11

1665 Kata
"Kau mencintainya?" Sai terdiam. Anthea menyesal menanyakan pertanyaan klasik seperti itu. Tapi dia harus tahu. "Kau tahu, ini tidak  mudah," jawab Sai. Wajahnya jauh menerawang ke jendela luar restauran  yang menampilkan jalan besar simpangan. "Meninggalkan hubungan yang  sudah kujalani bertahun-tahun dan pergi begitu saja, itu tidak mudah." Anthea terdiam, dia tidak lagi tersenyum. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi berarti. "Kenapa kau pergi?" Sai mengusap wajahnya. Dia terlihat serius. "Aku harus." Anthea menggigit bibirnya. "Kenapa?" Dari sekian banyak pertanyaan hanya kata 'kenapa' yang meluncur bebas begitu saja. "Aku harus." Anthea tahu, dia tidak  pernah mendapatkan jawabannya. Jadi, dia memilih diam. Bahkan terlebih  saat Sai berdiri, tanpa berpamitan apa pun padanya pergi menuju kasir  dan menyuruh seseorang membawa pesananannya ke dalam mobil. Anthea  memandang punggung itu dalam-dalam, dia tidak tahu bagaimana dia harus  bersikap saat ini. Wajahnya mungkin memerah karena menahan tangis, tapi  dia bersyukur tidak ada air mata yang tumpah saat ini. Dia bersyukur  karena dirinya bisa menjadi tegar. Anthea berdiri, dia mengeluarkan dompetnya dan pergi menuju kasir. Membayar makanannya dan kembali ke kantor. . . Anthea menghampiri  Celin yang melambaikan tangannya di depan pintu masuk gedung. Anthea  memperhatikan rambut pria yang sedang berbicara dengan Celin, wajahnya  terkejut saat dia mendapati pria itu menoleh padanya. "Oh, bukankah dia?" Anthea menunjuk Saveri dengan telunjuknya saat dia berdiri di samping wanita itu. "Dia kekasihmu?" Saveri mengangguk dan  Celin hanya diam. Saveri mengusap wajahnya dan Celin mencoba  menjelaskan. "Saveri punya misi khusus kemari Anthea," Celin menatap  Saveri bergantian dengan Anthea. "Callia mengambil anak perusahaan milik  Madana dan memecat beberapa pegawai yang diangkat dari label perusahaan  anak itu. Dia menggantinya dan merubah aturan itu tanpa berdiskusi  dengan Madana Gale lebih dulu." Celin menjelaskan. Anthea menatap Saveri terkejut. "Bagaimana bisa?" Kepalanya menggeleng. "Bukankah hubungan kerjasama kalian sudah berakhir?" "Itu yang menjadi  masalah," kata Saveri. "Aku tidak tahu mengapa Daviana satu itu mencari  masalah dengan Gale lagi. Gale tidak melakukan apa pun. Dia bahkan  memberikan proposal persetujuan dana bank untuk membantu biaya proyek  Daviana selanjutnya. Ada yang salah di diri wanita itu." Nada suara  Saveri tajam. "Kenapa kau yang kemari?  Seharusnya Gale sendiri yang datang ..." Suara Anthea tertelan di  tenggorokannya saat Anthea melihat Gale turun dari mobil mewahnya dan  melangkah menaiki anak tangga. Pria itu tidak melihatnya namun dia  menarik tangan Saveri untuk ikut bersamanya. "Anthea, apa semua akan  baik-baik saja?" Celin menatap Anthea cemas. "Saveri menghubungiku  kalau dia ingin aku melihat jadwal Callia hari ini untuk bertemu. Aku ingin  membantunya tapi Saveri begitu mendesak membuatku takut jika sesuatu  terjadi." Anthea melirik punggung  Gale yang berjalan menjauhi resepsionis. Anthea menarik tangan Celin  dan berlari mengejar dua pria itu sampai mereka masuk ke dalam lift. "Celin?" Saveri terkejut saat  Anthea tiba-tiba muncul tepat di depan pintu lift dan menghalangi pintu  itu tertutup rapat. Gale menatap wajah Anthea, mereka bertatapan  sejenak sebelum akhirnya pria itu lebih dulu memutuskan tatapan mereka. "Bisa aku ikut masuk?  Aku juga harus pergi ke ruanganku," Saveri mengangguk dan Gale hanya  bergeser memberikan ruang untuk Anthea dan Celin. Pintu lift tertutup.  Anthea melirik Gale yang tampak tenang tidak tersulut emosi apa pun. "Seharusnya kalian menaiki lift khusus para petinggi perusahaan di sebelah kanan dan bukan di sini," Anthea membuka percakapan. "Kami bukan petinggi  perusahaan di sini. Itu tidak perlu," suara dalam Gale sungguh membuat  Anthea takut. Pria itu sedang dalam pengendalian dirinya yang tinggi.  Gale pastinya sedang menahan rasa marahnya hingga berefek pada orang  di sekitarnya. Saveri tersenyum,  mencoba mencairkan suasana tapi rasanya dia gagal. Anthea tidak bisa  membalas senyuman pria itu dan Celin memilih untuk diam. Mereka seperti  kutub yang berjauhan padahal jarak mereka sangat dekat. "Anthea, bisa kau temui kami dengan Daviana Callia?" Anthea menoleh pada  Saveri, tanpa berpikir lagi dia menganggukan kepalanya. Anthea menekan  tombol angka lain di lift dan lift kembali naik ke atas menuju lantai  yang dituju. Anthea keluar lebih dulu  diikuti Celin, setelah Celin berbicara dengan seseorang di meja  depan, dia baru memperbolehkan mereka masuk. Gale lebih dulu berjalan  diikuti Saveri dan Anthea menjaga langkah di belakang mereka dengan  jarak yang cukup. Ada pintu yang terbuka,  Anthea menoleh dan mendapati Callia keluar dengan wajah segarnya. Wanita  itu tidak terkejut dengan kehadiran Gale, dia memberikan senyum  misterius yang membuat Anthea bingung. "Oh, ada direktur lain  berkunjung," senyum Callia lebar. "Anthea, apa kau yang mengantar mereka?  Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik kalau begitu." Puji Callia disertai  jempolnya yang terangkat pada Anthea. Anthea hanya mengangguk.  Dia melirik Celin yang terdiam di dekat pintu lift. Anthea berterima  kasih pada sahabatnya satu itu karena mau menunggunya. "Bisa kau jelaskan kenapa kau mengambil anak perusahaanku dan memecat pegawai yang tidak bersalah hanya karena ambisimu?" Anthea terdiam, dia  memilih mundur beberapa langkah ke belakang saat Callia duduk di sofa dan  menyuruh kedua pria itu duduk namun tidak mereka hiraukan. Gale  memilih untuk bersandar di dinding, memasukkan kedua tangannya di dalam  saku celananya, berdiri dengan tenang. Dan Saveri memilih untuk berada  agak jauh dari Gale. "Anak perusahaanmu?" Kepala pirang itu menggeleng. "Bukankah itu milikku?" Mata Gale menyipit. "Kau lupa? Kau mengambil  anak perusahaan itu dari Madana Addi dan memberikannya atas namaku?  Kau bahkan juga memberikan saham itu untukku sebagai hadiah ulang  tahunku saat itu. Apa kau tidak ingat?" Saveri menoleh memandang Gale, begitu juga dengan Anthea. "Ah, Gale. Dengarkan  aku, aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi hakku. Itu sudah  menjadi milikku dan aku berhak mengambilnya darimu tanpa perlu izin  darimu." Gale tersenyum miring.  "Tapi kau lepas tangan saat perusahaan itu hampir bangkrut dan aku  membiayai seluruh kerugian mereka. Kau lupa?" Callia tersenyum lebar.  "Aku tidak lupa. Tapi kupikir, itu menjadi urusanmu. Aku tidak berurusan  dengan hancurnya sebuah perusahaan waktu lalu." Callia menoleh pada Anthea  yang terdiam di lorong. "Dan proyek selanjutnya dari perusahaan itu akan  dipegang oleh Anthea. Aku memperbolehkanmu mengawasi jalannya proyek  nanti. Anggap saja, itu masih menjadi bagianmu, tapi jika terjadi  sesuatu pada proyek itu kau tidak boleh menyalahkanku," Callia kembali  menatap Gale dengan dingin. "Aku tidak punya urusan apa pun lagi  denganmu jadi berhentilah seolah-olah kau tersakiti di sini." Callia bangun dari sofanya,  dia memperhatikan penampilan Gale. "Aku senang melihatmu baik-baik  saja. Aku pikir akan ada tangisan, darah dan jeritan? Sepertinya tidak  ada darimu. Aku berekspetasi terlalu tinggi sepertinya." Callia mengangkat  bahunya, dia kembali membuka pintu ruangannya. Dia menatap Saveri  bingung. "Mengapa kau ikut kemari? Ah, aku lupa. Kau manajer perusahaan.  Pekerjaanmu sama dengan Anthea sekarang. Kuharap kalian bisa berteman  baik." Lalu, pintu itu tertutup sempurna. Gale memejamkan  matanya, dia berjalan menuju lift diikuti Saveri yang hanya melirik  Celin sekilas dan pergi begitu saja saat pintu lift tertutup. Anthea berjalan gontai mendekati Celin yang memeluk bahunya. "Anthea ... mengapa Callia begitu tega?" Anthea menggeleng. Dia menunggu sampai lift itu kosong dan mereka masuk ke dalam. "Celin," panggil Anthea. "Ya?" "Kau pergi dulu ke ruanganmu nanti aku menyusul." Celin mengangguk mengiyakan permintaan Anthea. Celin berjalan ke luar  dari lift saat ia tiba di ruangannya. Anthea tersenyum memberikan Anthea  jawaban kalau dia baik-baik saja dan pintu lift kembali tertutup.  