"Karena doa yang lebih suci, ucapan terima kasih yang lebih menggelora daripada kegembiraan bisu jiwanya, tidak bisa diungkapkan dalam bahasa manusia."
(Multatuli, Max Havelaar)
“Ara! Kau mau pergi ke mana?”
Londo tadi memanggilku. Entah mengapa kakiku tiba-tiba saja berhenti. Air mataku menetes dengan deras.
Langkah londo itu semakin dekat denganku. Kakiku tidak bisa melangkah lebih jauh. Air mataku ku hapus sebisanya. Aku tak mau nampak kelihatan lemah di depan laki-laki itu.
“Ara, Er is een probleem?” (apa ada masalah)
Aku menggeleng. Laki-laki itu mendekatiku. Membelai wajahku dengan lembut. Aku tak kuasa menahan isak. Air mataku lolos begitu saja di depan wajah Steve.
“Kau menangis mooi moisje?” tanyanya kemudian.
Aku menggeleng. Jari jempolnya dengan lembut mengusap air mataku yang menggenang. Tatapanku sendu. Melihat matanya yang sebelumnya berwarna biru pagi ini terlihat merah. Ada gurat darah di sana. Mungkin Steve kurang tidur.
Tentu saja dirinya pasti menghabiskan malam dengan wanita itu.
“Sudahlah Steve, izinkan aku pergi,” kataku dengan membuang kedua tangannya yang ada di wajahku.
“Ara, kau tak bisa terus seperti itu. Aku cinta kepadamu. Aku sangat cinta,” ungkapnya dengan nada yang begitu tulus. Ketulusan seseorang memang tidak dapat dilihat hanya dari panca indra. Entahlah, entah aku yang terlalu mudah untuk dibohongi, ataukah memang tindakanku benar ketika diriku selalu ingin menolak dirinya ketika dirinya bersama wanita lain.
Ohh, rasanya masih sakit. Ketika melihat orang yang kita cinta beradu panas dengan wanita lain. Sekalipun hati wanita ada yang terbuat dari baja, jika sudah cinta maka dirinya tidak akan rela melihat laki-lakinya dengan orang lain.
“Mataku tak buta Steve! Kau sekarang menyatakan cinta, sedang kemarin malam? Kau bermesraan dengan orang lain. Dengan wanita lain, jelas di depan mataku! Dasar laki-laki tak punya hati memang kau!” amarahku tepat di depan wajahnya. Aku sampai berjinjit biar bisa menyamai dengan wajahnya. Sudah tak tertahan lagi apa yang ada di dalam hati. Kuangkapkan berharap jika ada perasaan bersalah dari laki-laki itu.
“Kau cemburu mooi meisje?” tanyanya seolah tanpa dosa. Apalagi senyum di ujung bibirnya yang kecil merah muda itu.
“Untuk apa aku cemburu. Huhh, memang dasar. Dari dulu semua laki-laki dari bangsamu itu angkuh. Tidak mempunyai hati nurani,” kataku kemudian dengan membuang muka dari wajah lelaki londo itu. Kedua tanganku berlipat menyangga p******a.
Tiba-tiba kedua bahuku dicengkeram erat oleh kedua tangan kekarnya. Wajahku dipaksa melihat ke wajahnya yang saat ini berubah menjadi monster yang menakutkan. Jantungku berdebar dengan kencang. Bagaimanapun bisa saja sesuatu terjadi padaku.
“Ara, kau boleh mengolok-olokku seperti apa. Namun ketahuilah, bangsaku lebih besar dari bangsamu yang hanya monyet-monyet tak berakal. Kau mengerti? Jangan samakan aku dengan yang lain. Aku berbeda Ara, aku berbeda!” katanya dengan otot yang menyugar dahinya.
Aku melihat matanya yang memerah itu.
“Lalu, siapa wanita kemarin? Kau berbuat apa kepadanya? Kenapa kau tidak mencintai dirinya saja?” tanyaku kemudian.
“Aku tak cinta dirinya. Dirinya hanya seorang gundik, inventaris dari kolonel Jackob. Dia hanya wanita mainan!” katanya kembali.
“Aku dan wanita itu sama. Jika kau anggap dia mainan, lantas kau anggap aku apa? Aku dan dirinya sama perempuan. Kami memiliki nurani yang sama.”
Pandangan Steve melembut.
“Kau berbeda Ara, kau berbeda. Dirinya hanya menginginkan kekayaan dariku, sedangkan kau. Kau adalah wanita spesial. Kau wanita yang ku cintai. Berilah aku tempat di hatimu. Niscaya kau kan ku jadikan ratu, mooi meisje.”
Aku hampir terbuai oleh perasaan. Namun segera diriku memasang wajah cemberut kembali.“Kau meragukanku Ara?”
“Tidak ada yang perlu diragukan, aku hanya kesal dengan sikapmu kemarin,” kataku jujur.
“Aku sudah berkata jika itu bukan atas kehendakku. Masih kah kau tidak percaya?”
“Bagaimana aku bisa percaya, aku tidak bisa mempercainya begitu saja. Kecuali jika kau berusaha untuk meminta maaf kepadaku.”
“Meminta maaf untuk apa?”
“Kesalahanmu kemarin.”
“Aku tidak salah.”
“Kau tak sadar jika membuat ku sakit hati? Tinggal berkata minta maaf saja sulit sekali.”
“Aku tidak bersalah sama sekali Ara, untuk apa aku meminta maaf?”
“Sudahlah berkata kepadamu itu sama seperti berkata kepada batu. Keras kepala.”
Aku melangkah menjauh dari pria yang semenjak tadi ingin berdebat panjang denganku. Jika aku terus saling debat, maka pekerjaanku tidak akan selesai-selesai. Mau bilang apapun, aku tidak akan peduli.
“Ara, kau mau kemana? Kita belum selesai bicara.”
“Kau tak bawa mata hah? Aku membawa bakul untuk mencuci baju. Kau kira aku akan pergi kondangan di acara pernikahan buaya?” kataku sambil setengah berteriak. Aku tidak mengindahkan apa yang dikatakannya dan terus melangkah.
Menuruni jalanan yang agak curam ke arah sungai. Iya, karena berada di daratan rendah, aku harus turun beberapa meter dengan bawaan yang cukup berat.
Namun, baru saja sampai di samping sungai, baru aku melihat air yang begitu sejuk itu, pandanganku buram. Seperti ada sekelebat putih di depanku yang membuat mataku silau tak tertahan.
Pening, baru kemudian aku tak sadarkan diri dengan apa yang terjadi.
“Araa … “ dan suara itu seolah sedikit pudar.
***
“Apakah dia tidak apa-apa dokter?”
“Tidak, dia hanya kehilangan banyak darah karena menstruasi, Tuan Steve tidak perlu khawatir. Cukup berikan banyak makanan yang mengandung gizi dan vitamin, dan jangan diberikan pekerjaan yang berat-berat. Kalau sudah tidak ada yang ditanyakan, saya pamit dulu ya. Sebentar lagi pasien akan sadar.”
“Iya Dok, Bedank”
“Selamat pagi.”
Kudengar sayup-sayup dua orang yang saling berbicara satu dengan yang lain. Semua menggunakan bahasa Indonesia. Aku mengetahui artinya.
Di manakah aku sekarang? dan kedua suara tadi, suara siapa?
“Kau sudah siuman Mooi Meisje?” tanya seseorang yang sepertinya tidak asing.
Mataku menyisir, menyesuaikan sinar yang masuk di mataku. Sebuah atap dengan lampu yang terang. Kulirik ke samping kanan. Di bagian tembok ada banyak lukisan. Ada juga meja dengan bola besar di atasnya. Apalagi buku-buku yang berjejer rapi di rak. Di mana kah aku sekarang.
“Kau siapa?” tanyaku sepintas.
“Kau hanya pingsan bukan? Tidak hilang ingatan?” laki-laki di depanku memekik.
Steve. Aku mengingatnya. Ohh, aku kira aku bangun dari tidur.
“Maaf, tidak. Maksudku bukan begitu, aku hanya sedang terkaget dengan apa yang aku lihat. Kau membawaku kemana Steve?” tanyaku kemudian.
Steve membantuku untuk duduk bersender pada kepala ranjang. Bantal empuknya digunakan untuk menyangga punggungku.
“Kau jangan banyak gerak Ara,” katanya kembali memberikan nasihat.
“Maaf, aku hanya ingin bertanya. Di mana kah aku sekarang? Lalu pakaianku?” kuingat apa yang terjadi sebelumnya.
“Mengapa kau selalu meminta maaf, kau tidak salah. Untuk apa meminta maaf,” kata Steve tidak suka.
Aku lalu memandang wajahnya yang saat ini diliputi rasa amarah. Entah mengapa, aku hanya memandang wajah itu sebagai wajah yang terpenuhi oleh rasa amarah hari ini.
“Kesalahan orang Hindia Belanda seperti ini. Mereka selalu menyalahkan dirinya sendiri untuk berlindung dari kesalahan. Padahal itulah yang sebenarnya merendahkan harkat dan martabat mereka.”