Larasati berjalan dengan terseok-seok. Meski demikian, dirinya berhasil sampai ke gerbang loji dengan selamat. Wajahnya pucat, dengan baju yang seadanya. Larasati sampai di loji tepat malam hari.
Seorang pengawal yang mengetahui gadis pribumi itu pun langsung menghadangnya. Tidak memberikan izin masuk karena memang Larasati bukan siapa-siapa.
“Kumohon, aku ingin bertemu dengan Steve,” kata Larasati dengan napasnya yang terengah-engah.
Dua pengawal yang merupakan londo ireng tersebut saling pandang satu dengan yang lain. Sebelum akhirnya mendorong tubuh Larasati hingga tersungkur di atas tanah.
“Hei, siapa kau? Berani-beraninya memanggil nama Tuan kami hanya dengan nama saja, Tuan Steve tidak akan menemui wanita jelek sepertimu. Dia juga sekarang ada acara besar-besaran. Jadi tidak bisa ditemui!” galak seorang londo ireng dengan nadanya yang tinggi.
Larasati lagi-lagi hanya bisa menangis. Air matanya jatuh. Menahan rasa sakit yang ada di kaki dan juga hatinya. Apakah akan seperti ini sulitnya.
Tidak ingin kehabisan cara. Kali ini Larasati nekat untuk bertelanjang diri. Tangannya mulai untuk melepaskan kancing bau satu persatu.
Dua pengawal yang ada di depan itu pun terbengong melihat apa yang ada di depan mereka.
“Hei, wanita bodoh! Apa yang akan kau lakukan? Jangan berbuat macam-macam!” sergah dua pengawal itu yang mulai panik.
“Aku akan berteriak jika kalian memperkosaku, dengan demikian Steve akan memberikan perhitungan dengna kalian,” ancam Larasati dengan tidak kehilangan akal.
Ohh betapa dirinya ke sini dengan sungguh nekat. Dirinya tidak bisa membendung rasa cintanya dengan begitu berat itu. Daripada mati dengan konyol. Larasati hanya ingin mati di depan raga Steve. Entah laki-laki itu akan menangisi atau tidak, yang jelas Larasati ingin menebus kesalahannya yang telah membuat Steve terluka sebegitu berat lusa lalu.
“Hei dasar monyet sialan. Apa yang kau lakukan hah?” tanya pengawal itu kembali. Kali ini karena setengah kancing baju Larasati hampir terbuka dan telah menyuguhkan belahan dadanya itu, dua pengawal yang masih tahap magang itu pun mencegah apa yang dilakukan Larasati dengan memberikan penutup beruba daun jati yang ditempelkan ke depan belahan d**a Larasati.
Jangan sampai jika dua pengawal itu tergiur. Karena sudah menjadi hukum loji, jika ketahuan memperkosa gadis pribumi maka akan diberikan hukuman dan tidak ada kenaikan pangkat untuk mereka yang hanya pengawal magang.
“Kau panggil saja tuanmu. Aku hanya ingin bertemu dengan Steve,” kata Larasati sekali lagi.
Setelah berembug satu dengan yang lain, dua pengawal itu pun memutuskan untuk melaporkan apa yang telah terjadi kepada Steve. Pimpinan mereka yang sebenarnya sama saja menyerahkan nyawa mereka, karena Steve tidak akan bisa diganggu jika brada di ruang pesta.
Dengan keringat dingin dan jantung yang berdebar dengan kencang, pada akhirnya londo ireng itu pun datang ke ruang pesta.
Dua pengawal yang ada di pintu masuk bertanya.
“Ada apa?” tanya mereka.
“Ada seseorang di depan yang ingin bertemu dengan Tuan Steve,” katanya kemudian.
“Kau gila ya, kau akan ditembak mati jika kedapatan mengganggu Tuan Steve saat dirinya berada di dalam ruang pesta.” sahut salah seorang pengawal yang membuat londo ireng tadi bergidik ngeri. Namun dirinya tetap harus memberi tahunya. Karena tidak ingin jika perempuan itu membuat kerusuhan. Lihat saja, dengan membuka baju seperti itu, orang-orang akan menyangka jika londo ireng tadi tidak bisa berjaga dengan baik. Dan tuduhan pemerkosaan, jika benar-benar perempuan itu adalah orang penting bagi Steve , maka hukumannya akan jauh lebih berat dari itu.
“Kau tidak tahu jika di depan ada wanita telanjang, dan dia mengancamku jika tidak segera melapor ke Tuan Steve,” kata londo ireng tadi.
“Darimana dia tahu nama pimpinan kita? Bukankah Tuan Steve selalu menyembunyikan identitasnya dari wanita pribumi?” tanya pengawal penjaga pintu pesta itu kembali.
“Ahh, kau selalu bertanya. Biarkan aku masuk. Itu yang menjadi pertanyaan selanjutnya,” kata londo ireng pada akhirnya.
Londo ireng tadi pun masuk ke dalam ruang pesta. Di sana suara alunan musik mnegema di seluruh ruangan. Bau cerutu dan aroma sedap dari parfum mewah petinggi loji tercium semerbak ketika mereka baru masuk ke dalam.
Tidak ada hal yang ingin dicari lagi oleh londo ireng tadi, kecuali Tuan Steve. Matanya mengedarkan ke seluruh penjuru ruangan dan hanya bertemu dengan Nyai Lasipah yang sedang membawa bakul tempat makanan.
“Nyai, kau lihat Tuan Steve tidak? Ada perempuan di depan yang ingin bertemu dngan Tuan Steve,” ujar pengawal itu.
Nyai Lasipah menyengirkan bibirnya. Sebenarnya orang tua itu tidak paham dengan apa yang dikatakan.
“Apa? Tuan Steve meminta perawan?” jawaban lain maah diberikan. Tanggapan yang tidak bisa disambut dengan baik karena miss komunikasi. Londo ireng itu hanya bisa mendengus. Sembari tidak bisa melanjutkan apa yang dikatakannya. Dirinya memukul dahinya pelan.
Nyai Lasipah sebagai bandar perdagangan wanita itu selalu terkenal dengan bagaimana dirinya bersikap binal dengan semua laki-laki yang ditemuinya.
Pada akhirnya, londo ireng tadi langsung membisikkan pesannya di telinga Nyai Lasipah.
“Owalah, ada wanita di depan yang mau bertemu dengan Tuan Steve, ya sudah. Bawa aku ke sana,” ujar Nyai Lasipah pada akhirnya.
Nyai Lasipah dibawa oleh londo ireng tadi. Dan sampailah di depan gerbang dan melihat perempuan yang dadanya masih ditutup dengan daun jati.
“Kau.”
“Nyai?”
Dua orang wanita itu saling tunjuk satu dengan yang lain. Dahi keduanya saling berkerut satu dengan yang lain. Tidak mengerti apa yang harus dilakukan, mereka saling tidak paham.
“Wahh, gundik baru nih. Langsung datang ke ruang singa,” ujar Nyai Lasipah di dalam hatinya. Dirinya sangat senang, karena dapat mendapatkan mangsa baru tanpa harus susah-susah mencari perawan di desa. Nyai Lasipah kenal dengan wajah itu. Itu adalah anak dari Rini. Temannya yang tidak bisa membuatkan kue untuknya malam ini. Mungkin karena masalah ini.
“Ada apa Nduk? Mengapa kau datang kemari? Ke sini sama Nyai,” ujar Nyai Lasipah kepada Larsati.
Larasati dipeluk oleh Nyai Lasipah. Kondisinya sangat mengenaskan. Wajahnya yang pucat membuat Nyai Lasipah meneruskan prasangkanya.
“Nyai tolong bantu aku untuk bertemu dengan Steve,” ujar Larasati.
Nyai Lasipah kembali tersenyum. Dalam hatinya berkata lagi, “ohh, wanita ini yang bisa membuat Tuan Steve menjadi gila. Sungguh, ini adalah hal yang mahal untuk dijadikan uang. Harga yang tinggi akan diberikan oleh Tuan Steve padaku nanti,” ujar Nyai Lasipah.
“Ayo, kuantarkan ke Tuan Steve Nduk,” kata Nyai Lasipah.
Dua londo ireng itu hanya cengar-cengir.
“Apakah aman Nyai?” tanya londo ireng tadi.
“Kau bisa memperosaku jika aku bohong,” ujar Nyai Lasipah meyakinkan.
Nyai Lasipah adalah seorang Nyai yang harganya mahal. Karena memang dirinya sudah sangat terkenal dengan kelihataiannya dalam ranjang. Jika bisa tidur dengannya itu sudha berarti rejeki nomplok.
“Kau ke sini dengan naik apa Nduk?” tanya Nyai Lasipah saat mereka berdua berjalan di lorong-lorong loji.
“Jalan kaki Nyai. Aku jalan kaki,” jawab Larasati.
“Daun jatinya dibuang saja ya, akan dilihat oleh banyak orang nanti jika kamu memakai daun jati sebagai penutup buah dadamu,” saran Nyai Lasipah.
Ketika daun jati itu dibuka. Dua gunung kembar yang masih sangat kencang dan tinggi itu pun membuat Nyai Lasipah menegak air liurnya sendiri. Dirinya sangat tekagum dengan aset yang dimiliki oleh Larasati. Pilihan Tuannya tidak akan salah. Meski tertutup oleh kain sekali pun dirinya akan tahu wanita yang cantik dan tidak.
Nyai Lasipah mengancingkan baju Larasati.
“Susumu besar Nduk, kau beri ramuan apa?” tanya Nyai Lasipah. Larasati tersenyum.
“Tidak. Aku tidak memberikannya ramuan apa pun. Ini sudah keturunan Nyai.” jawab Larasati.
Nyai Lasipah mengerti. Pantas saja dibela sampai babak belur seperti itu. Kulit Sati memang lembut dan halus. Apalagi warnanya yang begitu menggoda. Membuat siapa pun akan terpesona.
Di depan ruang pesta, Larasati ragu, sebenarnya. Namun akhirnya sepakat untuk masuk juga.