Bab 18 - Menerima Risoko

1914 Kata
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Jangan pernah menyalahkan Allah atas apa yang terjadi. Sebab, kita sendirilah yang menjadi penyebab Sepertinya sudah lama Aiza tidak mengajak Eliza keluar rumah. Dia pasti butuh udara segar di luar. Menghirup angin pagi, dan sinar mentari yang menghangatkan. Di sinilah sekarang, setelah menyuapi Eliza makan, Aiza membawa Eliza ke taman belakang rumah dengan kursi roda. Mereka berkeliling, Aiza terus melantunkan shalawat Rahman Ya Rahman dengan merdu. Eliza seperti ikut menikmati lantunan shalawat Aiza dengan khidmat. Ketenangan menaungi, seperti sedang berada di taman Surga bersama Bidadari. Sebelum keluar, Aiza sempat memakaikan Eliza khimar, tanpa memakai jarum, untuk sekadar menutupi rambut. Dan anehnya, begitu Eliza melihat pantulan wajahnya di cermin, sudut bibirnya tertarik ke samping. Ia tersenyum, senyum pertama yang Aiza lihat, senyum penuh kebahagiaan. Aiza ikut terenyuh. Berarti Eliza suka. "Ibu suka memakai kerudung ini? Kalau suka, saya akan memakaikan Ibu kerudung setiap hari. Saya akan berbagi kerudung dengan Ibu." Dia masih tersenyum senang, menatap ke cermin seolah apa yang ia lihat adalah hal paling menakjubkan. Eliza tergelak lagi. "Bagus, saya suka!" Bukan hanya senyum, tapi Aiza juga bisa mendengar suara Eliza. Ma syaa Allah. Apa telinganya tidak salah mendengar? Kata Ibu, beliau tidak pernah mau bicara. Hilya kira, Eliza bisu. Tapi bukan, dia memang tidak mau bicara. "Coba, katakan sekali lagi, Bu. Ibu suka? Coba bicara lagi." Eliza mengangguk cepat, tapi tidak mengulang ucapan yang Aiza harapkan. Sangat disayangkan, padahal Aiza begitu menginginkan. Tapi tidak apalah, yang penting tadi Aiza mendengar suara wanita ini untuk pertama kali. Sungguh luar biasa. Aiza merasa bahagia. Tidak ada yang tidak mungkin selagi ada Allah yang menggerakkan hati. Semuanya pasti terjadi, termasuk tadi, Eliza yang mau bersuara walaupun hanya dua kata. Aiza pun memeluk Eliza. Merasakan euforia berbeda. Sebelum menjadi mertua, Aiza sudah menyayanginya. Dan sekarang, ketika statusnya berubah menjadi menantu Eliza, Aiza semakin menyayangi ibu Mario ini. Aiza berjanji akan terus merawatnya, dan memohon pada Tuhan, agar segera mengembalikan Eliza seperti semula. Agar dia bisa membuat Marteen sadar, untuk tidak mengkhianatinya lagi. Aiza percaya, Eliza pasti perempuan baik. Untuk ke sekian kali, senyum Aiza tersungging di balik niqab. Ya Allah, angkatlah penyakitnya. Karena Engkaulah yang menimpakan penyakit ini, dan Engkau pulalah yang berhak mengangkatnya kembali. Tolong izinkan Eliza hidup normal seperti sebelumnya. Aiza percaya akan doa. Dia percaya, tidak ada doa yang tidak diijabah. Hanya saja, sebagai manusia kita harus senantiasa bersabar dan terus berikhtiar. Doa tidak dikabulkan bukan berarti Allah benci, tapi mungkin karena Dia ingin menguji hamba-Nya. Seberapa setiakah umatnya untuk terus memanjatkan doa. Dan bukannya doa itu tidak diijabah, melainkan belum. Teruslah berdoa, karena kita tidak pernah tahu, doa manakah yang akan segera dikabulkan. Di lawang pintu belakang, ternyata sedari tadi Mario mengamati Aiza dan ibunya yang bermain di taman. Samar-samar ia mendengar suara Aiza. Ia juga melihat ibunya tampak tenang. Sampai Mario lupa, kalau dia harus segera pergi ke kantor. Tapi sepertinya Mario malas pergi ke tempat itu. Di sana dia pasti akan bertemu Marteen. Melihat Aiza yang anteng mengasuh ibunya, lebih menarik perhatian. Aiza adalah perempuan paling unik yang pernah Mario kenal. Dulu Mario tidak pernah percaya adanya perempuan baik. Karena setiap perempuan yang mampir ke hidupnya, semuanya sama. Sama jeleknya dengan Mario, sama berengseknya. Claudia belum tentu melakukan ini. Tiba-tiba, sebuah tangan menarik tangan Mario. "Mario! Ikut aku!" Lelaki itu tersentak tapi tidak bisa melakukan perlawanan lantaran orang yang menyeretnya adalah perempuan yang sedang naik pitam. Dia Claudia. Mario sempat menerka-nerka mengapa dia datang begitu cepat, dengan membawa amarah pula. Setelah membawa Mario meninggalkan tempat sebelumnya, wanita itu melepaskan cengkramannya di tangan Mario. Wajahnya merah padam, kentara sekali sedang kecewa setengah mati. "Kenapa kamu ada di sini? Bukankah tadi aku menelepon untuk bertemu nanti sore?" "Aku tidak mau menunggu lama lagi! Bilang sama aku, kamu sudah menikah?!" "Dari mana kamu tahu?" "Tidak peduli aku tahu dari mana. Yang jelas sekarang kamu jawab pertanyaan aku, kamu sudah menikah?!" Mario mengacak rambutnya, kelihatan bingung. "Ayo jawab!" "Iya, aku sudah menikah." Napas Claudia tersekat. Dia terkejut bukan main. Mendengar kabar itu dari orang lain, ia masih bisa tenang, karena barangkali berita itu palsu dan bohong. Tapi begitu mendengarnya langsung dari Mario, Claudia merasa hancur berkeping-keping. Seakan kehilangan semua harapan. Karena semuanya sudah jelas. Mario sudah menjadi milik orang lain. "Padahal baru aku tinggal beberapa hari, kamu langsung move-on dengan menikahi gadis lain? Kamu tega Mario." Mata Claudia mulai berkaca-kaca. "Maafkan aku. Pernikahan itu terjadi secara mendadak. Itu di luar rencanaku." "Siapa wanita yang kamu nikahi? Aku dengar, dia wanita bercadar! Apakah dia seorang teroris yang telah melakukan pemboman di sebuah gereja?! Apa kamu benar-benar menikahi wanita seperti itu?!" "Jaga ucapan kamu. Dia bukan teroris, dia hanya wanita biasa." "Katakan siapa wanita itu!" Claudia mendesak dengan air mata yang terus meleleh. "Dia Aiza. Pembantu aku yang bekerja di sini." Jawaban Mario sukses membuat d**a Claudia mencelus. "Kamu benar-benar gila! Dulu kamu mencemooh tapi sekarang kamu menikahinya?! Ada apa dengan kamu, Mario?!" "Dulu, ya dulu. Sekarang, ya sekarang. Dan semua telah berubah selang beberapa hari. Aku tidak gila, aku masih waras." Claudia menangis seseunggukan. Semua perngorbanannya tidak berbuah apa-apa. Di sana dia berjuang untuk kembali, bahkan sampai mengancam Papa. Tapi di sini, Mario mengkhianati dengan cara menikahi wanita lain. Tanpa perlu berpikir dan memberi kabar. Tega sekali Mario. "Seharusnya kamu menghubungi aku dulu!" "Itu terlalu mendadak, Clau." "Kenapa kamu harus menikah dengan dia? Kamu mencintai dia? Apa cinta kamu sudah berpaling?" "Aku menikahi Aiza hanya untuk menolong ibuku dan juga Aiza. Aku tidak mungkin membiarkan ayahku menikahi wanita itu. Bagaimanapun, ini kesalahan aku. Aku tidak mau nantinya Ibu terluka ketika tahu kalau Ayah menikah lagi." "Tapi kamu masih mencintai aku, kan, Mar?! Kamu cinta sama aku, kan?!" Hati dan pikiran Mario sedang berkonflik. Hingga ia kesulitan mengeluarkan jawaban. Diam dan berpikir mungkin lebih baik, tapi justru tindakan itu membuat Claudia semakin jengkel. "Beri aku jawaban!" "Ya, aku memang masih mencintai kamu." "Lalu kenapa kamu tidak meninggalkan dia dan kembali ke aku? Kita bisa mengulang semuanya dari awal," ucap Claudia penuh permohonan. Dia meraih tangan Mario, dan menggenggamnya kuat, berharap Mario mau mendengar dan mengikuti keinginannya. "Tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita. Ayo, Mario." "Aku memang mencintai kamu, tapi sekarang situasinya berbeda. Ini bukan tentang cinta lagi, tapi tentang sebuah tanggung jawab. Jadi, lupakan aku. Mungkin kisah cinta kita, harus berakhir sampai di sini." Dengan sangat terpaksa, Mario melepas tangan Claudia. "Tidak bisa! Aku tidak mau mengakhiri hubungan ini. Kamu dulu pernah berjanji, akan menikahi aku!" "Semua itu sudah terlambat." "Tidak, Mario! Jangan lakukan itu! Aku tidak bisa tanpa kamu! Mario." "Selain karena aku sudah menikah, aku juga tidak mungkin meninggalkan agamaku demi cinta. Dulu aku memang bodoh, seharusnya dari awal aku tidak memberikan kamu harapan hingga sejauh ini. Seharusnya aku lebih bisa menahan nafsuku untuk mencintai kamu." Tangis Claudia semakin keras, tenggorokannya ikut gatal dan sakit. Dadanya pengap. "Aku minta maaf, karena sekarang, aku melukai kamu." "Jelas! Kamu memang melukai aku! Dan ini, sangat menyakitkan." "Maka dari itu. Lupakan aku, lebih baik kita jalani hidup masing-masing. Aku dengan jalanku, dan kamu dengan jalanmu. Lupakan semuanya. Agar semuanya terasa mudah." "Tidak akan semudah itu." Mario terkelu. Menunduk pasrah. Ya, memang tidak semudah itu. Tapi kita harus tetap melakukannya, demi masa depan. "Kamu jahat sama aku! Aku benci kamu! I hate you!" Claudia mendorong bahu Mario, lalu pergi dengan langkah gusar. Napasnya pun terputus-putus, membawa luka yang menganga. Tangannya sesekali mengelap air mata yang jatuh. Mario menarik napas dan mengeluarkannya lagi tak kalah gusar. Rasanya ingin berteriak kencang! Tangannya pun ikut terkepal geram. Dia bukan marah pada Claudia, tapi marah pada diri sendiri. Percayalah, bukan hanya Claudia yang terluka. Tapi dia juga. Mario tidak berniat menyakiti. Ini semua terjadi tanpa diprediksi. Ia tidak pernah tahu kalau semuanya akan jadi berantakan sampai kacau begini. Ketika Mario berbalik, dia menemukan Aiza yang berdiri di belakangnya. Pandangan mereka berserobok. Kemelut yang terjadi berganti keheningan yang amat mendalam. Aiza bisa menangkap raut kecewa yang dipancarkan Mario. "Saya tidak menyangka. Kamu mau mempertanggungjawabkan semuanya. Saya pikir, kamu akan kembali padanya. Tapi ternyata saya salah." "Aku akan jadi orang terjahat, kalau harus kembali padanya." Tak sanggup melihat Mario yang patah hati, Aiza menawarkan sesuatu. Luka yang dirasakan Mario, sama dengan luka yang dirasakan Aiza sewaktu harus melepas Rifki. Ah, apa kabar dia? "Saya memiliki kewajiban, untuk menenangkan hati suami. Kemarilah." Mario melangkah lebih dekat, bersemuka begitu lekat, lalu mereka pun berpelukan. Pelukan pertama. Pelukan paling awal. Pelukan untuk memberikan ketenangan. Debar jantung di d**a Aiza tidak dapat dihentikan. Tapi dia harus menjadi sandaran di kala Mario sedih. Meskipun alasan sedihnya karena wanita lain. Tapi Aiza mengerti. Memang sakit rasanya, ketika harus merelakan dia yang dicintai lantaran takdir Allah lain dari keinginan. Kadang kita akan menyalahkan Allah dengan berbagai pertanyaan layaknya melakukan interogasi. Tuhan, mengapa kita harus dipertemukan dengan dia kalau akhirnya begini? Mengapa kita bertemu kalau pada akhirnya saling menyakiti? Mengapa Allah mempermainkan hamba-hamba-Nya? Mengapa Allah tega memisahkan kami? Salah besar jika kita menyalahkan Allah. Allah tidak ikut andil dalam persoalan urusan hati. Bukankah dari awal dia sudah melarang hamba-Nya untuk mencintai sebelum ada ikatan halal? Lantas, mengapa harus menyalahkan Allah? Karena rasa sakit dan kecewa, kita sendirilah yang menciptakan. Jangan pernah menyalahkan Allah atas apa yang terjadi. Sebab, kita sendirilah yang menjadi penyebab. Sakit itu ditimbulkan karena kita terlalu mencintai pada selain-Nya. Begitu juga karena cinta Mario dan Claudia yang tidak dilibatkan dengan Tuhan. Jadi begini ujungnya, berakhir kecewa. Dan sakit. Ini juga pertama kalinya, Aiza berpelukan dengan lawan jenis. Mario, adalah lelaki pertama yang berhasil mendapatkan pelukannya, menyentuh dengan bebas tanpa ada halangan barang sejengkal pun. Mungkin bagi Mario ini untuk ke sekian kali, jadi dia pasti biasa saja. Hari ini Aiza mendapatkan berbagai kejutan. "Itulah risiko seorang muslim yang mencintai non-muslim. Berakhir menyakitkan. Kamu telah bermain api." Mario masih bergeming. "Saya senang, kamu mengambil keputusan yang tepat." "Kamu meninggalkan orang yang kamu cintai, demi pernikahan mendadak itu. Dan aku pun harus melakukan hal yang sama. Yaitu melepaskan Claudia, seperti kamu melepaskan dia. Jadi semuanya adil. Aku tidak mau egois. Kamu adalah istriku, dan selamanya akan tetap begitu. Aku tidak mau menyakiti kamu yang sudah menerima aku apa adanya." "Terima kasih." "Terima kasih juga, sudah memberi aku pelukan. Aku merasa jauh lebih tenang. Jujur, selama aku berpelukan dengan wanita, tidak pernah aku merasa sedamai ini." "Sama-sama." "Oh ya, aku ingin mengatakan sebuah rahasia." "Apa itu?" "Nanti malam, kita bercerita, ya?" "Tapi aku ingin menemani Ibu di rumah sakit." "Aku juga, akan menemani kamu di sana." "Besok kamu harus kerja. Dan hari ini, kenapa nggak pergi ke kantor? Bukankah tadi sewaktu bangun tidur, kamu menjerit karena kesiangan?" "Aku baru sadar, aku sedang tidak mau bertemu Ayah." Mereka pun melepas pelukan, dan kembali bertatapan. "Jangan terlalu membenci, bagaimanapun dia adalah Ayah kamu. Laki-laki yang menjadi alasan kamu lahir ke dunia." "Kamu tidak pernah tahu, betapa bejatnya dia. Dan aku rasa, kamu pun sudah tahu bagaimana berengseknya dia. Kamu adalah salah satu korbannya." "Orang jahat bukan untuk dijauhi. Tapi untuk dirangkul, agar menjadi orang yang lebih baik. Dia jahat, karena dia tidak tahu, kalau apa yang dia perbuat, adalah sesuatu yang akan merugikan dirinya sendiri di kemudian hari." Kalimat yang sederhana, tapi berhasil menyentil batin. Mario termenung beberapa jenak, mulutnya bungkam, terkunci. "Maka, jika kita menjauhi, itu artinya kita membiarkan dia jatuh ke lubang jurang kenistaan lebih dalam. "Betapa egoisnya manusia. "Bukan hanya orang yang didzalimi yang patut dikasihani. Tapi orang yang mendzolimi. Bahkan yang mendzolimi, mereka amat lebih menyedihkan. Siksa Allah jauh lebih pedih." Aiza tetsenyum getir, mengusap lengan Mario. "Semoga kamu mengerti dengan perkataan saya barusan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN