Alasan Penyergapan

1068 Kata
“Kau melakukan hal yang bodoh Nath,” Steve menggelengkan kepalanya. Laki-laki itu tak bisa menduga jika apa yang dilakukan oleh sahabatnya terlalu lancang baginya. Itu adalah tindakan yang sangat bodoh. Dan tidak ada korelasi antara cintanya dengan seorang laki-laki yang adalah Bapak Larasati. “Laki-laki tua itu yang membuat tubuhmu jadi seperti ini. Akan lebih bodohnya lagi jika aku tak melakukan apa pun kepadanya,” sahut Nath dengan mengusap keringat yang ada di dahinya. “Aku tak mau Larasati sampai tahu ini,” kata Steve. Nath menarik napasnya panjang,”Kau masih mencintai gadis itu?” Steve menundukkan kepalanya. Dirinya tidak bisa berkata banyak,”Entahlah, aku masih bingung dengan perasaanku saat ini. Di satu sisi aku tidak berdaya karena cinta itu telah mengakar dalam hati, di sisi yang lain, seharusnya aku sudah bisa ikhlas dengan semuanya. Karena dia adalah istri orang lain. Dan aku tidak suka bergaul dengan wanita yang sudah digauli.” Nath beranjak dari duduk, lakilaki itu lalu menepuk kedua pundak sahabatnya. “Semua ada waktunya untuk kembali. Jangan sampai sakit lagi kau. Teman-temanmu sudah merindukan pesta perayaan kenaikan jabatanmu. Kau harus segera sembuh kawan,” ujar Nath sebelum pergi. Kenyataan yang sangat sulit untuk diterima akal. Cinta dan sifat kasih sayang manusia tidak dapat untuk dihindari. Itu adalah sifat dasar dan tidak ada seorang pun yang bisa menangkal rasa cinta itu sendiri kecuali dasar ilmu dan agama. Steve melihat seluruh anggota badannya. Laki-laki itu masih melihat lebam yang cukup banyak. Namun emosinya tiba-tiba menyeruak begitu saja. Dirinya langsung berabjak dari tempat tidurnya, dan mengambil posisi push up. Brukk… Tubuhnya ambruk tatkala menginjakkan kaki, masih cukup lemas. Namun Steve tidak kehilanan semangat, amarah yang menggebu-nggebu membuatnya akan bertahan. Dengan kekuatan tersisanya, Steve melakukan gerakan push up dengan sangat terburu-buru. Begitu juga dengan gerakan sit upnya. Otot-otot kekar yang berada di balik kulit tubuhnya itu bergerak perlahan mengikuti gerakan yang sedang dilakukan oleh Steve. Tidak tanggung-tanggung memang. Olahraga adalah jalan dirinya untuk menghilangkan stres yang ada di dalam hati dan pikirannya, selain melukis. Iya, Steve gemar melukis, hanya saja dirinya tidak berselera untuk menarik pensilnya. Karena sejauh apapun imajinasinya berjalan, di sana hanya ada satu titik yang menariknya lagi dan lagi. Dan titik itu adalah titik mata dari seorang gadis bernama Larasati. Puluhan bahkan ratusan lembar kertas telah tergores oleh pena. Dengan wajah dan tubuh yang sama. Larasati. Dan gambar itulah yang saat ini memenuhi kamar Steve. Pimpinan wilayah Jogja. Orang-orang akan takjub dengna lukisan yang beraneka ragam corak dan imajinasi. Tiba-tiba Steve merasakan getaran aneh di dalam hatinya. Seolah ada sesuatu yang mendekat ke arahnya, namun Steve tidak bisa melihat apa itu. Laki-laki itu lalu memilih untuk mengambil duduk dan minum beberapa teguk air putih. Di sana dirinya mendapati sebuah ketenangan yang lebih damai dari yang sudah-sudah. Steve segera membunyikan loncengnya. Jongos dengan alis tebal dan kumis tipis datang kepadanya. “Ada yang bisa kami bantu Tuan?” tanya laki-laki itu kepadanya. Steve hanya bisa diam sebentar. Lalu akhirnya dirinya mantab untuk mengatakan. “Sewa sebanyak apa pun p*****r malam ini, beli anggur yang banyak, makanan tradisional sekalian. Kita akan mengadakan pesta besar malam ini,” ujar Steve memerintahkan jongos itu. “Maaf Tuan, apakah itu baik untuk kesehatan Tuan? Maksud saya adalah, dengan kondisi Tuan yang seperti ini apakah ini tidak menganggu?” tanya jongos itu yang membuat Steve murka. “Dasar monyet tak berguna! Kau pergi saja! Jangan banyak bicara!” Steve melempar sebuah gelas antik begitu saja ke arah dinding. Membuat jongos itu bergidik ngeri dan langsung lari terbirit-b***t. Dirinya sangat ingat tatkala salah seorang temannya mati dengan begitu mengenaskan di tangan Steve--Tuannya. Perintah yang tadi tela diucapkan oleh Steve, membuat kabar baik di seluruh penjuru loji. Ini adalah malam yang begitu cerah dan sangat baik. Begitu pikir semua orang, terlebih sahabat laki-laki itu--Nath yang dari kemarin sudah tidak sabar menantikan hari ini datang. Ohh ini adalah hal yang sangat dirinya tungg-tunggu. Pesta mabuk dan seks. “Hai sahabatku. Ada apakah gerangan? Sehingga kau memutuskan dengan cepat dan tanpa pikir panjang tntang pesta nanti malam?” Steve hanya berdecih. “Aku hanya melaksanakan setengah dari kewajibanku,” jawab Steve singkat. “Ayolah, kau jangan terus seperti itu, di luar ada banyak gundik-gundik baru. Kau tak akan mendapatkan pengalaman seks terbaik jika bersama dengan gadis polos yang kau cintai itu.” Steve memutar tubuhnya, menghadap ke arah sahabatnya Nath. “Cinta dan seks tidak ada hubungannya. Aku akan melakukan hal yang lebih gila dari yang sudah-sudah,” kata Steve. Seks adalah satu di antara cara yang lain yang bisa digunakan untuk menghilangkan stres. Setelah olahraga, kadang itulah yang membuat tubuh laki-laki ini kehilangan gairah. “Kutahu, kau telah menghilangkan kebiasaan burukmu setelah kau berkenalan dengan gadis desa itu. Dan kini kau kembali dengan kepribadian lama mu. Itu karaktermu Steve. Kau tak bisa hilang begitu saja dengan karakter yang lain. Selamat, kau adalah sahabat terbaikku.” Salaman dan pelukan hangat dar Nathermous tersebut disambut baik oleh Steve. *** Malam pun tiba. Bulan purnama sedang merekah indah di langit angkasa. Tidak ada yang bisa mengelak takdir. Karena semuanya sudah diperhitungkan oleh sang maha kuasa. Kehidupan ini terus akan mengalir. Ke mana takdir akan melangkah. Hiruk pikuk hidup manusia yang seolah tanpa jeda dengan kesibukan dunia. Seakan membuat manusia lupa, jika kasih sayang Tuhan berada di antara semuanya. Musik iringan khas bangsa barat mendendang di seluruh penjuru ruangan. Semua orang yang masuk di dalam sana adalah orang-orang terpilih. Untuk merayakan sebuah pesta besar atas keberhasilan serdadu muda, Steve van Everhart yang telah berhasil menduduki jabatan penting di wilayah Jogjakarta ini. Yang paling sibuk di antara semuanya adalah, Nyai yang dari tadi mondar-mandir dengan pantatnya yang sintal itu. Ibu Larasati tidak bisa membuatkan makanan tradisional yang digemari londo, dan itulah yang membuat hatinya gundah. Itu akan membuat sebuah kemarahan dari sang pemilik acara pesta ini. Selain itu, Nyai Saripah juga harus untuk mempersiapkan gundik-gundik barunya yang akan melayani londo-londo yang ada. Memastikan seluruh penampilan wnaita-wanita pribumi iu menarik di kalangan londo. Dan bisa bekerja dengann baik nanti. Di tempat yang lain, seorang laki-laki hanya bisa duduk di kursi dan meminum beberapa gelas anggur. Dia tak berselera melakukan apa pun. Meski dalam rencana sebelumnya dirinya sempat akan menggauli banyak wanita. Nyatanya tidak jadi, karena sungguh, satu wanita yang tadi sudah dimasukkan ke dalam kamar, seperti jelmaan sebelum-sebelumnya. Perempuan itu selalu dengan wajah yang sama. Larasati. Nyatanya Steve masih tidak bisa menghilangkan pesona wjah itu di hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN