“Kau mengapa harus meminta maaf Steve. Kau tidak salah. Aku yang salah. Seharunsya aku yang meminta maaf,” ujarku lirih di dalam pelukan hangat Steve.
Steve melonggarkan pelukannya. Aku kembali melihat mata itu. Tangan Steve menempel di pipiku. Jemarinya menelusur air mataku yang jatuh.
“Mulai saat ini. Kau tak boleh mengeluarkan air mata apa pun. Kau mengerti?” katanya dengan menarik bibirku ke atas. Aku tersenyum dibuatnya.
Aku berjalan menjauh darinya. Kali ini bokongku kududukkan di atas kursi panjang empuk dan berbulu angsa itu.
Warna kayunya emas. Dengan motif bunga di atas kursi empuk itu. Steve pun duduk di sampingku. Posisi yang dirinya suka adalah tidur di atas pahaku. Steve melakukannya. Sepertinya dirinya ingin bercerita tentang banyak hal.
Anganku kabur. Namun tanganku menjelajahi rambut laki-laki itu yang halus lagi harum. Sama sepertiku yang saat ini sedang melamun, kukira Steve melakukan hal yang sama. Bahkan lebih dari apa yang aku lakukan. Laki-laki itu selalu membuat sebuah hal yang tidak terduga memang.
Jemarinya tiba-tiba menyahut telapak tanganku. Dikecupnya pelan dengan penuh kasih sayang.
“Apa kau mencintaiku Steve?” tanyaku. Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutku. Anganku masih teringat tentang apa yang telah dikatakan oleh gundik-gundik tadi. Sangat menusuk hati. Aku ke sini atas dasar cinta. Bukan atas dasar materi.
“Kalau aku mengatakan tidak. Kau akan melakukan apa Ara?” tanyanya kemudian.
Deg.
Jantungku seolah berheti untuk memompa. Aku tak tahu harus menjawab apa. Apa memang benar jika Steve tidak mencintaiku sama sekali. Dan hanya berlandaskan nafsunya saja.
“Mengapa wajahmu sangat serius seperti itu. Heii, mooi moisje. Apa yang kamu pikirkan. Aku tidak akan sejahat itu,” Steve mencubit hidungku dengan sangat keras. Membuat aku tersulit untuk bernapas.
“Steve apa yang kamu lakukan?” kataku sembari mencoba untuk mencabut tangannya dari hidungku itu. Rasanya sungguh panas dan sakit.
“Biarin. Aku suka sama hidungmu. Kecil dan lucu,” katanya. Laki-laki itu masih menjepit hidungku dengan kedua jemarinya. Aku benar-benar tidak bisa bernapas melewati hidung sekarang.
“Steve. Mengapa kau jahil sekali kepadaku,” kataku masih mencoba untuk melepaskan. Nihil. Tidak bisa.
Dan, seketika saat tangan dan jemarinya itu menarik hidung sekaligus wajahku supaya lebih mendekat ke pada wajahnya. Aku merasa jantungku kembali berpacu lebih cepat. Nadiku seakan berhenti berdenyut. Kurasakan hembusan napas yang sangat segar itu keluar dari hidungnya.
Wajahku menghadap mulutnya yang harum. Dan mataku merasakan jambangnya yang mulai tumbuh dengan kasar. Geli rasanya.
“Kau, yang aku cinta. Tidak ada sorang pun lagi. Kupastikan aku selalu mencintaimu. Lebih dari apa pun. Pasti orang lain menyangka jika cintaku ke dirimu adalah palsu. Sama sekali tidak. Aku bisa pastikan, bagaimana cintaku yang lebih besar darimu. Dari siapapun yang mengenalmu. Kau mengerti mooi meisje?” ucapnya dengan begitu manis.
Kedua mataku diciumnya dngan lembut. Kurasakan sensasi itu. Seakan merasuk ke dalam jiwa dan raga. Ciuman yang hangat dan memabukkan.
“Perimisi Tuan, ada yang ingin bertemu--”
Suara pengawal itu terputus. Saat melihat adegan yang aku lakukan bersama dengan Steve. Dengan secepat kilat aku merapikan bajuku dan duduk agak menjauh dari Steve. Sedang Steve dengan rautnya yang biasa saja itu hanya tersenyum kecil.
“Maaf menganggu. Saya akan kembali lima menit lagi,” ujar pengawal itu yang sepertinya tidak enak dengan apa yang telah kami lakukan.
Sungguh, aku sangat malu, dipergoki orang seperti ini. Ini sudah seperti aku yang sedang melakukan hal jahat. Ohh, aku masih terkejut.
“Aku akan menemuinya. Boleh?” tanya Steve kepadaku. Aku hanya bisa mengangguk saja dan menundukkan wajahku.
“Kau tak perlu khawatir. Ada kalanya memang pengawal diberikan satu kali cambukan saat menganggu suasana kita. Iya?”
Aku langsung spontan menggeleng.
“Untuk apa? Pengawal itu tidak bersalah apa pun. Kau harus menemuinya sekarang. Barangkali ada sesuatu hal yang penting,” ujarku dengan gerakan tangan yang mengusir londo itu.
“Hei. Kau adalah tamu dan aku rajanya, beraninya kau mengusirku,” katanya yang tidak mau aku usir.
“Hei kau adalah londonya dan aku adalah prbibuminya. Sudah kewajibanku untuk mengusir,” kataku yang semula ingin membuat bahan bercanda.
Ternyata salah. Ekspresi lain yang diberikan oleh Steve. Rautnya berubah seolah tidak suka dengan apa yang kukatakan barusan.
“Kau akan mengusirku Mooi Meisje?” tanyanya kemudian dengan nada yang paling serius yang pernah aku dengar.
Aku mengambil napas beratku. Lalu kulepaskan pelan-pelan. Pastilah ini adalah hal yang berat juga untuk aku ucapkan kepada londo yang kadang tidak mengerti apa yang akau maksudkan.
“Bukan seperti itu maksudku, aku hanya, aku hanya--”
“Asudahlah. Aku akan pergi menemui pengawal itu.” sahutnya. Laki-laki itu lalu berjalan dengan langkahnya yang jenjang. Menemui pengawalnya yang sudah menunggunya di depan sana. Diriku meyakini, jika di dalam hati Steve ada sebuah gejolak perbedaan di antara kami yang cukup besar. Prinsip, keyakinan, tujuan hidup, kesenjangan. Aku tidak akan bisa berdiri sejajar dengan Steve. Dan suatu saat nanti aku akan pergi meninggalkannya. Entah aku, atau Steve.
AUTHOR POV
Di luar kamar, Steve mendapatkan laporan tentang Bapak Larasati yang sakit-sakitan di dalam penjara bawah tanah itu. Sebenarnya penculikan itu bukan tanggung jawabnya untuk mengurus. Ini adalah urusan dengan Nath. Sudah berulang kali Steve mengatakan jika tidak usah mencampuri urusan dirinya yang hanya dengan Larasati bersama dengan keluarganya. Itu sudah di luar batas.
“Kau bilang pada Nath, suruh menghadapku malam ini juga. Sepertinya dirinya ada rapat saat ini dengan pasukan,” perintah Steve kemudian.
Steve tidak bisa berada di dalam kamarnya kembali. Dirinya harus memastikan benar-benar kondisi Bapak Larasati yang ditahan. Sepertinya memang gadis itu tidak mengetahui jika Bapaknya ada di sini. Karena menurut informasi, ketika penangkapan, tidak ada Larasati. Dan kedatangan Larasati ke loji ini cukup singkat. Seolah berita itu belum sampai terdengar di telinganya.
“Jangan sampai Ara tahu soal ini. Jika ini sampai bocor ke telinganya, maka siap-siap kalian akan mendapatkan ganjaran dariku langsung,” ancam Steve dengan nadanya yang tidak ingin ditolak oleh karena suatu alasan apa pun.
Steve berjalan dengan dua pengawal di belakangnya. Dirinya menyisir ke bawah ruang tahanan yang pengap, lagi lembab itu. Perpaduan dua suhu yang akan membuat orang di dalamnya akan cepat mati.
“Kau taruh mana orang tua itu?” tanya Steve.
“Di sel nomor 3.” jawab sipir yang bertugas menjaga tahanan.
Kaki Steve berayun. Menuju ke nomor yang telah disebutkan.
Steve tidak melihat ada orang di dalamnya. Setidaknya dari kaca yang berjeruji yang menjadikan tempat bagi orang yang berada di dalamnya bisa melihat ke luar. Tetap saja. Di tempat itu suansanya jauh lebih gelap. Dan tidak diperbolehkan sama sekali untuk keluar. Sekadar buang air kecil pun tidak boleh.
“Tidak ada suara?” tanya Steve kepada kedua sipir itu.
“Sel tiga?” hening. Tidak ada jawaban.
“Hei monyet g****k! Keluar lah kau!” teriak sipir itu.
“Kau bisa melakukan hal itu kepada yang lain. Tapi tidak dengan tawanan ini. Mengerti? Mana kuncinya?” Steve mengambil kunci yang diberikan oleh sipir tadi kepadanya. Segombyok kunci sel ruang itu pun berada di tangn Steve.
“Nyatanya yang pantas disebut monyiet g****k adalah dirimu. Aku ingin meminta kunci itu bukan semua kunci kau berikan kepadaku. Buka kuncinya.”
Steve memerintah. Menjatuhakn kunci itu tidak tepat di tangan sipir tadi. Barang kali sengaja. Dan pada akhirnya kunci-kunci itu jatuh di atas air.
Kedua sipir tadi dengan payah membuka sel itu dengan tangan mereka yang jijik. Tiada genangan yang tanpa ada air kencing di sana. Sudah pasti, kunci-kunci tadi terkena air kencing seseorang. Dan itu tidak akan bisa disangkal oleh siapa pun.
Steve memasuki ruangan yang gelap itu. Pandangannya langsung menatap ke arah orang tua yang lemas tidak berdaya di atas beton. Wajahnya nampak pucat. Pun juga dengan kaki dan tangannya. Seolah dirinya habis berendam di dalam kolam.
Steve melihat ke kotak yang hanya dua kali dua meter tersebut.