“Kau tunggu di sini, aku akan memanggilkan Tuan Steve,” pinta Nyai Lasipah pada Larasati.
Gadis itu hanya diam di tempatnya. Di pojok ruangan berdinding tembok itu. Dirinya mendekam tubuhnya dengan erat. Mengawasi sekelilingnya.
Mata wanita itu menyisir, melihat ke berbagai penjuru ruangan. Semua orang berjubal masuk untuk mendapatkan tempat. Bau cerutu yang sangat tidak disukai oleh Larasati. Menyengat membuat Larasati terbatuk karenanya.
Ruangan yang seolah tanpa cahaya itu bagaimana bisa dihuni oleh banyak orang.
Larasati bukan pertama kali masuk ke sini. Ini adalah yang kedua kalinya.
Tempat terkutuk.
Begitu kata Larastai sebeumnya. Namun kali ini, dirinya yang terkutuk. Berani ke tempat ini dengan seperti seolah siap untuk disergap singa. ini adalah tempat para londo menghabiskan nafsu mereka.
Mata Larasati menyipit tatkala seperti melihat sosok Jumani yang duduk di atas paha seorang pria. Larasati akan mendekat ke Jumani. Namun sesaat kemudian, orang itu hilang di balik desakan orang.
Larasati sampai harus mengucek matanya agar tidak salah jika apa yang dilihatnya tadi adalah benar jika itu adalah sosok Jumani.
Tidak kehilangan akal, langkah Larasati pun langsung bergerak, mengejar sosok yang dirinya yakin itu adalah Jumani.
Di tempat lain, Nyai Lasipah mencari di mana keberadaan Tuannya Steve berada. Wanita itu tanpa lelah mencari petinggi di loji ini. Di ruangan yang biasanya digunakan untuk menghabiskan waktu dengan wanita-wanita sewaan pun tidak ada. Padahal tadi, Tuannya itu benar-benar dilihat oleh Nyai Lasipah masuk langsung dengan lima gundik yang sengaja dipesan lewat Nyai Lasipah.
Dibawa kemana gundik-gundiknya kalau begitu?
Di tempat yang lain, wanita berumur tiga puluh lima tahun itu bertemu dengan Tuannya yang lain. Tuan Nath.
“Tuan Nath, apa kau melihat Tuan Steve?” tanyanya kemudian dengan menepuk punggung laki-laki yang sedang minum anggur sangat banyak itu. Sepertinya kondisinya mendekati pada kata teller.
“Kau bertanya soal Steve? Hah?”
“I-iya Tuan. Saya sedang mencarinya,” ujar Nyai Lasipah dengan penuh ketakutan. Wajah Nath yang begitu garang itu membuat dirinya bergidik takut.
Nyai Lasipah menenangkan dirinya dengan menggigit bibir bawahnya.
“Hei, kau tak sedang merayuku kan? Ohh aku tidak tahu. Anak laki-laki itu dimana lagi kalau bukan ada di balkon. Cari di sana. Dia sedang bersedih. Hu hu hu,” tukas Nath dengan gaya bucaranya yang sudah seperti orang yang mabuk berat.
Nyai Lasipah tidak tinggal diam, dirinya langsung kembali ke tempat di mana Larasati berada. Betapa terkejut saat menyadari anak itu tidak berada di tempatnya.
“Dasar gadis desa. Baru saja ditinggal sebentar sudah ngacir duluan. Lihatlah nanti apa yang aka dilakukan oleh Tuan Steve kepadanya,” ujar Nyai Lasipah dengan menjotos telapak tangannya sendiri.
Matanya mulai menyisir. Dan tidak sampai dua menit, dirinya menemukan sosok Larasati itu berada. Gadis itu akan masuk ke dalam kamar yang biasa digunakan oleh para seradadu membawa tamunya.
“Hei, mengapa kau di sini? Kan sudah aku bilang. Tunggu saja di sana!” bntak Nyai Lasipah yang membuat Larasati setengah kaget. Matanya membelalak dan kedua bahunya terangkat.
“Aku melihat temanku tadi Nyai. Jumani, kau mengenalnya?” tanya Larasati kemudian dengan rautnya yang cemas khawatir.
“Iya. Temanmu. Temanmu ada di sini kemarin. Sama sepertimu saat ini. Dirinya menyerahkan diri kepadaku, sesaat setelah diusir dari rumahnya. Memangnya kenapa?” tanya Nyai Lasipah dengan melihat kuku-kuku yang ada di jarinya. Gelang yang melingkar di pergelengan tangannya pun langsung dibuat seperti seolah disengaja dibunyikan sebagai bentuk kesombongan mempunyai harta sebanyak itu.
“Me-menyerahkan diri maksudnya seperti apa Nyai? Seperti apa?” Larasati mengeluarkan air matanya. Dirinya masih ingat betul apa yang terjadi dengan Jumani hingga keluar dari rumah.
Apa yang dibilang oleh keluarga besarnya itu benar, jika Jumani menjadi gundik di dalam loji ini? Ohh jika itu benar, Larasati akan sangat kecewa atas apa yang dilakukan oeh Jumani. Ini tidak seperti apa yang diperdebatkan dengannya saat menentang sikap Fatonah yang diam saja saat dijodohkan dengan londo.
“Kau tenang saja. Jangan menangis seperti itu. Kau akan sama seperti Jumani nanti. Tinggal menunggu beberapa detik saja,” kata Nyai Lasipah dengan tatapannya yang sulit untuk diartikan.
“Mak-maksud maksud Nyai apa?” suara Larasati terputus-putus. Wanita itu tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Nyai Lasipah.
Tangan Larasati dicekal. Membuat tubuhnya limbung mengikuti kemana arah Nyai Lasipah pergi.
Menyusuri lorong demi lorong. Satu tangga yang terbuat dari kayu. Dan sampailah dirinya di atas tingkat. Bangunan yang cukup indah itu hanya berpagar kayu dengan ukirannya yang begitu menarik. Larasati diperlakukan dengan tidak manusiawi oleh Nyai Lasipah. Wanita itu didorong hingga jatuh di bawah kaki Steve yang sedang melamun.
Laki-laki itu sontak melihat ke arah bawah kakinya. Hanya seorang perempuan yang menangis dengan rambut yang terurai dan acak-acakan. Layaknya hantu gentayangan.
“Kau bawa siapa lagi? Aku sudah tidak butuh gundik mu! Kalau mau bawa gundik lain lagi. Sekali pun perawan ting-ting. Aku tidak akan membutuhkannya. Pergi dan bawa w************n ini! Aku tidak menginginkan tidur dengan siapa pun malam ini!” sergah Steve dengan nadanya yang berapi-api. Tanpa melihat ke arah bawahnya.
“Tu-tuan. Coba dengarkan aku dulu, coba dengarkan!” Nyai Lasipah panik bukan main. Tuan Steve jika marah lebih garang dari singa yang kelaparan. Dirinya bisa dimatikan kali ini juga. Namun jangan dulu, jangan dulu, sampai benar-benar dirinya mendapatkan upah senilai emas beberapa gram dan uang koin yan banyak.
“Aku, hanya ingin sendiri! Kau tak mendengar?” nada Steve naik satu oktaf, membuat Nyai Lasipah tersentak kaget. Pun dengan wanita yang ada di bawahnya yang mulai bangkit dari sungkuran itu.
“Maaf Tuan, tapi Tuan harus benar-benar melihat siapa wanita yang ada di bawah Tuan itu,” ujar Nyai Lasipah.
“Tidak! Aku tidak berselera dengan perempuan saat ini!” kata Steve yang langsung memandang kembali bulan purnama yang terang di angkasa. Tidak menghiraukan kedua wanita yang ada di bawah atau pun yang memandangnya dari jauh dengna perasaan kecewa.
Senyap, angin seolah menyeka suara-suara alam yang ada. Tidak ada kebisingan apa pun yang terdengar.
“Aku akan pergi Steve. Maaf, telah mengecewakanmu.”
Suara bening itu menyahut. Dengan alunan yang begitu merdu. Suara yang kecil dan sangat indah itu. Telinga Steve tidak akan salah dengar.
“Maafkan aku Steve, maafkan aku,” ujar seseorang itu lagi. Membuat mata Steve terpejam beberapa saat. Sebelum akhirnya kembali terbuka dan melotot.
“Siapa kau?” tanya Steve dengan nada amarahnya. Kedua tangannya mengepal. Rahangnya menegas.
Dirinya tidak ingin dipermainkan saat ini. Cukuplah kemarin rasa belati itu seakan menyayat hatinya dengan berulang kali. Sekali-kali jangan lagi. Dirinya tidak akan sanggup menerimanya lagi.
Suara yang sama. Suara yang dirinya dengar beberapa saat lalu yang mengatakan jika tidak mencintai laki-laki itu.
“Siapa lagi kalau bukan perempuan yang membuatmu luka.”
Suara Larasati mengalun. Diam sejenak kembali. Tidak ada sahutan dari siapa pun.
“Aku Larasati. Seorang wanita yang sering kau sebut dengan panggilan Ara,”
Larasati duduk dengan berlutut. Wajahnya datar menghadap e arah tembok. Membelakangi Steve yang melihat ke arah bulan purnama.
Air mata Steve tiba-tiba terjatuh. Semarah apa pun dirinya saat ini. Tidak bisa terbendung jika dirinya sedang bersedih dengan apa yang terjadi pada hatinya.
Hatinya yang telah diremukkan oleh gadis desa bernama Larasati. Hanya satu nama, L a r a s a t i. gadis yang dipanggil dengan sebutan Ara, yang selalu membuat lara hatinya.