Bab 17 - Istri Salihah

2006 Kata
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Bibirnya ranum dan merah merona, bukan karena lipstik, tapi mungkin karena tasbih yang selalu dia rapalkan setiap saat. Tempat pertama yang Aiza kunjungi ketika sampai di rumah setelah mandi dan ganti pakaian adalah kamar Mario. Apa dia belum pergi ke kantor? Karena barusan di depan, Aiza melihat mobilnya masih terparkir manis di halaman. Aiza mengucap syukur, lantaran Marteen sedang tidak ada di rumah. Entah mengapa, jika mengingat lelaki itu, rasa takut selalu menyelimuti. Kendati sudah menjadi istri Mario, tapi ia harus tetap waswas dengan lelaki tua itu. Terutama pada ancaman yang pernah ia katakan. Aiza tahu betul bagaimana perangai tuan Marteen. Aiza takut kalau nanti ancamannya akan menjadi nyata. Ketika membuka pintu yang kebetulan tidak dikunci, Aiza melihat Mario yang masih tertidur lelap di atas kasur, masih dengan pakaian kemarin, juga sepatu yang masih terpasang di kaki. Membawa langkah untuk mendekat---Aiza tahu ini lancang, karena masuk kamar orang tanpa izin. Tapi apa salahnya? Bukankah mereka sudah halal? Istri yang baik, adalah dia yang senantiasa mendampingi dan mengurus suami. Walaupun tidak ada kata cinta di antara mereka, tapi Aiza merasa wajib untuk merawat Mario. Dia tanggung jawabnya. Kemarin juga sebetulnya ia ingin ikut pulang, tapi Ibu jauh lebih membutuhkan. Perlahan, lututnya mencium lantai yang dingin, tangannya mulai membuka sepatu hitam yang Mario pakai. Lalu, berikutnya, Aiza buka kaus kakinya pelan-pelan. Jujur, ini pertama kali. Dan Aiza merasa gugup. Takut salah atau apalah itu. Tindakan itu membuat Mario terusik, cepat-cepat Aiza kembali berdiri, dan mundur beberapa langkah. Membuka mata yang terasa berat, Mario melihat sosok Aiza yang kala itu memakai gamis, kerudung, dan cadar hitam. Segeralah ia mengucek-ngucek matanya untuk memperjelas pandangan, lantas beringsut untuk berpindah posisi menjadi duduk. Dia agak terkejut dengan penampilan Aiza yang serba hitam. "Maaf kalau saya mengganggu," itulah kalimat pertama yang Aiza ucapkan. "Kamu kaget liat saya?" "Tidak, tidak." Mario menggeleng, berkilah. "Sudah jam berapa?" tanya Mario seakan baru sadar, pasti dia kesiangan. Dilihatnya jam yang melingkar di pergelangan tangan. Pukul tujuh pagi. "Astaga! Aku terlambat!" "Terlambat apa?" "Pergi ke kantor." "Lalu? Bagaimana dengan salat subuhnya? Apa tidak terlambat?" Mario tersentak. Melihat Mario yang masih mengenakan kemeja kemarin serta sepatu yang tidak dilepas, Aiza bisa memastikan kalau kemarin malam Mario langsung tidur tanpa melakukan aktivitas lain dahulu. Seperti mandi, dan salat sesuai pesannya. "Maafkan aku Aiza. Kemarin aku benar-benar lelah, dan tanpa sengaja langsung tertidur." Mario menguap sejenak. "Aku mengerti. Tidak mudah bagi kamu untuk memulainya. Lebih baik sekarang kamu mandi dan ganti pakaian. Saya mau ke bawah, untuk menyiapkan sarapan." Setelah mengatakan itu, Aiza memilih balik badan dan pamit undur diri. Aiza sadar diri, siapalah dia. Mana mungkin Mario mau menuruti keinginannya. "Tunggu Aiza." Suara Mario menghentikan langkah Aiza yang kemudian menoleh ke belakang. "Kamu marah?" "Untuk apa?" "Karena aku melupakan pesan kamu untuk salat." "Tidak." "Kemari." Tak kunjung mendapat jawaban, Mario sedikit bangkit dan kembali duduk setelah berhasil menarik tangan Aiza dan membuatnya duduk di sebelahnya. Mereka bersipandang. Untuk seorang wanita yang tidak pernah dekat dengan pria mana pun, tentulah ini menjadi hal yang baru dan membuat canggung. Bagaimana tidak, lawan jenis adalah makhluk yang selalu Aiza hindari dari dulu. "Tolong buktikan ucapan kamu itu," kata Mario yang membuat Aiza bingung. "Ucapan yang mana?" "Kalau kamu tidak marah." "Bagaimana caranya?" "Buka cadarmu Aiza." Untuk menjaga-jaga agar Marteen tak lagi melihat wajahnya, serta juga ada tukang kebun yang bekerja di rumah ini, Aiza harus tetap memakai cadar. Ia tidak mau ambil risiko. Tidak ada yang boleh melihat rupanya selain Mario. Selain malu, bagi Aiza cadar itu sudah menjadi kewajibannya. Tanpa cadar, lebih baik diam di kamar. Tanpa cadar, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Aiza masih setia bergeming tanpa menjawab. "Agar aku bisa melihat raut wajah kamu." Mario mengimbuhi. "Lepas saja kalau kamu mau. Ini kewajiban saya untuk mengikuti perintah suami." "Kamu tahu? Sekarang aku merasa senang. Dulu, sulit sekali untuk melihat wajah ini, tapi sekarang, aku melakukannya begitu mudah." Aiza melepas ikatan cadarnya, lalu lepaslah kain itu dari wajah mulus bercahayanya. Lagi-lagi Mario membeku, saking terpesonanya. Wajah itu begitu menenangkan hati, inilah wajah wanita cantik sesunggungnya. Tanpa balutan make-up mahal, karena make-up sebenarnya adalah air wudu. Bibirnya ranum dan merah merona, bukan karena lipstik, tapi mungkin karena tasbih yang selalu dia rapalkan setiap saat. Celak matanya menandakan dia sering membaca Al-Qur'an. Beginikah rupa wanita calon bidadari Surga yang sering Mario dengar? Salah besar jika dulu Aiza pernah berkata bahwa wajahnya buruk rupa. Dia terlalu sempurna untuk Mario miliki. Tidak dapat dimungkiri, Aiza merasa kikuk ketika ditatap sedekat dan selekat ini oleh Mario. Segeralah dia membuang sedikit wajah. Tak ingin wajah indah yang ia tatap berpaling, Mario pun membelai pipi sehalus kapas milik Aiza, dan membawa pandangan perempuan itu kembali ke arahnya. "Tidak perlu sungkan untuk menegur aku ketika salah. Kamu boleh memarahi aku jika memang aku salah." "Bukan tugas kita untuk memarahi, tapi tugas kita adalah untuk saling menasehati." Mario sedikit menyungging senyum. Lantas mengangguk paham. "Baiklah. Jangan ulangi lagi, saya nggak mau melihat kamu meninggalkan salat lagi." "Siap. Apa katamu itu? In... Syaa..." "Allah," sambung Aiza terkekeh mendengar Mario mengucapkan kalimat itu. Antara lucu bercampur senang. Biasanya dia pakai bahasa Inggris, tapi hari ini, dia mulai belajar menggunakan kalimat baik. "Ya, in syaa Allah." Mario mengangguk-anggukkan kepala dengan senyum menggantung di bibir. "Kalau sudah istiqamah, saya akan beri hadiah." "Apa itu?" "Yang pasti, itu akan membuat kamu semakin tampan." "Apa Aiza?" "Rahasia." "Apa yang membuat aku semakin tampan? Aku sudah tampan sekali, Lubna. Suamimu ini sudah sangat tampan. Bahkan melebihi artis-artis yang ada di tivi itu. Aku ini mirip aktor terkenal di luar negeri." "Kamu terlalu percaya diri." "Karena percaya diri adalah watakku yang tidak bisa dihilangkan." "Percaya diri yang keterlaluan." "Memang begitu kenyataannya. Akui saja, Aiza. Kalau aku memang tampan." "Sudah, ya. Saya harus ke bawah, untuk menyiapkan sarapan." Aiza mengakhiri perdebatan yang tak akan pernah usai ini. Mario tidak akan berhenti bicara sebelum Aiza yang menginterupsi. "Tunggu dulu." Mario memegang tangan Aiza. "Tidak bisakah kamu meluangkan waktu sebentar saja? Aku ingin bicara banyak." "Bicara apa?" "Kenapa setiap hari kamu memakai pakaian gelap? Jika tidak hitam, biru tua, merah tua dan hijau tua. Kalau kamu mau, aku akan membelikan kamu baju yang lebih bagus. Produk luar negeri pun boleh." "Tidak perlu." "Kenapa?" "Saya tidak mau berpakaian mencolok dan mewah-mewahan, itu namanya tabarruj. Untuk apa kita berpakaian syar'i dan bercadar namun tetap ingin terlihat menarik? Cukup sederhana, agar tidak banyak mengundang perhatian orang-orang. Saya tidak mau menanggung dosa lebih banyak lagi. Bukannya tidak ingin terlihat modis, tapi apa salahnya saya meminimalisir dosa yang mengalir?" "Tapi jika aku bosan, apa yang akan kamu lakukan? Aku akan tetap membelikan kamu baju. Jangan menolak." "Baiklah, saya akan berdandan, khusus untuk tuan Mario. Memakai pakaian paling bagus, hanya untuk tuan Mario. Jadi siapa yang beruntung?" Mario terkekeh geli mendengar ucapan Aiza. "Tentu aku, lah." Mario berkata dengan bangganya. Sedangkan Aiza kembali memakai cadarnya. "Kenapa ditutup lagi? Aku belum puas melihatnya." "Nanti saja, kalau pekerjaan saya sudah selesai." "Pekerjaan apa?" "Membuatkan kamu sarapan, dan menyuci pakaian." "Kan sudah ada pembantu." "Izinkan saya menjadi istri yang baik." "Kamu sudah lebih dari baik." "Dan mengurus segala keperluan suami, sudah menjadi kewajiban saya." Jika dulu Aiza membuatkan sarapan untuk Mario hanya sebatas kewajiban pembantu yang wajib melayani tuan rumah, tapi sekarang konteksnya berbeda. Kewajiban itu berpindah fungsi. Yaitu Aiza yang melayani suami. Tentu, ini harus menjadi lebih baik dari sebelumnya. Makanan yang dibuat harus lebih enak agar memuaskan suami. Ya walaupun Aiza tahu, Mario tidak akan banyak komplain tentang rasa masakan. Duduk di kursi, Mario memerhatikan Aiza yang sibuk mengaduk nasi goreng di atas teflon. Harum semerbaknya sudah tercium. Aroma mentega, kecap dan bawang yang dipadu menjadi satu. Rasanya begitu aneh. Kemarin-kemarin dia hanya sebatas pembantu, tapi sekarang? Aiza sudah naik jabatan. "Sepertinya sekarang aku harus jujur. Aku harus jujur karena selama ini aku memendam sesuatu." Mario membuka percakapan. "Apa?" "Masakan kamu itu enak sekali. Dari dulu aku selalu menginginkan seorang istri yang pintar memasak." "Saya tidak pintar memasak. Ini hanya sebatas makanan biasa. Semua orang bisa membuatnya." "Dan sekarang, Tuhan pun memberi aku istri yang pintar memasak." Mario tetap pada pujiannya. "Kata Ibu, saya itu perempuan yang kurang mahir dalam memasak. Sampai beliau bilang, mana bisa saya menikah kalau memasak pun tidak bisa. Memangnya kita akan melayani suami dengan hidangan dari luar?" "Mereka selalu mempermasalahkan wanita yang tidak bisa memasak untuk dijadikan istri. Tapi mereka selalu lupa, kalau yang harus lebih dipermasalahkan adalah, tentang lelaki yang tidak paham ilmu agama untuk dijadikan seorang suami." Mario menghela napas sejenak. "Jadi, seharusnya aku yang lebih dipermasalahkan, bukan kamu." Selesai menyajikan nasi goreng di atas piring, Aiza menghidangkan makanan itu di atas meja tempat Mario duduk. "Kamu wanita baik sedangkan aku pria berengsek." "Jangan bicara seperti itu. Aku dan kamu itu sama. Sama-sama pendosa, dan sebaik-baiknya pendosa adalah, dia yang ingin memperbaiki diri. Jangan pernah berpikir kalau saya wanita suci, itu salah besar. Anggap saya seperti perempuan lain. Hanya bedanya, saya mau belajar untuk terus menjadi baik. Bukan lebih baik dari orang lain, tapi lebih baik dari sebelumnya." Aiza tersenyum sejenak di balik niqab-nya. "Siapalah kita. Ke mana-mana kita bawa kotoran dalam perut." "Kenapa hanya satu? Untuk kamu mana?" tanya Mario mengalihkan pembicaraan. "Saya sedang puasa." "Why? Puasa? Ini bukan bulan Ramadhan." "Ini namanya puasa sunnah. Puasa Senin Kamis." "Kenapa harus puasa?" "Karena puasa Senin Kamis adalah puasa yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan banyak sekali manfaat yang bisa kita dapat dari puasa sunah itu." "Kamu sahur?" "Iya, aku sahur di rumah sakit." "Baguslah." Mario mulai menyantap makanannya. "Kalau tidak, aku akan memaksa kamu makan. Istri dari tuan Mario tidak boleh kelaparan." Mata Aiza mengerling. Mario memang pandai gombal. Receh, tidak sinkron dengan penampilannya yang maskulin. "Nanti kalau puasa, jangan lupa ajak aku. Kita sahur sama-sama." "Kamu serius?" mata Aiza berbinar. "Ya, aku serius. Mana mungkin aku berbohong, bohong itukan dosa?" Jawaban Mario membuat Aiza tertawa seraya menggeleng. Mario ini mirip anak kecil yang baru belajar, cukup menggemaskan. "Maaf, saya harus buatkan nyonya Eliza makanan." "Panggil dia Ibu." Aiza terhenyak, namun setelah berpikir kritis, akhirnya mengangguk. Mario benar. Karena mulai dari kemarin, Eliza sudah sah menjadi mertuanya. "Kamu tidak ingat telah berubah status di rumah ini? Biarkan pekerjaan itu dilempar pada asisten yang lain. Kamu bukan pembantu lagi." "Kenapa? Malah justru itu kewajiban saya sebagai menantunya. Yaitu merawat Ibu mertua. Jadi saya lebih leluasa merawat beliau." "Kamu tidak keberatan?" "Tidak, saya justru iklas dan senang jika melakukan itu. Selain sebagai istri yang baik, saya juga harus menjadi menantu yang baik." Menghentikan kunyahan, Mario mengambil segelas air minum yang sebelumnya sudah disediakan Aiza, lantas meninumnya dengan otak yang terus berpikir. Dulu, Claudia selalu membujuk Mario untuk mengirim Eliza ke rumah sakit jiwa. Katanya, agar dia bisa cepat sembuh dan ada yang merawat serta menjaga dengan teratur. Mario juga sebenarnya tidak mau membebani Claudia untuk merawat perempuan yang nanti akan menjadi mertuanya. Kasihan, wanita cantik seperti dia tidak pantas merawat orang yang sakit. Claudia juga selalu terang-terangan menolak, dan anehnya, saat itu Mario setuju-setuju saja. Seolah Claudia adalah perempuan pertama yang harus selalu dibahagiakan. Hampir saja ia mengorbankan ibunya sendiri karena Claudia, perempuan yang sangat ia cintai namun sekarang rasa itu perlahan pudar. Tapi Aiza? Lihatlah dia. Justru dia terang-terangan ingin merawat Eliza yang sudah ia anggap sebagai Ibu sendiri. Mungkin ini perbedaannya. Mana perempuan baik, mana yang tidak. Mana perempuan yang paham ilmu, mana yang tidak. Jika Mario bisa membangkang perintah Marteen untuk memindahkan ibunya ke rumah sakit jiwa, mengapa pada Claudia tidak bisa? Barangkali jawabannya cinta. Cinta yang orang bilang, itu membuat kita buta. Buta mata dan hati. Mario nyaris melakukan kesalahan besar. Kebaktian pada orang tua hampir hilang karena cinta. "Terima kasih." Kata itu yang terucap sebelum akhirnya Mario meneruskan aktivitas makannya. Sesuatu telah menyentak batinnya. Aiza benar-benar luar biasa. Mario pikir, tidak akan pernah bertemu wanita seperti dia. Tapi nyatanya, sekarang dia ada. Istrinya sendiri. Tanpa mencintai, dan dicintai, dia tetap menjalankan kewajiban sebagai seorang istri tanpa sedikitpun merasa terbebani. Aiza mengangguk, petanda permintaannya disetujui Mario. "Sama-sama," ia bangkit dari duduk. "Dihabiskan ya makanannya." Mario menganggukkan kepala tanpa perlu bicara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN