Tarikan yang Mengikat

1163 Kata
Keesokan harinya, setelah kejadian yang mencekam malam itu, Gita terbangun di kamar mewah milik Jhonathan. Pikirannya masih kacau, hatinya resah. Dia tahu Jhonathan memegang kendali penuh atas Devan, tapi yang lebih mengganggu pikirannya adalah perasaan aneh yang mulai tumbuh di dalam dirinya setiap kali berhadapan dengan pria itu. Pria yang dulu hanya dianggapnya sebagai atasan arogan, kini tampak seperti sebuah teka-teki yang semakin menarik, meskipun penuh bahaya. Gita melirik ke arah pintu kamar, bertanya-tanya apakah hari ini akan berjalan seperti biasanya. Tapi dengan Jhonathan, tidak ada yang pernah berjalan biasa. Setiap langkahnya seperti direncanakan dengan sempurna—terutama dalam usahanya untuk mendekatkan Gita pada dunia yang gelap dan penuh intrik. Dan entah mengapa, Gita tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertarik, meskipun tahu dia seharusnya menjauh. Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan dari Jhonathan muncul di layar: "Bersiaplah. Ada rapat penting di perusahaan. Aku ingin kau ada di sampingku." Pikiran Gita melayang sejenak. Mengapa Jhonathan begitu membutuhkan kehadirannya? Apa tujuannya sebenarnya? Apakah dia hanya memanfaatkan Gita untuk memegang kendali penuh atas Devan, atau ada sesuatu yang lebih? ** Di kantor, suasana terasa lebih tegang dari biasanya. Jhonathan, seperti biasa, tampil sebagai CEO yang arogan dan tak kenal ampun. Setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti perintah yang tak bisa dibantah. Para karyawan tampak gelisah setiap kali dia lewat, seolah takut melakukan kesalahan sekecil apa pun di hadapannya. Namun, yang membuat semuanya lebih aneh adalah bagaimana Jhonathan memperlakukan Gita. Di depan karyawan lain, Jhonathan bersikap dingin, bahkan kejam, tapi setiap kali mereka hanya berdua, tatapannya berubah menjadi lembut dan penuh perhatian. Perbedaan itu begitu mencolok hingga beberapa karyawan mulai membisikkan rumor di belakang Gita. “Apa kau lihat bagaimana Jhonathan memperlakukan Gita?” bisik seorang karyawan kepada temannya. “Dia tidak pernah berlaku seperti itu pada orang lain. Ada apa di antara mereka?” Gita mendengar bisikan-bisikan itu, tapi dia berusaha mengabaikannya. Dia tahu posisinya rentan, terutama karena hubungannya dengan Jhonathan kini semakin rumit. Ada saat-saat di mana dia merasa Jhonathan benar-benar ingin melindunginya, tapi ada pula momen di mana dia merasa hanya menjadi bidak dalam permainan besar pria itu. Saat mereka duduk di ruang rapat, Gita tak bisa mengalihkan pandangannya dari Jhonathan. Setiap kali pria itu berbicara, semua orang mendengarkan dengan saksama, meskipun sebagian besar dari mereka tampak gugup. Tak ada yang berani menantang Jhonathan, kecuali Gita. Mungkin itulah sebabnya Jhonathan selalu merasa tertarik padanya—karena Gita adalah satu-satunya orang yang berani melawannya, meskipun dengan caranya yang halus. “Ada beberapa perubahan dalam struktur proyek baru kita,” Jhonathan mengumumkan kepada tim. “Saya akan mengambil alih pengawasan langsung, dan saya ingin Gita mendampingi saya sebagai penasihat hukum. Dia akan memastikan semua aspek hukum berjalan lancar, dan tidak ada yang melanggar kebijakan perusahaan.” Beberapa karyawan tampak terkejut mendengar pernyataan itu, terutama karena Jhonathan biasanya tidak melibatkan siapa pun begitu dekat dengannya dalam proyek besar. "Kenapa Gita?" salah satu manajer bertanya dengan suara hati-hati. Jhonathan menoleh, tatapannya tajam. "Karena saya memilihnya," jawabnya tegas, membuat semua orang di ruangan itu terdiam. Gita merasakan detak jantungnya semakin cepat. Dia tidak tahu apakah ini kesempatan atau jebakan yang baru. Namun, tatapan Jhonathan yang tajam dan menyelidik memberinya sinyal bahwa ini bukanlah tawaran yang bisa dia tolak. Setelah rapat selesai, Jhonathan memintanya untuk tetap tinggal di ruangannya. Mereka berdiri berdua di depan jendela besar yang menghadap ke kota, hanya ada keheningan yang mengisi ruangan. Jhonathan tampak tenggelam dalam pikirannya, sementara Gita berusaha memahami maksud pria itu. “Kau mungkin merasa terjebak dalam semua ini, Gita,” kata Jhonathan akhirnya, suaranya rendah. “Tapi percayalah, aku juga berada dalam posisi yang sulit.” Gita mendongak, terkejut mendengar pengakuan itu. "Sulit? Bagaimana bisa seorang pria seperti kau merasa sulit dalam situasi apa pun? Kau selalu terlihat... mengendalikan segalanya." Jhonathan tertawa kecil, tapi bukan tawa yang penuh kebahagiaan. "Mengendalikan, ya. Terkadang, Gita, menjadi orang yang mengendalikan segalanya juga berarti harus mengorbankan sesuatu. Kau tidak tahu seberapa besar beban yang harus aku tanggung." Gita menatapnya, bingung. "Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku, Jhonathan? Apa aku hanya alat untuk menghancurkan Devan? Atau ada sesuatu yang lebih dalam rencana ini?" Jhonathan menatap Gita dengan intens, langkahnya mendekat hingga hanya beberapa inci yang memisahkan mereka. "Aku menginginkan kau, Gita. Bukan hanya untuk permainan ini. Tapi aku ingin kau berada di sisiku, sepenuhnya. Aku sudah terbiasa memegang kendali, tapi denganmu... semuanya terasa berbeda." Jantung Gita berdegup kencang mendengar pengakuan itu. Dia tahu Jhonathan tidak pernah menunjukkan kelemahan di hadapan siapa pun, tapi sekarang, dia melihat sisi yang lebih manusiawi dari pria itu. Namun, dia tidak bisa sepenuhnya percaya. "Bagaimana aku bisa mempercayaimu?" Gita berbisik, matanya mencari-cari kebenaran di wajah Jhonathan. Jhonathan tersenyum tipis, tangannya perlahan terangkat, menyentuh pipi Gita dengan lembut. "Kau tidak perlu mempercayaiku sekarang. Tapi pada akhirnya, kau akan menyadari bahwa aku adalah satu-satunya orang yang bisa kau andalkan." Gita merasa napasnya tertahan. Sentuhan Jhonathan begitu lembut, bertentangan dengan sikap dingin dan dominannya. Ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa mengalihkan diri dari pria ini, meskipun dia tahu bahwa semakin dalam dia terlibat, semakin sulit untuk keluar. ** Waktu berlalu, dan hubungan antara Jhonathan dan Gita semakin rumit. Di satu sisi, Gita mencoba menjaga profesionalisme di kantor, berusaha membedakan antara pekerjaannya dan perasaan yang mulai muncul dalam dirinya. Namun, di sisi lain, Jhonathan terus mempermainkan perasaannya dengan ketidakpastian. Setiap kali Gita merasa mulai dekat dengan Jhonathan, pria itu menarik diri. Tapi setiap kali dia mencoba menjauh, Jhonathan justru mendekat, membuat Gita terjebak dalam lingkaran perasaan yang membingungkan. Pada suatu malam, setelah hari yang panjang di kantor, Gita dipanggil ke ruangan Jhonathan. Dia tahu ada sesuatu yang lebih dari sekadar urusan pekerjaan. Perasaan itu sudah terlalu familiar. "Masuk," suara Jhonathan terdengar dari balik pintu. Gita melangkah masuk, dan yang membuatnya terkejut, Jhonathan duduk di kursi dengan tatapan yang tidak biasa. Dia tidak tampak seperti pria yang penuh kendali, melainkan seseorang yang sedang bergulat dengan sesuatu yang lebih dalam. “Aku ingin menunjukkan sesuatu,” kata Jhonathan, suaranya tenang. Gita mendekat, duduk di kursi di depannya. "Apa yang ingin kau tunjukkan?" tanyanya, penasaran. Jhonathan mengeluarkan sebuah amplop dari laci mejanya dan meletakkannya di depan Gita. "Ini adalah bagian dari rahasia yang selama ini aku simpan. Kau berhak tahu, karena mulai sekarang... kau adalah bagian dari rencana ini." Gita menatap amplop itu dengan rasa takut yang tiba-tiba muncul di dadanya. "Apa ini?" Jhonathan tersenyum tipis, tapi kali ini senyum itu tidak menawarkan ketenangan. "Buka, dan kau akan mengerti." Tangan Gita gemetar saat membuka amplop tersebut. Ketika dia melihat isinya, jantungnya hampir berhenti. Di dalamnya terdapat foto-foto, dokumen-dokumen rahasia, dan sebuah catatan yang mengungkapkan rahasia kelam Devan yang jauh lebih buruk dari yang pernah dia bayangkan. Gita menatap Jhonathan dengan kaget. "Ini... ini gila." Jhonathan hanya memandangnya dengan tenang. "Itulah permainan ini, Gita. Dan sekarang kau sudah terlalu dalam untuk keluar." Perasaan Gita campur aduk—antara marah, bingung, dan takut. Dia tahu bahwa Jhonathan telah menggiringnya ke dalam jebakan yang lebih besar. Tapi di balik semua itu, ada sebuah ketertarikan yang tidak bisa dia jelaskan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN