Sabarnya Orang Baik

1285 Kata
Percayalah, kita keliru jika marah besar terhadap seseorang yang jahat karena orang-orang baik di antara kita juga sangat mendekati jahat (Multatuli, Max Havelaar) AUTHOR POV Seseorang mengamati dengan rahang mengeras apa yang dilakukan oleh dua orang yang saling memeluk. Bahkan sang pria yang mengenakan baju tentara Belanda itu, berani untuk menciumi tubuh wanita polos yang merupakan calon istrinya. Laki-laki yang saat ini hanya bisa untuk berulang kali melangitkan istighfar itu adalah Sholeh. Calon suami Larasati. Batinnya berontak. Antara ingin menghajar laki-laki yang sudah berani mendekati wanitanya. Apa daya, laki-laki itu tidak ingin mati konyol karena dirinya mengetahui londo itu membawa senjata laras panjang. Belum lagi kudanya yang tampak gagah. Londo itu akan lebih cepat berlari. Saat ini yang bisa dilakukan Subekan hanya menarik napas dan berharap Gusti Allah memberikannya kesabaran dan kelapangan hati untuk tidak memarahi keduanya. Ada sebuah kalimat pujangga lama yang dirinya ingat. Manusia diberikan dua hal yang membedakan dirinya dari makhluk yang lain. Yakni akal dan nafsu. Dan laki-laki diberikan sembilan akal satu nafsu, sedang wanita diberikan sembilan nafsu dan satu akal. Saat ini yang hanya bisa dilakukan oleh Sholeh adalah menjaga wanitanya. Dirinya tidak ingin menyalahkan siapapun. Hanya saja dirinya yang terlalu abai dengan calon istrinya, menjadikan Larasati tidak terkendali. “Mas Sholeh, sejak kapan ada di sini?” tanya Larasati terkaget ketika mengetahui calon suaminya tiba-tiba datang dari arah yang berbeda. Pandangan matanya lalu beralih menuju ke arah Steve. Dirinya hanya ingin memastikan jika laki-laki yang tadi mengantarnya sudah pergi. “Entahlah. Sejak tadi--mungkin,” jawab Mas Sholeh selanjutnya. Hati Larasati campur aduk. Dirinya kaget bukan main. Pasalnya memang kedatangan Mas Sholeh itu tidak terduga. “Mas, sudah lihat semuanya?” tanyanya kemudian dengan nada yang terdengar berat. “Lihat kamu? Iya Mas sudah lihat kamu semuanya kan,” jawab Sholeh dengan nadanya yang ringans eolah tidak ada apa-apa tadi. Larasati mengambil napas besar. Dirinya saat ini bisa tersenyum, namun senyumnya hanya setengah hati. “Memangnya ada apa?” tanya Sholeh selanjutnya. Meyakinkan Larasat jika tadi dirinya tidak melihat apa-apa. Meski pada kenyataanya dirinya mengetahui hal besar yang dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Itu sangat berat dan sangat menyakitkan. Namun Sholeh lebih menghargai wanita yang ada di hadapannya. Sorot mata dan seluruh hal yang ada di dalam tubuh wanita cantik itu, selalu menyihir dirinya untuk senantiasa bersikap sabar. “Mas baru pulang?” tanya Larasati kemudian sembari mereka berjalan menuju rumah Larasati. “Mas sudah pulang sejak kemarin. Tapi Mas harus ngecek ke pesantren. Jadilah baru bisa ke rumah kamu sekarang Dik,” lihatlah bagaimana kelembutan hati Sholeh. Meski dengan amarahnya, dirinya bisa mengontrol dengan baik. Apa yang ada sebelumnya seolah tidak ada apapun. “Ohh, aku kira baru tadi,” jawab Larasati dengan nada yang hambar. Tentu saja Sholeh mengetahui jika perbincangan mereka seolah perbincangan antara dua orang yang tidak saling mengenal. Sunyi. Keduanya tidak berbicara banyak hal. Larasati terjebak dengan pikirannya sendiri yang tidak bisa melupakan Steve. Sedang di dalam lubuk hati Sholeh, begitu berat jika seandainya harus melepaskan Larasati dengan londo itu. Perjalanan yang hanya beberepa meter itu seolah menjadi perjalanan yang berkilo-kilo meter jauhnya. Tidak ada obrolan yang menarik. “Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,” salam Sholeh ketika berada di depan rumah Larasati. Bapak Larasati menyahut dari dalam. “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Lhoh Le, pulang kapan? Masuk, masuk,” ujar laki-laki parubaya itu dengan menyambut kedatangan calon menantuanya dengan raut wajah yang sangat ceria. Dirinya seperti menjumpai anaknya sendiri setelah berbulan-bulan pergi. Keduanya saling peluk satu dengan yang lain. Beberapa detik kemudian, Mas Subekan pulang. Matanya memandangi sahabat karibnya dan adiknya secara bersamaan. “Kok baru pulang Sati, dari mana kamu?” tanyanya ketika melihat adiknya yang membawa pakaian yang telah kering dicuci. Larasati tergagap dirinya tidak tahu harus berkata apa. Lupa. Tidak menyiapkan alasan yang tepat. “Ohh, tadi Sati ke rumah Ibu Mas. Tahulah kalau Ibu sayangnya sama Sati tak terkira. Ya jadi Sati pulang agak telat. Saya yang mengantarkan,” jawab Sholeh berbohong. Belum pernah sama sekali Sholeh berbohong. Baru kali ini di dalam hidupnya. Hanya ingin melindungi Larasati agar tidak dimarahi oleh kakak laki-lakinya. Tentu saja Sholeh hafal betul dengan sifat Subekan yang melarang adiknya dekat dengan pria siapapun kecuali dirinya. Namun, Sholeh masih punya hati. Dirinya tidak tega jika melihat Larasati menangis hanya masalah yang sebanarnya bisa Sholeh selesaikan. “Ohh, iya. Maklum, mendekati hari pernikahan memang seperti magnet yang menarik, sudah, sekarang calon imammu itu buatkan teh Nduk. Pasti capek dari perjalanan jauh,” titah Bapak Larasati yang langsung diangguki oleh Larasati. Sedang mata Larastai tidak beralih dari wajah Sholeh yang membelanya dengan kebohongan yang dibuatnya. Sosok seperti Sholeh dikenal dengan kebaikannya. Tidak pernah dilihat dirinya berbohong seperti ini. Ada apa sebenarnya? Gumam Larasati berjalan pelan menjauh dari ketiga laki-laki yang berada di ruang tamu. Dalam hati Larasati tentu saja masih ragu dengan apa yang dikatakan oleh calon suaminya. Jika pun Sholeh mengetahui, mengapa tidak langsung berkata jujur. Soleh adalah seseorang yang sangat jujur. Kejujurannya membawa keberuntungan di mana pun dan kapan pun dirinya berada. “Nduk, ada siapa?” tanya Ibu dari dalam kamar. Larasati yang baru menyalakan api di dalam pawon sontak berjalan menuju kamar Ibunya. Di sana ada Ibu Larasati yang masih lemas batuk. Larasati segera mengambilkan air. “Kau dari mana Nduk?” tanya Ibunya kemudian. “Sati habis ke rumah Mas Sholeh Buk,” jawab perempuan itu menyambung kebohongan yang tadi sudah diawali oleh calon suaminya. Akan jauh sangat sulit jika membuka kebohongan baru. “Ohh ya sudah. Kamu buatkan teh calon suamimu ya Nduk,” titah Ibu Larasati. “Inggih Buk,” jawab Larasati yang langsung pergi meninggalkan ibunya dengan langkah gontai. Masih ada banyak pertanyaan yang membelenggu pikirannya saat ini. Tidak tahu dirinya harus bersikap seperti apa. Seolah ada benang merah di sana. Yang hanya bisa dirinya lakukan saat ini adalah memandangi api yang semakin besar di dalam tungkunya. Api yang kecil seperti sahabat, dan api yang besar seperti musuh. Seperti itulah peribahasa saat menyamakan dengan masalah. Masalah yang kecil pasti akan mendapatkan perlakuan kecil. Namun api yang besar. Tentu saja tidak bisa dijadikan sahabat. Dirinya harus diperlakukan seperti musuh. Yang harus menggunakan seluruh kemampuan untuk melawannya. “Itu, airnya sudah masak kok nggak diangkat Dek?” tanya Subekan kepada adiknya. Larasati terjingkat. Kursi yang digunakan duduk meleyot, dirinya hampir terjatuh. Subekan yang melihat adiknya yang seperti itu seolah tidak percaya. Mungkin benar jika adiknya ada masalah. Sorot mata yang tidak seperti biasanya itu menjadi pertanda jika Larasati tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. “Mentang-mentang didatangi pacarnya. Bisa kayak gitu nggak fokusnya,” goda kakak laki-lakinya. Larasati hanya menjawab dengan gumaman. Larasati yang masih dalam keadaan melamun itu sampai tidak tahu jika air yang dituangkan ke gelasnya sudah penuh dan tumpah. “Allahu akbar Dek, ngelamun apa sih!” pekik Subekan langsung mengambil tangan Larasati yang terguyur air mendidih itu. Larasati terkaget. Gayung yang terbuat dari batok kelapa itu sampai mengenai kaki Subekan yang tanpa alas kaki. Tangan dan kaki laki-laki itu melepuh. “Lain kali kalau bahagia jangan dibawa melamun, nggak baik kan jadinya,” Subekan langsung membersihkan yang berserakan. Pun juga mengambilkan air dingin dari dalam kendi untuk merendam tangan adiknya. Tidak dihiraukan kakinya yang juga melepuh yang terpenting saat ini adalah kecantikan adiknya yang jangan sampai salah satu bagian tubuh adiknya cacat. “Sati,” panggil Subekan ketika melihat adiknya yang tidak ada respon sama sekali. Malah pandangan adiknya itu lurus ke depan seolah memandang sesuatu dan masih melamun. “Eh iya Mas, ada apa?” tanya Larasati baru membuka mulut dengan nadanya yang tergagap. Ia tidak siap dengan apa yang ditanyakan oleh kakak laki-lakinya. “Sudah, biar Mas aja yang bawa ke depan. Kamu istirahat nggak apa-apa,” tukas Subekan memilih untuk membawa adiknya ke dalam kamar.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN