Bab 19 - Aku Murid dan Kamu Gurunya

2171 Kata
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Dosa istri, akan ditanggung suami. Karena suami adalah pemimpin keluarga. Karena suami adalah seorang imam, yang wajib menuntun istrinya ke jalan yang benar. "Dulu, pernah datang seorang wanita yang menemui Nabi Musa, dan mengatakan kalau dia sudah melakukan perzinahan, lalu mengandung, sampai melahirkan anak. Dan anak itu dia bunuh sampai mati. Ketika mendengar pengakuan itu, Nabi Musa lantas marah dan mengusir wanita tersebut, dia berkata, wanita itu benar-benar hina dan celaka, tidak pantas bertaubat. Lalu, tak lama kemudian Malaikat Jibril datang, dan bertanya mengapa Nabi Musa mengusir wanita yang hendak bertaubat dan menghapus dosa-dosanya itu? Tidakkah engkau tahu ada dosa yang lebih besar dari dosanya? Nabi Musa bertanya lagi. Apa ada dosa yang lebih besar dari wanita pezina dan pembunuh itu?" Mario semakin serius mendengar cerita Aiza yang membuat penasaran. Memang, adakah dosa yang lebih besar dari dosa zina dan membunuh? Apakah itu? Mario rasa, berzina dan membunuh itu sudah menjadi dosa yang sangat besar. "Jibril menjawab ada. Yaitu, orang-orang yang dengan sengaja meninggalkan salat tanpa merasa menyesal." Tiba-tiba lidah Mario kelu, ada sesuatu yang menyayat hati. Yang membuat mulutnya bungkam. Hening sesaat, Aiza menggigit bibir bagian dalam. Jujur, ia tidak bermaksud menyinggung Mario. Tapi, memang begitulah ceritanya. Aiza tahu Mario sering meninggalkan salat. Bahkan dia tidak pernah melaksanakan salat. Ini sudah waktunya, Mario belajar salat dengan benar. Dengan tidak meninggalkannya barang satu waktu pun. Itulah mengapa, tadi pagi Aiza agak kecewa. Mengenai salat, Aiza memang sensitif. Sebab dia pernah mendengar sebuah hadis. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : Orang yang meninggalkan salat lebih besar dosanya dibandingkan dengan orang yang membakar 70 buah Al-Qur'an, membunuh 70 Nabi, dan b********h dengan ibunya di dalam Kaabah. "Ternyata aku lebih berdosa daripada wanita pezina dan pembunuh itu," ungkap Mario terang-terangan. Karena selama ini dia tidak pernah salat, dan tidak pula menyesal. "Yang penting sekarang kamu sudah mau belajar untuk memperbaiki semuanya. Ingat, suamiku. Allah akan mengampuni dosa hamba-Nya yang ingin bertaubat, walaupun dosa itu sebanyak buih lautan." "Apakah Allah akan mengampuniku?" "Tentu." "Terima kasih, Aiza. Sudah menyampaikan cerita ini. Aku langsung tersentuh dan menyesal telah meragukan Tuhanku sendiri. Kalau boleh aku tahu, mengapa dosa yang meninggalkan salat itu lebih besar ketimbang dengan berzina?" "Karena orang yang tidak salat, mereka bagaikan orang yang sombong. Menjadikan salat itu tidak wajib bagi dirinya, menganggap remeh perintah Allah. Sedangkan yang berzina lantas memiliki keinginan untuk bertaubat, berarti mereka masih memiliki iman di hati. Itu sebabnya, Tuhan mau menerima taubatnya." Mario mengangguk paham. Memang, bagi Mario salat itu buang-buang waktu. Salat itu tiada guna. Salat itu suatu hal kecil yang tidak patut untuk dilakukan. Salat itu hal yang sia-sia. "Kamu pun, kalau ingin bertaubat, Tuhan pasti mengampuni. Tidak akan ada kata terlambat, sebelum ajal menjemput. Allah itu maha baik, Dia pasti mau menerima taubat dari hamba-Nya." "Tapi mengapa aku tetap diberikan kenikmatan saat aku tidak salat?" "Itu namanya Istidraj. Dengan sengaja Allah membiarkan mereka bersenang-senang, dan itu adalah azab yang Allah berikan di hari pembalasan nanti." "Jadi selama ini Allah sudah membiarkan aku?" "Mungkin." Aiza sedikit mengangguk. "Terima kasih atas pencerahan ini. Aku mendapatkan banyak ilmu." "Sama-sama. Ini sudah menjadi kewajiban saya." Waktu menunjukkan pukul lima lebih 30 menit. "Kamu salat di masjid, ya?" "Kenapa harus di masjid? Di rumah pun bisa." "Kamu harus tau, dalam Islam, lelaki itu diwajibkan untuk salat di masjid kalau memang tidak ada halangan. Saya pengin, kamu salat di sana." "Aku tidak pernah datang ke sana." "Mulailah dari sekarang." Melihat bangunan di depannya, Mario termenung. Dari kecil sampai sekarang, dia belum pernah menjajakan kaki di tempat ini. Katanya, ini adalah tempat ibadahnya umat muslim. Mario mengaku dirinya Islam, tapi tidak pernah sekalipun datang ke Masjid. Padahal masjid adalah bangunan tempat umat manusia menemukan ketenangan. Bahkan Mario malah lebih sering pergi ke Gereja, mengantar Claudia beribadah. Makhluk yang menjadikan nabi Isa sebagai Tuhan-pun beribadah, lalu mengapa Mario tidak? Padahal sudah jelas, kalau Tuhan itu ada satu, yaitu Tuhan-Nya. Namun Mario berlaga seakan tidak memiliki Tuhan. Jika dibandingkan, Mario merasa lebih b***t ketimbang Claudia. Seperti apa yang dikatakan Aiza barusan. Sombong. Mario melangkah. Sampai di depan teras, ia melepas sandal, dan berjalan menuju tempat wudu beriringan dengan suara azan yang berkumandang syahdu. Terlalu sering mendengar alunan musik, Mario sampai tidak tahu kalau suara azan jauh lebih menentramkan. Sedangkan di tempat lain, Aiza meneguk air minum sebagai tanda buka puasanya. Alhamdulillah, dia bisa menyelesaikan puasa sunah hari ini dengan lancar. Apa yang lebih membahagiakan dari ini? Hari ini, untuk pertama kalinya, Mario melaksanakan salat magrib di masjid. Berkat Aiza, dia yang berhasil membuat Mario tidak bisa menolak. Mulai hari ini pula, ia menemukan jati diri. Mungkin ini alasannya, mengapa Tuhan mengirim Aiza ke dalam hidupnya. Untuk membuka pintu hati Mario, kalau Islam tak sekejam itu. Di tempat ini, Mario bisa merasakan atmosfer ketenangan. Lantunan ayat Al-Qur'an, cahaya lampu, dan orang-orang saleh yang salat berjamaah bersamanya. Mengucap salam ke kanan dan ke kiri, Mario mengusap wajah, lalu merapalkan kalimat istigfar. Kalimat yang sudah lama tidak Mario ucapkan. "Astaga!!" "Ada apa Mario?" wanita yang kala itu sedang memakai mukena berlari tergopoh-gopoh menuju dapur saat mendengar suara ribut. "Aku tidak sengaja menjatuhkan piring ini." Mario umur 15 tahun yang masih memakai seragam SMA meratapi pecahan piring yang berceceran di atas ubin. "Siapa juga yang menyimpan piring di pinggir seperti ini? Pembantu di sini tidak bisa bekerja dengan benar, tidak becus!" "Lain kali, buang jauh-jauh kalimat tidak berfaedah itu. Ganti dengan ucapan astagfirullah, dan jangan marah-marah seperti itu. Atau mulutmu Ibu tutup pakai solatip?" "Ibu sehat? Sejak kapan Ibu menyuruh aku untuk mengucapkan kalimat itu?" "Sejak saat ini. Ibu ingin, kita memulai semuanya dari awal. Ibu ingin, kamu menaati perintah Tuhan-Mu." Kerut di kening Mario pun tidak bisa dimungkiri. Sedang kerasukan jin apakah ibunya ini? Mario memasuki ruang rawat Hilya, wanita itu sedang tidur, sedangkan Aiza yang baru melaksanakan salat isya, sedang khusyuk membaca Al-Qur'an. Ini bukan pertama kali Mario mendengar suara Aiza ketika melantunkan ayat-ayat suci. Sehari sebelum mereka menikah, Mario juga pernah mendengarnya. Saat itu Mario diam-diam mendengarkan lewat pintu kamar Aiza yang sedikit terbuka. Entah kakinya yang diikat hingga sulit meninggalkan tempatnya berpijak, atau memang Mario yang ingin terus mendengarkan lantaran suara Aiza amat menyejukkan. Mario berdiri di sana dengan waktu yang cukup lama, sampai Aiza menyelesaikan bacaan surat Ar-Rahman-nya. Mario heran, padahal Tuhan sudah memberinya banyak kesusahan hingga membuatnya menderita. Keadaan ekonomi yang jauh dari kata cukup, Ibu yang sakit, dan sekarang ada lelaki tua yang menginginkan dia untuk dijadikan istri. Seharusnya Aiza marah pada Tuhan, tidak perlu sembahyang apalagi membaca kitab-Nya, seperti apa yang dilakukan Mario dulu. Untuk apa? Toh, Tuhan pun tidak akan mendengar dan meringankan beban. Tapi Aiza berbeda, dia malah semakin gencar beribadah, berdo'a, dan patuh. Sungguh, Mario tidak mengerti dengan jalan pikiran Aiza. Wanita itu memang taat sekali, tapi Tuhan tidak memberikan sedikitpun kebahagiaan. Dia wanita penuh misteri. Mario ingin mengenalnya lebih dalam. Meninggalkan kamar Aiza, Mario membulatkan niat. Bukan Marteen yang akan menikahi Aiza, melainkan dirinya. Siapa tahu, Aiza adalah orang yang tepat, membuat Mario menemukan jalan ketika sedang tersesat. Memberinya lampu penerang. Mario akan meminta restu pada Hilya. Aiza mengangkat kepala, menemukan Mario yang berdiri di depan pintu, lelaki itu hanya diam sambil melamun. "Kamu kenapa diam di sana?" tanya Aiza, yang membuat Mario tersadar. "Aku suka mendengar kamu membaca Al-Qur'an." Aiza hanya tersenyum. Mario pun duduk di sebelahnya. "Tadi siang aku sudah berjanji akan mengatakan sebuah rahasia." "Oh iya. Memang rahasia apa?" Aiza menutup Al-Qur'an-nya. Lalu terfokus pada Mario yang akan segera bercerita. "Rahasia tentang, mengapa aku berani menggantikan posisi Ayah untuk menjadi pengantin pria." Mata Aiza membola pelan, "Saya pikir, itu memang semata-mata untuk menolong. Tapi ternyata, ada alasan lain?" "Ya." Mario mengangguk. "Boleh aku bertanya lagi?" Lelaki itu kembali melanjutkan. "Tentu boleh." "Dulu, sehari sebelum pernikahan, aku pernah memergoki kamu sedang membaca Al-Qur'an." "Benarkah?" "Iya. Dan saat itu aku bertanya-tanya. Mengapa kamu terus melakukan ibadah sementara kamu sendiri terus-menerus ditimpa masalah. Aku tahu rasanya, ketika harus menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak pantas dengan untuk dijadikan suami karena terdesak keadaan. Dan kamu tahu, masalah itu berasal dari Tuhan. Apa kamu tidak marah padanya?" Aiza tersenyum sebelum akhirnya menjawab. "Untuk apa marah? Masalah yang Dia berikan adalah salah satu bentuk kasih sayangnya. Itu namanya ujian. Mungkin Dia ingin menguji saya, apakah saya akan tetap mematuhi perintahnya atau tidak setelah diberi ujian pelik. Untuk apa marah? Justru saya sangat berterima kasih, itu artinya Allah menyayangi saya. Yang perlu saya lakukan adalah tetap setia pada-Nya, dan mencari jalan keluar dari masalah yang telah diberikan. Allah tidak mungkin memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya. "Orang-orang selalu beranggapan, kalau Allah itu jahat, karena telah memberikan kita masalah yang kadang sulit diselesaikan. Tapi semua itu salah. Salah besar. Ada yang namanya ujian, ada juga yang namanya azab. Bedanya, ujian itu Allah berikan, bertujuan untuk meningkatkan derajat. Kalau azab, sebagai peringatan, sekaligus penghapus dosa. Ada pula yang namanya istidraj. Seperti apa yang saya katakan barusan. Kita tidak salat, puasa, dan ibadah lainnya, tapi bisa senang-senang, rezeki mengalir, bahagia sentosa. Mungkin Allah sudah berpaling, dan sebagai hukumannya, Allah berikan azab itu nanti. Jadi, seharusnya kita bersyukur, ketika Allah memberikan ujian, Dia ingin kita kembali pada-Nya. Diberi azab di dunia, agar kita lekas bertaubat." Mario tercenung lagi, mencerna kalimat-kalimat Aiza yang masuk logika. "Jika Tuhan memberikan ujian di luar kesanggupan manusia, lalu mengapa Tuhan memberikan ujian pada Ibu? Sampai dia menjadi gila seperti sekarang." "Apa yang terjadi pada Ibumu?" tanya Aiza penasaran, antusias. Sebenarnya sudah dari jauh-jauh hari ia ingin menanyakan hal ini. Tapi Aiza tidak memiliki keberanian. "Aku tahu, dia sangat mencintai Ayah. Dia gila, karena sempat terkhianati." Satu pertanyaan, mulai terungkap jawabannya. Aiza sempat terkejut, tapi kembali mendengarkan dengan saksama. "Kepercayaan yang selama ini dibangun rapi-rapi, akhirnya hancur. Ibu pikir, Ayah adalah sosok yang setia. Tapi ternyata dia salah. Ternyata Ayah memiliki wanita simpanan. Aku tahu, betapa Ibu sangat menyayangi, mencintai, dan membanggakan dia. Bahkan aku masih ingat kata-kata Ibu ketika memuji Ayah di depanku sewaktu semuanya masih harmonis." "Ayah itu tidak sebaik Ibu. Dia jarang pulang dan bermain dengan Mario. Sedangkan Ibu? Ibu yang sudah melahirkan Mario, dan mengasuh Mario. Lalu tugas Ayah apa?" "Jangan bilang begitu, Mario. Walaupun Ayah tidak melahirkan kita, tapi dia adalah sosok yang harus kita patuhi, kita sayangi, dan kita cintai. Dia bekerja, bahkan bekerja sangat keras, untuk menghidupi kaluarga agar kebutuhan istri dan anaknya tercukupi. Jadi, jangan pernah berpikir kalau peran Ayah tidak sebanding dengan peran Ibu. Ayah itu tulang punggung keluarga. Ayah adalah pelindung, tameng, dan perisai untuk anaknya. Jadi, sayangi ayahmu seperti kamu menyayangi ibumu ya, Mario? Jangan mencoba untuk membanding-bandingkan. Baju ini, celana ini, sepatu ini, mainan ini, kamu bisa membelinya atas kerja keras Ayah." Eliza mengusap rambut Mario kecil yang sedang bermain mobil-mobilan. Habisnya dia kesal, karena Ayah jarang pulang ke rumah. "Aku juga tidak tahu, mengapa Ayah tega melakukan itu. Tapi mungkin, alasannya karena sesuatu. Cinta Ayah pudar, ketika Ibu memutuskan berjilbab." Aiza tertegun. Alasan macam apa itu? Seharusnya suami bangga, ketika istrinya ingin menutup aurat. Bukannya malah balik mengkhianati. Aurat istri, adalah tanggung jawab suami di akhirat kelak. Dosa istri, akan ditanggung suami. Karena suami adalah pemimpin keluarga. Karena suami adalah seorang imam, yang wajib menuntun istrinya ke jalan yang benar. "Ceritanya panjang, Aiza." Wajah Mario sudah berubah merah. Mengingat masa lalu berarti membuka luka lama. Maka dari itu, Mario tidak pernah mau bercerita. Dia malas, biarlah semuanya berlalu mengikuti arus kehidupan. "Sudah, jangan diteruskan." Aiza mengusap bahu Mario, berusaha menenangkan. Sebenarnya masih banyak yang ingin ia tanyakan, tapi biarlah nanti itu dilakukan, Aiza tidak mau melihat Mario semakin bersedih. Sekarang Aiza paham, mengapa tadi Eliza senang sekali saat Aiza memakaikan kerudung. Mungkin, dia sempat hijrah. Imannya belum kuat. Hingga menjadikannya gila ketika Tuhan memberikan ujian setelah bertaubat. Begitulah Aiza menyimpulkan. Tapi, wallahu 'alam. Barangkali ada alasan pula, mengapa Mario selalu mengabaikan perintah Tuhan-Nya. Karena dia kecewa pada Dzat yang telah menciptakannya. Karena dia tidak tahu, masalah yang terjadi, adalah ujian. Mario lebih memilih memalingkan muka daripada meneruskan ketaatannya. Sebuah sentuhan mendarat di tangan Aiza yang berada di bahu Mario. Mario balas mengusapnya. "Saya bersedia menjadi tempat kamu curhat, lalu memberikan kamu solusi. Tidak perlu takut untuk bicara, saya akan dengarkan, sampai kamu merasa tenang. Tidak usah sungkan." "Keputusan aku memang tidak salah." "Keputusan yang mana?" "Menikahi kamu, dan meninggalkan Claudia." "Selalu ada hikmah di balik semua kejadian." Detik selanjutnya, mereka pun berpelukan. Terasa hangat. "Dan aku merasakan hikmahnya sekarang." Di bed seberang sana, Hilya membuka sedikit mata karena haus, lalu matanya tak pelak melihat Aiza sedang berpelukan dengan Mario. Pelukan untuk saling menguatkan satu sama lain. Pelukan pasangan suami istri, yang begitu rekat. Hilya tersenyum tenang, restunya pada Mario untuk menikahi Aiza memang tidak salah. Alhamdulillah ya Allah. Mungkin ini sebabnya Tuhan menciptakan perbedaan. Adalah untuk saling melengkapi. Aiza yang melengkapi Mario, Mario yang melengkapi Aiza. "Aku sudah seperti murid yang banyak bertanya pada gurunya. Padahal umur kamu jauh lebih muda." "Tidak apa. Saya senang." "Aku jadi ingin bertanya lagi." "Dengan senang hati, saya akan menjawabnya." "Bolehkah murid bodoh ini jatuh cinta pada gurunya?" Senyap. Syukron Ada Mario nih, cie baper 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN