Surat Kepergian

1026 Kata
Untuk Mas Sholeh. Dari Larasati. Assalamualaikum Mas. Ini aku Larasati. Mas, aku tidak tahu, ketika Mas buka surat ini, apakah sedang mencariku atau tidak. Kalau pun iya, mulai saat ini jangan diteruskan ya Mas cari aku. Karena Sati sudah tidak ingin dicari oleh siapa pun. Sati hanya ingin hidup dengan tenang. Mas, maafkan Sati. Yang kalah dalam perasaan ini adalah diriku. Aku tak bisa membohongi, jika aku tidak bisa belajar jatuh cinta kepada Mas Sholeh. Andai Mas Sholeh tahu. Mengawali perasaan cinta dan kasih kepada seseorang, sembari menghilangkan perasaan kepada orang lain adalah hal yang sangat luar biasa sakitnya. Tidak mampu diriku seperti wanita lain yang mampu menduakan rasa cintanya kepada orang lain, untuk berbaikti kepada suaminya. Aku adalah istri yang durhaka, yang sebenarnya pantas untuk Mas sakiti. Mas Sholeh, hati wanita itu mudah rapuh. Mudah untuk menangis, mudah untuk terjebak dalam cinta yang bahkan sebenarnya hanya sekadar ilusi. Aku tidak tahu, saat ini aku sedang terjebak di cinta yang mana, di cinta yang suci atau hanya cinta yan bermodal dusta. Satu hal yang Mas harus tahu, memendam perasaan sendiri adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Barang kali aku sudah menyerah dengan semua itu. Empat hari adalah waktu yang cukup berat. Mengingat tiada sebutir nasi pun yang sampai ke perutku, atau setetes air minum pun yang membasahi kerongkonganku. Aku bisa mati dibunuh oleh perasaan cinta yang tak terbalas. Mas, aku adalah wanita yang jahat, yang sebenarnya tidak pantas untuk mendapatkan dirimu. Karena aku yakin, pasti ada seseorang yang lebih berhak mendapatkanmu. Wanita baik yang sesuai dengan apa yang Mas Shleh inginkan. Kepergianku ke sebuah tempat bukan karena aku benci dengan Mas Sholeh. Sama sekali bukan. Aku pergi hanya ingin hidup dengan damai dan memperjuangkan cinta yang seharusnya tidak butuh diperjuangkan. Entahlah, aku tidak bisa berjanji untuk kembali. Akan tetapi, aku akan berjanji untuk senantiasa menyimpan nama Mas di otakku. Di sana nama Mas akan menjadi nama pertama sebagai laki-laki terbaik yang pernah aku kenal. Karena keberanian Mas Sholeh dalam memperjuangkan cinta. Sudah Mas, jangan bersedih atas kepergianku. Kita adalah dua raga yang tidak bisa disatukan dengan cinta. Yogyakarta, 18 Agustus 1893 Malam itu, Sholeh baru pulang ke rumah, setelah sehari bekerja di sawah. Panen raya membuatnya harus pulang lebih larut. Namun, hal yang mencengangkan pun terjadi, tatkala tidak ada serorang pun tahu kemana kah perginya Larasati. Wanita yang empat hari lalu berstatus menjadi istrinya. Bingung, sedih, cemas, kecewa. Seolah menjadi satu di dalam diri Sholeh saat ini. Bagaimana pun keaaan Larasati adalah tanggung jawabnya sebagai suaminya. Tidak akan mungkin dirinya pergi begitu saja tanpa sebuah alasan suatu apa pun. Kepergian seseorang yang sangat dirinya cintai itu, akan menjadi tanda tanya besar untuk seluruh warga kampung yang melihat bagaimana kisah cinta itu sampai di pelaminan. Malu sudah pasti. Bukan hanya malu saat ini yang mendominasi. Rasa marahnya pun tidak lebih kecil dari rasa malunya. Marah karena tidak bisa membimbing istri yang baru dirinya nikahi. Marah karena rumah tangga awalnya yang belum terlaksanna seperti yang terpanjat dalam doa-doa. Sakinah, mawaddah, rahmah, wa barakah. Seakan menjadi angin lalu yang tidak ada artinya sama sekali. Sholeh terpuruk dengan keadaan suasana hatinya yang gamang sekaligus bimbang. Kemanakah cintanya akan dibawa pergi, jika seseorang yang dicintainya pergi,hilang begitu saja di balik pernikahan yang masih beraroma madu. Kertas yang ada di tangan laki-laki itu pun perlahan jatuh. Pun dengan tubuh laki-laki itu yang kurus kering. Ambruk di atas tanah. Tidak mempercayai apa yang akan terjadi. Isak Uminya yang berada di belakang laki-laki itu membuat hatinya menjadi lebih haru. Meski dua tangan lembut itu tampak menenangkan dengan mengelus lembut kedua bahu Sholeh. Tetap saja, hatinya terluka, lebih dari sebelumnya. Awalnya, yang dikira pernikahan adalah salah satu hal yang dapat digunakan untuk sebagai tameng itu, ternyata lupus juga dengan perasaan cinta yang ikut membuncah dan menghancurkan tameng berlandaskan agama. Nyatanya manusia mudah dibutakan oleh perasaan. “Yang sabar Le, yang sabar. Gusti Allah nggak akan tidur. Pasti akan ada jalan terbaik untuk hubungan kalian nanti,” ujar Umi Sholeh dengan nadanya yang lembut. Isaknya masih terdengar dengan jelas. Sholeh lalu duduk di atas ranjang yang baru empat hari lalu ada sosok yang menghuni di pinggir dinding kayu jati itu. Meski tanpa suara dan tanpa gerak, Sholeh selalu ingin jika perempuan itu bisa lebih lama di kamar tidurnya. “Tapi Umi, kau tak lihat apa yang saat ini diperbuat oleh istriku? Dia pergi. Dia pergi untuk mengejar laki-laki lain. Dimana harkat martabatku sebagai laki-laki?” Sholeh mencengkeram sura itu. Kepalanya menunduk dan hanya bisa untuk menaan gejolak emosinya dengan mengambi napas dengan lebih teratur. “Istighfar Le, istighfar. Jodoh, mati , rezeki sudah ada yang mengatur. Kau tak perlu bersedih atas takarannya. Kau tak perlu berlarit dalam kecewa karena dibuat satu perempuan.” “Umi tidak tau kalau Sati itu cinta pertama Sholeh? Bukankah dia wanita sempurna buat Umi yang bisa dijadikan menantu? Buat Sholeh juga begitu. Larasati adalah satusatunya wanita yang memiliki perasaan yang lembut. Hatinya bersih. Pikirannya cerdas. Wanita yang kuat dan bisa membawa apa pun di bahunya. Wanita penurut dengan orang tua. Aku hanya tidak habis pikir dengan londo itu. Apa yang diperbuat olehnya, hingga berani menculik istriku yang polos itu. Aku tak tahu Umi. Sungguh anak laki-laki mu ini sedang kesuliran mencari jalan keluarnya.” Air mata Sholeh pun luluh juga. Di atas kertas yang digunakan oleh Larasati untuk menulis surat itu, terlihat basah air mata yang mmenuhi di sana. Tidak ada hal yang membuatnya bisa bersedih seperti ini, kecuali Larasati kekasih hatinya yang saat ini pergi. “Aku akan pergi menemui londo itu! Membuatnya mati sekali pun. Aku tidak perduli!” mata Sholeh menyalang dengan amarah yang ada di dalam hatinya yang meledak-ledak. “Le, tole jangan bertindak gegabah. Bukan kau yang akan membunuh dia, kaulah yang bisa mati dibunuh olehnya. Berpikirlah dengan cara yang cerdas. Tak perlu dengan menggunakan emosi. Tugasmu hanya mengusir dirinya dari tanah ini. Bukan membunuhnya. Manusia di dunia ini punya tempat masing-masing. Kau punya cinta dan labuhan hati masing-masing. Tidak perlu untuk saling membunuh dan benci satu sama lain. Jika Larasati adalah jodohmu, maka perempuan itu tidak akan pergi darimu. Yakinlah, Umi selalu memberikan restu untukmu di mana pun dan kapan pun kamu berada.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN