14

1201 Kata
Anthea mengusap wajahnya dengan sapu tangannya saat bulir-bulir keringat menetes dari dahinya membasahi kerah kemejanya. Cuaca sangat terik dan dia menghabiskan waktu hampir tiga puluh menit berjemur guna melihat jalannya proyek yang terhalang dana ini. Setelah memberi arahan, Anthea segera masuk ke dalam tenda peristirahatan. Dia mengambil sebotol air mineral dari meja yang tersedia. Meneguknya hingga hampir setengah habis. "Kau terlihat lelah." Anthea menutup botol minumannya dan menoleh. Dia tersenyum kecil pada Saveri yang ikut duduk bersamanya. "Cuaca di luar sangat panas. Aku tidak tahan," jawab Anthea. "Dimana Celin?" "Dia di kantor. Aku menyuruhnya kembali. Dia hampir pingsan saat aku datang menemuinya tadi," Anthea menaruh botol minumnya di samping tempatnya duduk. "Aku tidak tega melihatnya kelelahan." Saveri tersenyum samar. "Terima kasih sudah memperhatikannya." Anthea tersenyum melirik Saveri. "Sama-sama. Dia sahabat terbaik yang kupunya. Aku harus menjaganya." "Kau orang yang baik," ucap Saveri. Anthea tersenyum lirih. Dia melepas topinya dan membenarkan ikatan rambutnya. "Tidak juga." Saveri menoleh bingung. "Mengapa?" "Kau tidak mengenalku terlalu dekat," jawabnya asal. Anthea memberikan Saveri senyum samar. "Kau akan tahu bagaimana diriku jika mengenalku." "Celin selalu menceritakan hal yang baik tentangmu." Anthea menunduk, dia merapikan ikatan tali sepatunya. "Dia orang yang polos. Celin terlalu baik. Aku terkadang merasa jahat karena sering mengabaikannya," Anthea mengusap lehernya yang berkeringat dengan tisu di dalam tasnya. "Aku tidak merasa aku orang yang baik." "Kurasa Gale juga berpikiran hal yang sama denganku. Berpikir kau orang yang baik dan menyenangkan," Saveri melepas pandangannya ke depan. "Jangan terlalu merendahkan dirimu, Anthea. Tidak baik." "Dia hanya belum terlalu mengenalku," Anthea memasang kembali topinya. "Jika dia mengenalku, mungkin dia akan menjauh dariku." Anthea bangun dari tempat duduknya. Dia mengusap celana jinsnya yang kotor karena debu. "Ini proyek yang harus diawasi perusahaan tempatmu bekerja, 'kan?" Saveri mengangguk. Anthea tersenyum ringan. "Aku pasti bisa menyelesaikannya. Sampaikan pesanku itu pada Gale. Dia tidak perlu khawatir dan memikirkan beban lainnya. Aku berusaha membantunya." ### Anthea hendak membuang sampah ke pembuangan sampah di depan rumahnya dan terkejut mendapati Gale tiba-tiba ada di sana, duduk di depan mobilnya. Menatapnya. Anthea buru-buru membuang sampahnya. Dia menepuk kedua tangannya dan mendekati Gale setelah membuka pagarnya. "Gale, ada apa?" Gale turun dari mobilnya. Dia memakai mantel hitam panjang dengan kemeja berwarna senada dan celana jins hitam. Gale tampak seperti anak muda tampan ketimbang seorang eksekutif muda. "Kau tidak marah karena aku memotong dana proyek itu?" Anthea menghela napasnya. Dia merapatkan mantelnya. "Tidak. Itu urusanmu." "Aku tidak hanya memotong, tapi berniat menghentikan dana itu seluruhnya." Anthea terkejut seketika. Dia menatap oniks gelap itu dan menemukan adanya keyakinan di dalam sana. "Kau tidak main-main?" Gale menggeleng. "Aku muak dengan permainan kotor bosmu. Dia banyak melakukan kecurangan di balik kerjasama kami beberapa bulan lalu," Gale mendengus. "Dan bodohnya, aku baru mengetahuinya." Anthea menatap Gale dengan pandangan tak terbaca. "Cinta bahkan membutakan segalanya, bukan?" Gale mendengus. Dia memasukkan kedua tangannya di dalam saku mantelnya. "Aku sekarang berpikir, untuk apa mencintai seseorang yang sama sekali tidak mencintaimu? Menganggapmu hanya boneka yang sewaktu-waktu berguna jika dibutuhkan," Gale memandang rumah Anthea. "Aku hanya ingin lepas." Anthea tersenyum. "Setidaknya aku tidak mengalami hal yang sama." "Jika Sai memperlakukanmu seolah-olah kau adalah cintanya, dia tidak mungkin meninggalkanmu tanpa alasan. Dia harus memberi alasannya padamu," Gale menangkap wajah Anthea berubah sedih. "Dia sama saja. Bermuka dua." "Kau berbicara seolah-olah kau yang terbaik?" Anthea menggeleng dengan senyum. "Aku tahu kau juga tersakiti, tapi bisakah berhenti membicarakannya?" "Aku akan memberitahumu satu hal," Gale menarik napas panjang. "Callia berpura-pura di depanmu seolah-olah dia membenciku." Anthea menatap Gale bingung. "Dia akan menghubungiku jika Sai mengabaikannya," senyum Gale timbul. Anthea mendengar ada ponsel berbunyi. Dan itu bukan ponselnya. Gale mengeluarkan benda hitam itu dari sakunya dan menunjukkan pada Anthea. "Lihat, siapa yang menghubungiku." Daviana Callia. Mata Anthea memanas. Gale tersenyum kecil. Dia memegang ponselnya tanpa ingin menjawab panggilan dari Callia. "Aku muak dengan drama mereka." Anthea terdiam. "Mereka sama-sama menyedihkan." Anthea menatap Gale dalam. "Berhentilah membuat ini semakin rumit, Gale." Ponsel itu kembali berdering. Anthea meliriknya dan lagi-lagi Callia. "Aku tidak berniat membuatnya jadi rumit," Gale menghela napas lelahnya. "Callia mencintai Sai. Begitu juga dengan Sai. Apa yang salah di pernikahan mereka?" "Aku tidak mau membahasnya." Gale terdiam. Dia memasukkan ponsel yang menyala itu ke dalam sakunya. Dia menatap Anthea lekat-lekat. "Bagaimana kalau kita buat sesuatu yang sama dengan mereka?" Anthea meremas mantelnya erat. "Apa?" "Berkencan denganku." Mata Anthea memanas. "Walau ini hanya pura-pura. Jalani saja." Anthea tersenyum di sela-sela wajahnya yang mulai memerah. "Kita tidak ada bedanya dengan mereka kalau begitu." Gale yang kini terdiam. "Aku akan menyakitimu, Gale," Anthea mendapati suaranya bergetar. Terlebih ketika oniks itu memandangnya dalam. "Aku juga sama buruknya dengan Callia." Anthea tidak ingin menangis. Sungguh. Dia tidak ingin menangis. "Cukup Sai pergi meninggalkanku tanpa alasan. Tidak orang lain lagi." Anthea memejamkan matanya dan berbalik pergi. Dia menutup pagarnya dan menatap Gale sebentar sebelum akhirnya masuk ke dalam. Anthea menutup pintunya. Membiarkan lelehan air mata membasahi pipinya saat dia berjalan gontai ke kamarnya. Dia duduk di ranjangnya. Membuka kotak hitam itu dengan tangan bergetar setelah sekali lagi membaca isi surat di dalam kotak itu. 'Lebih baik kau mati dan terbakar di neraka.'### Tidak bisakah Anthea tidur dengan nyenyak semalam? Mengapa juga mimpi buruk itu datang dan mengganggunya? Membuatnya terjaga sampai pagi datang. Dengan terkantuk-kantuk, Anthea melangkah membelah lobi yang cukup ramai pagi ini. Banyak karyawan baru terlihat di matanya. Ada beberapa dari mereka yang terlihat asing oleh Anthea. Dia tidak memikirkannya. Itu bukan urusannya. "Anthea?" Anthea membuka matanya saat Celin menahan pintu lift dengan napas tersengal dan tersenyum padanya. Pintu lift menutup dan Anthea sedikit bergeser memberi tempat untuk Celin. "Selamat pagi, Celin," sapa Anthea. Dia kembali memejamkan matanya. "Kau bawa mobil?" Anthea menggeleng. "Aku mengantuk. Berbahaya jika menyetir," jawabnya tanpa membuka matanya. Celin mengangguk pelan. Lift terbuka. Anthea membuka matanya saat Sai masuk ke dalam dan bergabung bersamanya. Napas Anthea tercekat ketika tatapan mereka bertemu. Anthea bergerak ke samping untuk memberi jarak antara dirinya dan Sai yang mengambil tempat di sampingnya. "Selamat pagi," Celin menyapa ramah. Sai mengangguk dengan senyum khasnya. "Mengantar Callia?" Kata-kata yang bagus meluncur bebas dari bibirnya. Anthea patut berbangga dengan dirinya sendiri yang sok tegar. Lagi-lagi kepala itu mengangguk. Anthea tidak perlu lagi membuka percakapan. Dia sudah tahu kemana arah percakapan itu pergi. Pintu lift kembali terbuka. Kali ini berhenti di lantai ruangannya. Celin melangkah maju lebih dulu dan diikuti Anthea. Namun langkahnya tertahan saat ada tangan lain yang menahannya pergi. Anthea menoleh, mendapati tangan Sai memegang lengannya. Pegengannya mengerat saat Anthea berusaha menepisnya. Tatapan tajam Anthea juga tidak berhasil membuat pria itu melepas pegangannya. "Apa maumu?" Sai melepas pegangan tangannya. Dia menahan pintu lift dengan tangannya agar tidak tertutup. "Kita harus bicara." Anthea menoleh, mendapati Celin yang memandangnya khawatir dari balik pintu yang terbuka. Anthea memberikan senyumnya untuk menenangkan gadis itu dan segera mengikuti kemana Sai membawanya kali ini. Pintu lift kembali tertutup. Anthea bersandar pada dinding lift yang bersebrangan dengan Sai. Pria itu masih tenang. Tidak ada perubahan berarti di wajahnya yang kaku. Anthea tidak mengerti, mengapa Sai seakan-akan menyimpan luka sendiri yang tidak bisa pria itu utarakan? Memilih untuk memandang stiletto hitamnya, Anthea terdiam ketika tatapan mata kelam itu bergerak ke arahnya. Sai menatapnya dalam diam. Tidak ada kalimat yang diucapkan pria itu. Hanya helaan napas yang terdengar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN