Wajah Hana pucat pasi. Matanya menatap dua pria di hadapannya dengan pandangan yang sulit dijelaskan, antara marah, dan patah hati yang dalam. Angin sore meniup rambutnya pelan, tapi tubuhnya sama sekali tak bergerak, seolah membeku oleh kalimat terakhir yang baru saja ia dengar. "Hana," William berusaha melangkah maju, tapi langkahnya terasa berat, seolah setiap inci tanah menahannya untuk tidak mendekat. "Papa bisa jelas—" "Cukup?! Apa lagi yang perlu Papa jelaskan?!" suara Hana memecah udara. Tangannya bergetar hebat, air mata mulai menetes tanpa bisa ditahan. "Kalau Papa adalah orang yang membunuh orang tuaku?! Itu yang ingin Papa jelaskan?! Iya?!" Hans spontan melangkah ke depan, mencoba mendekat ke istrinya "Hana, dengar dulu, ini nggak seperti yang kamu pikir—" "Jangan dekati ak

