Semua mata menyala-nyala melihat ke arah Steve yang tidak memiliki dosa sama sekali itu. Keadaan maghrib yang sangat mencekam. Tidak ada yang tahu jika kisah cintaku akan serumit ini pada akhirnya.
Aku hanya bisa menunduk, sembari tersengguk dalam tangisan. Steve digelandang seperti layaknya hewan buruan. Dikunci tangannya dengan menggunakan rafia. Dan didudukkan di ruang tamu oleh Mas Subekan. Setelah sebelumnya laki-laki bermata biru itu dihajar habis-habisan. Pipinya yang berwarna putih bersih itu mendadak berubah warna menjadi berwarna merah muda. Dengan goresan luka serta darah yang mengalir di mulut serta hidungnya. Aku tak kuasa menahan tangis. Tanganku mencengkeram erat ujung kebayaku.
Sayup-sayup kudengar tangisan Ibu di ujung ruang tengah yang terisak juga. Apakah Ibuku terluka? Tentu saja. Aku adalah anak gadis yang telah melukai hatinya. Bagaimana pun, di sini aku yang salah.
Budhe Bulik dan semua orang yang rewang di dapur turut dalam melihat apa yang terjadi di depan mereka. Ini bukan hal yang patut untuk dipertontonkan, akan tetapi jelas semuanya serba cepat. Tidak ada yang mencegah, dan suara bisik-bisikan dari keluarga yang tidak suka dengan tingkahku, memenuhi gendang telinga. Bersatu seakan-akan ingin membuat gendang telingaku pecah.
“Kau mencintai anakku?” tanya Bapak. Suaranya parau. Di sana aku bisa mendengar jika laki-laki itu yang pertama kali sangat terluka hatinya.
Aku tidak berhasil menjadi anak yang solehah, seperti yang diharapkannya.
“Iya, aku sangat mencintai Ara,” jawab Steve dengan tegas.
Wajahnya telah bonyok. Namun dirinya masih teguh mengatakan jika dirinya mencintaiku.
“Dasar londo kurang ajar!” Mas Subekan memekik. Salah satu tinjuannya mengenai d**a bagian tengah. Membuat suara Steve tercekik.
“Steve!” panggilku. Aku ingin menyelamatkannya. Budheku mencengkeram tanganku dengan kuat. Aku tidak bisa lagi untuk melakukan apa pun. Tangisku ikut meraung-raung. Air mata yang ada di pelupuk londo itu seperti akan terjatuh.
Steve melihatku sekilas, pandangannya sangat sendu.
“Subekan! Sudah! Jangan kau halangi dia untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi di antara keduanya. Berhentilah!” kata Bapak dengan nadanya yang tegas.
Mas Subekan menjauh, membanting tangan Steve dengan keras.
“Apa yang sudah kau lakukan kepada Larasati?” tanya Bapak kembali.
Steve menggeleng.
“Apa yang sudah kau lakukan kepaa adikku hah dasar londo b*****t!” pekik Mas Subekan yang seperti tidak sabaran. Tepat di telinga kiri Steve.
“Aku berkata yang sesungguhnya. Aku tidak melakukan apa pun kepada adikmu!” jawab Steve tak kalah tegas.
“Menyentuhnya?” tanya Bapak.
“Iya, tentu saja. Aku pernah menyentuh kulitnya.”
“Berapa kali?” tanya Bapak.
“Sekitar lima kali.”
“Bagian mana yang kau sentuh?”
“Kulit tangan saat aku menolongnya, kulit kaki saat aku menggendongnya, rambutnya di saat kami mengendarai kuda. Lainnya, hanya sekadar sentuhan kulit seperti salaman dan semacamnya,” jawab Steve dengan menjelaskan apa yang telah sebenarnya terjadi.
Steve berkata dengan jujur.
“Ora percoyo!” (tidak percaya) kata Mas Subekan kembali dengan amarahnya yang meledak-ledak.
Dirinya langsung menjambak rambut pria itu. Membuat Steve harus terdongak melihat ke wajah Mas Subekan langsung.
“Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri tadi, kau hampir mencium bibir adikku. Dan kau bilang hanya menyentuh di lima bagian tubuh adikku. Cuiihhh … ”
Mas Subekan membuang air liurnya tepat di wajah Steve. Aku memekik kaget dengan apa yang telah dilakukan oleh Mas Subekan itu.
“Mas!”
“Jangan banyak bicara kamu! Diam saja!” kata Mas Subekan dengan menunjuk ke arahku. Gurat-gurat kemarahan tampak jelas di wajahnya. Otot yang membelah di dahinya itu seakan-akan siap keluar.
“Hei monyet, aku berkata yang sesungguhnya. Aku tidak berbohong. Kau tanya saja ke Ara, aku tidak melakukan hal yang lebih dari sekadar memegang tangannya. Jangan membuat berita yang salah. Aku tidak pernah mencium bibir adikmu. Meski di banyak kesempatan aku bisa melakukannya.
Aku sayang dengannya, aku cinta dengannya. Aku tidak bisa melakukan apa yang tidak Ara inginkan. Aku berkata jujur,” ujar Steve dengan nadanya yang memohon.
Mas Subekan seolah melihat kepadaku. Begitu juga dengan Bapak yang tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki yang bersimpuh di atas tanah itu.
“Kau yang monyet sialan!” seseorang menyeru dari arah pintu. Pria yang datang dengan berlari langsung meninju habis wajah Steve dengan beberapa kali tinjuan yang tidak bisa dielak olehnya. Keadaan itu membuat wajah Steve semakin babak belur. Para ibu-ibu yang melihat ini menjerit ketakutan. Apa yang dilakukan oleh Mas Sholeh sungguh keterlaluan.
Aku langsung beranjak dan berlari untuk menyelamatkan Steve dari amukan Mas Sholeh. Satu tinjuan bahkan mengenai pipiku. Rasanya sungguh sakit. Apalagi Steve yang merasakan puluhan kali tinjuan seperti itu dari tadi.
“Apa yang kamu lakukan Ara? Kau jangan bodoh!” bentak Steve kepadaku. Wajahnya babak belur dengan banyak luka di sana. Aku menyentuhnya dengan isak yang tak berkesudahan.
“Sati! Apa yang kau lakukan hah?” teriak Mas Sholeh yang langsung menyenyengkeweng kedua lenganku. Membawa diriku menjauh dari Steve. Dan aku tidak bisa banyak berkata selain menangis. Tanganku ikut dirafia oleh Mas Subekan.
“Dasar b******n! Kau kira aku tidak tahu? Seminggu yang lalu. Tepat saat aku baru pulang dari menuntut ilmu. Menemui kalian yang berada di semak tebu, kau laki-laki b*****t yang menciumi calon istriku dari ujung kepala, hingga di kakinya? Kau pikir aku tidak tahu hah? Aku tau segalanya dasar londo b******k!”
Bughhh…
Satu tinjuan lagi mengenai mata Steve.
Steve bangkit dari duduknya. Dengan spontan dirinya menendang d**a Mas Sholeh. Mas Sholeh tersungkur ke tanah. Ibu-ibu yang ada di belakangnya membantu pria itu.
Keduanya saling berduel satu dengan yang lain. Steve hanya menggunakan kakinya saja, karena kedua tangannya yang masih diikat dengan tali tak bisa berbuat banyak.
Mas Sholeh yang terlalu mengedepankan emosinya pun kalah. Dirinya dengan mudah diduduki oleh Steve yang tubuhnya dua kali lebih besar darinya.
“Jadi ini, jadi ini calon suami mu Ara?” kata Steve.
Aku menunduk, tidak bisa banyak berkata.
“Laki-laki pecundang ini? Aku kira calon suamimu adalah laki-laki gagah yang berani untuk tarung kapan saja. Bukan salahku jika aku mencintai Larasati, karena dirinya tidak pantas dicintai olehmu yang bahkan disaat aku mencium semua aroma tubuh Ara kau tak melakukan apa-apa. Sialan. Kau pantas disebut monyet bodoh!” pekik Steve yang mengundang amarah Mas Subekan.
Laki-laki itu menendang kepala Steve. Sehingga Steve langsung tersungkur ke tanah.
Satu hal yang aku lihat di sini adalah, Steve tidak pernah membalas apa yang dilakukan oleh kakak laki-lakiku. Dirinya hanya bisa pasrah. Sedang jika dengan Mas Sholeh, dirinya berani untuk membalas.
“Sudah! Semuanya duduk sekarang! Tolong dengarkan aku! Uhukk, uhukkk,” Bapak berteriak. Semua orang yang ada di atas tanah itu pun diam. Tidak ada satu gerakan pun. Jarak mereka cukup jauh saat ini, sehingga meminimalisir adanya kembali perkelahian.
“Sekarang aku mau tanya kamu Nduk. Kau cinta dengan londo itu?” tanya Bapak tiba-tiba.
Aku melihat wajah Ibu, lalu beralih ke wajah Mas Subekan yang napasnya naik turun menahan amarah, lalu aku melihat ke tubuh Mas Sholeh yang telah banyak berjuang dalam mendapatkanku, terakhir kulihat wajah Bapak yang semakin menua. Aku tak bisa jika hidup dalam bengkungan mereka yang sedih karena pilihanku.
Namun, saat aku mlihat kembali Steve yang menunjukkan dirinya yang terlihat sangat mencintaiku itu, aku juga tidak sanggup melihatnya terluka nanti.
Batinku berontak dengan logikaku yang masih mencoba untuk berpikir secara sehat.
“Aku tidak mencintai Steve. Sama sekali tidak mencintainya. Aku hanya sedang terbuai dengan apa yang dirinya katakan. Sembari diberikan janji-janji palsu. Semua itu palsu. Londo tetap menjadi londo. Mereka akan selalu mengganggu wanita pribumi,” kataku kemudian.
Steve memandangku dengan pandangan yang penuh dengan kebencian. Seolah-olah hatinya berontak dengan apa yang telah aku katakan.
Sungguh, Steve. Aku melakukan hal ini untukmu. Untukmu. Untukmu agar bisa selamat dari amukan kakak laki-lakiku dan juga dari Mas Sholeh.
Kudengar Bapak mengalunkan kalimat hamdalah.
“Kalau begitu, kita nikahkan mereka saja sekalian di sini sekarang Bapak, biar londo b*****t ini tahu. Apa yang sebenarnya terjadi,” saran Mas Subekan yang disetuji oleh semua orang yang ada di sini. Didukung oleh semua orang.
Aku hanya menunduk dalam. Gurat-gurat kemarahan nampak jelas di wajah Steve. Aku tidak bisa membayangkan apa yang dirasakannya sekarang. Impiannya memiliki diriku kandas. Pun dengan ku yang tak akan bisa mendapatkan pria yang aku cintai itu. Sungguh, ini adalah hal yang sulit untukku.
Dengan mas kawin berupa kalung emas seberat lima gram. Pria yang tidak kucintai sama sekali ini, menikahi diriku secara siri.
Yang menjadi penghulu adalah Pak Kyai Bakir. Sedang yang menjadi saksi adalah Pakdhe-pakdheku yang lain beserta dengan Mas Subekan.
Prosesi ijab kabul dilaksanakan dengan satu kali tarikan napas dengan mengguanakan bahasa Arab yang fasih.
“Qobiltu nikakhahaa, watazwijaha, bilmahril madzkur halaalan”
“Sahhh…”
Tangisku tak terbendung ketika mendengar kata sah itu diucapkan. Tak lepas pandanganku dari Steve yang saat ini diikat dan dicancang di sebuah tiang bambu. Seperti sebuah hewan yang dipaksa melihat perkawinan betina yang dirinya cintai dengan jantan yang lain.
Pria itu menunduk dengan lemas. Kulihat air mata jatuh menetes satu persatu dari matanya. Air mata itu seakan bergerak slow motion, memberikan tanda jika pria kekar itu sedang bersedih.
Percayalah, aku di sini juga menangis. Menangisi semuanya yang telah terjadi. Membiarkan rasa cintaku tumbuh dengan sempurna, lalu memporak porandakan sendiri dengan pilihan yang sangat aku benci. Ini adalah keputusan, aku tidak bisa mengelak dari takdir dan keputusan yang seolah menjadi satu dan menyatu itu.
Steve tiba-tiba melihat ke arahku dengan tatapan matanya yang nyalang. Dirinya seperti sangat benci dan marah terhadapku. Apalagi saat ini Mas Sholeh yang akan mencium keningku.
Cup.
Kurasakan sakitnya yang mendera-dera di dalam d**a. Steve menjatuhkan air matanya lagi dan lagi. Kedua tangannya yang mengepal dirinya tinjukan ke tanah dengan keras.
Terlihat jika Steve sangat putus asa dengan apa yang menjadi pilihanku saat ini.
Duh Gusti. Mengapa kisah cintaku harus seperti ini?