Larasati menutup daun jendela yang ada di kamarnya. Pandangannya ke kanan ke kiri. Sayup-sayup telinganya mendengar sesuatu, namun tak diindahkan. Begitu juga dengan daun pisang yang tampak aneh bergoyang itu. Seperti ada sesuatu yang ingin diceritakan.
Tangannya yang bergemetaran itu lalu menutup pintu kamar. Dilah ublik yang ada di kamarnya dinyalakan. Pun dengan jendela yang ditutupnya dengan perlahan.
Hatinya pilu. Batinnya masih terisak. Dirinya mencoba melepaskan bajunya. Berharap jika beban itu hilang. Hilang, kerinduan yang membuncah dan terelakkan itu segera hilang. Pikirannya koyak ketika mengingat adegan panasnya di ranjang dengan si londo, Steve. Sial. Pikiran itu terus saja memenuhi otak Larasati. Berputar-putar seolah tidak ada hal lain yang dipikirkan.
Gelenyar aneh pun naik di are kewanitaanya. Seolah ada yang berkedut dan ingin merasakan cumbuan yang sama.
Sejak mimpi basahnya dengan londo itu, itu pertama kali awal menjadikan badannya panas dingin seperti ini. Cuaca juga mempengaruhi. Jadilah dirinya saat ini lemah tak berdaya. Tubuhnya terlihat lebih kurus di depan cermin.
Lagi dan lagi, Larasati meyakinkan tubuhnya jika semua hal yang ada di dunia ini patut untuk dijaga, diamati, dan dilestarikan.
“Mooi meisje. Aku sangat merindukanmu,”
Suara berat itu membuat Larasati terhenyak kaget. Dia tahu betul suara siapa itu. Kemunculannyalah yang tiba-tiba membuat hatinya kaget bukan main.
Tangan Larasati spontan menutup tubuhnya yang telanjang bulat dengan jarik yang ada di atas ranjangnya. Steve geleng-geleng kepala mencoba untuk menenangkan apa yang akan dilakukan oleh Larasati. Jangan sampai wanita itu berteriak dengan keras.
Steve dan Larasati pun duduk di samping ranjang milik Larasati. Mereka duduk berdua tanpa sepatah kata pun. Larasati mencengkeram jarik yang digunakan sebagai tapih. Hanya menutupi bagian d**a ke bawah. Kedua lengannya yang mulus itu nampak. Biarkan saja. Sudah tertutup rambutnya yang terurai panjang.
“Bagaimana kabarmu mooi meisje?” tanya Steve dengan suara rendah.
“Baik. Aku kabar baik. Bagaimana dengan mu?” tanya Larasati kembali.
“Bagaimana kabarku bisa baik, jika kau jauh dariku mooi meisje?” katanya kemudian.
Steve mencoba melihat ke wajah Larasati yang sangat dirinya dambakan sejak berminggu-minggu. Wajah yang selalu hadir di dalam mimpinya. Wajah yang menyibak pandangannya tentang wanita Jawa.
Lihatlah betapa cantiknya wanita itu yang bahkan tanpa senyum sekali pun.
“Kau melihatku sampai seperti itu, ada yang salah?” tanya Larasati dengan menyugar rambut tipisnya yang menutupi depan telinga. Disugar ke belakang. Sehingga Steve melihat dengan nyata kulit bersih yang berada di antara telinga dan leher jenjang milik Larasati.
Pikirannya kotor. Berfantasi membayangkan hal yang begitu manis ketika lidahnya bisa menyentuh bagian itu. Sungguh, apalagi di leher Larasati terdapat setitik dua titik tahi lalat yang berwarna hitam kecokelatan. Itu sangat manis dan eksotis.
Kulit Larasati seperti kulit umumnya wanita Jawa. Sawo matang dengan keeksotisannya. Steve suka itu. Sangat suka itu. Hasratnya memuncak. Gairahnya meronta.
Steve mendekatkan badannya ke tempat Larasati. Tangannya yang sudah tak sabar menjamah tubuh wanita itu pun mulai bereaksi dengan bergerak akan menyentuh rambut Larasati. Namun secepatnya oleh wanita itu ditangkis.
Kepalanya yang awalnya menunduk itu lalu melihat ke arah Steve dengan pandangan yang nanar.
“Kau mencintaiku Steve?” tanya Larasati dengan tatapannya yang dalam.
Steve meneguk salivanya sebentar. Dirinya berusaha untuk menetralkan jantungnya yang berpacu lebih cepat dari biasanya. Jangan sampai Larasati tahu jika dirinya sedang tidak bisa menahan gejolak rasa yang ada. Hasrat dan gairah yang semakin membuncah.
Steve hanya mengangguk. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Takut jika dirinya mendesah tak terduga.
“Tapi sudah telat Steve. Aku akan menikah dengan orang lain. Seseorang yang telah dijodohkan denganku.
aku mencintaimu Steve. Namun aku bisa apa. Entahlah, aku sedang bingung sekarang. Tidak ada hal lain yang bisa kuperbuat kecuali berpasrah.”
Steve terdiam. Dia tidak menjawab. Hatinya riuh dengan ungkapan kalimat panjang itu. Hatinya remuk secara bersamaan.
Telapak tangannya mencengkeram kuat. Rahangnya tegas dengan kemarahan. Warna merah pada gurat matanya sekarang menjadi pertanda jika dirinya sedang marah besar.
“Steve, mengapa kau diam saja. Kau rela jika diriku dinikahi oleh orang lain?” tanya Larasati selanjutnya dengan air mata yang langsung tumpah.
Steve hanya diam saja. Laki-laki itu tidak bisa menerima apa yang dikatakan oleh Larasati--kekasihnya.
Impian untuk hidup bersama dengan perempuan itu seakan pupus. Sirna oleh kalimat panjang tadi. Bagaimana pun dirinya sebagai laki-laki tidak bisa berbuat banyak.
Larasati menangis dengan terisak. Kepalanya kemudian bersandar di bahu Steve yang masih diliputi rasa amarah saat ini. Wanita itu rapuh sekarang. Tidak ada yang bisa untuk melindunginya. Apalagi menyelamatkannya dari pernikahan ini.
Steve lalu mengambil dagu Larasati. Badannya bergerak memandang satu sama lain.
Dinikmati wajah itu dalam diam. Tanpa ekspresi apapun. Steve hanya diam. Sedangkan bulir air mata Larasati masih mengucur deras.
Steve baru sadar. Jika rahang wanita itu kini lebih kecil dan kurus dari yang sebelumnya dirinya lihat. Begitu pun dengan bibir Larasati yang terlihat pucat.kerongkongan yang berada di bawah lehernya itu juga dekok terlihat.
Wajah wanita itu pun diangkat pelan-pelan.
Panas. “Kau demam?” tanya Steve kemudian. Wajahnya panik. Dirinya tak menyadari jika perempuan yang ada di depannya saat ini sedang sakit.
“Mengapa kau tak berobat? Sudah lama? Bagaimana kau tak bisa menjaga diri? Hei wanita Jawa yang bodoh. Kau bisa mati jika terus sakit seperti ini. Kau tak makan apapun?”
Pertanyaan itu memberondong. Kalimat itu seolah menjadi jawaban jika Steve adalah laki-laki yang sangat perhatian. Tidak. Bukan bukan itu. Larasati mendapatkan jawaban jika pria itu mudah luluh amarahnya hanya karena mengetahui badannya panas.
“Aku tidak apa-apa Steve. Sungguh tidak apa-apa. Bagaimana diriku bisa sakit lagi kalau aku saat ini telah menemukan obatku.”
Otot yang berada di dahi Steve pun mengendur. Bibirnya terangkat sebelah. Dirinya merasa hangat dengan apa yang dikatakan oleh Larasati.
“Kau begitu manis, mooi meisje,” ujar Steve yang langsung memeluk Larasati dengan erat. Menyingkirkankan jarak yang telah terbentang sebelumnya. Tidak ada hal yang memisahkan mereka saat ini. Semuanya telah terlebur. Jarak dan sejuta kepahitan di antara keduanya.
Steve menghisap dalam-dalam aroma tubuh Larasati yang mengagumkan itu. Dihisap dengan sejuta perasaan yang ada. Hatinya berbunga-bunga. Bisa memeluk wanita yang menyiksa selama ini. Steve hanya berharap semoga dirinya bisa mendapatkan kesempatan untuk menjalin kasih dan sayang bersama-sama.
“Aku sangat mencintaimu mooi meisje. Jangan tinggalkan aku.” ucap Steve lirih.
Tanpa disadari oleh keduanya. Tiba-tiba pintu didobrak oleh seseorang. Membuat dua orang yang saling berpelukan itu terkaget bukan main. Yang lebih kaget adalah Larasati yang di sini akan menjadi sasaran kemarahan kakak laki-lakinya yang bersiap untuk menghajar Steve.
Larasati bangkit dari duduknya. Pun dengan Steve. Subekan menyingsingkan lengan bajunya. Ototnya menegang. Rahagnya mengeras. Menatap musuh yang ada di depannya dengan beringas.
“Dasar londo b*****t! Kau apakan adikku hah?”