Seluruh kehidupan adalah peruntungan yang buta, bahkan ketika kamu mengira tengah mengubahnya.
Hari-hari berlalu. Semenjak Steve hadir di dalam mimpi ku yang tak terduga itu, hatiku semakin kacau. Aku tidak tahu harus bersikap yang bagaimana. Membohongi diriku sendiri atau membohongi semua orang.
Aku tahu bagaimana rasanya mendapatkan rasa sakitnya menahan cinta seorang diri. Mungkin seperti ini rasanya. Dan fisik ku terlalu lemah untuk itu, hingga aku terpaksa ambruk dan tiduran di saat H-5 pernikahan ku.
Sanak saudara telah datang. Membuat makanan dan hidangan untuk pesta nanti. Pernikahan dengan anak camat harus dirayakan dengan meriah. Dan ini adalah hal yang pertama juga di keluarga Larasati. Mereka melangsungkan pernikahan anak mereka yang pertama, jadi dirayakan dengan sangat baik juga.
Beberapa teman Larasati juga datang untuk menjenguk ke adaannya. Sati yang pulang dari tempatnya belajar datang ke rumah Lasarati sendiri. Biasanya yang bersama dengan Jumani dan Fatonah, harus dengna dirinya sendiri saat ia ketahui jika Jumani pergi jauh dari desa mereka ketika mendapatkan kasus itu. Kasus yang mempermalukan orang sekampung. Tidak ada yang bisa mencegah perempuan itu untuk pergi. Dari itu siapa saja yang melihat itu akan sangat miris.
“Apa jangan-jangan, kamu sakit ini sebab sawanen?” ledek Siti dengan nada gurauan. Larasati yang mendengar tertawa dengan terbahak-bahak. Tidak mungkin jika dirinya sawanen.
Sawanen adalah kondisi di mana seseorang yang sakit karena melihat sesuatu atau terkaget. Biasanya sawanen ini hanya dialami anak kecil. Contohnya adalah saat ada orang mati, maka anak kecil yang masih bayi tidak boleh diperlihatkan orang meninggal, atau contoh yang lain adalah saat anak kecil melihat pengantin yang mengenakan riasan make up. Atau seorang sinden yang memakai make up. Obatnya adalah dengan memberikan bedak kepada si anak bayi itu.
Beda lagi dengan apa yang dimaksudkan oleh Siti. Maksud dari kata sawan darinya adalah kalimat yang merujuk kepada sawan melihat suami Larasati nanti dan ketidaksiapan yang ada dengan malam pertama tentunya.
“Kamu ada-ada saja Siti,” ujar Larasati kepada sahabatnya itu sembari sedikit senyum di wajahnya untuk memberikan kesan humor.
Larasati hanya tersenyum dengan tulus. Jarik yang digunakan untuk selimut ditarik olehnya lebih erat. Dicengkeram dengan kekuatannya. Dia tidak bisa membohongi perasaannya ketika merasakan beban yang sangat luar biasa menahan rindu.
Bukan dengan Sholeh, melainkan dengan Steve. Kekasih yang dirinya sangat dambakan kehadirannya. Sejak mimpi tersebut terjadi, hatinya bimbang, batinnya bergejolak. Ingin melepaskan Sholeh dan bersanding dengan Steve. Namun hatinya masih gamang.
Betapa dirinya akan menyakiti hati banyak orang. Menyakiti hati banyak keluarga. Dan menghancurkan banyak hubungan kekeluargaan yang sudah terjalin.
Pikirannya tiba-tiba mengingat apa yang dikatakan oleh Sholeh kepadanya sesaat sebelum dirinya dipingit H-7 sebelum mereka berdua tidak diperkenankan untuk bertemu.
“Aku sudah tahu segalanya Sati. Hati tidak bisa dibohongi. Kau tahu jika aku kasyaf. Bisa melihat apa yang orang lain tidak bisa lihat.
Ohh, bahkan matamu saja tidak bisa kau bohongi dan tutupi. Jika hatimu bukan untuk saya,” kata laki-laki itu di sebuah pematang sawah.
Larasati hanya bisa diam dan tak bisa menjawab.
“Apa yang sudah kau perbuat dengan laki-laki Londo itu?” tanya Sholeh dengan nada yang berat. Hatinya ikut remuk di dalam masalah klasik ini. Batinnya telah hancur berkeping-keping sesaat dirinya pulang dari sekolah dan menemui kekasihnya sedang bermesraan dengan Londo asing.
“Apa maksudmu Mas, aku tak mengerti. Aku tak ada bersama Londo mana pun. Aku setia dengan Mas Sholeh. Aku menjaga cintaku untuk Mas,” jawab Larastai dengan hatinya yang sebenarnya sedang berbohong.
Sholeh tidak tinggal diam. Dirinya langsung mengambil sebuah kalung dari dalam sakunya.
“Bukannya itu punya Mas sendiri?” tanya Larasati yang langsung diangguki oleh Sholeh.
“Benar. Ini memang benar aku yang punya. Namun kalau ini?” tanya Sholeh sesaat mengambil seragam militer milik Serdadu itu.
Seragam milik Steve yang masih disimpan di dalam lemari. Beberapa saat yang lalu dirinya tanpa sengaja masuk ke dalam kamar Larasati untuk menaruh keperluan make up kado dari Ibunya. Sesaat ketika dirinya akan keluar dan mendapati lemari tiba-tiba membuka, dirinya menemukan seragam militer milik Steve dengan nama bordiran di atasnya dengan sangat lengkap.
Sholeh bukan laki-laki bodoh yang bisa ditipu dengan begitu saja
Meskipun dirinya khasayaf atau memiliki kemampuan untuk melihat di luar batas kemampuan manusia, tetap saja dirinya tidak percaya jika belum ada bukti yang real tentang itu semua. Dan benar, kebenaran itu seolah menjadi rinci g bambu yang menusuk hatinya. Melumpuhkan perasaannya dengan perlahan.
Kenyataan yang pahit ketika harus mampu untuk menerima kenyataan. Larasati tak mencintainya dengan tulus.
Larasati mengambil seragam militer itu dengan cepat dari tanagn Sholeh.
“Mas—Mas da—pat ini dari mana?” terbata-bata perkataan Larastai menjawab pertanyaan Sholeh.
“Sudah, jangan tanya saya dapat dari mana. Yang jelas saya hanya ingin bertanya kembali kepadamu. Apa kamu sudah tidak mencintai saya? Dan kamu lebih mencintai Londo itu?” Tanya Sholeh menegaskan.
Larasati tidak bisa menjawab apa pun. Bibirnya mendadak Kelu. Persis seperri maling yang tertangkap basah oleh Polisi. Kepalanya hanya bisa menunduk. Menahan air mata ya yang siap tumpah ruah. Diri ya tidak bisa membohongi rasa yang ada. Perasaannya tidak bisa dibohongi jika dirinya menyimpan rasa dengan Steve. Mimpinya terlalu nyata untuk diwujudkan. Meski demikian, Larasati tahu, jika bersatu dengan Londo adalah hal yang mustahil.
Menikah dengan Londo adalah sebuah kehinaan besar.
"Aku mencintai Steve Mas," ujar Larasati seketika.
Sholeh hanya bisa menarik napasnya dengan berat. Tidak bisa dirinya melakukan banyak hal. Perempuan yang dipilihnya untuk dijadikan istri, lebih memilih laki-laki lain daripadanya yang mencintai Larasati dengan tulus.
"Mas, tapi kau jangan salah sangka dulu. Bukannya seseorang berhak untuk mencintai dan dicintai. Aku tidaklah tahu mengapa aku mencintainya Mas. Sedangkan kau membawa cinta yang lebih tulus daripadanya. Rasa cinta itu muncul dengan sendirinya. Aku tidak bisa menolak apalagi menangkisnya.
Ku mohon kau mengertilah apa yang aku rasakan. Pepatah Jawa mengatakan bahwa Tresno Kuwi jalaran Soko kulino, yang artinya cinta itu akan tumbuh karena saling terbiasa. Dan itulah yang aku inginkan darimu saat ini Mas. Ku harap Mas bisa bersabar tentang rasa cinta yang saat ini aku rasakan. Kita tetap akan melanjutkan pernikahan kita. Meski aku tahu hati Mas akan terluka. Percayalah, aku juga merasakan sakit yang sama."