran Gale, dia memberikan senyum misterius yang membuat Anthea bingung.
"Oh, ada direktur lain berkunjung," senyum Callia lebar. "Anthea, apa kau yang mengantar mereka? Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik kalau begitu." Puji Callia disertai jempolnya yang terangkat pada Anthea.
Anthea hanya mengangguk. Dia melirik Celin yang terdiam di dekat pintu lift. Anthea berterima kasih pada sahabatnya satu itu karena mau menunggunya.
"Bisa kau jelaskan kenapa kau mengambil anak perusahaanku dan memecat pegawai yang tidak bersalah hanya karena ambisimu?"
Anthea terdiam, dia memilih mundur beberapa langkah ke belakang saat Callia duduk di sofa dan menyuruh kedua pria itu duduk namun tidak mereka hiraukan. Gale memilih untuk bersandar di dinding, memasukkan kedua tangannya di dalam saku celananya, berdiri dengan tenang. Dan Saveri memilih untuk berada agak jauh dari Gale.
"Anak perusahaanmu?" Kepala pirang itu menggeleng. "Bukankah itu milikku?"
Mata Gale menyipit.
"Kau lupa? Kau mengambil anak perusahaan itu dari Madana Addi dan memberikannya atas namaku? Kau bahkan juga memberikan saham itu untukku sebagai hadiah ulang tahunku saat itu. Apa kau tidak ingat?"
Saveri menoleh memandang Gale, begitu juga dengan Anthea.
"Ah, Gale. Dengarkan aku, aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi hakku. Itu sudah menjadi milikku dan aku berhak mengambilnya darimu tanpa perlu izin darimu."
Gale tersenyum miring. "Tapi kau lepas tangan saat perusahaan itu hampir bangkrut dan aku membiayai seluruh kerugian mereka. Kau lupa?"
Callia tersenyum lebar. "Aku tidak lupa. Tapi kupikir, itu menjadi urusanmu. Aku tidak berurusan dengan hancurnya sebuah perusahaan waktu lalu."
Callia menoleh pada Anthea yang terdiam di lorong. "Dan proyek selanjutnya dari perusahaan itu akan dipegang oleh Anthea. Aku memperbolehkanmu mengawasi jalannya proyek nanti. Anggap saja, itu masih menjadi bagianmu, tapi jika terjadi sesuatu pada proyek itu kau tidak boleh menyalahkanku," Callia kembali menatap Gale dengan dingin. "Aku tidak punya urusan apa pun lagi denganmu jadi berhentilah seolah-olah kau tersakiti di sini."
Callia bangun dari sofanya, dia memperhatikan penampilan Gale. "Aku senang melihatmu baik-baik saja. Aku pikir akan ada tangisan, darah dan jeritan? Sepertinya tidak ada darimu. Aku berekspetasi terlalu tinggi sepertinya." Callia mengangkat bahunya, dia kembali membuka pintu ruangannya. Dia menatap Saveri bingung. "Mengapa kau ikut kemari? Ah, aku lupa. Kau manajer perusahaan. Pekerjaanmu sama dengan Anthea sekarang. Kuharap kalian bisa berteman baik." Lalu, pintu itu tertutup sempurna.
Gale memejamkan matanya, dia berjalan menuju lift diikuti Saveri yang hanya melirik Celin sekilas dan pergi begitu saja saat pintu lift tertutup.
Anthea berjalan gontai mendekati Celin yang memeluk bahunya. "Anthea ... mengapa Callia begitu tega?"
Anthea menggeleng. Dia menunggu sampai lift itu kosong dan mereka masuk ke dalam.
"Celin," panggil Anthea.
"Ya?"
"Kau pergi dulu ke ruanganmu nanti aku menyusul." Celin mengangguk mengiyakan permintaan Anthea.
Celin berjalan ke luar dari lift saat ia tiba di ruangannya. Anthea tersenyum memberikan Anthea jawaban kalau dia baik-baik saja dan pintu lift kembali tertutup. Anthea menekan angka menuju lantai dasar.
Saat pintu lift terbuka, Anthea berlari membelah luasnya lobi menuju pintu keluar. Dia melihat mobil Saveri melesat lebih dulu namun mobil Gale masih tetap diam di tempat.
Anthea menuruni anak tangga, dia berjalan ragu-ragu menuju mobil mewah pria itu. Anthea terkejut saat Gale tiba-tiba membuka pintu mobilnya dan menatapnya.
"Aku sungguh tidak tahu masalah itu. Aku memang baru saja dipromosikan tapi aku tidak tahu kalau perusahaan itu akan menjadi proyekku selanjutnya, aku .. " Anthea memegang pipinya dengan kedua tangannya. "Aku tahu ini salah karena aku bertanya seperti ini padamu, tapi apa kau baik-baik saja?"
Gale mengalihkan oniksnya ke arah gedung pencakar langit bertuliskan Daviana's Industries. "Tidak."
Anthea menatap wajah Gale.
"Ada dua hal yang perlu kusyukur saat ini. Satu, aku tidak lagi bersamanya. Kedua, aku menyetujui pemberhentian kerjasama itu."
Anthea hanya diam.
"Aku hanya perlu memikirkan bagaimana aku mengurus pegawai perusahaan itu."
Anthea mengangguk, dia memberikan Gale senyum kecilnya. "Aku akan berdoa untuk itu. Aku mungkin bisa membantumu sedikit."
"Tanpa sepengetahuan bosmu?"
Anthea menunduk, dia hanya memberikan Gale senyumnya.
Anthea kembali berbalik, langkahnya terhenti saat dia bertemu Sai yang tiba-tiba membuka kedua tangannya dan memeluk Callia yang berlari menerjang tubuhnya. Sungguh, pemandangan sore hari yang akan menjadi makanannya sehari-sehari setelah ini.
Mereka berpelukan erat. Anthea terdiam saat dia melihat senyum Callia melebar ketika Sai memberikan kecupan di pelipis wanita itu. Anthea bahkan bisa mendengar tawa Callia dari jarak mereka yang cukup jauh.
Callia melingkarkan tangannya di bahu Sai dan pria itu memeluknya erat. Membuat tawa Callia meledak lepas sekali lagi. Anthea tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya. Wajahnya memerah karena menahan tangis.
Anthea melihat tubuh Callia yang menjauh, dia tidak tahu mengapa Callia kembali masuk ke dalam gedung. Anthea terdiam saat kepala Sai tiba-tiba menoleh dan tatapan pria itu terkejut ketika mereka bertemu pandang. Anthea menunduk, menyembunyikan wajahnya yang bisa saja meledak dengan tangisan saat ini.
Anthea kembali mengangkat kepalanya, masih mendapati Sai menatapnya dari kejauhan. Anthea tidak bisa memabaca ekspresi pria itu. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan berjalan menjauh sampai dia merasa ada seseorang yang menarik tubuhnya dan memeluknya dari belakang.
Mata Sai melebar begitu juga dengan Anthea yang tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Anthea tidak lagi mempedulikan bagaimana ekspresi Sai saat ini. Dia menunduk, menatap aspal dengan pandangan nanar.
"Kau baik-baik saja?"
Anthea mendengar suara Gale berbisik di telinganya. Dia tidak bereaksi apa pun selain menggelengkan kepalanya dan memejamkan matanya. "Tidak."
Anthea melepas kedua tangan Gale dari pinggangnya dan dia memutar tubuhnya. Kedua matanya basah dan memburam karena air mata yang menumpuk di sana. Oniks Gale begitu gelap memandangnya. Ada rasa iba dan rasa sakit yang bercampur jadi satu membuat Anthea tidak bisa lagi menahannya.
"Aku membencinya," suara Anthea serak. Dia menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Memiringkan wajahnya agar seseorang tidak bisa melihat kalau dia sedang menangis saat ini.
"Aku benar-benar membencinya."
Gale mengangkat wajahnya, dia menatap Sai yang masuk ke dalam mobilnya dengan tiba-tiba dan menjauh dari sana. Entah apa yang pria itu lakukan setelah melihat mereka berdua juga melakukan hal yang sama seperti yang ditunjukkan olehnya.
Gale menunduk, melihat wajah Anthea yang memerah tapi wanita itu tidak mengeluarkan air mata begitu banyak. Anthea berusaha untuk menjadi wanita tegar, dan dia sedikit tersentuh dengan tekad kuatnya.
Gale tidak bisa menyembunyikan senyumnya saat dia melihat Anthea menjauhkan kepalanya dari bahunya dan mengusap air mata di wajahnya yang memerah. Gale mengulurkan salah satu tangannya, membantu Anthea mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh di pipinya. Membuat Anthea terdiam dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Yang tidak mereka berdua ketahui adalah Callia melihatnya. Dia melihat semuanya dengan jelas.