"Pemandangan yang membuatku sedikit mual pagi ini." Celin mendesah panjang saat dia menaruh dokumennya di atas meja Anthea. Anthea hanya diam, dia memilih sibuk dengan pikirannya sendiri dibanding menanggapi ucapan Celin.
"Kepalaku pusing," Anthea memijat kepalanya. Celin memandangnya khawatir. "Kau tidak apa?"
Anthea menggeleng. Dia pergi menuju dapur kecil yang membatasi antara ruangannya dengan ruangan Celin. Mulai hari ini dan seterusnya Celin akan menjadi asisten pribadinya. Celin akan menjadi tangan kanan sekaligus orang yang Anthea percaya selama mereka mengerjakan tugas bersama-sama. Celin juga banyak tahu tentang kehidupan pribadi Anthea dan Anthea yakin, mereka bisa bekerjasama dengan baik tanpa ada masalah serius.
Callia menyetujuinya dan itu poin penting utama.
"Kau mau kopi atau teh, Celin?"
"Teh saja, Anthea." Celin duduk di sofa. Menunggu Anthea datang dengan dua cangkir teh panas di atas meja.
"Kalau kulihat jadwalmu tidak ada yang terlalu penting hari ini. Kau harus terbiasa dengan rapat dan klien mulai sekarang. Kau akan mulai mengambil beban proyek baru timur Tokyo dengan pembangunan jangka pendek setahun penuh, Anthea. Mereka setuju jika kau memegang kendali penuh proyek itu dan saham perusahaan akan naik sepuluh persen jika proyek pertamamu ini berhasil," Celin membuka tabletnya dan membacakannya untuk Anthea.
"Kau bisa pulang jam tiga sore nanti. Kau masih punya waktu untuk istirahat." Celin mematikan tabletnya dan memandang Anthea.
"Aku akan pergi ke supermarket. Kulkasku kosong aku butuh sesuatu untuk dimakan," Anthea menggerutu setelah meminum tehnya. "Aku juga butuh sesuatu yang baru untuk kupakai."
"Kau akan berbelanja?"
Anthea mengangguk antusias. "Kau mau menemaniku?"
Celin tersenyum menyesal. Kepalanya menggeleng. "Aku punya janji menemani adikku di pesta ulang tahun temannya. Ibu tidak bisa menemaninya karena dadanya masih sesak. Aku harus menggantikannya."
Anthea tersenyum. Menaruh gelasnya, dia mengusap bahu Celin. "Tidak apa, Celin. Lain kali saja, oke?"
"Oke."
***
"Ah," Anthea menoleh bingung dengan pertanyaan singkat Gale. Tapi kemudian otaknya menangkap maksud pria itu. Dia tersenyum malu. "Aku membeli kebutuhan bulanan. Kulkasku kosong dan aku tidak sempat mengisinya. Makanan instan tidak baik jika dikonsumsi setiap hari."
Dahi Gale tampak berkerut. "Kau makan ramen setiap malam?"
Anthea tersenyum malu. "Ya, begitulah."
Anthea menghentikan trolinya tepat di bagian s**u kaleng dan kemasan. Dia tampak bingung memilih kualitas s**u yang bagus.
"Kau juga minum ini?"
Anthea menoleh sekilas. Kemudian fokusnya kembali pada barisan s**u kaleng. "Terkadang. Jika aku tidak sempat membuat sarapan berat, aku hanya makan roti dan minum susu."
Gale tidak berkomentar apa-apa dan memilih diam. Anthea sudah memilih satu s**u kaleng dan s**u kotak berukuran besar. Ini cukup sampai dua minggu ke depan.
Anthea menghentikan trolinya, dia menoleh pada Gale. "Kau tidak membayar belanjaanmu ke kasir?"
Gale terkejut. Dia melirik bir di tangannya dan kembali ke wajah Anthea yang sedang menahan tawanya. Sepertinya Gale sudah berbaik hati mau menemaninya berbelanja sampai mereka larut dalam pembicaraan dan troli Anthea hampir penuh dengan makanan dan minuman kemasan serta belanjaan yang lain.
"Aku senang ada yang menemaniku berbelanja," Anthea mengambil bir dari tangan Gale dan memasukkannya ke dalam troli miliknya. "Ada teman mengobrol," katanya.
Gale hanya diam saja. Bahkan ketika Anthea mendorong trolinya masuk ke dalam antrian kasir, Gale tetap mengikutinya.
Anthea menoleh bingung pada pria itu. "Kau bisa duduk di sana, Gale."
"Birku?"
"Ah, aku yang akan membayarnya."
Gale ingin mengatakan sesuatu tapi Anthea sudah lebih dulu mendorong trolinya maju tepat di hadapan kasir.
"Tolong dibedakan bir itu. Aku membayar berbeda untuk birnya," Gale bersuara saat pegawai kasir mengangkat birnya dan mengecek barcode bir itu untuk harganya. Anthea mendesah berat, dia menaruh barang-barangnya di atas meja kasir dan membiarkan wanita itu menghitungnya.
Setelah selesai membayar, Anthea membawa sekantung plastik penuh barang belanjaannya sampai menjauh dari meja kasir. Sebelum Anthea sempat berjalan menjauh dari sana, Gale menghampirinya. Mengambil kantung itu dari tangannya.
"Kau bawa mobil?"
Anthea menggeleng.
"Kau naik bus?"
Anthea mengangguk.
Gale pergi lebih dulu, Anthea mengejarnya setelah dia memasukkan dompetnya ke dalam tas. "Apa yang kaulakukan?"
"Membawakan barangmu," jawabnya datar.
"Aku naik bus, Gale. Biar aku saja yang bawa," Anthea hendak merebut kantung itu namun Gale menahannya. Dia memakai tangannya yang lain menahan tangan Anthea. "Aku akan mengantarmu pulang."
Anthea memejamkan matanya. Dia tidak ingin berdebat. Tapi apa boleh buat? Belanja menghabiskan banyak waktu dan dia merasa lelah sekarang.
Anthea menyamai langkahnya dengan Gale sampai mereka bertemu di pintu depan. Anthea terkejut ketika dia melihat Sai masih berdiri di sana dengan mantel cokelatnya tengah menunggu seseorang.
"Anthea," Sai menghampirinya. Dia melirik Gale yang berdiri kaku di samping Anthea. "Oh, kupikir kau berbelanja sendiri."
Anthea melirik Gale, kemudian kembali pada Sai. "Aku juga bertemu dengan Gale di dalam."
"Gale?" tawa ringan Sai meluncur bebas. "Kau bisa memanggilnya bebas seperti itu tanpa tahu jabatan kalian?"
Anthea terkejut dengan ucapan Sai yang menusuknya. Tatapan Anthea menajam, dia hendak membuka mulutnya menjawab Sai namun suara Gale mengurungkan niatnya.
"Kelas kami tidak berbeda, Matteo. Jaga bicaramu."
Tuhan, tidak lagi. Mereka tidak boleh berdebat.
Sai menyunggingkan senyumnya. Anthea mengerti betul senyum itu. Senyum yang diberikan Sai untuk musuhnya. Atau setidaknya dia menganggap begitu.
"Terakhir kutahu, kau masih berusaha menemui Callia diam-diam tanpa sepengetahuanku dan sekarang mendekati wanita lain? Kau sedang mencari pelampiasan?"
Mulut Anthea terbuka. Dia tidak menyangka kalau Sai akan berbicara tajam pada pria yang kini menatapnya dingin. Anthea maju, dia mendorong Sai agak jauh dan pria itu tetap tidak mau bergerak dari tempatnya.
"Ini tempat umum. Bisakah kami pergi?"
Sai menatap Anthea. "Kami? Sejak kapan?"
Anthea mendesah berat. Dia menatap Sai dengan tatapan datar sebisa mungkin. "Itu bukan urusanmu. Apa kau harus tahu apa saja yang kulakukan? Apa itu penting bagimu?"
Sai hanya diam.
Anthea melirik Gale yang memilih untuk menutup mulutnya. Mungkin Gale juga merasa tertohok dengan ucapan Sai yang dibenarkan secara tidak langsung olehnya. Dia bertemu Callia diam-diam, Anthea tahu itu. Tapi ayolah, haruskah mereka berdebat di depan pintu masuk supermarket?
Anthea memilih untuk mengambil kantung itu dari Gale dan berjalan meninggalkan mereka berdua. Sai menghela napasnya, menatap kepergian Anthea.
"Berhenti mendekatinya jika kau hanya berniat untuk menyakitinya."
Sai tersenyum pada Gale. "Apa kau seorang peramal sekarang? Kau bisa membaca isi kepalaku?"
"Terlihat jelas di wajahmu, Matteo," Gale menjawab dingin. Dia memasukkan salah satu tangannya di dalam jaketnya. "Aku memang pernah bertemu dengan istrimu," Gale tampak mengingat-ingat. "Dua kali atau lebih. Entahlah, aku lupa."
"Dan apa kau berniat mengambilnya kembali?"
Gale tersenyum, sebuah senyum penuh makna. Sai menatapnya penuh antisipasi. "Tidak. Aku tidak lagi tertarik."
"Bermuka dua sekali dirimu," Sai tersenyum sinis. "Aku menghargai usahamu. Semoga kau mendapatkan balasannya."
"Karma, maksudmu?"
Sai lagi-lagi tersenyum.
"Di kepalaku hanya ada bagaimana caranya membalas sikap istrimu, itu saja."
Gale pergi meninggalkan Sai yang kehabisan kata-kata untuk melawannya. Gale berbalik dengan sebuah senyum samar tanpa arti. Dia pergi menuju mobilnya. Berusaha mencari Anthea tapi tidak berhasil. Anthea sudah naik bus sepertinya.
Gale menaruh birnya di samping kursi kemudinya. Menyalakan mobil itu dan berlalu pergi.