Kepercayaan itu seperti keperawanan. Sekali hilang, maka selamanya tidak akan pernah kembali.
Ketika aku akan memanggil Jumani untuk sarapan, batang hidungnya tidak kujumpai di kamar. Entah di mana dia. Aku sampai mengelus d**a untuk yang ke sekian kali mengingat tingkahnya yang tiba-tiba menghilang ini.
Kurapikan tempat tidur yang ada, di atas tempat tidurku seperti ada noda darah yang kering, mungkin itu adalah karena sisa dari darah haid ku, atau milik Jumani.
“Nduk, kok lama, Jumani di mana?” Ibu berteriak dari luar.
“Jumani sudah pulang Buk,” kataku dengan setengah berteriak.
Aku pun melanjutkan kegiatanku untuk membersihkan tempat tidurku kembali.
Sedikit terheran dengan Jumani yang seperti ini. Baru tadi pagi saja aku mengetahui Jumani yang tidak banyak bicara. Seperti ada yang ditutupi, tap aku tak tahu itu apa.
Aku saat ini hanya bisa berhusnudzon saja. Semoga tidak ada apa-apa. Dan yang terjadi memang hanya sekilas. Meski ada takutnya juga jika yang tidur denganku bukan Jumani dan sekelas hantu kuntilanak yang sedang menyamar jadi Jumani.
Entahlah, aku hanya banyak berpikir sekarang.
Pagi setelah membuatkan sarapan, seperti biasanya aku mencuci baju di sungai. Jumani tidak aku temui di mana. Aku bisa memastikan kalau begini yang tadi pagi ke rumahku memang benar dirinya.
“Mbak Yayuk, kita barengan ya ke kali nya,” kataku memanggil Mbak Yayuk yang merupakan tetangga Jumani yang kadang berangkat berbarengan dengan Jumani.
“Ohh boleh Sati. Ooya ngomong-ngomong kamu kapan mau melangsungkan pernikahan dengan Mas Sholeh?” tanya Mbak Yayuk.
Aku tersenyum melihatnya.
“Tanggal tiga belas bulan Besar Mbak,” jawaku.
Mbk Yayuk mengangguk, “jadi tinggal berapa hari lagi ini. Kurang dua puluh harian ya. Cepet banget perasaan. Padahal tahun kemarin gemblongnya masih terasa di lidah. Gemblong buatan Mbokk de Rini memang nggak ada duanya. Hehehe,” puji Mbak Yayuk yang membuat aku tersenyum.
Kami berjalan sampai di sungai. Aku mencoba menjauh darinya karena aku ingin sendiri dan lebih enak kalau sendiri. Batu besar yang ada di tengah aku pilih sebegai tempat untuk mencuci baju. Karena air yang ada akan jauh tidak akan terkena apapun sebelumnya. Yang paling dikhawatirkan jika pagi seperti ini adalah adanya tai yang mengambang dan membuat siapapun akan berjingkrak melihatnya. Aku saat ini sedang badmood, jadi tidak ingin melihat apapun itu yang menjijikkan.
Baru saja lima pakaian yang aku gosok dengan jerami, aku dikejutkan oleh sebuah sosok di dalam pantulan air yang tidak bisa aku percaya. Di sana ada gambar Steve yang sedang tersenyum kepadaku. Tentunya ini adalah hal yang sangat membahagiakan.
“Steve, kau kemari?” gumamku seketika.
“Sati,” jawab orang yang ada di atasku dengan nadanya yang tidak asing.
Ohh itu bukan suara Steve. Aku mengenalinya.
Dengan gerakan slow motion aku pun membalikkan badanku dan melihat siapa yang ada di belakangku tadi.
“Mas Sholeh,” kataku dengan sangat gugup. Bagaimana aku bisa tak mengenali, antara wajah Mas Sholeh dan Steve.
Mas Sholeh hanya tersenyum kepadaku. Tidak ada raut tidak suka di wajahnya.
“Sedang cuci baju?” tanyanya tidka menghiraukan apa yang aku katakan tadi. Apa jangan-jangan Mas Sholeh tidak mendengar apa tang aku katakan tadi.
Tapi syukurlah jika tidak mendengar itu sangat lebih bagus bukan. Sehingga aku tidak kerepotan mencari alibi yang sesuai.
“Eh iya Mas. Iya. Lagi cuci baju. Mas nya sendiri sedang apa?” tanyaku dengan nada yang sedikit tersendat. Aku grogi karena salah sebutku tadi.
“Mas ada mau tangkap ikan. Lumayan buat lauk,” ujarnya kembali.
“Ohh iya, Mas,” aku tidak bisa menjawab apa-apa selain itu. Itu pun sangat sulit untuk diucapkan.
“Kamu dilanjut aja cucinya, Mas juga akan melanjutkan tangkap ikannya,” jawabnya kemudian.
Aku mengangguk sambil tersenyum. Langkahnya yang menjauh pergi itu terus aku ikuti. Pandanganku mengikutinya seolah tidak rela jika hatiku harus jatuh cinta kepada orang selainnya.
Sungguh, Mas Sholeh adalah pria yan taat kepada agama, dan berbakti kepada orang tua. Di saat anak camat dan sejenis perangkat pemerintahan yang lain hanya duduk dan berdiam diri di rumah, Mas Sholeh berbeda, dirinya akan selalu berkelana mencari sesuatu hal yang baru, membantu sesama dan gemar menolong orang lain. Terlalu aku menyia-nyiakan kesempatan yang tidak bisa orang lain dapatkan. Dipinang oleh anak camat adalah sesuatu hal yang sangat mustahil di dalam hidupku namun bisa terealisasikan dengan baik.
Seusai aku mencuci baju di kali, aku pun melangkahkan kaki akan pulang.
“Sati, biar aku yang bantu,” teriak Mas Sholeh dari seberang. Aku mengangguk mengiyakan ucapannya. Orang itu berlari ke arahku dengan langkahnya yang panjang. Tidak menunggu lama dirinya sampai di depanku saat ini.
“Ini biar Mas saja yang bawa ya,” katanya lagi. Aku mengangguk dan menyerahan bakul yang isinya adalah pakaian basah.
Pakaian basah memiliki berat tiga kali lipat dari pakaian aslinya. Aku sudah biasa mengangkatnya sendiri. Hari ini Mas Sholeh yang mengangkatnya. Aku jadi tidak kesusahan untuk berjalan.
“Kemarin aku bertemu dengan Siti di sekolah. Dia kabar baik. Apa benar Fatonah dinikahkan dengan seorang londo?” tanyanya ssaat kami berjalan untuk sampai di rumah.
“Iya Mas, benar. Dia dipaksa Ibu Bapaknya untuk menikah dengan londo, dan sekarang dibawa ke loji. Kemarin aku ke sana sewaktu mengantarkan kue dan bertemu dengan dirinya.
Kebodohanku membawa diriku bertemu dengan beberapa pengawal dan akan menangkap ku karena aku berniat untuk melepaskan Fatonah dari sana,” jawabku kemudian.
“Kamu nggak tahu kalau semua wanita yang ada di sana tidak akan bisa keluar?” tanyanya kemudian.
“Selamanya Mas?” tanyaku kembali.
“Iya selamanya. Ya kecuali satu hal sih yang bisa membuat wanita yang sudah dikawini bisa keluar,”
“Apa itu Mas?”
Mas Sholeh tak menjawab. Dirinya diam beberapa saat, kutengok bibirnya digigit sedikit ke dalam. Sehingga aku tidak bisa untuk menebak apa yang ada di pikirannya.
“Kecuali apa Mas?” tanyaku lagi.
“Kecuali kalau wanita itu sudah tidak bisa melayani orang-orang Belanda itu, atau kalau tidak begitu ya para perempuan yang ada di sana sudah tidak begitu menarik.
Ketahuilah Sati, mayoritas laki-laki di sana membawa wanita pribumi itu bukan karena cinta. Mereka mengambil itu karena nafsu. Nafsu dan hasrat mereka sangat menggebu. Kau akan terperosok ke dalam sebuah lubang yang sangat sulit jika berhubungan dengan mereka. Salah-salah jika kamu ikut dan mau menjadi istri, harus murtad dan masuk dalam agama mereka. Kalau kamu tidak masuk, maka kamu tetap saja akan dijadikan b***k seks oleh mereka, dijadikan barang inventaris selanjutnya, lalu diperjual belikan seperti b***k,” terang Mas Sholeh dengan menggebu-gebu.
Kurasa dirinya tidak hanya sedang menerangkan tentang kebiasaan itu di loji.
“Mas memangnya sudah tahu kalau aku hari-hari kemarin sedang dekat dengan salah satu londo di sana?” tanyaku kemudian.
Tatapan Mas Sholeh pun sedikit memudar dariku. Seolah kecolongan terhadap pertanyaan yang aku ajukan.