Author POV
“Kau sangat cantik Ara, kau sangat cantik.”
Pujian itu, yang diberikan apa adanya, membuat napas Larasati tertahan. Betapa membingungkannya pria ini! Ada kebutuhan yang tampak jelad pada Steve--Bukan kebutuhan terhadap Larasati, atau tubuhnya, tepatnya. Namun anehnya Larasati berpikir ia tahu Steve butuh untuk tidak dihakimi. Itu kebutuhan yang lahir dari kesedihan, dan Larasatu tidak sanggup melihat kebutuhan itu di mata seorang pria.
Larasati bergerak tanpa berpikirm melingkarkan tangan di leher Steve. Tubuh Steve menegang, tapi Larasatu menarik wajah pria itu ke bawah dan menciumnya. Ia bermaksud memberi ciuman menenangkan, dan jemarinya berputar ringan di rahang pria itu , merasakan tajamnya bakal jambang di sana.
Larasati merasa Steve menghela napas, merasa ketegangan pria itu sedikit mengendur. Tangan Steve melingkarinya, mendekatkan tubuh mereka. Larasati bisa merasakan gairah Steve, dan rasa mendamba menguasai pikirannya. Ia menarik lepas kemeja Steve lalu membuka kerah pria itu.
Steve menekankan dahi ke dahi Larasati, matanya terpejam, dia menarik napas dalam-dalam.
Larasati membuka kancing rompi Steve dan menyibakkannya. Ia menri kemeja Steve dari celana panjang dan menyelipkan tangan di bawah kemeja pria itu. Perut Steve yang berotot bergerak di bawah jemarinya, seolah tidak sanggup disentuh. Larasati menyusurkan tangan di d**a Steve, mencium d**a pria itu dari leher terbuka ke kemejanya.
Stee mendorong Larasatu ke belakang sampai terhempas ke tempat tidur. Mendadak dia menggeser Larasati dan duduk di atas tempat tidur, menarik Larasati ke pangkuannya. Dia meletakkan kedua tangan di rambut Larasati sambil menciumnya. Bibir pria itu hangat dan menuntut, menyiksa sekaligus membangkitkan kenikmatan. Hasrat berdenyut dalam diri Larasati. Ia menginginkan Steve lebih dari apa pun.
Reaksi Steve pada Larasati kuat dan menuntut, seperti biasanya, namun malam ini berbeda dari yang lalu. Dalam belaian Steve, dalam tatapannya, yang benar-benar menatap Larasatu, Larasati merasa seolah pria itu merasakan sesuatu selain kenikmatan fisik.
Itu mengejutkan Larasati, mengguncang setiap belulang dan saraf dalam dirinya. Tubuh Larasati bereaksi dari tempat yang primitif, dan ia menekankan tubuh ke tubuh Steve setelah pria itu buru-buru melepaskan kemeja. Merasa pas dalam pelukan Steve seolah dia sudah di sana sejak lama. Lidah Steve membelai bagian samping tubuh Larasati, badannya, payudaranya. Larasati bisa melupakan apapun yang terjadi beberapa minggu terakhir. Yang ia lihat, ia rasakan, hanya Steve. Ia dikuatkan hasrat Steve padanya, dan kebutuhannya mulai beradu dengan kebutuhan Steve, lalu bertaut dan menuntut dari Steve sebanyak yang dituntut pria itu darinya.
Dengan penuh gairah Steve menjelajahi mulut Larasati, sementara tangannya bergerak di tubu Larasati, menuruni lekuk, menaiki lekuk yang lain Steve berdiri, masih memeluk Larasatu di pinggang, lalu dengan satu tangan melepaskan celana panjang.
Kenikmatan dan hasrat menyelubungi Larasati, dan ia menunduk, rambutnya membentuk tirai di antara mereka. Steve menepis rambut Larasati, mencari payudaranya. Sinar putih-panas seolah menembus diri Larasati, napasnya semkain memburu.
Steve menyibak rambut dari wajah Larasati, mengangkat Steve dan menyatukan tubuh mereka. Larasati terkesiap atas sensasinya; ia mencengkeram pundak Steve, bergerak pelan tidak yakin. Steve menciumnya dengan kelembutan yang tidak bisa sembari membantunya bergerak, memimpin irama. Ketika Larasati mengambil alih, tangan Steve pindah ke p******a Larasati yang sintal dan padat itu, mata pria itu tertuju padanya.
Larasati mulai bergerak lebih cepat, mencari pelepasan; Steve mulai membelai Larasati. Sentuhan Steve mendebarkan--Larasati melingkarkan tangan di leher Steve, mengamati wajah pria itu ketika mereka bergerak, sampai ia tidak sanggup lagi menanggungnya. Larasati memejamkan mata. Merasakan pelepasan yang penuh kenikmatan berputar, putar, membesar, dan terus membesar, sampai akhirnya ia pecah berkeping-keping diterjang gelombang kenikmatan.
Selama beberapa saat , Steve menahan Larasi, berpacu menuju kenikmatannya sendiri. Dia menyentuh bibir, bergerak lebih cepat dan lebih kuat sampai Larasati merasakan tubuh Steve bergetar, mendengar pria itu mendesah lega karena pelepasan.
Larasat memeluk Steve. Ia mencium bagian samping kepala Steve dan tersenyum menatap kanopi, menikmati keindahan penyatuan tubuh mereka.
Steve mengangkat wajah, mencium pipi Larasati dengan lembut, juga dahinya, lalu memeluknya dan berguling menyamping.
Larasati belum pernah merasa begitu puas. Jantungnya masih berdetak kencang di d**a Steve. Kulit Steve lembap, tangannya memeluk Larasati dengan erat. Lasarati merasa melayang, seolah semua di sekitar mereka berkilau. Menyelubungi mereka di atas tempat tidurnya.
Beberapa waktu berlalu sebelum Steve meletakkan telapak tangan di pipi Larasati dan menciumnya lembut, tanpa tenaga. Kemudian dia berguling terlentang masih berusaha menunggu napasnya kembali normal.
Setelah sesaat, Steve mendorong diri untuk bangkit, “Sebaiknya aku meninggalkanmu--”
“Jangan!” cetus Larasati, dan memegang lengan Steve. “Ku mohon jangan pergi.”
“Sebaiknya kau beristirahat.”
“Steve, jangan pergi.” Larasati tersenyum pada Steve dan membelai lengannya lembut.
Steve mengelus pipi Larasati, dan perlahan kembali membaringkan badan, berbaring di sampingnya.
Larasati tersenyum dan mencium pundak Steve, melingkarkan tangan di perut pira itu sembari menempatkan diri di sampingnya. Larasati merasa seolah beberapa jurang sudah diseberangi malam ini. Untuk pertama kali sejak dirinya merasakan kehidupan ia merasa penuh harapan. Ia yakin saat itu ia bisa menumbuhkan perasaan sayang yang kuat terhadap Steve.
Namun, ketika Larasati terbangun sekitar beberapa menit kemudian, dan menemukan dirinya sendirian di tempat tidur, kehangatan yang Larasati rasakan berubah menjadi dingin. Ia mendorong tubuhnya untuk bangkit. Lalu melihat ke sekeliling kamarnya yang berbeda keadaannya dengan yang ada di beberapa ingatannya tadi.
Steve dan pakaiannya sudah tidak ada.
Larasati menghempaskan diri ke tempat tidur. Kedua tangannya terentang. Ia memandangi genteng rumah di atasnya, marah dan mungkin bahkan seidikit terluka. Pasti ada jalan untuk meraih Steve, tapi terkutuklah kalau Larasati tahu caranya.
Larasati berdiri, melihat dirinya di depan cermin. Baru kali ini dirinya memberanikan diri untuk telanjang bulat dengan dirinya sendiri. Tangannya menelusur ke arah rambut, lalu turun ke wajah, leher, p******a, perut, dan yang terakhir, vaginanya yang masih terasa hangat itu.
Larasati yakin dengan mimpinya yang baru dialami. Mimpi itu seolah nyata. Dan memberikan kesempatan kepadanya untuk mendambakan tubuh Steve yang penuh dengan kenikmatan itu.
Larasati percaya, suatu saat dirinya akan bisa bersamping dengan pria itu. Berdua saling beradu hasrat dan gairah. Berdua berbagi deru napas dan kehangatan. Bagaimana pun caranya, bagaimana pun jalannya.
Kerinduan tidak bisa dihilangkan darinya. Perasaan candu dengan cinta yang menggelora di dalam hati manusia tidak dapat diingkari.
dua manusia yang berbeda tempat itu, saling merasakan rasa dan nikmatnya. Iya, di sana. Di tanah Jawa Barat, Steve agaknya juga bermimpi tentang persengamaan yang sama. Dengan Larasati. Gadis desa yang sejak pertama bertemu mengisi lubuk hatinya. Steve merasakan gairah dan kenikmatan yang tidak dirinya rasakan dari tubuh yang lain. Tubuh Larasati begitu candu, dan dirinya pun yakin akan bisa menyatu dengan Larasati. Bagaimana pun caranya, bagaimana pun jalannya.
“Mooi Meisje, ik hou van je”