Kebijaksanaan Hati

1409 Kata
Ada selang yang bocor dan tidak seorang pun mengetahuinya Bisa-bisa penjara bawah tanah ini banjir dialiri oleh air selokan yang tidak bisa mengalir dengan baik. Di sekitar tempat tinggal pria tua itu juga, ada banyak genangan airnya. Roti kering yang sisa setengah nampak tergeletak begitu saja di atas beton itu. Steve mendekati laki-laki yang dulu pernah menjadi hakim yang sangat bijak untuknya. Iya, Steve bisa merasakan kasih sayang dari laki-laki itu yang sangat besar kepada anak perempuannya. Dan kali ini Larasati berada di bawah tangan Steve. Pria tua ini tidak bisa untuk mengelak apa yang telah terjadi. Dilihat oleh Steve napas orang tua itu yang naik turun tidak teratur. Matanya terkatup sempurna. Meski bibir pria tua itu tidak bisa dipungkiri bergerak naik turun. Seperti seseorang yang sedang kedinginan. Namun, tunggu dulu. Rasanya tidak. Itu adalah sebuah lafadz yang digunakan oleh pria itu setiap saat untuk mengingat Tuhannya. Masih sempatnya pria itu mengingat Tuhanm saat dirinya yang dalam kesusahan seperti ini. Tentu ini bukan pilihan yang mudah untuknya. Karena dirinya harus menjadi seseorang yang lebih bijak. “Bawa dia ke lantai satu. Letakkan di dalam ruang perawatan. Panggil Dokter Strehler untuk merawatnya. Dan jangan lupa. Pesanku. Jangan sampai kalian lupa jika masih jngin hidup. Jangan samapai Ara, kekasihku melihat pria ini ada di sini. Sampai Ara melihat da ada di sini. Kalian akan kugantung satu-satu, mengerti?” tegas Steve yang tidak ingin apa yang menjadi rencananya gaga. Jangan sampai karena laki-laki tua ini, perempuan itu pergi meninggalnya kembali. “Kurang ajar! Apa yang kau lakukan hah?” sipir tadi memekik, membua Steve kembali melihat ke arah pria itu. Sungguh, apa yang ditemuinya saat ini. Orang tua itu yang seolah masih berdaya untuk menyerang. Padahal kondisi tubuhnya sudah sangat memprihatinkan. Steve berjalan mendekat ke arah pria itu lagi. Melihat wajahnya dengan jarak yang dekat. Pria tadi memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya. Itu bukan sebuah perlawanan. Pria tadi terbatuk dengna napasnya yang naik turun. Steve membantu pria tadi untuk duduk, dan memerintahkan salah satu sipir tadi untuk mengambil air minum. “Kalian tak memberinya air hah?” tanya Steve saat melihat kaleng yang sudah berkarat di pojok penjara itu. Dua orang tadi menggeleng. “Dia tak memintanya,” alasan. Sipir tadi hanya ingin semua orang yang ada di tempat ini mati dengan cara perlahan. Sehingga tidak susah-susah memberi makan orang penagngguran. “Kau? Kau apakan Sati kuh?” pekik laki-laki tersebut dengan menjambak rambut Steve. Membuat Steve terjungkat ke belakang. Dua sipir tadi lansung memukul pria itu dengan benda tumpul yang mereka bawa. Sebuah pistol laras panjang mengenai wajah pria itu, dan membuat Bapak Larasati itu memekik kesakitan. Suara yang keluar dari pria itu sangat mengerikan. “Bawa dia ke ruang yang aku perintahkan,” ujar Steve kemudian. Dirinya menyuruh. Pria yang kondisinya sekarat itu pun dibawa pergi. Suasana diam, hening dan seperti yang sudah-sudah. Sepertinya memang hanya penjaralah yang memiliki tempat yang hanya seperti ini. Steve mengambil sebuah peralatan, dirinya langsung bertindak untuk menyumpali pipa yang bocor tadi menggunakan peralatan yang dirinya bawa. Sebuah lem paralon dengan kayu untuk menembelnya. “Apa yang Tuan lakukan. Pekerjaan itu bisa saya yang mengerjakan. Tuan cukup saya antar ke depan,” seseorang pengawal datang. Membuatnya menggeleng dan langsung pergi begitu saja. Sebuah lem paralon tadi dilemparkan oleh pria itu dengan spontan. “Kau jaga pipa itu jangan sampai bocor lagi. Jika aku ke sini melihat ada yang masih bocor. Tulangmu yang akan aku gunakan untuk menambal pipa yang bocor itu.” Steve menekan wajah pria itu dengan tangannya yang kuat. Membuat wajah pria itu setengah terbentur ke dinding. Pria itu berjalan di belakang Steve dengan ketakutan. Meski demikian dirinya selalu terpesona dengan kebijaksanaan pemimpinnya itu. Jika ada pekerjaan yang sekiranya masih bisa dikerjakan sendiri, Steve tidak akan tanggung-tanggung untuk mengerjakannya sendiri. Tanpa bantuan tangan siapapun. Dan hal itu yang menjadikan banyak londo ireng yang menyambut penuh bahagia kepemimpinan dirinya di loji ini dan sekaligus wilayah ini. Steve kembali. Berjalan untuk memasuki kamarnya. Di dalam, Ara sudah tertidur. Terbaring di atas tempat tidur dengan wajahnya yang pulas. Seakan tidak ingin jika diganggu. Steve melepaskan topi yang dirinya pakai, lalu berjalan mendekat ke arah wanita itu. Udara sangat panas malam ini. Baju Steve dibuka. Pria itu akan melakukan hal yang di liar kendalinya. “Kau adalah cintaku Ara, tak perlu kau ragu atas cinta yang kuberikan kepadamu,” ujar Steve kepada perempuan yang sedang dilihatnya dengan dalam-dalam itu. Larasati tentu tidak menyadari karena dirinya tertidur dengan pulas. Hanya saja, ruhnya merasakan ada seseorang yang datang dan berkata demikian di alam mimipi. Dan itu langsung membuatnya tersenyum. Bahagia. Mendapatkan cinta seorang yang kita cintai adalah sesuatu hal yang sangat membahagiakan. Apalagi jika bisa bersatu dengan orang yang kita cintai. Tentu itu adalah sesuatu yang luar biasa. Steve mengambil sebuah kanvas. Dengan beberapa cat yang ada di lacinya. Tangannya mulai bergerak. Menyelusur wajah Ara dengan bantuan kuas yang ada di tangannya. Pria itu memulai untuk membuat konsepnya dulu di atas kertas yang cukup kecil. Barulah saat konsepnya sudah jadi, pria itu langsung membuatnya di kanvas yang cukup besar itu. Diberikannya sentuhan kasih dan sayang. Lukisan manusia itu seakan hidup dan berbicara. Bakat terpendam seorang Steve adalah menggambar. Seolah mendapatkan nyawa dan juga ruh tersendiri. Itu semua di luar kendalinya. Dan Steve tidak bisa melukis ketika dirinya sedang terpaksa. Apa pun yang dituangkan di atas kanvas sadalah ketulusan hatinya. Seperti lukisan yang ada di ruangan ini. Semuanya yang ada adalah lukisan hasil tangannya. Perempuan cantik yang ada di atas tembok yang ditunjukkan oleh Steve adalah adik perempuannya yang meninggal saat usianya yang masih satu tahun. Lukisan itu seolah tampak nyata, jika ruh dan arwah adiknya selalu melindungi dirinya dari mara bahaya apa pun. Tersebab itulah, Steve membuat lukisan itu, untuk selalu melebur rindunya kepada adiknya yang suda meninggal. “Apa kau tak tidur Steve?” tanya Ara dengan mata yang setengah terbuka. Tangan wanita itu pun mengucek-ucek kedua bola matanya. Membuat Steve mendekati wanita itu dan naik ke atas ranjangnya. Steve memeluk wanita dengan sangat erat. Kepala Ara diletakkan di atas dadanya, hingga perempuan itu bisa mendengar jantungnya berdegub dengan teratur. “Kau tahu Steve, tadi para gundik mengatakan apa kepadaku?” tanya Larasati yang setengah sadar. Nyawanya belum terkumpul. Dan perasaa ingin mengatakan kepada Steve tentang masalah yang melandanya tadi pagi itu, membuat ruhnya ingin mengatakan saja. Agar hatinya lebih jauh tenang dan tidak merasakan kegamangan atau kesedihan. Sungguh, ini bukan keinginannya dalam hati. Hanya ingin membuat seseorang mengerti tentang bagaimana kisah hidupnya yang seakan dibully oleh gundik-gundik tadi. ”Mengatakan apa Ara? Mereka bertanya apa tentangmu?” tanya Steve dengan matanya yang terpejam. Tangan laki-laki itu membelai lembut rambut Ara yang jauh lebih wangi saat ini dengan shampo yang dirinya berikan. Beberapa aksesoris pun sama. Wanita itu lebih cantik dengan balutan baju khas untuk tidurnya. “Kata mereka seperti ini. Sati, kau itu sama pesisnya dengan kami. Gundik. Nyai. Yang tak pantas bersandirng dengan pria setampan Steve,” “Sebentar. Mereka mengatakan jika aku tampan? Memang, mneurutmu aku tampan?” goda Steve dengan senyum nakal di atas sudut bibirnya. Hal itu membuat Aranya memukul dadanya pelan. “Ish, kamu ini. Ya jelaslah kamu tampan. Hei bagaimana aku bisa jatuh cinta kalau kau tak tampan,” katanya kemudian. Steve diam sejenak. “Oke, kau mencintaiku karena ketampananku.” “Aishh, kau terlalu posesif. Tidak mendengarkan aku dulu. Coba dngarkan aku Steve,” kata Ara, masih dengan posisinya yang memeluk Steve dengan keadaan berbaring dan matanya dengan keadaan terpejam. Dirinya selalu suka memainkan rambut yang ada di d**a pria itu. “Iya, aku akan mendengarkamu. Bagaimana selanjutnya?” tanya Steve. “Lalu, para gundik itu berkata kembali begini. Sati! Kamu itu gundik. Seseorang yang sama seperti kami. Kau akan diinventariskan kepada yang lain jika kamu sudah tidak menarik di mata Tuan Steve. Kau akan diperkerjakan seperti pembantu. Kami dulu juga bgitu. Pernah berada di posisimu seperti ini. Seseorang yang menjadi gundik selamanya akan menjadi gundik. Jangan harap menjadi ratu untuk selamanya, katanya demikian. Tapi aku sama sekali tidak percaya.” Mata Steve terbuka. Dirinya mengangkat kepala wanitanya itu. Dan melihat raut wajah kekasihnya. “Aku sudah berjanji kepadamu. Untuk menjadi kekasihmu sampai kapan pun. Sampai ajal menjemput ku dulu atau dirimu. Aku memang tidak bisa memaksakan cinta ini selalu tumbuh di dalam hatiku. Namun aku selalu akan berusaha menjadi pria terbaik menurutmu,” ujar Steve selanjutnya. “Lalu, pertanyaannya, mengapa kau tak menikahiku saja?” tanya Ara dengan nadanya yang centil. Namun cukup menusuk hati pria itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN