Panggil Saja Aku Nyai

1222 Kata
LARASATI POV Di dalam loji, aku menghabiskan hari-hariku dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang. Steve selalu memanjakanku dengan berbagai fasilitas yang dirinya berikan. Lima orang selir dikhususkan hanya untuk bertugas mempercantik diriku setiap harinya. Seseorang di antaranya adalah wanita yang berketurunan Belanda. Wajahnya cantik, kulitnya putih, dengan dagunya yang nyanik. Jangan lupa, bibir wanita itu tampak merah dan ranum. Aku cemburu melihatnya. Barang kali memang semua wanita akan cemburu dengan semua wanita yang lebih cantik darinya. Tak terkecuali denganku. “Nona, kau butuh sesuatu?” lihatlah suaranya yang kecil dan mendayu-dayu itu. Aku benar-benar tidak suka. Sungguh. “Tidak. Kau bisa langsung masuk ke kamarmu sekarang juga,” titahku kemudian. Wanita itu mengangguk dengan hormat lalu keluar kamar. Aku memerintahkannya lebih dulu. Dan karena memang dirinya lebih cepat pekerjaannya dari pada pembantu yang lain. Entahlah, aku tidak bisa mengatakan mereka adalah di antara gundik yang diperjualbelikan. Inventaris saat ini mereka di bawah pemeliharaan Steve. Jika Steve tidak suka dengan kinerjanya bisa dilemparkan kepada serdadu yang lain. Begitulah, kinerja seorang gundik di dalam loji ini. “Kau harus ingat, dirimu siapa di sini. Jangan sok kecantikan. Kamu juga akan sama seperti kami. Ketika muda, dipuja-puja. Sedang nanti kalau umurmu bertambah satu angka saja di bagian depannya. Kamu akan merasakan seperti kami. Ya begini, dilemparkan kapan saja harus mau. Tanpa harus membawa kata cinta.” Seorang gundik mengingatkanku. Aku yang melihat diriku dirias di depan cermin hanya bisa memandang dengan teduh diriku sendiri. Aku tidak menyangkal jika diriku sama seperti mereka. Namun, aku tentu lebih dari mereka. Steve mencintaiku dengan buta bukan? “Persetan dengan kata cinta. Huhh, sama saja. Londo-londo itu nafsunya besar. Kalau kamu tidak bisa untuk memenuhi apa yang mereka punya, ya harus siapsiap ditendang. Jangan harap akan jadi cinta sejati sampai mati. Nah wong kita di sini saja tidak dinikahi. Kita sama, gundik Nona. Jangan sampai salah arti. Siapa kamu di sini. Dan apa posisimu yang tak lebih dari konco turunya Tuan Steve,” ujar gundik yang lain. Aku kembali bercermin. Tentang siapa diriku di sini. Tidak bisa aku menyangkal apa yang telah diucapkan mereka padaku. Tentu apa yang mereka katakan adalah hal yang benar. Sekali pun apa yang mereka katakan sudah barang tentu membuat hatiku sakit. Namun tidak ada salah. Mereka berkata dengan benar. Rambutku disisir dengan rapi. Digelung ke atas, seperti biasanya. “Kalian boleh keluar,” kataku kemudian. Aku hanya bisa menundukkan kapala saat mengatakan itu. Tinggal bersama mantan gundik-gundik itu sudah barang tentu diriku tahu. Aku selalu didiami. Tidak diajak bicara sama sekali. Mereka hanya melaksanakan tugasnya. Tidak dengan memperlakukanku sebagai manusia yang bersosial. Datang untuk bekerja dan pergi jika sudah selesai. Begitu seterusnya. Ohh, ada satu hal lagi. Kadang mereka juga berani memerintahkanku. Jika pengawal yang berada di depan kamarku sedang beristirahat atau berganti tugas. Aku pernah disuruh untuk membersihkan sepatu mereka sekali. Katanya untuk perkenalan. Namun itu masih terekam jelas di ingatakanku saat jari tanganku sengaja diinjak. Aku tidak berani mengatakan hal itu kepada Steve. Lagi-lagi aku sadar posisi. Siapa diriku dan untuk apa aku ke sini. “Kau ada masalah mooi meisje?” tanya seseorang yang tiba-tiba datang dan memelukku dari belakang. Wajah Steve di sana. Aku berbalik menatapnya. Dan mengalungkan tanganku di lehernya. Saling bertaut dan dekat. Cup Steve mengecup bibirku dengan singkat. Pipiku rasanya seperti terbakar. Hatiku bergetar saat mendapatkan ciuman yang memabukkan itu. Steve selalu membuat pacuan kuda di dalam hatiku setiap saat. Tanpa rencana dan tanpa aba-aba. “Aku merindukanmu, mooi meisje,” ujarnya. Bukan sekali. Ini berkali-kali. Sesaat sebelum berangkat ke kantor, dirinya mengatakan hal ini. Saat istirahat, dirinya juga mengatakan hal yang sama. Dan saat ini, ketika dirinya pulang. Dirinya pun tak luput dari kalimat itu. “Hei londoku, kau telah mengatakan itu setidaknya tiga kali sehari. Ini seperti meminum obat.” kataku protes. “Biarkan. Biarkan aku mengatakan hal tersebut seperti memberikan obat. Itu memang benar. Sangat benar. Karena itu adalah obat rinduku kepadamu. Sama seperti kegiatan itu. Kita akan melakukannya sehari tiga kali. Kau sanggup?” tanyanya kemudian. “Kegiatan?” tanyaku kemudian. Aku tidak mengerti apa maksudnya. “Kegiatan yang ada di atas sana,” ujarnya dengan menunjukkan tempat kami bergumbul kemarin malam. Hal yang dikatakan dengan nama ‘kegiatan’ tidak akan luput dari pikiran kotor seorang Steve. Ohh rasanya sakit sekali area bawahku saat setelah melakukannya untuk pertama kali. Aku pun merenggangkan pelukan. Menarik napasku dengan berat. “Hei. Kau marah? Aku hanya sedang becanda,” katanya kemudian dengan memegang bahuku yang kecil. Aku kembali menatap matanya yang biru kehijauan itu. “Aku tidak sedang marah Steve. Hanya saja aku tidak akan bisa berpikir jika kita melakukannya setiap hari. Rasanya sakit, dan mungkin itu adalah pengalaman terburuk yang pernah aku rasakan,” kataku kemudian dengan dengusan napas setelahnya. Steve memelukku kembali dari belakang. “Kalau kau tak mau melakukannya, ya sudah. Aku tidak akan memaksa. Dekat dngan mu seperti ini, sudah membuat hatiku sangat senang. Sudahlah, lupakan itu. Aku akan menunjukkan sesuatu untukmu, mooi moisje. Semoga kau suka,” ujarnya kemudian. Dan melepaskan pelukannya dariku. Laki-laki itu berjalan menjauh dari tempat kami. Berjalan, untuk mengambil sebuah tirai di balik tembok. “Kau bersiap untuk melihatnya?” tanyanya kemudian. Aku mengangguk. Tirai dibuka. Memperlihatkan lukisan seseorang yang asing untukku. “Siapa?” tanyaku. Seorang wanita yang mengenakan baju berenda. Dengan bandana di atasnya. Perempuan yang sangat cantik. Dengan sebuah sarung tangan di kedua sisi tangannya yang sampai siku itu. Pakaiannya sangat mewah, dengan hiasan pernak-pernik yang mngilap. “Stella. Namanya Stella. Perempuan yang aku selalu rindukan setiap saat. Kehadirannya membuat hatiku menghangat. Kedatangannya adalah dambaanku setiap waktu--” “Sebentar,” selaku. Alisku naik sebelah. Sebagai wanita, tentulah aku cmburu dengan apa yang disebutkan oleh Steve itu. Aku wanita dan dirinya yang dipuji adalah wanita. Hati kami pasti ada yang kecewa. Jika wanita itu saat ini berbentuk gambar. Maka hatiku yang pasti terbuat dari seonggok daging, maka yang sangat merasakan sakitnya adlah hatiku. “Seebentar. Aku akan menceritaknnya dulu. Aku tak suka disela Ara,” ujar Steve dengan wajahnya yang tampak serius. Aku pun mnegerutkan kening. “Diaw adalah wanita terbaik sepanjang zaman. Aku tak akan bisa melupakannya sampai kapanpun,” sambungnya. “Siapa? Aku tidak suka jika terlalu penasaran,” kesalku. Aku memberenggut di depan Steve. “Tenanglah Ara. Tenanglah. Aku bisa jelaskan.” ujar Steve. Apa yang dikatakan oleh dua gundik tadi benar. Aku di sini hanyalah sebagai gundik yang tidak dianggap keberadaannya jika tidak dibutuhkan. Lihatlah, aku sekali menolak. Serdadu di depanku langsung membawa foto dan menunjukkan perempuan yang dicintainya. “Bagaimana aku bisa tenang. Di saat dirimu dengan sengaja memamerkan seseorang yang amat kau cintai? Aku tidak bisa menuruti apa keinginanmu, bukan berarti kau seenaknya bisa memperlakukan aku seperti itu. Aku wanita yang penuh dengan perasaan sakit hati. Kau tak menyadarinya? Hah, benar saja, apa yang dikatakan oleh gundik tadi, jika aku di sini akan diperlakukan layaknya--” Tenggorokanku rasanya tercekat. Tidak mampu mengatakan kata itu. Sebegitu buruknya diriku sehingga pantas mendapatkan sebutan seperti itu. Ahh, kurasa tidak. “Gundik yang mana Ara? Gundik yang mana? Dirinya mengatakan apa? Katakan kepadaku!” sergah Steve dengan tatapan matanya yang menyalang. Aku tidak bisa menolak tatapan yang sangat dalam dengan amarah itu. Bibirku terkatup. Kedua tangan Steve mencekal tanganku. Air mataku tiba-tiba menetes. Tidak bisa untuk kutahan keluar. Steve memarahiku dengan begitu kejam. “Maafkan aku Ara." suara Steve mengalun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN