Dia Akan Pergi

1072 Kata
En dan komen later weer andere leugens. Eem meisje is een engel. Wie dit het eerst ontdekte, heeft nooit zusters gehad. (Multatuli, Max Havelaar) Aku tak dibolehkan pulang dengan segera. Steve menahanku di dalam kamarnya yang cukup luas ini. Sedang dirinya, sibuk dengan perkakas alat tulis dan segala hal yang ada di tumpukan meja. Kupandangi pria itu dengan saksama. Dirinya adalah seorang laki-laki yang pekerja keras. Tak bisa kusembunyikan rasa ketertarikanku. “Permisi Tuan, mau mengantarkan minuman,” seseorang datang dengan mengetuk pintu terlebih dahulu. Steve mendongakkan kepalanya sebentar, lalu menyuruh wanita itu memberikan minuman yang dibawa untukku. Perempuan yang masih cukup belia itu datang kepadaku dengan pandangannya yang seolah tidak suka. Aku tidak tahu mengapa. Namun terkesan mengintrogasi dan aku hanya tak suka saja. Perempuan yang tadi memberikanku minum itu lalu keluar setelah berpamit. Tenggorokanku tidak bisa menerima minuman yang diberikan. Steve memandangiku selanjutnya. “Kau ada masalah?” tanya Steve. Kepalaku menggeleng. Sembari tersenyum kecil. Kutaruh gelas yang berisikan wedang hangat itu di atas nakas. Steve menutup lembaran bukunya. Merapikan seluruh pekerjaan yang tadi dikerjakannya. Langkahnya mendekat kepadaku. Dirinya duduk di sampingku. Kusingkap selimut yang ada. Agar aku bisa duduk dengan baik juga di sampingnya. “Berapa umurmu Ara?” tanyanya kemudian. “17 tahun,” jawabku kemudian. Steve diam. Pandangannya lalu menunduk ke lantai berkeramik. “Ada yang salah?” tanyaku kemudian. Steve menghela napas berat. Lalu dirinya mendekatkan wajahnya kepadaku. Napasnya sangat terasa. Segar dan sangat harum. Aku spontan menutup mataku. Merasakan bahasa tubuh yang membuat hatiku bergetar, jantungku berdegub dengan kencang. “Mengapa kau menurup mata Ara?” ucap Steve yang membuat mataku spontan membuka. “Kau sedang menstruasi. Aku rasa jika menciummu sekali, aku tidak yakin jika hanya menciummu saja,” katanya yang membuatku terkejut. Wajahku kupalingkan darinya. “Hei, mooi meisje, mengapa kau marah? Aku tak sedang menghinamu. Aku tahu batasan. Sudah kukatakan jika aku menyayangimu. Tak mungkin dirimu aku gauli saat kau datang bulan, kau mengerti maksudku?” kata kemudian dengan sangat lembut menangkup wajahku agar bisa memandangnya dengan jarak yang tidak normal seperti ini. Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan anggukan kecil. “Aku akan pergi selama beberapa hari. Berjanjilah jika kau akan bersamaku nanti,” kata Steve dengan wajahnya yang memelas. “Steve, aku sudah punya laki-laki lain--” bibirku langsung ditutup dengan satu jari telunjuknya dengan lembut. Ditekan ke dalam, sehingga bibirku tertutup rapat. “Shut, shut, shut. Aku tidak mau kau mengatakan laki-laki lain di depanku. Aku tak suka,” katanya kembali selanjutnya. Tangannya beralih, kedua telapak tangannya memangku wajahku dengan posesif. “Biarkan aku menyimpan wajahmu di hatiku, biar aku tidak melirik wanita lain di tanah lain nanti,” katanya dengan lembut. “Steve,” panggilku pelan. “Shutt, jangan banyak bicara. Diam,” titahnya kemudian. Aku menikmati satu hari bersama Steve. Londo yang aku jatuhi dengan cinta. *** Hati manusia tidak ada yang tahu. Karenanya semampunya untuk tidak mempercayai orang lain yang bermain dengan hati lebih dalam. Apalagi perial soal cinta. Semuanya harus untuk ditata sebelum semuanya menjadi benang merah yang sulit untuk diuraikan. Berusaha. Selagi masih ada waktu, namun bukankah hal itu hanya buang-buang waktu? Ketelepatian janji yang aku buat dengan londo itu memang harus aku penuhi. Biarpun rasanya mustahil, itu adalah kewajibanku. Manusia kadang pernah merasakan hal yang bimbang, khusus untuk janji, tidak boleh. Semuanya harus ditepati, bagaimana pun itu caranya. Aku hanya diam, di antar oleh Steve menggunakan kuda yang biasa ditungganginya. Steve adalah serdadu yang gagah. Ketampanan wajahnya sudah tidak diragukan lagi. Jujur aku mengaguminya. Sangat mengaguminya. Senja mulai merayap, di tanganku ada pakaian yang sudah harum tanpa harus aku mencucinya. Semuanya dicucikan oleh b***k yang ada di loji. Aku hanya membawanya pulang. Steve juga tidak banyak bicara. Dirinya hanya fokus mengendarai kuda. Tangannya memeluk pingganggu secara posesif. Kepalanya beberapa kali didekatkan di leherku. “Sudah sampai ke tempat yang kau inginkan Ara,” katanya kemudian sesaat kami telah akan masuk di gerbang desa. Aku tak langsung turun atau berkata apapun. Sungai yang ada di mataku tak terbendung untuk keluar. Aku memejamkan mata, merasakan pelukan hangat dari seorang laki-laki yang ada di debalakangku. Sangat hangat, sangat nyaman. “Ara,” katanya kemudian. “Hmm,” kujawab dengan gumaman. “Kau berjanji kan kepadaku akan hidup bersamaku?” tanyanya kemudian. Kuhapus air mata yang menggenang. “Aku mau turun dulu,” kataku kemudian. Steve turun terlebih dahulu, baru aku digendong untuk turun. “Steve, kau meragukan aku sebagai orang Jawa. Aku adalah wanita jawa yang teguh akan janji yang telah aku ucapkan. Yang aku takutkan bukan aku yang tidak bisa memenuhi janji, tapi dirimu. Aku takut jika dirimulah yang serong bersama perempuan lain. Kau sudah tau kan, betapa sakit hatiku saat melihat dirimu bersama waita lain malam itu? Itu sudah menjadi bukti bagaimana aku bisa mencintaimu dengan begitu tulus tanpa amang-amang apa pun. Kuharap kau tidak melupakanku,” kataku dengan menyentuh wajah pria itu. Bulu-bulu tipis yang ada di jenggotnya aku elus dengan perlahan. Rasanya geli, tapi aku suka. Lantas, Steve mendekatiku kembali. Aku sudah cukup puas untuk menikmati wajahnya. “Bolehkah aku mencium aroma tubuhmu Ara? Aku suka dengan aroma tubuhmu,” katanya. Aku mengangguk. Di antara perkebunan tebu yang ada di luar gerbang desa. Steve mencium aroma tubuhku seperti seseorang yang kalap akan nafsunya. Kurasakan hembusan nafasnya yang terasa lirih di wajahku, lalu turun ke leher.  Di bagian yang sensitif seorang perempuan. Napasnya terhenti, dirinya mendongak melihat wajahku. Aku hanya tersenyum dan mengangguk kecil. Lalu Steve kembali meneruskan kegiatanya. Menciumi aroma tubuhku yang lain. Termasuk di bagian kewanitaanku. Aku mundur beberapa langkah, Steve berdiri tegak kembali dengan wajahnya yang seperti menyiratkan rasa amarahnya. “Steve, aku sedang datang bulan,” kataku kemudian. Laki-laki itu tidak berbicara. Matanya melotot seperti akan keluar. Aku telah membangunkan singa yang tidur. tentu saja diamnya seorang Steve lebih menakutkan dari pada anjing yang menggonggong. Aku maju kembali, dengan diam aku menyerahkan tubuhku kembali pada pria itu. Dirinya meneruskan kegiatannya. Menciumi aroma tubuhku yang lain. Sampai akhirnya sampai di bagian kaki. Steve kembali bangkit. “Pergilah, aku akan mengawasimu sampai kau sampai di dalam rumah dari semak,” katanya kemudian. Tidak ada kata perpisahan yang indah. Di antara sejuta syair pun  melukiskan kata perpisahan dengan rona bahagia, tidak ada. Tetap saja perpisahan adalah hal yang berbau sendu. Meski memang senyum terukir di antara dua orang yang saling menjauh itu. Tidak ada yang duka selain perpisahan. Semua perpisahan adalah jahat. Dan itulah yang saat ini melukai batinku. Aku sangat terluka karenanya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN