“Pergilah Nyai. Opahmu ada pada asistenku,” titah Steve yang tidak ingin diganggu keprivasiannya.
Derap langkah kaki Nyai Lasipah pun perlahan pergi. Menyisakan dua orang yang saat ini saling tangis menangis.
“Untuk apa kau ke sini?” tanya Steve seketika. Setelah membangunkan tubuh Larasati agar berdiri sejajar dengannya. Steve kembali membelakangi wanita itu.
Air mata yang tumpah ruah di kelopak mata Larasati itu menjadi tanda, jika dirinya sangat bersedih saat ini.
Larasati memeluk tubuh Steve dari belakang. Sangat erat. Seakan tidak ingin lepas dari pelukan itu. Steve hanya melihat tangan yang melingkar di pinggangnya. Tangan kecil yang tak seharusnya menanggung semua beban cintanya sendirian.
Steve mengaku salah. Gadis itu tak pantas untuk dijadikan satu-satunya hal pelampiasan amarahnya saat ini. Ohh, hati Steve masih terluka. Mengapa harus ada Larasati yang datang hanya untuk menambah luka.
“Kau sudah punya suami, tidak baik jika mendatangi laki-laki sepertiku,” sambung Steve. Air matanya disembunyikan segera saat akan keluar. Mencoba terlihat tegar meski hatinya rapuh.
Steve mangambil satu gelas wine yang terdapat di badug, tempat yang ada di atas pagar. Larasati menyudahi isaknya. Meski masih bisa dirasakan oleh Steve bagaimana napas gadis itu masih kembang kempis.
“Ini adalah tentang diriku dan perasaanku Steve. Aku tidak bisa hidup dengan orang yang sama skali tidak aku cintai. Mendiamkan perasaan seseorang terlalu lama membuatku semakin yakin jika aku salah dalam mengambil langkah. Kau yang ada di hatiku, kaulah yang aku cintai.”
Air mata Steve lolos kembali. Dengan gerakannya yang spontan, laki-laki itu langsung sigap menghadap kepada Larasati yang berada di belakangnya. Memandang wajah yang seolah bak purnama itu. Sama-sama memberkan keterangan kepada hati dan segenap perasaannya.
Perasaan Steve pun menghangat sejenak. Dengan gerakan spontannya, laki-laki itu langsung memeluk perempuan yang ada di depannya. Mencurahkan rasa kasih dan sayangnya yang begitu tulus.
Mendekap perempuan yang selama ini dirinya ingin dekap. Tak peduli bagaimana perasaan Larasati, yang jelas wanita itu sudah menyrahkan diri kepadanya. Otomastis sudah menjadi haknya untuk memiliki sepenuhnya perempuan itu.
“Aku sangat merindukanmu, mooi meisje,” ujar Steve dengan nadanya yang lirih.
“Aku juga merindukanmu Steve,” sahut Larasati.
Mereka berdua dalam pelukan yang sangat erat. Saling melepaskan rasa rindu yang ada di dalam hati mereka masing-masing.
LARASATI POV
Rindu itu telah terlebur. Bersama perasaanku yang terbenam di balik pelukan yang sangat menghangatkan itu. Tidak bisa dipungkiri jika euforia dalam tubuhku seakan menari-nari. Merasakan hangat pelukan dari seseorang yang memiliki tubuh tegap dan gagah itu. d**a Steve keras bak batu. Namun aku sangat suka dengan hal itu. Perasaanku menghangat, sama dengan tubuhku yang tiba-tiba diselimuti olehnya sebuah jas yang mewah.
Pandangan laki-laki itu tak lepas dari wajahku. Sangat mendamba dan penuh dengan kasih sayang. Sama seperti sebelum-belumnya.
Aku lalu memegang janggutnya. Menyusuri dan menjelajahi seluruh bagian pipinya. Lalu jemariku berjalan ke rahang dan ke belakang telinganya, di belakang lehernya aku mengusap dimana kedua jari jemari tanganku saling berpautan hendak memeluknya. Sikuku kini berada di atas pundaknya, di mana kakiku harus berjinjit untuk dapat setara dengan Steve.
Kurasakan hembus napas pria itu yang memburu, semerbak aroma parfumnya yang sangat candu itu membuat mataku terpejam merasakannya masuk ke dalam rongga-rongga organ pernapasanku. Memenuhi kalbuku yang telah rindu oleh seluruh cintanya yang ada.
“Bolehkan aku mencium bibirmu?” tanyanya kemudian. Aku mengangguk dengan tatapan yang malu-malu.
Malam itu, di antara cahaya bulan purnama yang merekah indah di balik awan malam, Steve memberikan kecupan kecil di atas bibirku.
“Kau suka?” tanyanya. Aku pun mengangguk. Aku candu dengan kecupan itu.
Steve mendekatkan kepalanya kembali. Mengikis jarak yang ada. Kali ini satu sentakan membuat tubuhku tiba-tiba langsung digendong dari depan tubuhnya. Aku tak bisa menolak bagaimana bibirnya yang merah muda itu langsung didekatkan kepada bibirku. Kali ini cukup lama.
Steve melumat bibirku dengan rakus. Seolah dirinya lapar dengan diriku ini. Ciumannya semakin dalam dan aku mabuk dibuatnya. Tanganku masih menjelajahi area jambangnya yang tercukur rapi, terasa kasar, dengan seikit rasa geli.
Mata kami masih saling bertemu. Menginginkan waktu agar tidak berjalan dengan cepat. Napas kami saling berpautan, di sana ada sebuah hasrat yang saling menggoda satu dengan yang lainnya.
Steve melepaskan ciumannya. Wajahnya sedikit menjauh dari wajahku. Aku pun melepas pelukanku darinya, dengan cepat aku mengecup pipi kirinya.
Wajah Steve memerah. Dia tersenyum dengan rautnya yang tak ada banding cerahnya.
Namun, tiada kusadari. Rasanya tubuhku akan ambruk. Aku tidak mampu membawa tubuhku terlalu lama, yang empat hari tanpa makan dan minum apa pun.
aku tergolek lemas di atas pangkuan Steve. Yang berteriak memanggil namaku dengan suaranya yang kencang.
***
“Aku a da di mana ini?” tanyaku sesaat menyadari jika aku membuka mata tidak berada di atas ranjangku. Kasur yang empuk dan bantal yang lembut dari bulu angsa.
Bau klonyo menyengat indera penciumanku, membuatku tersadar.
“Bagaimana kondisi tubuhnya Dok?” tanya Steve dengan nadanya yang terdengar sangat khawatir. Aku tidak bisa menyangkal jika itu suara Steve.
Rasanya seperti di dalam mimpi saja. Namun aku selalu yakin jika ini adalah kebenaran. Aku berada di dekat Steve. Kekasihku.
“Dia hanya lemas kekurangan tenaga. Kau tak usah khawatir. Berilah makan dan minum yang cukup, pasti tenaganya akan pulih kembali,” kudengar kembali sayup-sayup suara orang menjelaskan.
Lalu orang dengan kepala botak itu pergi, menjauh dari Steve.
“Aku akan panggilkan jongos untuk membawa makanan ke sini,” katanya kemudian.
Aku hanya diam. Merasakan pening yang begitu hebat di kepalaku. Rasanya perutku mau pecah. Aku tidak menyangkal jika aku senekat ini.
“Kau akan memakannya sampai habis kan Ara?” Steve membawa sebuah piring dengan makanan yang tertumpuk di atasnya.
Sedikit demi sedikit, tangannya yang lembut itu menyuapiku dengan suapan yang penuh dengan rasa cinta. Matanya sendu menatapku dengan perasaan, dirautnya ada rasa cemas yang tidak bisa dielakkan oleh apa pun.
“Kau mengapa terus menatapku Ara?” tanyanya kemudian.
Air mataku mencelos, “aku mencintaimu Steve. Sungguh mencintaimu,” kataku kemudian.
Steve menaruh piring yang ada di tangannya ke atas nakas yang ada di samping ranjang.
Tangannya memulai membelai rambutku. Jemarinya menyisir air mata yang membasah di pipiku.
Sebuah kecupan singkat, diberikan kepadaku. Aku semakin terisak, dan Steve memelukku dengan begitu erat.
“Kau akan hidup bersamaku selamanya. Berjanjilah tidak akan pergi dariku. Kemnaa pun dan sampai kapan pun Ara,” katanya dengan nada sendu.
“Aku akan berjanji kepadamu Steve.”