MOHON BIJAK MEMILIH TULISAN
Steve mondar-mandir, memberi waktu yang cukup supaya Larasati mempersiapkan diri, lalu menandaskan dua gelas wiski dalam waktu singkat.
Ketakutannya tidak beralasan, Steve tahu itu, namun ia tidak bisa melepaskan diri dari cengkeraman ketakutan itu. Ia sudah pernah meniduri wanita. Ada banyak wanita di dunia ini yang setidaknya tampak menikmati ketegasan seorang pria atau berbagai kecenderungan tidak lazim. Namun tak satu pun dari wanita itu seorang lady, tak satu pun dari mereka gadis polos, tak satu pun dari mereka debutan sopan.
Steve melepaskan jas dan cravat, lalu rompinya. Ia menarik kemeja dari celana panjang. Ketakutan akan menyakiti kekasihnya, bahwa gairahnya membutakan tindakannya, membuat Steve menderita. Namun itu harus dilakukan. Setidaknya adalah penghargaan terhadap dirinya sendiri yang telah lelah berusaha untuk mendapatkan pangkatnya yang sekarang.
Steve menyusuri koridor menuju kamarnya, dan mengetuk pintu kamarnya itu dua kali, menahan desakan untuk mengetuk lima kali lagi, dan dengan tiba-tibe membuka pintu.
Larasati menundukkan kepalanya. Wajahnya tidak berani menatap Steve. Ia malu dengan pakaian yang telah diberikan oleh lelaki itu kepadanya.
“Angkat kepalamu? Ada apa? Kau malu?” tanya Steve dengan menarik dagu wanitanya. Membuat mata hitam kecokelatan itu masuk ke dalam pandangannya yang dalam.
Larasati melangkah. Dirinya berdiri di kaki tempat tidur. Dia menggerai rambut yang panjangnya sampai ke b****g dalam gelombang sutra keemasan. Dia memakai jubah sutra berwarna putih dan emas, dan Steve langsung dicengkeram bayangan bagaimana penampilan Larasati di balik jubah itu--tangan dan kaki yang panjang serta ramping, p******a yang penuh.
Steve memperhatikan d**a Larasati yang naik turun dalam setiap tarikan napasnya, kelihatannya wanita itu gugup.
Steve menutup pintu dan memutar anak kunci. Awalnya ia tidak bicara banyak, yakin suaranya akan menampakkan gairah yang sudah berkobar di dalam dirinya. Bagaimana ia bisa menahannya? Tatapan Steve menyusuri tubuh Larasai, bentuk tubuh wanita, sasaran dari hasratnya yang meledak-ledak. Larasati wanita yang cantik, sangat cantik, dan lekuk-lekuk wanita ini, tubuh wanita ini, hanya milik Steve seorang.
Sebaiknya Steve menyelesaikan ini lebih cepat daripada berlama-lama--bermain-main berarti kehilangan pengendalian diri.
“Lepaskan jubah tidurmu!” ujarnya.
“Apa?”
Steve melambaikan tangan pada jubah tidur Larasati.
“Lepaskan itu.”
Larasati tidak melepaskan jubah tidurnya. Dia bersedekap.
Domba yang akan dijagal, begitulah Larasati mengiranya. Steve memusatkan pandangan pada tubuh Larasati, meraih ujung tali pinggang yang menahan jubah wanita dan menariknya.
Sejenak Larasati memejamkan mata, seolah ini peristiwa yang paling dia takutkan. Walau begitu yang bisa Steve pikirkan adalah bagaimana bulu mata wanita itu akan menutup dalam puncak kenikmatan.
Tidak. Tak peduli kejadian apa pun yang membuat mereka sekarang berada di sini, Larasati gadis polos, dan Steve b******n. Mendadak Steve memegang siku Stella dan memutar tubuh wanita itu supaya memunggunginya. Ia meluncurkan tangan di sekeliling pinggang Larasati dan menunduk, menyentuh bibir ke leher Larasati. Kulit Larasati lembut dan harum; gairah Steve seolah merembes ke pembuluh darahnya dan mulai mengaliri tubuhnya dalam aliran kuat.
Tubuh wanitanya kaku,; Steve mengeraskan pegangan dan menurunkan bibir ke titik tempat leher Larasati melekuk ke bahu. Ia menggigit ringan kulit yang kencang. Merasakan aliran gairah dalam dirinya menyebar dan semakin besar, berpusar di bagian tengah tubuhnya.
Sensasi itu menyiksa. Steve kembali memutar tubuh Larasati, bibirnya menemukan bibir Larasati. Bibir itu lembut, lembap, dan Steve teringat malam itu di jendela rumah milik Larasati. Bagaimana rasa wanita itu dalam pelukannya, bagaimana ia jatuh begitu cepat, tak mampu mengumpulkan kekuatan ketika ia tergelincir dan meluncur ke lubang gairah.
Hasrat Steve mengancam menelan dirinya seutuhnya--Larasati begitu lembut. Steve menangkup wajah Larasati, dan menggoda bibir wanita itu dengan lidahnya agar terbuka. Ketegangan di tubuh polos Larasati mulai menghilang.
Steve memperdalam ciuman, tubuhnya menginginkan lebih, menginginkan semua, dan pikirannya memberi perlawanan. Namun ketika wanitanya mulai membalas ciumannya. Steve merasa pegangan lemahnya pada pengendalian diri mulai lepas. Gairahnya mulai naik ke permukaan. Ia ingin mengoyak gaun Larasati, menelantangkannya di tempat tidur, dan menyatukan tubuh mereka.
Steve meluncurkan tangan menuruni bagian samping tubuh Larasati, ke pinggul Larasati, menekankan wanita itu ke tubuhnya sendiri. Larasati mencoba menjauhkan diri, namun Steve menarik kembali Larasati ke tubuhnya, membuat wanita itu merasakan bukti gairahnya. Merasakan apa yang sudah ia lepaskan.
Larasati mulai menggeliat gelisah.
Apa ia menyakiti Larasati? Steve harus melakukannya dengan cepat. Menyelesaikanya dngan segera sebelum menghancurkan mereka berdua. Ia menurunkan jubah tidur Larasati dari bahu telanjang wnaita itu, tapi Larasati mencengkeram jubahnya, berusaha keras mempertahankan jubah utu di tubuh telanjangnya.
Jubah itu tidak akan menghentikan Steve. Dengan satu tangan di sekeliling pinggang Larasati, Steve mengangkat tubuh Larasati dan memberingkan wanita itu di tempat tidur. Ia merangkak di atas Larasati dan menatap wanita itu.
Larasati takut pada Steve, bahkan mungkin membencinya, tapi kebencian wanita itu tidak akan sebesar kebencian Steve pada diri sendiri. Steve membuka kancing celana panjangnya. Larasati terkesiap dan memalingkan wajah, rambutnya jatuh di depan mata dan menutupi pandangannya.
“Tenanglah,” kata Steve. Ia tidak tahu cara menenangkan perawan. Ia hanya tau cara membangkitkan gairah wanita. Larasati mencengkeram erat jubah tidur ke tubuh, napasnya pendek-pendek seolah paru-parunya penuh. Dan hasrat Steve seolah berdenyut di dalam dirinya.
Tapi kaki Larasati tegang dan gemetar di sekeliling tubuh Steve. “Tenanglah,” ia kembali berkata.
“Aku tidak ingin menyakitimu.”
Bagaimana cara memberi perintah pada gadis polos? Steve bisa merasa otot-ototnya menegang, tubuhnya tersiksa karena menahan diri. Ia mencoba mulai menyatukan tubuh mereka.
Larasati terkesiap.
Setiap otot tubuh Steve menegang, berkontraksi, mengendalikan gairahnya. Ia berusaha bergerak pelan. Namun tanpa bantuan Larasati, mustahil melakukannya. Steve kembali bergerak dan menyadari wanita itu masih perawan.
Selaput dara Larasati sobek dan membuat darah yang ada di sana keluar membanjiri sprai.
Larasati jujur pada Steve. Tidak ada kebohongan.
Steve mencengkeram sprai di kedua sisi tubuh Larasati. Ototnya menegang kemudian ia menyatukan tubuh mereka sepenuhnya.
Istrinya terkesiap pelan. Steve menggertakkan gigi dan mendesak lebih dalam, menarik diri, lalu kembali mendesak perlahan supaya tidak menyakiti atau menakuti Larasati. Itu usaha menyiksa, kecemasan akan menyakiti Larasati dan pengekangan gerkan menjauhkan Steve dari kenikmatan apa pun. Namun ketika hampir mencapai pelepasan, ia mulai mempercepat irama percintaan, ingin menyelesaikannya.
Ketika pelepasan yang sudah lama ia nanti akhirnya datang, dengan cepat Steve menarik diri. Ia sangat menyadari Larasati tidak mendapat kenikmatan. Ia tahu tidak ada yang bisa menjadi jembatan di antara gairahnya yang begitu kuat dengan memberi kenikmatan pada Larasati yang masih perawan.
Steve jijik pada diri sendiri karena tidak tahu cara mudah mengenalkan Larasati pada percintaan.
Steve berdiri. Ia mengamati Larasati berguling ke samping, menarik jubah tidurnya erat ke sekeliling tubuh, menutupi diri. Rambut Larasati masih menutupi pandangan wanita itu darinya.
Steve mengancingkan celana panjangnya.
“Apa kau butuh sesuatu mooi meisj?” tanyanya tidak yakin.
Larasati tak menyahut. Dirinya diam dalam napasnya yang masih terlihat tidak stabil. Air matanya turun seirama dengan detak jantungnya yang berdegub dengan keras.
Wanita itu tidak menyangka jika dirinya telah melakukan perbuatan itu kepada Steve. Keperawanannya yang seharusnya dimiliki oleh orang lain. Kali ini dirinya serahkan kepada Steve.
Cuma-cuma. Tanpa bayar.
“Tinggalkan aku.”
Steve mulai memaki dirinya sendiri saat itu juga. Ia sudah melakukan yang ia takutkan dan ia sudah menyakiti Larasati.