Bab 16 - Ujian Pertama

1912 Kata
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Ibu adalah tempat mencurahkan segala isi hati. Yang membuat hati tenang ketika berhasil mengungkapkan segalanya. Walaupun sudah sadar pasca operasi, Hilya tidak bisa banyak bergerak, dan harus banyak istirahat agar luka operasinya bisa tetap terjaga. Sudah sempat melihat kondisi Hilya yang mulai membaik, Aiza menganjurkan Mario untuk pulang saja ke rumah, sementara Aiza akan menginap di sini satu malam, menemani ibunya yang beberapa hari ini sendirian melalui hari-harinya di rumah sakit. Mario yang memiliki urusan lainpun menyetujui meski sempat menolak dan memilih ikut tidur di sini. Tapi Aiza berhasil meyakinkan. "Sudah aku katakan sebelumnya, kita memang pengantin unik. Berarti tidak ada malam pertama, kan?" Spontan Aiza membelalakkan mata. Jika saja cadarnya terbuka, Mario bisa menebak kalau wajah putih Aiza berubah merah. Wanita kaku dan pemalu seperti Aiza memang lucu sekali untuk diajak becanda dan dibuat kaget. "Iya, tidak ada," jawabnya gugup. Dasar Mario. Sebelum menikah sampai sekarang dia senang sekali menggoda dan mengganggu. Bedanya, dulu sebagai pembantu, tapi sekarang sebagai istri. Lucu, ya? Menjalani pernikahan itu sebelumnya harus mempersiapkan mental dulu. Tapi Aiza merasa dirinya belum siap. Ya, Aiza mengakui kesalahannya. Selalu mengaku sudah siap menikah, padahal kenyataannya tidak. Tapi apa daya, sekarang sudah telanjur. Melayani suami adalah sebuah keharusan, kewajiban, dan dosa jika menolak. "Aku tidak akan memintanya, aku paham, kamu juga belum siap." Suasana yang awalnya cair berubah serius. "Tunggu saja, sampai kita menemukan waktu yang tepat." Mario melanjutkan. Mereka sama-sama belum saling mencintai. Jadi mungkin, tidak ada pihak yang rugi. "Jangan lupa salat, ya." Itulah pesan Aiza sewaktu Mario pamit pulang. Yang dibalas dengan anggukan kepala patuh. Malam harinya, Aiza meraih pergelangan tangan Hilya, menciumnya dengan kasih sayang seorang anak. "Maafin aku, Bu. Aku udah bikin Ibu cemas dan kecewa. Tapi sekarang aku janji, nggak bakal ngulangin itu untuk kedua kalinya." "Iya, nggak apa, Lubna. Ibu ngerti posisi kamu saat itu." Hilya tidak mau mengungkit masalah itu lagi. Malam itu, mereka banyak bercerita. Tentang perasaan Aiza sewaktu dilibatkan dengan dua pilihan. Tentang rasa sakit Aiza, yang harus rela melepaskan cinta pertama. Ibu adalah tempat mencurahkan segala isi hati. Yang membuat hati tenang ketika berhasil mengungkapkan segalanya. Ibu juga akan memberikan nasihat dan jalan keluar. Tak urung Hilya juga menanyakan kondisi Aisyah di sana, bahkan air matanya sempat menetes karena terlalu merindukan dan mengkhawatirkan Aisyah yang tinggal sendirian di rumah. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana aktivitas anak itu di sana. Semoga dia senantiasa berada dalam lindungan Allah subhanahu wa ta'ala. Apakah makannya lancar? Apakah tidurnya nyenyak? Apakah dia baik-baik saja? Apakah kebutuhan sekolahnya terpenuhi? Apakah dia kesepian? Adakah orang yang mau membantunya ketika dia kesusahan? Apakah yang dilakukan Aisyah ketika ada kecoak di kamar tidur? Jika dulu, Hilya yang akan turun tangan dan membuat hewan paling menjijikan bagi Aisyah itu terbalik sampai maut menjemput nyawanya karena sulit untuk tengkurap lagi. Tapi bagaimana sekarang? Entahlah, semoga Aisyah bisa menanganinya sendiri. Kadang, Hilya merindukan sekali teriakan melengkingnya ketika ada kecoak di depan mata. Oh ya, Allah. Kasihan sekali Aisyah. Sebagai Ibu, Hilya merasa berdosa karena telah melalaikan dan membengkalaikan Aisyah sendirian. Walaupun dia sudah berusia 16 tahun, tapi tetap saja, dia masih membutuhkan bantuan orang tuanya. Seharusnya Hilya ada di sana, menemani, menasehati ketika salah, dan memuji ketika benar. Tapi keadaan seakan melarang itu semua. Keadaan mendesak ini membuatnya seperti menelantarkan anak. Aiza bisa saja menelepon atau mengajak Aisyah video call. Tapi ponselnya lowbat. Besok ia harus pulang dan membawa changer. "Ibu sabar, ya. Mulai sekarang, Ibu nggak usah kerja lagi. Ibu bisa pulang ke Garut, dan nemenin Aisyah. Ibu nggak perlu repot-repot kerja lagi. Yang cukup Ibu lakuin adalah, istirahat, dan ngelakuin apa aja yang bikin Ibu seneng. Biarin Lubna yang kasih Ibu uang." "Kamu nggak pa-pa kan menikah dengan tuan Mario?" tanya Hilya diplomatis. "Kalau emang ini udah jalannya, kenapa aku harus marah? Lagipula, Mario lebih baik dari ayahnya. Ya walaupun, aku pernah, sempet, benci sama dia." Aiza ingat pernah mengumpati Mario sewaktu ia mendengar kabar kalau Mario melarang ibunya untuk pulang kampung agar bisa mengikuti proses lamaran Rifki. Saat itu dia benar-benar kesal pada pria yang belum pernah ditemui sama sekali. Padahal baru mendengar cerita dari Ibu. Tapi Aiza juga ingat Ibu berkata kalau Mario tidak seburuk itu. Dia anak yang baik. Ternyata dugaan Ibu benar. Mario hanya kekurangan kasih sayang. Ya, dia memang baik. Ya sudah, jangan mengingat masa lalu lagi. Biarkan itu terlupakan dengan seiring berjalannya waktu. Toh, yang penting sekarang, Mario sudah berubah 180 derajat. Tapi Aiza tidak yakin, kalau Mario bisa langsung berubah. Aiza harus sabar, jika sewaktu-waktu, Mario membuatnya kecewa. Membuka pintu, Mario langsung disuguhi oleh pemandangan yang membuat jantung nyaris luruh ke perut. Di ruang tamu itu, di atas sofa, dia melihat ayahnya sedang bercakap ria dengan seorang wanita berperawakan tinggi dan modis. Tawa mereka begitu renyah, sesekali si perempuan itu menyibakkan rambut ke belakang. Aroma parfum tak pelak merasuki rongga hidung. Aroma parfum ini? Mario mengenalinya. "Nah, lihat, dia sudah datang." Perempuan tersebut menoleh ke arah pintu, dan melihat Mario yang mematung. Pandangan mereka berserobok, penuh makna, lumayan lama. "Hallo Mario..." Suara yang telah lama tidak Mario dengar kini masuk kembali ke gendang telinga mengusik kenangan lama. Claudia? Kenapa dia ada di sini? Mengapa dia bisa kemari? Berbagai pertanyaan berjatuhan di kepala seiring dengan Claudia yang bangkit dan berjalan mendekati Mario. Tanpa basa-basi lagi, dia lantas memeluk Mario dengan manja. Bagaimana tidak, berhari-hari jauh dengan Mario membuatnya kehilangan semangat hidup. Mario adalah cintanya, hidupnya, dan segalanya. "Aku kembali, Mar. Kita bisa memulainya dari awal lagi." Mario meneguk ludah. Tubuhnya terasa beku dan kaku. Bahkan untuk menolak dipeluk pun, rasanya sulit. "Aku rindu kamu, sayang." Perempuan yang selama ini sudah membuat hatinya patah, telah kembali. Munafik namanya jika Mario tidak merindukan dia juga. Karena sampai sekarang, dia masih sangat mencintai gadis yang pernah ia lamar di restoran waktu itu. Tapi lamaran itu berujung kemelut hati lantaran tidak adanya restu dari pihak orang tua. "Akhirnya aku bisa meyakinkan Papa, kalau kebahagiaan aku itu ada di kamu. Kita bisa seperti dulu lagi, Mario." Di sofa, Marteen tersenyum puas melihat dua anak manusia yang sedang melepas rindu. Sepertinya keberuntungan sedang berpihak kepadanya. Jadi Marteen tidak perlu repot-repot memisahkan Aiza dan Mario. Tuhan mengirimkan Claudia kembali untuk membuat Mario kembali pada cintanya yang dulu pernah pupus. Dan Aiza? Bisa Marteen miliki kembali. Meskipun Marteen tidak tahu betul tentang hubungan Mario dengan Claudia, tapi ia tahu, kalau Mario sangat mencintai gadis berkeyakinan Kristen katolik itu. Mario tidak pernah membawa perempuan lain ke rumah selain Claudia. Masalah agama yang membuat mereka harus berpisah. Tapi sekarang, setelah wanita itu bercerita banyak, Marteen mendengar bahwa sekarang Claudia bebas memilih siapa yang akan menjadi suaminya. Ayahnya juga mengizinkan Mario melamar dia dengan syarat Mario harus pindah agama. Marteen tidak memedulikan soal agama. Baginya itu hanya omong kosong belaka. Mau Islam, Kristen, Hindu, Budha, semuanya sama saja. Sama-sama tidak penting. Marteen berdiri, seraya berkata, "Nikmatilah kebersamaan ini, Mario," ucapnya lantang lalu berbalik meninggalkan mereka berdua. Mario melepaskan pelukan mereka, dan mulai memberikan pertanyaan. "Kenapa kamu bisa kembali? Bukankah papamu sudah mengirim kamu ke Belanda?" "Kamu pikir, Mario. Bagaimana mungkin aku membiarkan Papa memisahkan kita berdua? Aku sangat mencintai kamu. Aku tidak mau kehilangan kamu. Itu sebabnya aku mencari cara, agar Papa mau mendengarkan aku dan membiarkan aku kembali padamu." "Bagaimana caranya?" "Aku ini putri kesayangan. Aku bilang padanya, kalau aku akan bunuh diri jika aku tidak diperbolehkan untuk pulang ke Indonesia. Aku berakting ingin melompat dari lantai apartemen lalu berkata kalau Papa akan kehilangan putrinya untuk selama-lamanya. Tapi beruntunglah, Papa langsung percaya dan menuruti kemauan aku. Hm, kenapa ide itu tidak muncul sejak jauh-jauh hari, jadi kita tidak akan berpisah seperti kemarin-kemarin." Mario tidak tahu harus merespons apa, layaknya orang pilon. Di satu sisi ia senang, namun di sisi lain ia kecewa. Mulut pun seolah bisu. Terkunci rekat. Tidak seperti bayangan Claudia sejak berada di pesawat yang selalu tersenyum-senyum karena tidak sabar bertemu Mario. Ini mengejutkan. Dia pikir, Mario akan senang dan bersikap ramah tamah menyambut kedatangannya kemari. Bak orang yang sedang ulang tahun lalu diberikan kejutan istimewa. Tapi lain dari dugaan, mengapa Mario kelihatan cemas dan gamang? Claudia merasa kecewa atas reakasi Mario yang jauh dari ekspektasi. Ia merasa kalau Mario sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi. Menyebalkan. "Kamu tidak suka aku kembali?" "Bukan begitu, aku senang, Clau. Tapi..." "Tapi apa?! Kamu tidak suka dengan kehadiran aku?! Kamu benci aku, Mario?!" Claudia mencebik kesal. Raut frustrasi tercetak di wajah Mario yang memang terlihat suntuk. "Bukan begitu. Hari ini aku sangat lelah, biarkan aku istirahat dulu. Besok kita bisa bertemu lagi." "Kamu lelah? Kenapa?" "Iya, hari ini aku melakukan banyak sekali kegiatan. Maka dari itu, kepalaku sedikit sakit dan berdenyut. Jadi lebih baik, pertemuan ini kita lanjutkan saja besok. Supaya bisa lebih rileks." Claudia terdiam sesaat, sambil memandang wajah Mario intens. Berusaha menemukan titik terang. "Baiklah kalau begitu. Aku mengerti." Mario sedikit menyunggingkan senyum. Lega. "Sampai bertemu lagi besok, Mario." Mau tidak mau Claudia harus percaya dengan asumsi cukup masuk akal yang diajukan Mario. "Aku tidak sabar menunggu hari esok." Satu kecupan mendarat di pipi Mario, menimbulkan rona merah lantaran bibir Claudio yang berbalut gincu merah. Mario tertegun tanpa bisa memberikan afirmasi. Rasanya sama. Getaran itu masih timbul dengan nyata. Seharusnya ini hal biasa, dan Mario sudah sering mendapatkan kecupan seperti itu. Dulu, ciuman di pipi adalah hal lumrah, dan Mario bisa mendapatkannya setiap hari. Bukan hanya di pipi, namun di bagian lain juga. Mereka bisa merasakan kepuasan, dan Mario semakin jatuh hati. Tapi mengapa sekarang rasanya berbeda? Terasa ada yang mengganjal, yang membuat Mario merasa tidak pantas dicumbu lagi oleh Claudia. "Selamat beristirahat." "Terima kasih, Clau." Claudia tersenyum manis lalu melangkah pergi. Mario pun berbalik, memerhatikan kepergian Claudia yang baru masuk ke dalam mobil jazz sivernya. Tangan Mario terangkat, mengusap pipinya untuk menghilangkan bekas kecupan Claudia. Mario belum bisa mengatakan yang sebenarnya kalau dia sudah menikah, dia tidak mampu. Dan sepertinya, Marteen juga menyembunyikan pernikahan mendadak itu. Claudia terlihat senang sekali, Mario tidak tega jika harus menjatuhkan angannya. Ini bukan waktu yang tepat. Semoga besok, dia bisa diberi kekuatan untuk berbicara jujur. Kalau sebenarnya dia sudah menikah. "Ini gila!" umpat Mario sedikit jengkel, dia pun menutup pintu. Mario merasa sedang dipermainkan takdir. Jika boleh meminta, ia ingin Claudia tidak kembali. Agar semuanya berjalan lancar. Agar proses melupakan bisa dilakukan dengan gampang tanpa perlu ada drama saling menyakiti untuk kedua kali. Cukup dulu. Namun sepertinya, patah hati itu akan terulang lagi. Tiba di dalam kamar, Mario langsung menghempaskan tubuh di atas kasur, menatap plafon kamar sambil mengusap wajahnya gusar. Claudia telat beberapa jam. Bukan, bukan itu yang membuat Mario menyesal. Ia menyesal, lantaran telah berani mencintai perempuan berbeda keyakinan sejauh itu. Pikiran Mario berkecamuk. Dia benar-benar bingung, buncah, dan gelisah. Rasanya otak ingin pecah. Iya, ini adalah pernikahan paling unik. Di malam pertama, Mario malah sendirian di kamar tanpa ditemani istri, setelah mengetahui bahwa sang mantan kekasih telah kembali dan meminta untuk mengulang kembali kisah mereka. Berlama-lama dalam posisi tersebut, perlahan mata Mario mulai terpejam. Tanpa sempat mengganti baju, mandi, dan melepas sepatu. Termasuk yang paling penting, dia melupakan pesan Aiza sewaktu di rumah sakit. Jangan lupa salat, ya. Malam pertama yang sunyi, sepi, senyap. Di tempat lain, Aiza memandang ponselnya yang mati. Padahal Aiza berharap ada sisa-sisa batrai walaupun hanya beberapa persen. Tapi nihil, ponsel itu benar-benar telah kehilangan nyawa. Sangat disayangkan. Jika saja benda ini menyala, Aiza akan mengirim pesan pada Mario berupa pertanyaan. Sudah sampai dengan selamat? Sudah salat? Sudah mandi? Semoga bisa tidur nyenyak, suamiku. Pada akhirnya, pertanyaan itu hanya tersangkut di sudut kepala.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN