Wanita melawan agar dikalahkan; begitu pula laki-laki tertentu.
“Ah sudahlah jangan dipikirkan. Ayo kita pulang.”
Daripada memperpanjang masalah, seseorang kadang memilih untuk tidak berbicara atau terang-terangan menyingkir dari masalah itu. Padahal, menurut ku, jika masalah tidak kunjung diselesaikan. Itu sama seperti menambah panjang masalah yang ada. Sama seperti saat kita mengacuhkan tugas kita, itu sama seperti hanya mengulur pekerjaan yang sama-sama akan kita tanggung suatu saat bukan. Iya, semua hal yang berhubungan dengan tanggung jawab sudah seharusnya untuk diselesaikan secepatnya.
Aku hanya memandangi wajah Mas Sholeh sekali lagi. Tidak ada hal yang membuatnya tidak tersenyum. Di sepanjang jalan dirinya tersenyum. Bukan, bukan untukku. Melainkan untuk semua orang yang ditemuinya di jalan-jalan.
Mas Sholeh termasuk orang yang sumeh semua orang. Tidak mengunggulkan kedudukan orang tuanya yang menjadi seorang camat di sini.
Ketika aku akan pulang, mataku terbelalak ketika melihat Jumani di usir dari rumahnya seraya disumpah serapi oleh ayahnya yang terkenal dengan kekejamannya itu.
Aku langsung menarik tangan Mas Sholeh dan mengajaknya untuk melihat kondisi Jumani yang tersungkur di tanah itu. Ibu Jumani menangis tersedu-sedu. Aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
“Ada apa to Buk Pak, ada apa?” tanyaku langsung duduk memeluk Jumani yang menangis dengan sesenggukan. Ada apa sebenarnya.
Tidak ada yang menjawab. Bapak Jumani terus-terusan memukuli dirinya. Aku tidak tega.
“Pak, seharusnya anak perempuannya itu dikasih kasih sayang. Jangan dipukuli seperti ini Pak. Itu tidak baik. Kalau ada masalah, diselesaikan,” ujar Mas Sholeh yang mencoba untuk meredamkan amarah Bapak Jumani.
“Kamu nggak apa-apa Jum?” tanyaku kepada wanita itu. Jumani hanya menggelengkan kepalanya.
“Sudah! Jangan disntuh anak itu. Itu anak sudah kotor, sudah tidak perawan!” ujar Bapak Jumani yang membuat pelukan ku kepadanya perlahan memudar. Aku menyingkap rambut Jumani yang sudah tidak tergelung rapi itu.
“Apa benar yang dikatakan oleh Bapak mu? Siapa yang melakukannya Jum, siapa?” tanyaku kemudian.
Jumani tidak bisa menjawab pertanyaan ku. Dirinya hanya bisa diam tanpa bicara sedikit pun. Air matanya yang berbicara jika dirinya sedang sedih dan menyesal. Ketika sorot matanya seolah mengatakan kepadaku jika benar apa yang dikatakan oleh Bapaknya.
Aku menjauh darinya. Jumani langsung bersimpuh di kaki Bapaknya sekali lagi. Aku menggigit kuku ku dengan kuat. Berharap jika semua ini adalah mimpi.
“Pak, maafkan Jumani. Maafkan Jumani Pak,” katanya kemudian dengan bersimpuh di kaki Bapaknya.
Mas Sholeh menari tubuh Jumani menjauh dari kaki orang tua yang terus menendangi tubuh Jumani tanpa ampun.
“Sudah Pak, sudah. Jangan diteruskan. Jangan diteruskan. Cukup,” kata Mas Sholeh dengan ikut menarik tangan Jumani yang meronta-ronta itu.
“Jika Bapak terus melakukan ini, maka Bapak bisa saja saya laporkan ke dewan atas kasus penganiyaan, bukan korban Jumani. Melainkan saya!” pekik Mas Sholeh dengan suaranya yang keras.
Bapak Jumani berhenti untuk menendang tubuh Jumani.
***
“Katakan, siapa yang melakukannya Nduk?” tanya Pak Lurah dengan suaranya yang pelan.
Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Kedatangan Jumani kemarin ke rumahku dan hal besar yang terjadi hari ini merupakan sesuatu yang tidak bisa aku pahami secara bersamaan. Ini adalah hal yang sulit dan mungkin tidak akan bisa aku percayai.
Sahabat yang aku sayangi mengapa melakukan perbuatan zina di luar nikah.
“Ayo Jumani, siapa yang melakukannya, kamu nggak usah takut, ada kami,” tambah Mas Sholeh dengan nadanya yang tenang.
Semua orang yang ada di dalam rumah ini memandang Jumani dengan perasaan yang campur aduk. Kami menunggu bagaimana bibir itu bisa terbuka untuk kami.tertuju kepadanya penuh.
Diam. Sunyi dan senyap. Semua orang masih menunggu, pandangan kami sama-sama dalam dan penasaran.
“Mas Hadi yang menghamili Jumani.”
Kami yang ada di sini mengetahui pelakunya.
“Tidak bisa! Bagaimana kamu bisa menuduh Hadi anakku yang menghamili. Dia juga saudara kamu. Nggak bisa”
Bapak Jumani dengann nada suaranya yang keras itu lansung menentang apa yang dikatakan oleh Jumani. Mas Hadi adalah anak kandung Bapak Jumani dari dusun sebelah. Sangat tidak mungkin pada awalnya. Akan tetapi, jika sudah seperti ini, maka semuanya tidak bisa apa-apa. Fakta sudah ada.
“Hukum adat akan tetap berlaku di sini. Kita nggak bisa buat diam saja. Memilih diusir dari desa, atau ditelanjangi bulat-bulat arak-arakan di desa?” tanya Pak Lurah kemudian
Aku yang duduk di samping Jumani langsung memeluk anak itu dengan erat.
“Pak, nggak bisa begitu. Dia jadi korban di sini, nggak pantas mendapatkan perlakuan yang sedemikian hinanya!” bentakku tidak terima.
Pak Lurah mengeraskan suaranya “Lebih hina mana, apa yang dilakukan oleh Jumani dengan mengaraknya di desa. Kita akan tanya baik-baik ke rumah Hadi. Jika mereka berdua sepakat memilih opsi yang mana, ya itulah pilihan mereka! Ini sudah norma dan hukum! Tidak ada yang bisa mengelaknya.
Kau tak lihat, di desa lain sudah turun hujan, sedangkan di desa kita masih kering kerontang membutuhkan air hujan. Berapa banyak warga desa yang menanggung akibat dari tingkah polah dua anak itu hah!” kata Pak Lurah dengan berapi-api.
Mas Sholeh membawa Pak Lurah untuk duduk dengan tenang.
“Jangan mentang-mentang kamu akan dinikahi anak camat berani berbicara keras seperti itu! Sadar dengan keluargamu yang hanya anak petani!” sahut Pak Lurah itu kemudian.
Aku diam. Tidak berbicara. Mas Sholeh mencoba memberikan pengertian kepadaku lewat sorot matanya. Hatiku berontak ingin tetap untuk membantah apa yang dikatakan oleh Pak Lurah tadi.
“Sati,” panggil Jumani dengan suara rendahnya.
“Iya, ada apa Jum?” tanyaku.
“Kau tidak kecewa padaku?” tanyanya kemudian. Aku menggeleng.
“Tidak, aku tidak kecewa dengan mu. Percaya padaku, kau akan baik-baik saja Jumani,” kata ku kemudian kepadanya. Jumani memeluk tubuh ku dengan erat.
Tidak ada obrolan apa pun antara aku dengan Mas Sholeh ketika pulang. Sungguh kejadian yang sangat tidak kami duga. Mas Sholeh tidak banyak bicara tentang apa yang telah dikatakan oleh Jumani. Entahlah, aku tidak tahu apa yang ada di pikiran laki-laki itu. Yang jelas, saat ini raut wajahnya agak murung. Ekspresi yang tidak seperti biasanya. Wajahnya ditekuk dan terlihat seperti banyak beban.
“Terima kasih ya Mas, atas bantuannya,” ujarku.
“Sama-sama. Kau tak perlu berterima kasih sebenarnya kepadaku. Namun, aku menerimanya. Ooiya, bawa sekalian ikan ini. Lumayan untuk lauk makan siang nanti bukan,” ujar Mas Sholeh sembari menyerahkan hasil tangkapan ikannya yang besar-besar itu.
“Nggak apa-apa Mas?” tanyaku meyakinkan.
“Iya, Mas Subekan pasti hari-hari ini capai karena harus mempersiapkan pernikahan kita yang tinggal beberapa hari saja.”
“Iya Mas. Sekali lagi terima kasih ya. Kalau gitu Sati ke dalam dulu,” pamitku kemudian.
“Sati, sebentar,” ujar Mas Sholeh yang membuat tubuhku membalik lagi. Menghadap dirinya dengan wajah sendu yang menghiasi wajahnya itu.
“Jaga kehormatan mu untuk ku ya,” pintanya kemudian.
Aku tidak bisa menjawab apa pun. Tiba-tiba bibirku kelu untuk menjawab. Antara bimbang dengan pilihanku dan masih tidak percaya jika aku akan dinikahi oleh laki-laki lain selain Steve.
“Sati,” panggil Mas Sholeh yang membuyarkan lamunan ku.
“Eh iya Mas, iya.”
“Jaga kehormatan untuk saya.”
“Iya Mas, Insya Allah.”
“Kau telah berjanji kepada ku atas nama Allah.”
***