12

1350 Kata
Mengusap wajahnya dengan kasar, Anthea memilih berbalik pergi dan berlari menjauhi Gale melalui pintu lain di belakang. Gale menghela napasnya, kepalanya mendongak dan mendapati sosok Callia berdiri di undakan anak ketiga bagai patung. Bola mata biru itu menatapnya kosong. Dia seperti boneka tanpa jiwa jika Gale boleh menyebutnya begitu. Callia menggeleng saat tatapan mereka bertemu. Langkahnya dipercepat saat ia berlari menuju mobil lain yang tidak Gale lihat di ujung sana. Dia tidak mau peduli. Kepalanya terasa berat hampir mau pecah. Gale masuk ke dalam mobilnya. Meninggalkan halaman parkir itu dengan pikiran yang melegakan. Setidaknya. ### Anthea duduk di samping kursi bus bersama Celin. Hari ini Celin memilih menemaninya naik bus untuk pulang. Saveri bersedia menjemputnya namun Celin menolak. Dia perlu menemani Anthea. Padahal Anthea tidak membutuhkannya tapi dia menghargai niat baik wanita itu. "Sudah berapa lama kalian berkencan?" Celin tersenyum. "Bulan ini berjalan tiga tahun." "Wow," mata Anthea membulat. "Kau bahkan tidak menceritakan apa pun tentangnya, Celin," Anthea memukul bahu Celin gemas. Celin hanya tersenyum kecil. "Sekarang kau sudah tahu. Aku tidak perlu menceritakan apa-apa lagi." Mereka kembali diam. Menikmati goyangan bus yang membelah jalan Tokyo sore hari. Hari cukup cerah setelah Tokyo dilanda badai malam sebelumnya. Sepertinya langit sedang berpihak pada warga di sini untuk menikmati hari. "Bagaimana Gale?" Anthea menarik napas. "Entahlah. Ini juga salahnya." "Jangan menyalahkannya, Anthea," Celin menggeleng dengan wajah prihatin. "Dia mendapat banyak tekanan karena mencintai Callia sejak dulu." Anthea menoleh dengan wajah bingung. "Apa maksudmu?" Celin menghela napas panjang. Dia merapatkan mantel kuningnya. "Yang kudengar, Gale mengenal Callia sejak mereka duduk di bangku menengah pertama. Ya, kau tahu cinta remaja yang abu-abu," Celin memandang wajah Anthea. "Kita tidak pernah tahu bagaimana perasaan seseorang akan berkembang ke depannya. Gale jatuh terlalu dalam mencintai Callia. Tapi keluarganya menentang." Anthea memandang Celin heran. "Mengapa? Bukankah mereka sederajat?" Celin menggeleng dengan wajah sedih. Dia kembali menatap jendela bus. "Aku tidak tahu. Hanya Gale yang tahu. Mungkin Callia juga tahu, tapi entahlah. Mereka menyembunyikannya terlalu rapat." "Keluarga Madana kadang tidak bisa ditebak," lanjut Celin. Dia tersenyum pada Anthea. "Apa sekarang kau merasa lebih baik? Kau sudah mampu melepaskan Sai?" Anthea tidak bisa menyembunyikan wajah sedihnya. Celin menangkap sorot mata rapuh itu. Dia berbalas mengenggam tangan Anthea dan meremasnya. "Tidak apa, Anthea. Ini butuh proses." Anthea menghela napas panjang. "Delapan tahun bukan waktu yang sebentar, Celin," Anthea tersenyum. Mengusap lembut telapak tangan Celin. "Aku tidak apa. Semua sudah berlalu. Aku sudah melepasnya bahagia. Tidak ada yang perlu dipikirkan." "Jangan menangis lagi," ucap Celin. "Kau lebih baik memberikan air matamu untuk seseorang yang mengisi hatimu lagi suatu saat nanti." Anthea terdiam sesaat. Seseorang yang mengisi hatinya? Dia tertawa dalam hati. Siapa? Anthea tidak tahu apakah dia bisa. Tapi jikapun ada, apa tidak akan berakhir sama? Apa dia akan bahagia? Terlalu banyak pertanyaan yang muncul di dalam kepalanya membuatnya pening. Mereka larut dalam pembicaraan sampai Anthea pamit lebih dulu karena bus berhenti di halte dekat dengan rumahnya. ### Anthea menekan tombol power di ponselnya dan layar menunjukkan pukul setengah delapan malam dan dia masih duduk menunggu makan malamnya tiba. Dia sudah memasak nasi di rumah hanya saja kulkasnya kosong tidak ada bahan makanan yang tersisa. Anthea akan pergi ke supermarket besok. Mengapa dia tidak pergi ke apartemen barunya? Tidak. Anthea memilih untuk mengambil kunci mobil dan fasilitas kartu kesehatan saja. Dia tidak butuh tempat tinggal baru. Merepotkannya. Meskipun apartemen itu memiliki segudang fasilitas tingkat tinggi dan pelayan bagai di istana. Mungkin Anthea menyukainya, tapi dia tidak biasa. Dan itu sulit untuknya kembali beradaptasi dengan lingkungan baru. "Ini pesanan Anda, Nona." Anthea bangun dari tempat duduknya dan menyerahkan dua lembar uang pada kasir yang berjaga. Setelah mengucapkan terima kasih, Anthea segera pergi ke luar kafe. Menikmati udara malam hari yang tidak terlalu dingin namun bisa membuatnya menggigil jika dibiarkan terlalu lama. Anthea mengancing mantelnya dan pergi berjalan menyusuri Tokyo malam hari dengan langkah ringan. Lampu-lampu jalan menyala terang. Anthea tidak merasa takut karena banyak orang yang berlalu-lalang menikmati udara malam setelah kemarin penuh diterpa badai. Anthea berjalan ringan. Langkahnya mantap saat ia memilih untuk pulang berjalan kaki menikmati udara malam saat jam-jam kerjanya sibuk mulai besok dan seterusnya. Anthea yakin, dia akan jarang menemui dirinya berjalan saat malam begini jika jabatannya naik. Dia akan menghabiskan banyak waktu memikirkan proyek dan anak buahnya nanti. Anthea teringat kata-kata Callia yang menusuk sore tadi. Anthea tidak habis pikir setega itukah Callia pada Gale hanya karena masa lalu mereka sudah selesai? Seharusnya wanita itu bisa sedikit luluh dan menerima Gale sebagai rekan kerja atau sebagai teman biasa tanpa harus memutus ikatan tali pertemanan mereka. Seperti dirimu tidak saja. Anthea tersenyum kecut. Dia seperti pecundang sekarang. Anthea melewati taman yang tampak tidak terlalu ramai. Dia melihat beberapa pasangan duduk di bangku dan berbicara bersama. Anthea melihat tawa mereka yang lepas. Membuat perasaannya serasa membeku. Dia pernah mengalaminya. Berkencan, cokelat, bunga, kalung, permen kapas, lollipop, ice cream. Semua sudah dia rasakan. Sekarang apalagi? Dia hanya perlu menunggu untuk kembali merasakannya. Begitu? Konyol. Dia seperti anak muda saja mengharapkan ada seseorang yang akan membelikannya permen kapas saat dia menangis atau membelikan ice cream stroberi favoritnya saat dia kesal. Langkah Anthea terhenti saat dia melihat Gale berjalan melewati taman sedang menelepon seseorang. Anthea tidak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya ketika tatapan mata pria itu tampak gusar dan langkahnya dipercepat saat dia memasuki mobil mewahnya. Anthea bahkan tidak sempat menegurnya saat mobil itu melesat pergi menjauhinya. Anthea hanya mampu melihat mobil itu menjauh. ### "Aku bawa suamiku hari ini. Dia akan membantu kita mengerjakan proyek baru," Callia tersenyum pada dua klien yang datang menyapa mereka di lobi. Anthea terdiam saat dia selesai menekan sidik jarinya di mesin otomatis untuk para pegawai guna mengisi kehadiran setiap harinya. Dia tidak berani berjalan mendekat saat para klien itu akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan mereka berdua. "Oh, Anthea!" Anthea menoleh ke belakang dan mendapati Celin berlari di atas stiletto hitam pekatnya. Dia tampak kesusahan karena beberapa dokumen yang dipeluk di d**a dan dia harus absen. Anthea berjalan mendekat, membantu gadis itu membawakan dokumennya. "Terima kasih." Anthea mengangguk. . . . Langkah Celin terhenti saat ia melihat Callia dan Sai menatap mereka berdua. Wajah Callia tampak datar tapi kemudian bibir peach itu menarik senyum saat matanya bertemu pandang dengan Anthea. "Anthea, selamat pagi." Sapanya hangat. Anthea sungguh lebih baik melewati pintu lain atau kabur saja. Dia berharap Callia tidak melihatnya tapi semua sudah terjadi. Tidak ada jalan lain selain dia harus maju dan menyapa wanita itu. "Callia, selamat pagi," Anthea menoleh pada Sai. Ia memamerkan senyum sopannya. "Selamat pagi juga untukmu, Tuan." Celin mengikuti Anthea. Dia tidak banyak bicara karena ini bukan urusannya. Dia hanya berdiri di samping Anthea dan tidak melakukan apa pun sembari menunggu wanita itu. "Tuan?" Anthea menoleh pada Callia yang mengulum senyumnya. Tangan lentik Callia memukul bahunya gemas. Tawanya tiba-tiba pecah. "Anthea, aku geli mendengarnya. Panggil saja dia Sai sama seperti ketika kau memanggilku dengan namaku. Tidak usah terlalu formal. Kau juga Celin, jangan panggil dia Tuan. Nanti dia merasa percaya diri." Goda Callia yang diberi senyuman tipis Sai. Anthea memaksakan sebuah senyum. Celin juga melakukan hal yang sama. Tidak ada reaksi yang lebih baik selain tersenyum. "Kau tidak keberatan, 'kan?" Senyum Sai memudar. Kepalanya menggeleng ketika mata hitam pekat itu bertatapan dengan iris biru Callia. "Tidak. Aku suka mendengarnya." Senyum Callia melebar. Anthea merasakan ada rasa sesak di dadanya. Jika dia pergi, dia akan kalah. Dia harus bertahan. Sebentar lagi. "Ah, aku punya panggilan penting di proyek. Bagaimana kalau kita bertemu di sana?" Sai menatap Callia dan wanita itu mengangguk. Mereka melemparkan senyum dan Anthea merasa wajahnya memanas. Celin melirik Anthea dengan cemas. Dia mundur beberapa langkah dan bersiap menarik Anthea pergi tapi wanita itu hanya memberikannya senyum seolah memberikan sinyal kalau dirinya baik-baik saja. "Kalau begitu aku harus pergi ke ruanganku. Kudengar, aku sudah mendapat tugas baru hari ini," Anthea mengutuk dirinya sendiri karena nada bicaranya terdengar kaku dan terburu-buru. Callia pastinya mengetahui dan dia tidak mau wanita itu merasa risih. Callia hanya tersenyum. Dia merangkul lengan Sai dan membiarkan Anthea pergi menaiki lift diikuti Celin. Sai menoleh mengikuti kemana punggung rapuh Anthea pergi. Sorot matanya tak terbaca dan Callia melihatnya. ###
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN