Di rumah Larasati, Ibu Larasati hanya bisa menangis setiap hari. Semenjak kepergian suaminya bersama londo-londo biadab itu, tidak bisa dirinya untuk sedetik saja melupakan bagaimana dirinya bisa kehilangan suami yang dirinya sayang karena sangkut paut masalah dengan londo-londo biadab itu. Ibu Larasati tidak menyangka, jika permasalahan antara anak gadisnya itu dengan salah satu serdadu, membuat permasalahan yang lebih sulit dari apa yang Ibu Sati bayangkan.
Anak laki-lakinya yang kakinya dipatahkan oleh serdadu itu. Saat ini hanya bisa untuk berbaring di atas ranjang. Dengan wajah yang bonyok dan dengan beberapa perban itu. Laki-laki yang awalnya tampak gagah berani, kali ini hanya bisa diam dan merasakan sakit tidak bisa melakukan perlawanan apa pun.
Kondisi keluarga ini yang sudah kehilangan anak perempuannya, sama seperti kehilangan salah satu roda dalam keluarga. Larasati yang perannya ketika prgi ke rumah mertuanya diganti oleh Subekan. Kali ini harus rela, jika roda itu tidak berputar dan diganti dengan orang lain.
Mbah Lasipah. Ibu dari Ibu Larasati yang usianya hampir seabad. Perempuan itu yang tampak lebih tegar dari pada yang lain. Dan di usia senjanya. Mau tidak mau dirinya harus merawat anak dan cucunya yangbisa terbaring lemah.
“Le, kau makan ya. Biar Mbah yang dulang,” ujar Mbah Saripah dengan nadanya yang sangat lemah.
Subekan hanya melihat atap-atap rumah. Pandangannya dalam dan tampak kosong. Teringat beberapa tahun yang lalu saat dirinya dengan Larasati yang saling berkerjaran di tegal milik mereka.
“Sati! Elek. Koyo tekek. Gawene mewek. Kecepit kelek. Ra iso melek. Sampek tuwek” ejek Subekan pada adiknya yang hanya bisa duduk di bawah pohon ketela.
Larasati mengerucutkan bibirnya ke depan. Sedang Subekan tertawa dengan keras. Anak perempuan itu lalu menaruh bonekanya di samping dirinya duduk. Dan berlari mengejar kakak laki-lakinya yang tadi mengejeknya.
“Sati! Elek. Koyo tekek. Gawene mewek. Kecepit kelek. Ra iso melek. Sampek tuwek” begitu terus. Diulang-ulang. Laki-laki yang bernama Subekan itu terus saja meledeki adiknya hingga Larasati menyerah dan duduk di atas galengan. Galengan adalah istilah tengah sawah atau pematang sawah.
”Bapak. Lihat Mas Subekan selalu mengejek Sati. Sati nggak suka. Dibilang Sati jelek, seperti tokek, sukanya menangis. Terjepit ketiak, nggak bisa buka mata, sampai tua. Huwaaa. Sati kan nggak jelek,” teriak Sati kepada Bapaknya yang masih belum rampung saat menggarap tegal itu.
Bapak Larasati yang mendengar anak perempuannya menangis itu langsung datang dan menjewer telinga Subekan. Tentu saja anak laki-laki nakal itu harus mendapatkan hukuman, karena telah membuat adiknya menangis.
Larasati yang melihat kakak laki-lakinya dijewer seperti itu pun terkekeh tertawa.
“Awas kau Sati!” ancam Subekan kepada Larasati kembali. Membuat Larasati kembali menangis dengan tangisannya yang lebih kencang.
“Subekan. Jangan buat adikmu menangis. Buat apa kamu ajak Sati ke sini, kalau kamu membuatnya menangis. Besokbesok Sati Bapak larang ke tegal. Biar nggak ada yang menangis. Sebagai hukuman, kau ikut aku lagi untuk memberi jagung. Tdak ada kata istirahat!” pinta Bapak Larasati.
Memberikan hukuman kepada anaknya yang telah melanggar aturan. Sebenarnya Subekan diberikan waktu untuk istirahat dari pekerjaannya yang membantu memberikan jagung di setelah Bapaknya yang bagian menyaju. Atau kegiatan menancapkan kayu panjang ke tanah untuk ditanami jagung setelah dicabut. Namun, kesempatan yang diberikan oleh Bapak alah disia siakan oleh Ms Subekan. Anak lakil-laki yang sangat usil kepada adiknya itu lebih memilih untuk usil daripada yang hanya diam saja.
Diam saja saat bersama dengan adik perempuan adalah hal yang sangat membosankan.
Sati yang ada di galengan tegal itu pun melihat kakaknya dari jauh. Peluh keringat yang keluar membuat Sati tidak tega. Melihat kakaknya yang dihukum karena berbuat salah.
Sati pun melihat ke kiri dan ke kanan. Tidak ada apa pun yang bisa diberikan. Kecuali, sebuah dot sederhana yang berisikan teh di tangan Larasati. Mungkin itu bisa membantu kakaknya untuk melepas dahaga.
Akhirnya. Dengan langkah kecil anak berusia tiga tahun itu, mendekati Subekan dengan langkahnya yang kecil. Tepat saat di belakang kakaknya, Sati langsung memberikan dot itu kepadanya.
“Buat apa kau ke sini hah?” tanya Subekan dengan nadanya yang masih menyiratkan kemarahan. Tidak dipungkiri, karena Larasati dirinya bisa mendapatkan hukuman lagi.
“Tole?” ujar Bapak Sati yang membuat Subekan langsung memperbaiki sikapnya.
“Iya Dek. Ada apa adk sayang?” tanya Subekan kembali dengan nada yang sangat lebih lembut. Membuat Larasati tersenyum.
“Ini buat Mas,” Sati memberikan dot yang ada di genggamannya untuk kakak lakilakinya. Subekan tidak menyahut. Namun saat melihat wajah memelas di wajah Sati. Pada akhirnya tangan Subekan terulur untuk menerima uluran tangan itu. Subekan menerima dot itu.
“Biar nggak haus. Kan tadi Mas belum minum,” kata Larasati dengan senyuman kembali.
Subekan dengan ragu menerima dot itu. Menilik wajah Bapaknya yang seperti enyuruh dirinya untuk segera meminum. Barang kali untuk berpura-pura. Bagaimana mungkin di usianya yang sudah mendekati angka sepuluh tahun dirinya masih meminum dot. Sudah pasti dirinya akan malu.
Subekan meminum minuman itu sedikit, lalu memberikannya kepada Larasati kembali.
“BSana, sana. Pergi kau dari sini. Jangan ganggu aku!” usir Subekan kepada adiknya. Jam spertinya sudah mendekati jam dua belas. Dan adzan Dhuhur akan segera berkumandang. Artinya, matahari akan bersinar tepat di atas kepala mereka.
“Kata Bapak, kita harus bilang terima kasih buat orang yang sudah memberi kita sesuatu. Kalau nggak bilang terima kasih. Itu tandanya sombong dan orang sombong akan mudah masuk neraka. Karena sombong itu sifatnya setan, bukan sifatnya manusia. Mengerti?” ujar Sati dengan panjang lebar.
Anak kecil itu sangat pintar menirukan apa yang dirinya dengar dari orang lain. Karna kecerdasan itulah sejak kecil Larasati banyak yang suka. Terakhir, dirinya sampai diciumi oleh salah seorang keturunan kraton yang sedang berbelanja di pasar. Karena terkagum dengan kemahiran komunikasi Larasati.
“Iya. Larasati ayu, koyo yuyu, gawene mblayu, kecepit kayu ra iso mlayu. Terima kasih adik sayangku yang cantik.” ujar Subekan dengan nadanya yang seolah kembali mengejek. Membuat Larasati kembali menangis dengan tersedu.
(Larasati cantik, seperi yuyu, suka berlari, terjepit kayu, tidak bisa berlari)
Dengan segera. Bapak Larasati yang sudah capek dan lelah itu menyahut kaleng yang ada di tangan anak laki-lakinya dan memukulkan kaleng itu di atas kepala anaknya. Menimbulkan bunyi yang cukup nyaring. Meredakan tangis Larasati dan membuat tangis yang lain.
Tangis dari seorang anak laki-laki yang kepalanya bocor terkena ujung dari kaleng yang berisi jagung itu. Jagung yang ada di dalamnya kocar kacir. Larasati yang melihat kakak laki-lakinya menangis, ikut menangis lebih keras.