AUTHOR POV
Keadaan gelap. Salah seorang londo ireng yang mengetahui keadaan Steve--pimpinan serdadu itu digebuki oleh warga desa, langsung membantu londo yang sudah tidak berdaya itu. Steve tidak bisa banyak melakukan apa pun, saat warga desa mengaraknya dengan kepala yang ditali, tangan yang diikat, dan tubuhnya dipukuli dengan benda apa pun. Tidak ada yang bisa menyelamatkannya sekarang.
Dorrr…
Sebuah tembakan yang keluar dari pistol milik londo ireng membuyarkan warga desa yang sedang mengarak Steve. Londo ireng adalah sebutan untuk pribumi yang membelot dengan membela pihak Belanda.
Warga tentu saja kocar-kacir, karena tidak ingin mati konyol dengan peluru yang bisa saja menembus kepala mereka.
“Tuan tidak apa-apa?” tanya londo ireng yang bernama Marjuki itu.
Marjuki membantu Steve bangun dari tanah. Pria itu membopong Steve.
“Bawa aku segera pergi!” titah Steve yang langsung diangguki oleh Marjuki.
Loji Yogyakarta
Keadaan antara kubu Belanda dan warga pribumi memanas, akibat permasalahan pribadi antara Steve dengan gadis pribumi yang bernama Larasati. Tidak ada yang membuat keributan sebenarnya. Hanya salah paham soal cinta. Sembari menunggu Steve diobati oleh seorang dokter spesialis. Semua pimpinan serdadu saling berembug.
“Yang menyerang Tuan Steve adalah keluarga Subekan. Pria yang selalu membuat kekacauan dengan memerintahkan warga desa agar tidak membayar upeti,” ujar Marjuki mencoba menjelaskan apa yang terjadi tadi.
Pimpinan serdadu yang lain saling berbisik satu dengan yang lain menggunaan bahasa mereka. Marjuki tidak paham.
“Kalau begitu, bawa laki-laki itu kemari. Berani-beraninya membuat pimpinan kita babak belur seperti itu,” perintah Nath yang adalah sahabat Steve.
Seluruh serdadu di dalam loji ini cemas, mengkhawatirkan pemimpinnnya yang belum sadar sampai saat ini dari pingsannya. Padahal hari ini sebenarnya ada perayaan pesta besar, menyambut gelar baru Steve. Apadaya, malah mereka yang harus melihat pimpinannya sekarat seperti itu.
“Ara, Ara …”
Suara yang mengalun lembut itu memanggil seseorang yang amat dirinya cintai. Larasati, di dalam hati Steve masih tertancap nama itu. Cintanya setengah mati pada gadis desa yang saat ini sudah menjadi istri orang lain.
“Bahkan di saat tidak tersadar sperti ini dirinya masih memanggil nama perempuan sialan itu!” pekik Nath.nath membuang topinya dengan asal.
Sahabat yang sejak dulu menemani dirinya itu, belum pernah merasakan jatuh cinta yang sangat dalam seperti ini. Baru kali ini dirinya melihat ketulusan seorang Steve kepada salah seorang gadis pribumi. Dan di saat cinta melumpuhkan segalanya. Kali ini, sahabatnya tidak berdaya dalam kebutaan cinta itu sendiri. Terpelanting dalam kisah cinta yang ada. Diperbudak oleh cinta yang hanya ilusi semata.
Flashback
Dua orang yang saling bersahabat sedang menaiki gunung. Pegunungan kapur yang tidak jauh dari loji tempat mereka tinggal. Di sana mereka saling memandangi gugusan rumah penduduk yang menjauh satu dengan yang lain dan pepohonan yang masih sangat rindang. Sawah milik petani yang tiga perempat adalah milik pemerintahan mereka.
“Kau pernah jatuh cinta Nath?” tanya laki-laki yang bernama Steve.
Nath menggeleng. Tidak menjawab. Tangannya masih sibuk melempar ke arah kaki gunung dengan menggunakan batu yang ada di tangannya.
“Ohh, aku lupa jika kau adalah laki-laki yang tak punya hati.” ujar Steve dengan nada yang setengah meledek.
Nath memandang ke arah Steve dengan tatapan yang mengerjab.
“Untuk apa aku punya cinta, aku punya segalanya Steve di loji. Mau perempuan seperti apa pun bisa aku dapatkan. Kau meragukanku saat diriku mengangkangi mereka dengan langsung bermain sepuluh ronde dalam semalam?
Aku telah menghapuskan cinta di dalam hatiku, sejak kematian istriku. Sartika,” ujar laki-laki yang bernama Nath kemudian. Pupil matanya turun saat mengatakan nama Sartika.
Nath adalah seseorang londo yang mencintai seorang pribumi juga bernama Sartika. Sartika mati karena salah bunuh. Saat mengandung buah hati Nath dengan dirinya.
“Kau adalah laki-laki yang hebat. Tidak diragukan lagi!” Steve menepuk punggung Nath dengan keras.
“Kau jatuh cinta sahabatku?” tanya Nath menyadari jika wajah Steve hari-hari ini berubah. Ada sesuatu yang membuatnya nampak lebih segar. Dan itu terbaca oleh pikiran Nath akhir-akhir ini.
“Entahlah. Aku merasakan seperti mendapati kupu-kupu terbang di perutku saat bertemu dengan gadis desa itu. Yang tak pernah aku rasakan sebelumnya pada gadis lain. Aneh bukan?” ujar Steve dengan raut muka yang aneh.
Nath memandang lama wajah sahabatnya dengan begitu dalam.
Akhirnya, dirinya tertawa dengan keras. Perutnya sampai dipegangi. Kaku.
“Hahaha, kau ini Steve. Itu namanya jatuh cinta. Saran aku, kamu perjuangin cinta itu sampai mati. Nggak semua orang bisa merasakan jatuh cinta. Selamat sahabatku, kau akan mengarungi kehidupan itu dengan begitu baik,” tukas Nath sembari menggepuk kedua pundak Steve dengan keras.
“Bedank,” ujar Steve selanjutnya.
Steve tertunduk. Tangannya mengambil batu. Melakukan apa yang dilakukan oleh Nath tadi, melempar batu kecil ke arah dataran yang lebih rendah dari mereka berada.
“Hanya saja, yang kamu harus ingat. Jangan buta karena cinta. Sakitnya nggak akan bisa disembuhkan dengan apa pun. Tetap saja. Otakmu dipakai. Jangan terlalu menggunakan ini, kau mengerti?”
Nath menyentuh bagian hati Steve. Nath tersenyum sekilas lalu kembali memandang ke arah dataran rendah.
“Apakah Ara bisa untuk menerima ku. Sedangkan aku hanya laki-laki seperti ini?”
Untuk pertama kali dalam sejarah, Nath mendengar kata yang sangat mustahil didengar. Namun saat ini, didengarnya dengan baik dari bibir Steve.
“How? Mengapa kamu bisa seperti ini sekarang? Kau tak perlu merendahkan dirimu sahabatku. Kau laki-laki yang hebat. Kau meragukan dirimu sendiri yang berhasil mengambil hati Nona Helena. Anak jenderal Thomas. Ohhh, ayolah, jangan seperti ini. Kau bisa kehilangan jati dirimu Steve. Jangan diperbudak oleh cinta,” kata Nath dengan senyumnya.
“Aku tidak akan pernah diperbudak cinta. Hanya saja, ini masalah hati. Aku bisa melihat kesungguhan yang sama di mata gadis itu. Dia juga mencintaiku. Namun, perbedaan kami sangat jauh. Selalu saja dirinya menyangka jika aku tidak mencintainya sama sekali.”
“Sama, hati dan otak harus seimbang. Kamu bisa binasa karena menggunakan hatimu. Jangan gila dengan cinta Steve. Kau tak perlu membuktikan bagaimana dirimu mencintai dirinya. Berusahalah untuk kenaikan pangkatmu besok. Jangan lupa simpan aroma tubuh wanita itu di dalam hatimu. Kau akan berjuang lebih baik di sana,” saran Nath.
Steve mengangguk. Apa yang disarankan oleh Nath dilakukan dengan baik. Dirinya mencium aroma tubuh Ara saat akan berangkat ke ujian kenaikan pangkatnya.
Berhasil. Namun, hatinya tidak. Cintanya tidak.
*
“Nath, kau meneteskan air mata?” tanya Steve dengan menggerakkan bibirnya dengan sangat pelan.
“Uhukk, uhukkk,” batuknya terlihat sangat menyakiti tubuhnya. Steve dalam keadaan yang tidak baik-baik saja saat ini.
Nath menghapus air matanya dengan segera. Serdadu dan tentara tidak boleh menangis. Bahkan ketika dirinya sendiri. Namun, Nath manusia biasa. Dirinya bisa merasakan apa yang Steve rasakan. Apalagi sesaat kenangan di atas gunung kapur bersama Steve itu terlintas begitu saja. Sudah pasti itu membuatnya menangis dan mengeluarkan air matanya saat ini.
Dengan sigapnya, Nath langsung mengambil air minum di atas gelas cantik itu. Memberikannya kepada sahabatnya. Steve menolak. Gelas itu hampir terjatuh.
“s**t. Apa yang kau lakukan? Minumlah!” bentak Nath kepada sahabatnya.
Steve mengambil gelas itu pelan, lalu tangannya yang sangat lemah itu berusaha membanting gelas yang ada.
Air matanya merembes.
“f**k you!” balas Nath yang langsung keluar dari kamar Steve.
Dokter dipannggil. Steve mencoba melukai dirinya sendiri dengan menggunakan pisau yang ada.
“Kau telah kehilangan akal Steve! Benar kata orang. Kelemahan laki-laki adalah saat dirinya terlalu menggunakan hati saat menyikapi sesuatu. Dimana kau Steve yang garang hah?” Nath menggoyang kedua bahu Steve yang masih lemah terbaring di atas ranjang.
Air mata keduanya menetes.
“Sebaiknya, Tuan Steve banyak istirahat. Banyak tulang yang bergeser tidak ditempatnya. Tuan Nath tidak perlu khawatir. Depresi dan stres bisa saja timbul dimana saja dan kapan saja kepada siapa pun. Cukup untuk mengerti kondisi. Jauhkan dari benda-benda yang berpotensi melukai diri. Jaga dia dengan baik,” ujar dokter yang menangani Steve. Laki-laki dengan kacamata yang menggantung di telinganya itu lalu keluar setelah tidak lagi dibutuhkan.
“Kau lemah soal cinta sahabatku. Dasar lemah,” kata Nath sebelum pergi meninggalkan sahabatnya.
Dua orang penjaga disiagakan di kamar Steve. Ada juga dua orang pembantu perempuan.
*
Malam tiba. Tangan Steve mengepal. Otaknya hanya dipenuhi rasa kekecawaanna kepada Ara saat ini. Wanita itu sungguh membuatnya tersiksa. Apalagi, saat Steve teringat dirinya diperlakukan dengan tidak baik. Diinjak dan diarak bagai penjahat. Apalagi, melihat kekasihnya menikah di depan mata kepalanya sendiri juga. Rasanya hatinya hancur berkeping-keping. Tak bersisa rasa sakitnya. Tak ada yang bisa menyembuhkan.
Di dalam ruang rapat, serdadu di bawah pimpinan Nath sebagai wakil Steve sementara. Laki-laki itu langsung memerintahkan kepada seluruh anggota prajurit untuk menyerang desa di mana gadis bersama Larasati tinggal. Buruannya hanya ada satu, Bapak dari perempuan itu.
Malam itu juga, dua puluh anggota prajurit disiagakan untuk langsung menculik Bapak Larasati. Nath yang memimpin penangkapan itu.
Dua puluh anggota seradadu memakai pakaian tentara lengkap. Dengan bedil di bagian perut mereka masing-masing.
Kuda putih dengan puluhan kuda yang ditundangi oleh seradadu pilihan langsung memutari rumah Larasati yang gelap gulita karena sudah larut malam. Nath mendobrak pintu yang hanya terbuat dari bambu. Seseorang menyeru.
“Mau apa kau datang kemari hah?” tanya seseorang laki-laki yang tak lain adalah Mas Subekan. Tidak menunggu apa-apa lagi, pria itu berhasil dibekuk oleh dua londo ireng.
“Ora usah kakean cangkem!” (tidak usah banyak bicara)
“Kemana Bapakmu?” tanya Nath selanjutnya.
Subekan tidak menjawab. Laki-laki itu, hanya diam, dan lalu membuang liurnya tepat di wajah Nath. Nath yang merasa dihina langsung melayangkan satu pukulan keras di wajah Subekan. Membuat laki-laki itu langsung limbung di tanah.
Nath langsung memasuki rumah itu dengan pencahayaan yang dibawa oleh prajuritnya. Satu kamar didobrak, tidak ada siapa pun. Lalu, yang lain, didibrak. Dan ternyata di sana ada dua orang tua.
“Kalau kau ingin menangkapku. Tangkap aku. Aku tidak keberatan,” ujar laki-laki yang merupakan Bapak Larasati. Menyerahkan diri dengan tanpa perlawanan.
“Heii mau dibawa kemana suamiku londo b*****t!” Ibu Larasati mencoba untuk menarik tangan laki-laki yang menjadi suaminya.
Tetap saja kalah. Wanita itu sudah sangat lemah. Satu tonjokan di bagian kepalanya membuat wanita itu limbung, tidak sadarkan diri.
Bapak Larasati marah. Dirinya mencoba untuk menyerang kali ini.
“Berani kau menyakiti istriku!” sentaknya.
Nath hanya tersenyum.
“Jika kau tak ingin dia mati, ikut kami dengan baik. Jangan ada perlawanan.”
Di depan, Subekan sudah babak belur. Terkulai lemas tidak berdaya. Badannya tersungkur di atas tanah. Pun dengan darah yang keluar dari hidung dan juga mulutnya. Tidak ada yang menolong laki-laki itu. Tangan Bapak Larasati diborgol.
“Ayo kita bawa laki-laki tua ini ke penjara bawah tanah,” perintah Nath semabari menundangi kuda. Mereka membawa Bapak Larasati yang tidak berdaya itu. Ke loji, di tahanan bawah tanah.
Laki-laki itu dibawa ke sebuah lorong yang sunyi dan senyap. Seperti tidak ada orang yang tinggal. Salah satu ciri khusus dari tempat itu adalah baunya yang sangat menyengat. Tidak ada ventilasi udara dan sangat gelap. Nyamuk-nyamuk langsung menyerbu siapa saja yang datang ke ruangan itu. Termasuk kepada tulang belulang Bapak Larasati yang hanya mengeanaka sarung dan juga baju yang tidak ada kancingnya.
Berserah. Satu kata yang saat ini dilakukan oleh laki-laki itu. Tidak bisa melakukan apa pun lagi sekarang.
Di tempat lain, Larasati merasa ada yang aneh. Perasaannya tidak bisa dibohongi. Perempuan yang semenjak menginjakkan kaki di dalam kamar suaminya itu. Tidak bergerak sama sekali. Menghadap ke tembok kayu kayu jati. Dirinya terus-terusan tersengguk menangis.
Tidak ada malam pertama di antara keduanya. Tidak ada malam indah seperti yang dirasakan oleh pengantin pada umumnya. Untungnya, Sholeh sebagai laki-laki sangat sabar. Dirinya tidak ingin memaksa Larasati melakukannya sebelum Larasati rela.
Dua hari dua malam yang tanpa tidur sama sekali, membuat kantung hitam di bawah matanya membesar. Larasati tidak bisa tidur karena teringat dengan Steve. Kekasihnya yang saat ini tidak tahu apakah dirinya masih hidup atau mati karena pengeroyokan yang terjadi dua hari lalu itu.
Pagi menjelang. Larasati bangun dan beranjak dari kamarnya. Laki-laki yang disebut sebagai suaminya sudah tidak berada di dalam kamar. Tentu saja sudah pergi ke sawah untuk panen.
Larasati mengendap-endap. Pikirannya goyah. Tidak tahu harus apa. Dirinya hanya ingin bertemu dengan kekasihnya. Steve. Entah dirinya akan pingsan atau dalam kondisi tidak bernyawa di perjalanan nanti menuju loji, tidak diperdulikannya.
Ketika mendapati rumah dalam keadaan yang sepi. Dirinya langsung menuliskan sebuah surat untuk semua orang yang ada di rumah ini. Dan satu surat lagi, ditujukan untuk keluarganya yang saat ini berada di desa lain.
Harapan Larasati hanya satu. Perempuan itu hanya ingin jika apa yang dilakukannya ini bisa membuat hatinya tenang. Dirinya tidak bisa dibelenggu dalam perasaan yang sangat sulit untuk dimengerti harus bagaimana selanjutnya dirinya akan melangkah.