Mendapatkan pesan itu, membuat Dea berpikir sejenak menentukan pilihan. Mr.Bad sangat mengusik dirinya, memata-matai tanpa henti membuat wanita itu ketakutan. Apalagi hingga kamar pribadinya.
“Argh! f*****g man!”
Rasanya sangat resah mendapatkan teror dari lelaki itu. Seorang pria yang tak dikenal, tapi dia merasa Mr.Bad akrab padanya. Lelaki yang sangat misterius.
Krekkk... suara perut itu membuyarkan pikirannya. Ia harus mengisi lambung yang sudah memanas agar tak memunculkan rasa sakit.
“Lebih baik aku menghabiskan makanan ini terlebih dahulu. Perutku sudah merengek minta diisi.”
Pada akhirnya Dea memilih untuk mengabaikan pesan dari Mr.Bad. Ia bahkan harus mematikan ponsel agar bisa makan dengan tenang karena pria itu memberondong pesan yang banyak padanya.
Setelah makanan itu tandas ke dalam mulutnya, Dea segera mendorong troli keluar agar pelayan langsung membawanya pergi. Di depan kamarnya sangat sepi.
“ sepertinya mereka berada di dapur.”
Wanita itu langsung mengunci pintu kamarnya dan bersantai di sofa. Perutnya terasa bengah karena makan terlalu banyak. Pasta, steak daging, salad, dan beberapa macam minuman berhasil membuatnya terlena.
Dor!!! Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari luar.
“Astaga!” Dea terkejut dan langsung menuju balkon. Terlihat bekas tembakan di dinding, lubang yang cukup dalam dengan peluru yang masih menancap di sana sukses membuat mata wanita itu melebar. Derap langkah kaki mendekat ke tempat kejadian, itu adalah Pak Gito. Pria itu terlihat tergopoh-gopoh berlari menuju sumber suara.
“Ada apa Nyonya?” tanya khawatir dengan d**a yang naik turun. Dea hanya melirik bekas tembakan itu, lalu tersenyum tipis.
“Hanya tembakan kecil.”
Mata lelaki paruh baya itu melotot. “Ya ampun! Apakah ada yang cedera atau luka Nyonya?” lelaki itu mendekat. Namun, Dea segera melangkah mundur, menjauhi penjaga.
“Tidak. Jangan bilang pada Aiden soal ini. Tembakan itu hanya keisengan teman saya,” jelas Dea. Ia tak ingin membuat Aiden ikut terseret dalam konflik yang sedang menerpanya. “Saya mohon,” lanjutnya.
“Baik Nyonya. Tapi ini tidak gawat kan? Saya sangat khawatir.”
“Tidak Pak. Kembalilah ke depan. Saya ingin istirahat, tolong beritahu Mrs.Asih juga,” ucap Dea pada Gito ketika melihat kedatangan Mrs. Asih lewat taman.
“Baik Nyonya.”
Dea langsung masuk ke dalam kamarnya, kali ini ia menuruti perkataan Mr.Bad, membuka sedikit gorden yang menuju ke arah pintu.
Dadanya berdetak dengan hebat. Tubuh wanita itu ambruk di atas ranjang. Butuh kekuatan lebih untuk melangkahkan kakinya ke dalam kamar. Tak ada jaminan jika keselamatannya aman.
Di tambah, ia tak ingin melibatkan suami kontraknya dalam urusan yang misterius ini. Entah apa yang diinginkan Mr.Bad darinya. Kepala Dea pusing memikirkan kemungkinan yang terjadi di masa depan.
_______________________
Di sisi lain, Aiden dan Wendy tengah menikmati waktu berdua di sebuah kamar hotel bintang lima. Suasana yang tercipta terasa begitu romantis, ruangan bernuansa cream dan beberapa aksen dekorasi hitam membuatnya terlihat begitu elegan. Ditambah dengan suara musik, tebaran bunga di meja dinner dan balkon menambahkan kesan indah.
“Sayang... Kamu yang menyiapkan ini semua?” takjub Wendy ketika membuka daun pintu. Matanya berbinar melihat meja itu. Terdapat beberapa kado yang terjejer rapi di sana. Aiden memberikan buket mawar merah pada wanita itu.
“Aku kira kita akan dinner di restaurant.” Senyum manis Wendy tak lelah bertengger di wajahnya. Mata membentuk bulan sabit menambahkan kecantikan dirinya.
“Aku ingin nuansa yang berbeda dari biasanya.” Aiden memeluk wanita itu dengan penuh cinta. Setelah puas, lelaki itu segera menggandeng kekasihnya untuk duduk di meja makan. Menyalakan lilin di atas kue.
“Happy birthday Baby. I hope you always love me,” ucap Aiden seraya menyodorkan kue itu pada Wendy. Mata wanita itu berbinar, dirinya merasa terharu mendapatkan perlakuan spesial dari kekasihnya.
“Me too. Can you love me forever?”
Aiden tersenyum mendapat pertanyaan itu. Kepalanya mengangguk beberapa kali.
“I can do it.”
Air mata Wendy jatuh begitu saja setelah mendengar ucapan Aiden. Bibirnya mengerucut menghembuskan angin agar bara lilin itu padam.
“Kamu terlihat sangat cantik Baby.” Kini Aiden mengenggam tangan kekasihnya dengan lembut, pancaran matanya terasa memabukkan.
“Kamu juga terlihat sangat tampan Sayang.” Senyum semringah tak kunjung hilang dari wajah wanita itu.
Sepasang kekasih menikmati waktu mereka dengan sangat hangat dan romantis hingga pagi hari.
“Morning baby,” ucap Wendy dengan senyum manisnya. Lelaki yang masih terlentang di atas ranjang menarik wanita itu dalam pelukannya.
“Lepaskan, rambutku masih basah.”
“Biarkan saja. Aku sangat menyukai harum tubuhmu Sayang.”
“Oh ya? Tapi aku tidak menyukai baumu yang busuk ini Aiden. Lepaskan dan cepat bersihkan dirimu sekarang!” perintah Wendy dengan wajah garangnya.
“Hahaha...” tawa pria itu pecah saat Wendy memukuli d**a bidangnya secara bertubi-tubi, tangan lelaki itu terlalu nakal pagi ini.
“Oke oke. Stop memukuliku.” Tangan wanita itu terhenti karena mendapatkan cengkeraman dari lelaki di depannya. Kecupan manis tertempel di kening Wendy. Aiden segera pergi ke kamar mandi sesuai perintah wanita itu.
_______________________
Di sisi lain, Dea menatap plafon kamar dengan nanar. Hidupnya tidak bisa bebas meskipun sudah jauh dari orangtuanya. Tugas yang diberikan ayahnya terasa berat. Bahkan dia harus mengurus dan menjamin keselamatan Mr.Hando.
“Hahhh...” helaan nafas mengiringi setiap langkahnya ke kamar mandi. Bath up berukuran besar membuatnya ingin berendam di sana. Ia segera mengisinya dengan air dan sabun sampai menutupi seluruh tubuhnya, aroma lilin therapy memanjakan hidungnya yang mancung dengan begitu lihai. Pikirannya yang suntuk di pagi hari kini terobati dengan berendam. Tanpa sadar, ia kembali tertidur di sana.
“Nyonya?” panggil Mrs.Asih yang baru saja membuka pintu kamar. Dilihatnya tidak ada siapa-siapa di sana, ia sedikit khawatir karena tak mendapati kehadiran Dea. Namun, ketika pintu kamar mandi terkunci dia baru menyadari jika Nyonya ada di sana.
“Sepertinya lagi mandi. Sebaiknya aku menyiapkan sarapan untuk Nyonya.” Wanita itu segera pergi.
“Ya tuhan! Aku ketiduran,” pekik Dea. Kulitnya sudah berkeriput karena terlalu lama terendam. “Huh! Padahal tidurku sudah cukup pagi ini. Bisa-bisanya aku tertidur saat berendam.”
Wanita itu tak berhenti mengomel di depan cermin saat merias wajahnya. Hari ini ia sudah memiliki rencana untuk kembali ke rumah sakit menjaga Mr.Hando, pesan yang diberikan ayahnya tak bisa disepelekan. Di tambah ia cukup senang bertemu pria itu, karena obrolan terasa nyambung dan menyenangkan.
“Nyonya, sarapan sudah siap,” ucap Mrs Asih di ambang pintu kamar.
“Okay.”
“Ini ada surat untuk Nyonya.” wanita itu menyodorkan sepucuk surat pada Dea. Alis wanita itu berkerut melihat amplop yang dipegang Mrs Asih.
“Dari siapa?”
“Saya tidak tau Nyonya. Tapi surat ini terasa aman untuk dibaca.”
Wanita 20 tahunan itu langsung mengeluarkan kertas dari dalam amplop. Lagi-lagi dahinya berkerut dan pupilnya melebar ketika membaca kalimat terakhir yang tertulis di sana.