Anthea menekan angka menuju lantai dasar. Saat pintu lift terbuka,  Anthea berlari membelah luasnya lobi menuju pintu keluar. Dia melihat  mobil Saveri melesat lebih dulu namun mobil Gale masih tetap diam di  tempat. Anthea menuruni anak  tangga, dia berjalan ragu-ragu menuju mobil mewah pria itu. Anthea  terkejut saat Gale tiba-tiba membuka pintu mobilnya dan menatapnya. "Aku sungguh tidak tahu  masalah itu. Aku memang baru saja dipromosikan tapi aku tidak tahu kalau  perusahaan itu akan menjadi proyekku selanjutnya, aku .. " Anthea  memegang pipinya dengan kedua tangannya. "Aku tahu ini salah karena aku  bertanya seperti ini padamu, tapi apa kau baik-baik saja?" Gale mengalihkan oniksnya ke arah gedung pencakar langit bertuliskan Daviana's Industries. "Tidak." Anthea menatap wajah Gale. "Ada dua hal yang perlu kusyukur saat ini. Satu, aku tidak lagi bersamanya. Kedua, aku menyetujui pemberhentian kerjasama itu." Anthea hanya diam. "Aku hanya perlu memikirkan bagaimana aku mengurus pegawai perusahaan itu." Anthea mengangguk, dia memberikan Gale senyum kecilnya. "Aku akan berdoa untuk itu. Aku mungkin bisa membantumu sedikit." "Tanpa sepengetahuan bosmu?" Anthea menunduk, dia hanya memberikan Gale senyumnya. Anthea kembali berbalik,  langkahnya terhenti saat dia bertemu Sai yang tiba-tiba membuka kedua  tangannya dan memeluk Callia yang berlari menerjang tubuhnya. Sungguh,  pemandangan sore hari yang akan menjadi makanannya sehari-sehari setelah  ini. Mereka berpelukan erat.  Anthea terdiam saat dia melihat senyum Callia melebar ketika Sai memberikan  kecupan di pelipis wanita itu. Anthea bahkan bisa mendengar tawa Callia  dari jarak mereka yang cukup jauh. Callia melingkarkan  tangannya di bahu Sai dan pria itu memeluknya erat. Membuat tawa Callia  meledak lepas sekali lagi. Anthea tidak bisa menyembunyikan rasa  sedihnya. Wajahnya memerah karena menahan tangis. Anthea melihat tubuh Callia  yang menjauh, dia tidak tahu mengapa Callia kembali masuk ke dalam gedung.  Anthea terdiam saat kepala Sai tiba-tiba menoleh dan tatapan pria itu  terkejut ketika mereka bertemu pandang. Anthea menunduk, menyembunyikan  wajahnya yang bisa saja meledak dengan tangisan saat ini. Anthea kembali  mengangkat kepalanya, masih mendapati Sai menatapnya dari kejauhan.  Anthea tidak bisa memabaca ekspresi pria itu. Dia menutup wajahnya  dengan kedua tangannya dan berjalan menjauh sampai dia merasa ada  seseorang yang menarik tubuhnya dan memeluknya dari belakang. Mata Sai melebar begitu  juga dengan Anthea yang tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.  Anthea tidak lagi mempedulikan bagaimana ekspresi Sai saat ini. Dia  menunduk, menatap aspal dengan pandangan nanar. "Kau baik-baik saja?" Anthea mendengar suara  Gale berbisik di telinganya. Dia tidak bereaksi apa pun selain  menggelengkan kepalanya dan memejamkan matanya. "Tidak." Anthea melepas kedua  tangan Gale dari pinggangnya dan dia memutar tubuhnya. Kedua matanya  basah dan memburam karena air mata yang menumpuk di sana. Oniks Gale  begitu gelap memandangnya. Ada rasa iba dan rasa sakit yang bercampur  jadi satu membuat Anthea tidak bisa lagi menahannya. "Aku membencinya," suara  Anthea serak. Dia menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Memiringkan  wajahnya agar seseorang tidak bisa melihat kalau dia sedang menangis  saat ini. "Aku benar-benar membencinya." Gale mengangkat  wajahnya, dia menatap Sai yang masuk ke dalam mobilnya dengan tiba-tiba  dan menjauh dari sana. Entah apa yang pria itu lakukan setelah melihat  mereka berdua juga melakukan hal yang sama seperti yang ditunjukkan  olehnya. Gale menunduk, melihat  wajah Anthea yang memerah tapi wanita itu tidak mengeluarkan air mata  begitu banyak. Anthea berusaha untuk menjadi wanita tegar, dan dia  sedikit tersentuh dengan tekad kuatnya. Gale tidak bisa  menyembunyikan senyumnya saat dia melihat Anthea menjauhkan kepalanya  dari bahunya dan mengusap air mata di wajahnya yang memerah. Gale  mengulurkan salah satu tangannya, membantu Anthea mengusap air matanya  yang tiba-tiba jatuh di pipinya. Membuat Anthea terdiam dan mengusap  wajahnya dengan kasar. Yang tidak mereka berdua ketahui adalah Callia melihatnya. Dia melihat semuanya dengan jelas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN