بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Baru aku tahu, ada seorang Ayah yang ingin membunuh anaknya sendiri hanya demi menginkan seorang wanita. Tidak ingin tinggal diam, Hilya memutuskan untuk pergi ke Jakarta. Lagi-lagi dia harus meninggalkan Aisyah di rumah. Perasaan Hilya tidak tenang, sebab Mario belum juga memberi kabar mengenai keberadaan Aiza. Melangkah memasuki rumah megah milik besannya, kaki Hilya gemetar. Kebetulan pintu depan sedang terbuka. Masih sunyi seperti dulu. "Assalamu'alaikum." Tak lama kemudian, bi Surti datang. "Waalaikumussalam..." Hilya menyunggingkan senyum meski keadaan hatinya sedang tidak baik. Akhir-akhir ini dia tidak bisa tidur dengan nyenyak, terlalu memikirkan persoalan Aiza yang menghilang. Bi Surti mempersilakan Hilya untuk masuk dan duduk, dia

