“Lalu, pertanyaannya, mengapa kau tak menikahiku saja?” tanya Ara dengan nadanya yang centil. Namun cukup menusuk hati pria itu.
Steve membuka matanya. Dirinya memandang wajah wanita yang ada di dadanya saat ini.
“Kau masuk saja ke agamaku. Kita bisa menikah setelah itu,” ujarnya kemudian. Ara terdiam. Mata perempuan itu menelisik. Melihat ke wajah Steve. Pandangannya buram. Lalu memilih untuk kembali tidur saja.
“Kau lelah Ara? Tidurlah. Jangan memikirka apa yang tidak bisa kau pikirkan. Itu hanya membuat tubuhmu semakin lelah. Tidurlah di pelukanku,” ujar Steve dengan mesra.
Hati Ara memberontak. Apa yang dikatakan oleh kekasihnya? Tidak. Bahkan Ara tidak tahu, apa agama kekasihnya itu. Tidak ada injil di tumpukan rak-rak bukunya. Atau kitab-kitab yang setiap hari dibaca. Hanya ada beberapa buku tebal tentang sejarah beberapa negara yang ada di dunia. Dan buku-buku lainnya adalah buku tentang ensiklopoedia. Semuanya adalah menunjukkan buku tentang ilmu pengetahuan saja. Ara sudah membaca hampir tiga seperempat judul buku yang berada di kamar ini.
Tangan Ara menyelusur ke d**a Steve.
“Aku memang wanita yang binal. Nakal. Dan berlumuran dosa karena berzina denganmu. Namun, murtad bukan pilihan. Aku tidak akan mengorbankan agamaku untuk memeluk agama yang lain.” Ara berkata dengan sangat pelan. Barang kali, Steve tidak mendengarnya. Mungkin memang seperti itu. Namun, kenyataannya, Steve mendengarnya. Aki-laki itu sama sekali tidak mempermasalahkan agama apa pun yang dianut oleh manusia. Kebebasan berpikirnya sangat luas. Baginya perbedaan agama hanya tentang perbedaaan kepercayaan. Dan itu tidak menjadi penghalang siapa pun untuk berhubungan biologis.
***
Dan kesadaran itu mulai hendak bangkit lagi. Sewaktu dirasanya ada seseorang di sampingnya, dan meletakkan kepalanya yang berbau wangi itu di atas bantalnya juga. Tapi, lampu kamar itu … di mana lampu kamar yang taid menyala? Ia rasai beberapa lembar ujung misai menusuk ukanya, dan terdengar olehnya bisikan bercampur bau abab yang asam dan aneh, mencabar indera penciumannya. Ia rasai tangan yang menulang-nulan seperti besi yang mengandung daya berani itu melayang-layang di atas tubuhnya.
Akhirnya kesadarannya padam lagi.
Waktu malam telah berganti pagi, ia masih dalam keadaan seperti itu.
Dan waktu sinar matahari menerobos kere jendela untuk pertama kalinya, seperti ada sesuatu tenaga kesadarannya digincangkan. Ia terbangun, duduk, memikirkan apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan kembali suaranya yang berdengung-dengung ngilu.
“Alhamdulillah, kau memberikan nyawa ini hari ini Gusti,” ujarnya dengan nada yang mendayu-dayu.
Kepalanya terasa berat. Dengan ngilu di berbagai bagian tulang belulangnya yang telah rapuh. Seorang laki-laki dengan berpakaian rapi tidur di sampingnya dengan keadaan yang tak kalah lelahnya. Laki-laki yang memakai kacamatanya saat tidur itu.
Bapak Larasati menuruni ranjang dengan mengesot. Tingginya hanya beberapa senti saja. Setengah meter barang kali. Namun cukup sulit untuk daya tahan tubuhnya yang belum stabil. Orang tua itu hanya ingin bertemu dengan istrinya sekarang. Memberi tahu jika Sati, anaknya berada di loji neraka ini. Apakah anak laki-lakinya juga tidak mengetahui jika adiknya tidak berada di rumah mertua nya. Melainkan di rumah londo thengik ini.
“Hei, kau mau kemana?” seorang laki-laki yang tadi terbaring di sebelahanya bertanya. Dengan mata yang masih dikocok-kocok. Berwarna merah dan dipasang lagi kacamatanya. Laki-laki itu menggunakan sandal dengan bulu angsa.
“Aku hanya ingin bertemu dengan istriku. Bebaskan aku Tuan. Aku tidak berdaya,” ujar Bapak Larasati dengan nadanya yang sangat rendah.
“Uhukk, uhukk,” batuk mendera dengan sangat keras. Napasnya naik turun tidak teratur. Dadanya sesak bukan main. Dirinya terkapar lagi. Matanya mendelik ke atas. Darah keluar dari mulut dan lobang hidung laki-laki itu.
Dokter yang berada di atas ranjang langsung berlari. Mendekati pria itu. Memberikan pertolongan pertamanya. Dokter tadi mengambil air panas yang ada di atas nakas. Diberikan untuk membantu pernapasan pria itu.
“Uhukk, uhukkk,” batuk lagi. Darah keluar. Kali ini lebih banyak. Dokter itu panik. Tidak bisa mengurus satu pasiennya ini sendirian. Dokter Reymond langsung berteriak.
“Tolong! Tolong!”
Istrinya yang bernama Dokter Strehler itu datang ke kamarnya. Pakaiannya masih sama seperti saat bangun tidur. Wanita itu membantu suaminya untuk memberikan pertolongan kembali. Membalik badan pria itu dan membiarkan darah keluar dari mulutnya di sebuah bak yang disediakan oleh istrinya.
“Kau ambil es!” perintah suaminya. Air panas yang tadi diberikan olehnya tidak mampu membuat darah itu berhenti. Maka dari itu, cara lain adalah air es.
Dokter Strehler mengambil es yang telah berada di di antara dedak yang ada di dalam kotak. Diberikannya kepada laki-laki yang menjadi pesakitan itu.
Batuknya tidak kunjung berhenti. Cara lain.
“Garam! Ambilkan larutan garam!” teriak dokter Reymond kepada istrinya. Dokter Strehler langsung mengambilkan larutan garam.
Laki-laki itu dipaksa meminum air garam dengan takaran yang sempurna itu. Matanya seperti akan keluar menahan dahak darah yang ada di tenggorokannya.
Air garam itu berfungsi dengan baik. Laki-laki itu bernapas dengan menariknya besar-besar. Lalu meminum kembali air lartan garam. Dua dokter yang menanganinya itu pun menghembuskan napas yang tak kalah besarnya. Lega, dengan apa yang telah terjadi. Tidak bisa jika dirinya hanya diam saja.
Rasa kemanusiaan yang datang kepadanya.
Dokter Reymond embawa pria itu kembali ke atas ranjang. Di sana dirinya memberikan bantal berbulu angsa untuk menyangga bagian punggung pria itu. Napasnya masih naik turun tidak teratur.
“Demam. Kau berikan air hangat lagi,” perintah Dokter Reymond pada istrinya. Dokter Strehler kembali memberikan apa yang suaminya butuhkan.
“Sati, Nduk Sati.” ringkih suara itu. Membuat yang mendengar akan merasakan haru dan sedihnya.
“Sepertinya dirinya merindukan seseorang,” ujar Dokter Strehler. Perempuan itu mampu merasakan kasih sayang ada.
“Dia merindukan anaknya,” ujar seseorang yang tba-tiba datang dari arah pintu.
“Tuan Nath,” ujar keduanya dan memberikan hormat. Dokter yang berdarah Jerman itu menunduk. Memberikan hormat kembali.
Nath datang untuk melihat kondisi seseorang yang ditangkapnya. Setelah esok hari diteror habis-habisan oleh Steve yang marah seperti orang kesetanan.
Steve memintanya bertanggung jawab atas semuanya yang sudah dilakukan. Karena penangkapan itu tidak atas perintahnya. Semuanya harus ditanggung oleh Nath sendiri. Hubungan Larasati dan Steve tidak boleh jadi korbannya.
“Siapa itu?” tanya Dokter Strehler.
“Kekasih Steve. Anaknya menjadi kekasih Steve. Namun pria ini pernah memukuli laki-laki itu. Luka yang dulu ada di tubuh Steve karena ulah laku-laki tua ini. Untuk itu aku menangkapnya!” pekik Nath dengan tersenyum seringai.
“Kau sepertinya menangkap orang yang salah,” ujar Dokter Strehler.
“Maksud mu apa Dok?” Alis Nath naik sebelah.
“Ohh, aku lupa memberitahumu. Pasien dengan riwayat paru-paru basah. Luka lambung, dan kondisi busung lapar. Kau tidak melihat perutnya yang membesar di antara belulangnya yang hanya menempel pada kulit?”
“Jika ingin bertahan lama, berilah makanan yang baik lagi bergizi dengan pengobatan intensif. Namun, obat untuk khusus tawanan kami sudah akan habis. Obat-obat yang ada hanya untuk serdadu. Kami kebingungan.”