Di Dalam Penjara

1072 Kata
“Le, kok ngelamun terus. Ada apa? Apa yang kamu lamunin itu?melamun, ngelamun itu pikiran kosong. Pikiran kosong, bisa buat setan dan iblis masuk lebih cepet, dekatkan hatimu pada Gusti Allah. Kamu akan mendapatkan ketenangan batin,” nasihat Mbah Saripah kepada cucunya. Teh hangat dihidangkan dengan pisang rebus. Mbah Saripah lalu mengambil wudlu, mengambil mukena untuk sholat. Wanita tua itu menilik melihat cucunya yang duduk terbaring di atas ranjang, dan anaknya yang hanya menangis di meja makan. Tidak ada yang bisa sekuat baja, ketika hati kita sudah tidak mampu menanggung segala hal yang sangat berat di dunia ini. *** Di dalam penjara bawah tanah, Bapak Larasati yang bernama Basyir itu hanya diam. Duduk dengan sebuah tasbih yang ada di tangannya. Hatinya meminta perlindungan kepada yang maha hidup. Dirinya, diri anaknya, diri istrinya yang saat ini berada jauh dari laki-laki itu. Hari Kamis malam yang seolah tiada suara. Hanya suara jangkrik di penjara bawah tanah saja yang bisa dirinya dengar. Dengan suara sahut-sahut kodok. Di dalam penjara itu ada banyak hal yang tidak bisa di tempat lain. Bapak Larastai mendengar adzan. Hari ini dirinya puasa di dalam penjara. Lagi-lagi puasa. Entahlah, sepertinya memang tidak diizinkan untuk diberi makan. Hanya satu roti yang disimpan oleh pria itu di balik bajunya. Roti kering yang dimakan oleh anjing pun tidak akan mau itu. Mau tidak mau menjadi makanan untuk berbuka puasanya. Serat, tidak ada air. Ada air. Namun air genangan bekas sumbr hujan yang mengalir dari atas tembok yang merembes. Air itu seperti air selokan yang tidak mengalir dengan cukup baik. Di atas atap penjara itu ada semacam pipa yang bocor. Sedikit lubangnya, namun tetap saja mengalirkan air berbau menyengat ke bawah. Pikiran Bapak Larasati berada di antara kebingungan yang luar biasa. Tidak ada yang endorong roti kering itu masuk ke dalam mulutnya. Sehingga Bapak Larasati pun menggunakan akal. Meludahi roti kering itu sampai ujungnya lebih bisa masuk ke dalam tenggorokannya. “Gusti Allah akan memberikan kita banyak kesempatan untuk mendekatkan kepada Nya. Di saat kita seperti ini, tentulah kita mengingat betapa pentingnya untuk menggunakan waktu dengan baik. Tidak menyianyiakan kasih sayang dengan orang yang kita sayangi. Dan selalu berusaha membuat hal yang istimewa kepada keluarga. Jangan ada yang bersedih. Sesungguhnya setelah kesulitan, Allah akan memberikan kemudahan.” Seseorang menyeru di balik jeruji besi yang sama. Letaknya yang berada agak jauh dari Bapak Larasati itu berada membuat suara itu seakan memantul. Mengisi kesunyian yang ada di dalam lapas itu. Malam yang dingin membeku. “Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laailaahaillallah…” Salah seorang menyeru adzan. Membuat setiap orang yang beragama Islam di penjara menempelkan tangan mereka ke dinding. Membaca doa tayamum dan melakukan gerakan tayamum. Tidak ada alasan untuk tidak melaksanakan sholat. Adzan yang berada di udara, tidak terdngar sampai ke tanah. Namun orang-orang sholeh selalu memiliki patokan waktu yang hampir sama dengan waktu adzan di daratan. Beruntungnya Bapak Larasati yang mendapatkan kesempatan melakukan sholat lima waktu tanpa bolong. Setelah sholat secara munfarid, para tahanan akan melaksanakan dzikir bersama. Di sebelah tempat di mana bapak Larasati ditahan. Ada seseorang yang berdzikir dengan cukup keras. Dan dengan semangat yang menggebu-gebu. Bapak Larasati pun tersenyum mendengar hal itu. Dirinya tersenyum karena bangga atas semangatnya dalam mengingat Allah, meski dirinya yang sedang dikurung di dalam dan mendapatkan cobaan yang sangat berat. Semangat itu seakan memberi kekuatan untuk selalu berjuang menjadi manusia yang lebih baik dan kemerdekaan untuk bangsa Indonesia. Tiba-tiba saja, Bapak Larasati teringat saat dirinya mengajarkan dzikir kepada kedua anaknya yang masih kecil. Di dalam langgar dengan begitu sabar dan telaten. “Sebenarnya, Allah itu apa? Bentuknya seperti apa? Perempuan atau laki-laki?” perempuan kecil yang memakai kerudung kebesaran itu bertanya kepada Bapaknya. Rasa ingin tahunya sangatlah besar. Sekali bertanya ada empat sampai lima pertanyaan yang keluar. “Allah itu wujud. Ada, bentuknya seperti apa? Mukholafatul lilhawaditsi, artinya adalah Berbeda dengan makhluk. Allah adalah Dzat yang berbeda dengan kita. Yang pasti, ketika tersuguh ciptaannya, kita juga harus meyakini jika Allah itu ada. Yang menciptakan. Akan tetapi, yang jelas kita tidak akan sanggup untuk melihat keberadaan Allah. Dan itu adalah salah satu kekurangan manusia yang menjadi makhluk yang tidak erlalu sempurna,” terang Bapak Larasati kepada anaknya. Larasati mengangguk paham dan tersenyum. Bibirnya monyong setelahnya. “Kalau begitu, sebenarnya mengapa kita harus berdzikir atau mengingat Allah. Kan Alah sudah ingat dengan kita, untuk apa kita harus ingat kepada Allah?” tanya Larasati selanjutnya. “Jawabannya adalah di dalam sini,” ujar Bapak Larasati sembari menunjuk letak hati anaknya. Larasati semakin tidak paham. “Dzikir itu dalam hati, yang bisa merasakan ya hanya hati. Ketenganan, kedamaian dan keikhlasan hanya bisa dirasakan dengan hati kita masing-masing, tidak bisa dirasakan oleh orang lain. Karena itu, dzikir dilakukan oleh masing-masing individu.” terang kembali Bapak Larasati. Anak perempuannya tersenyum, “Ohhh begitu, kalau begitu, Allah bisa berada di dalam hati Sati dong kalau Sati selalu berdzikir?” “Iya. Benar. Di dalam hati Sati.” Bapak Larasati mengecup pucuk kepala anaknya dengan penuh kasih sayang. Saat ini, dirinya hanya bisa mengingat anak kecilnya yang sudah beranjak dewasa. Sudah dipinang dan tinggal di rumah laki-laki yang pantas. Cukup harta, cukup cinta, cukup agama, cukup ilmu pengetahuan, cukup akhlaq. Air mata lakilaki itu pun menetes. Menetes karena bangga melihat anaknya sudah berada di pelukan orang lain lebih cepat dari perkiraan awalnya. Tanggung jawabnya sebagai ayah, sudah gugur. Tidak ada yang harus dipikirkan di rumah. Istri dan anak laki-lakinya pasti bisa menjaga. Ketika dirinya merasa sudah dijemput oleh malaikat, maka tidak ada yang perlu untuk dicemaskan. Masalah dunia, jika ditaruh di tangan. Tidak akan menimbulkan kerugian. Namun jika ditaruh di hati, maka akan sulit untuk iklhas ketika kehilangan atau dipaksa meninggalkan. “Sel Satu! Cepat bicara monyet sialan!” “Sel satu ada di tempat.” “Sel dua?” “Sel dua ada di tempat.” Sel tiga. Sel di mana tempat tinggal Bapak Larasati saat ini berada di dalam. Laki-laki itu dengan sekuat tnaganya berusaha untuk keluar dari dalam, melihat siapa yang datang dan pastinya adalah sipir yang bertugas malam. “Sel tiga?” Bapak Larasati masih berjalan untuk mendekat ke arah pintu masuk. “Sel tiga? Kemana monyet sialan?” “Dasar, orang tua yang sudah bau tanah. Kalau mau mati, bilang? Biar nggak menyusahkan orang! Duduk. Aku tahu kalau tenagamu hanya sebesar biji sawi! Hahahaha!” Sipir itu tertawa keras seolah mengejek apa yang ada di dalam tubuh Bapak Larasati. “Astagfirullahaladzim.” dalam hatinya berdzikir pelan. Memohon ampun atas segala dosa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN