Jeratan Tak Terelakkan

1137 Kata
Malam itu terasa panjang bagi Gita. Rasa cemas dan ketidakpastian terus mengganggu pikirannya, meskipun Jhonathan tidak mengatakan apa-apa lagi setelah pertemuan dengan Devan. Gita duduk di depan jendela besar di mansion, menatap ke luar ke arah taman gelap yang terlihat begitu damai, sangat kontras dengan badai yang sedang terjadi dalam hatinya. Gita tak tahu harus bagaimana. Jhonathan semakin menekannya, dan sepertinya tak ada jalan keluar dari permainan liciknya. Devan, tunangannya, telah berkhianat, menjalin hubungan dengan Aira, istri Jhonathan. Dan sekarang, Jhonathan mengajaknya untuk membalas dendam. Hanya saja, harga yang harus dibayar untuk bekerja sama dengan pria itu sangat tinggi—terlalu tinggi. Saat Gita tengah terlarut dalam pikirannya, pintu kamar tiba-tiba terbuka tanpa mengetuk. Jhonathan muncul dengan langkah pasti. Senyum tipis menghiasi wajahnya yang tampan namun selalu penuh rahasia. Aura dominan yang selalu mengiringinya membuat Gita langsung menegakkan tubuh, merasa terpojok meski belum ada yang terjadi. "Sudah malam, kenapa kau belum tidur?" Jhonathan berjalan mendekat, matanya meneliti Gita dengan tatapan yang sulit diartikan. "Pikiranku masih penuh dengan segala hal yang kau katakan tadi." Gita menelan ludah. "Aku tidak bisa tidur." "Karena Devan?" Jhonathan mengangkat alis, lalu tersenyum mengejek. "Kau masih memikirkan tunangan yang jelas-jelas telah mengkhianatimu?" “Ini tidak mudah,” Gita membalas, suaranya hampir berbisik. "Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi semua ini." Jhonathan mendekat, duduk di tepi ranjang, terlalu dekat hingga Gita bisa mencium aroma maskulinnya yang khas. "Kau terlalu memikirkan perasaan orang yang tak lagi menghargaimu, Gita. Devan telah menyerahkan segalanya untuk Aira. Apa yang kau harapkan dari pria seperti itu?" Sebelum Gita bisa menjawab, Jhonathan menyentuh pipinya dengan lembut. Sentuhan itu seperti percikan api yang menyulut seluruh tubuhnya, dan Gita harus menahan napas agar tidak terbawa suasana. Tapi jujur saja, ia sudah terlalu sering merasa tak berdaya di hadapan Jhonathan, tubuhnya seolah bereaksi sendiri pada setiap sentuhan pria itu. "Berhenti memikirkan dia," bisik Jhonathan, tangannya berpindah ke dagu Gita, memaksanya menatap langsung ke mata pria itu. "Mulailah memikirkan kita." Gita mengerutkan kening. "Apa maksudmu?" Jhonathan tersenyum tipis, wajahnya semakin mendekat, bibirnya hanya beberapa inci dari bibir Gita. "Kita bisa membuat rencana untuk menjerat Devan dan Aira. Bersama-sama. Kau tahu, aku tidak akan berhenti sampai aku mendapatkan keadilan." Gita tahu apa yang dimaksud Jhonathan. Ini bukan hanya tentang keadilan, ini juga tentang kontrol. Jhonathan ingin mengontrol semuanya, termasuk dirinya. Namun, ada sesuatu dalam dirinya yang tidak bisa menolak tarikan pria ini, seolah tubuhnya sudah memutuskan untuk tunduk, bahkan ketika pikirannya masih berusaha melawan. Jhonathan semakin mendekat, bibirnya menyentuh leher Gita dengan lembut, dan Gita langsung merasa tubuhnya merespon dengan cara yang tak bisa ia jelaskan. Suhu tubuhnya naik, dan hatinya berdebar kencang. Dia tahu bahwa ini salah, tetapi dia tidak bisa menahan diri untuk tidak terbawa suasana. "Aku akan membantumu," Jhonathan berbisik di antara ciuman lembutnya yang semakin intens. "Tapi kau harus melayani apa yang aku butuhkan." Gita merasa napasnya terhenti. Dia tahu bahwa Jhonathan tidak hanya berbicara tentang rencana menjebak Devan dan Aira. Jhonathan ingin lebih dari sekadar kerjasama. Dia menginginkan tubuh Gita—sepenuhnya. "Apa kau akan menolakku lagi?" Jhonathan bertanya, bibirnya sudah berada di dekat telinga Gita, suaranya rendah dan menggoda. "Atau kau akan menerima takdir ini?" Gita menggigit bibir bawahnya, merasakan perasaan terjerat yang semakin kuat. Dia tahu apa yang akan terjadi jika menolak. Jhonathan sudah memperingatkannya sebelumnya. Jika Gita menolak, Jhonathan akan memastikan bahwa semua orang di perusahaan akan melihat "hubungan" mereka. Gita tak bisa membayangkan bagaimana reaksi para karyawan jika tahu bos besar mereka memperlakukannya seperti ini. "Aku…" Suara Gita bergetar, otaknya sibuk mencari alasan untuk menolak, tetapi hatinya terjebak dalam pergolakan yang luar biasa. "Aku tidak bisa melakukannya." Jhonathan tertawa kecil, tidak marah, tetapi justru semakin tertarik. "Kau tidak bisa melakukannya? Atau kau tidak bisa menolakku?" Dia menggenggam tangan Gita dan meletakkannya di dadanya yang kuat, membuat Gita merasakan setiap denyut jantung Jhonathan yang stabil. “Aku tahu apa yang kau rasakan, Gita,” katanya dengan suara rendah yang penuh keyakinan. “Jangan berpura-pura. Kau tidak akan bisa lari dari perasaan ini.” Gita menunduk, tidak bisa menyangkal kenyataan bahwa tubuhnya bereaksi begitu kuat pada pria ini. Tapi ini salah—sangat salah. Devan memang telah mengkhianatinya, tetapi apakah ini adalah jalan yang benar? Terjebak dalam permainan Jhonathan hanya karena rasa sakit dan dendam? Namun, sebelum dia bisa menjawab, Jhonathan menarik tubuhnya lebih dekat. Bibir mereka bertemu lagi, kali ini dengan gairah yang lebih kuat. Gita tidak bisa lagi menolak. Dia terlalu tersesat dalam pusaran perasaan yang membingungkan—antara gairah dan ketakutan, antara hasrat dan perasaan terikat. Setelah beberapa saat, Jhonathan melepaskan Gita, menyeringai puas. "Kita akan segera mulai rencana ini. Devan akan mendapatkan balasannya." Gita menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri, tapi Jhonathan tidak memberinya waktu. Pria itu bangkit dari tempat tidur, menatapnya dengan tatapan yang penuh makna. "Besok, kita akan bertemu Devan di kantor. Aku akan memastikan dia tahu bahwa dia telah bermain di tangan yang salah," ucap Jhonathan dengan penuh percaya diri. "Dan ingat, Gita. Jika kau menolak bekerja sama denganku, aku tidak segan untuk menunjukkan semua ini di depan mereka." Gita merasakan dadanya sesak. Tekanan dari Jhonathan semakin tak tertahankan. Dia tahu bahwa jika menolak, karirnya bisa hancur. Bukan hanya karena hubungan mereka, tetapi juga karena Jhonathan punya kekuatan untuk menghancurkan segalanya. Pagi itu, di kantor, Jhonathan terus menunjukkan sikapnya yang dominan. Dia selalu arogan di hadapan para karyawan, namun ketika berada di dekat Gita, dia berubah. Mata Jhonathan selalu mencarinya, selalu memperlakukannya dengan sentuhan-sentuhan kecil yang tersembunyi dari tatapan orang lain. Gita merasakan semua karyawan mulai memperhatikan. Mereka mungkin tidak tahu persis apa yang terjadi, tapi mereka pasti melihat bahwa Jhonathan memperlakukan Gita dengan cara yang berbeda. Kegelisahan merayap di dalam dirinya, tetapi Gita tahu bahwa dia sudah terlalu dalam untuk mundur sekarang. Di ruang rapat, Jhonathan mengatur pertemuan dengan Devan. Saat Devan masuk, suasana langsung berubah tegang. Wajah Devan yang biasanya percaya diri sekarang terlihat lebih cemas, seperti seseorang yang sedang menunggu vonis. Jhonathan memulai pembicaraan dengan senyum tipis. "Devan, ada sesuatu yang harus kita bicarakan." Devan mengerutkan kening. "Apa ini tentang proyek terakhir?" Jhonathan mengangguk. "Tepat sekali. Ada beberapa hal yang perlu kita klarifikasi. Dan aku yakin kau tidak ingin Aira mendengar tentang ini, bukan?" Devan tampak terkejut, jelas tidak menyangka Jhonathan akan membawa-bawa Aira ke dalam percakapan bisnis ini. Tapi sebelum dia bisa berkata lebih jauh, Jhonathan melanjutkan, "Kau pikir aku tidak tahu? Penggelapan dana, hubunganmu dengan Aira... Semuanya sudah jelas." Gita melihat Devan membeku di tempatnya, wajahnya memucat. "Apa yang kau bicarakan?" Jhonathan menyeringai, lalu menatap Gita sejenak, seolah mengisyaratkan bahwa dia telah mengendalikan seluruh situasi ini. "Aku tahu segalanya, Devan. Dan sekarang, kau hanya punya dua pilihan." Devan menelan ludah, jelas takut akan apa yang akan terjadi selanjutnya. "Pilihan apa?" "Pilihan pertama, kau bekerja untukku sepenuhnya. Kau akan menjadi mata-mataku, memastikan semua proyek berjalan lancar sesuai keinginanku. Pilihan kedua... aku akan menghancurkanmu di hadapan semua orang,
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN