Di negeri terjanji yang subur banyak orang mati kelaparan.
AUTHOR POV
Seorang serdadu telah ditugaskan di daerah Cilegon Jawa Barat. Serdadu itu dipindah tugaskan karena akan menerima promosi kenaikan jabatan. Yang awalnya setara dengan tentara biasa, menjadi pimpinan tentara wilayah. Serdadu itu bernama Steve van Everhart.
Steve adalah anak dari seorang petani di kota kecil di Belanda. Kehidupannya yang serba pas-pasan di negeri itu membuatnya harus mengikuti ekspansi wilayah yang dilakukan besar-besaran oleh pemerintahan kolonial Belanda di daerah jajahannya. Yakni di Hindia Belanda. Sebutan untuk wilayah Indonesia yang dulu.
Kerja keras yang selalu dirinya tekuni dengan kecerdasan, membuatnya mendapatkan tempat di mana pun dirinya berada. Beberapa pangkat dan prestasi dirinya dapatkan. Beberapa kali mendapatkan promosi dan kenaikan jabatan yang signifikan. Yang awalnya hanya anak petani biasa, dirinya menjadi seseorang yang penting di tentara pertahanan Belanda.
Ia menghapus keringat yang berada di keningnya dengan satu tangannya sejenak. Pandangannya takjub pada kanopi yang ada di atasnya. Satu tangannya lagi masuk ke dalam celana. Mengecek sesuatu yang basah di dalam celana pendeknya.
“Sial. Mengapa aku harus melakukan pelampiasan hanya ada di dalam mimpi!” batinnnya saling beradu tidak masuk akal.
Pria gagah dengan ketampanannya yang tidak bisa dihiraukan lagi. Laki-laki dengan mata biru itu seolah tidak ada kekurangan. dirinya masih perkasa, dan mampu mendatangkan banyak wanita, namun setelah melihat gadis desa itu. Hatinnya selalu menolak jika akan tidur dengan wanita lain. Seperti kemarin yang mengharuskan dirinya tidur sendirian tanpa penghibur wanita mana pun. Mabuk dengan berimajinasi akan bisa tidur dengan gadis desa bernama Larasati.
Tidak ada alasan lain untuknya yang gila perempuan. Steve bahkan mampu bertahan di beberapa ronde sekaligus. Tidak ada ampun sebelum dirinya puas. Ohh, betapa dirinya ingat saat berada di depan Larasati dan tidak bisa menahan gejolak yang ada. Laki-laki itu hanya bisa mencium aroma yang keluar dari tubuh Larasati saja.
Bahkan, aroma harum tubuh gadis masih menempel di indera penciumannya.
Steve bangkit dari ranjang empuk tempat dirinya tidur. Di atas mejanya terdapat sebuah cermin besar. Dengan malas dirinya melepaskan pakaiannya. Melihat tubuh kekarnya di cermin seperti ini dan mengagumi ciptaan Tuhan.
“Kau itu tampan. Mengapa tidak kau dapatkan gadis itu dengan cepat,” ujarnya masih dengan setengah mabuk.
Alkohol yang begitu banyak dikonsumsi kemarin. Membuat daya tubuhnya seolah tidak bisa bekerja dengan baik. Pikirannya masih melayang ke angkasa. Sedang tubuhnya harus dipaksa beranjak dari ranjang.
“Sial! Sial! Sial!” rutuknya kemudian yang hampir tersungkur ke tanah. Masih kuat berdiri dengan menahan tubuhnya menggunakan kedua tangan di atas meja kerjanya.
“Mengapa selalu ada bayangan tubuh Larasati!” ujarnya kemudian dengan dirinya sendiri. Kali ini laki-laki dengan darah Belanda itu harus lagi dan lagi menahan gejolak hasrat yang ada dengan dirinya sendiri.
Steve memejamkan matanya kemudian, dan meninju dahi dalam usaha sia-sia untuk mengusir si iblis. Yang bisa membebaskannya dari hasrat kotor yang dengan bebas dan tanpa ampun mendiami pikirannya.
Tangannya mengambil air putih yang sudah disiapkan oleh jongos di atas mejanya. Menegaknya dengan habis tanpa sisa. Berharap jika pikiran kotornya itu hilang dan segera lenyap. Tidak bisa dirinya berada dalam penyiksaan yang cukup berat ini.
Jam yang ada di dalam loji berdenting. Menunjukkan tanda jika dirinya harus dalam keadaan siap. Ada apel dan penyerahan piagam untuk beberapa orang yang mendapatkan prestasi atas gelar barunya. Salah satunya adalah Steve.
“Selamat ya Lord. Kau langsung mendapatkan dua pangkat sekaligus. Hanya dengan merayu anak jenderal,” ujar salah satu teman seangkatannya yang iri melihat apa yang akan diterima oleh Steve.
“Kalau begitu, tidak kau mengusahakan hal yang sama denganku? Jika kau ingin ada seperti ku?” kata Steve kemudian.
Serdadu dengan tinggi yang tak seberapa itu hanya menyengir dan menampilkan giginya yang putih. Lalu dirinya tersenyum kecut, menatap Steve yang bahkan sama sekali tidak mendengarnya.
Steve dengan wajahnya yang putih terkena sinar matahari itu dengan sikap sempurnanya menatap ke depan tanpa memperhatikan apa pun. Termasuk kurcaci yang ada di sampingnya tadi.
“Steve Van Everhart dengan jabatan baru sebagai pimpinan tentara wilayah Jawa Tengah,” panggil salah satu jenderal kepadanya.
Steve dengan langkah tegapnya berjalan ke depan. Mengambil penghargaan dalam bentuk pangkat di bahunya dan tiga buah pin di dalam sakunya.
Satu minggu perjuangannya yang tidak akan sia-sia membawa dirinya mampu menembus batas yang tidak terduga. Semua adalah demi kehidupan seorang gadis desa yang akan dijadikan kekasih sepulangnya dirinya dari tempat ini.
“Selamat anak petani desa. Kau telah melampaui batas kemampuanmu. Sekali lagi selamat.”
Sambutan tangan dan pelukan hangat diberikan oleh Jenderal Thomas Jeffry Elbart. Seorang jenderal yang sangat tinggi kedudukannya. Dirinya adalah pimpinan tentara Belanda di negara ini. Seseorang yang digadang-gadang merupakan calon mertua dari Steve.
“Terima kasih banyak Jenderal. Kau memujiku dengan sangat berlebihan,” ujar Steve dengan penghormatannya.
“Kau sangat pantas mendapatkannya. Kutahu bagaimana kondisimu di negara kita. Dan kau berhasil berjuang di negara ini. Orang tuamu akan mendapatkan banyak uang dari hasil kerja kerasmu.”
“Sekali lagi kuucapkan terima kasih.”
Steve kembali ke barisan paling depan. Orang-orang menyambutnya dengan suara tepuk tangan yang sangat meriah. Hanya prajurit dengan kemampuan yang luar biasa yang dapat berdiri di sana. Dan Steve adalah salah satunya. Ambisinya sangat kuat. Sekuat pikiranya saat ini yang tertuju kepada Larasati.
Pria itu seolah berbisik kepada hatinya sendiri.
“Ara, kubawa prestasi ini untukmu. Agar kita bisa hidup dengan bahagia suatu saat nanti.”
Batin pria itu berujar dengan tulus. Setulus cintanya yang tanpa syarat menerima Larasati dalam kehidupannya.
Sore hari itu, selepas mendapatkan gelar baru, Steve langsung pulang dengan menggunakan kereta.
Bukan pulang ke negaranya. Dirinya pulang untuk melunasi janji terhadap kekasihnya. Tak terpikir bagaimana manisnya dirinya bisa mendapatkan pelukan dari seorang Ara yang dicintainya.
Perempuan yang selalu dirinya damba di manapun dan kapan pun dirinya berada.
Dan, di samping jendela laki-laki itu hanya bisa duduk dengan senyumnya yang tidak pernah pudar. Wajahnya berseri-seri. Pemandangan hijau yang berubah menjadi rumah penduduk. Jalan menanjak menjadi jalan yang turun denan curam. Kereta yang melewati lorong gunung yang panjang. Dirinya lewati dengan sepenuh hati. Tiada capai atau pun sesal. Ada seorang wanita yang memberinya semangat. Dan wanita yang mendapatkan kesempatan itu adalah Larasati.
L A R A S A T I.